
Setelah makan siang, Rilo dan Alan berniat sholat terlebih dulu, sedangkan Nadya dan Mutia kembali mengobrol.
"Gimana kerja sama Pak Alan?" tanya Nadya dengan ramah, meski kadang cemburu datang tapi ia berusaha realistis, tembok kuat pamali menghalangi cinta mereka, sehingga kalau ada perempuan yang dekat dengan Alan, ia harus legowo.
"Tegang, Mbak!" jawab Mutia jujur, selama menjadi asisten pribadi Alan ia hanya bicara seperlunya, malah kebanyakan membantu pekerjaan Erfina, entah apa tujuan sebenarnya Alan menambah personil asisten pribadi. Selama ini, ia hanya berkutat dengan dokumen, meeting di luar menemani Alan hanya beberapa kali saja, kebanyakan Alan meeting di luar bareng Rilo. "Ketus lagi!" lanjutnya dengan cemberut.
"Ya emang, mana pernah Pak Alan bisa ramah sama cewek, Mbak Erfina aja yang udah lama cuma dijawab singkat padat jelas dan ketus. Sabar aja!" ujar Nadya dengan sesekali tertawa mendengar keluhan tentang sifat jutek Alan.
"Tapi sama Mbak Nadya beda, bisa cerewet gitu, saya sampai heran."
"Perasaan kamu aja, dia sama aku mah jutek juga."
"Juteknya beda dengan kita mbak, kalau bicara sama aku tuh gak mau lihat tapi omongannya pedas, nyelekit banget. Duh kalau gak gaji gede mana tahan."
Nadya kembali ngakak, mungkin kalau tidak karena gaji mana ada yang mau sama Alan, cowok judes banget, untung tampan juga.
"Gak pa-pa judes yang penting kan tampan, vitamin lah di kantor!" Nadya menunggu respon Mutia, apakah gadis ini juga akan masuk ke penggemar fanatik Alan nantinya.
"Ganteng sih, cuma takut kalau di dekat beliau, Mbak kok bisa pacaran sama Pak Alan."
"Saya udah mantannya Pak Alan kok, Mutia, beliau single sekarang."
"Tapi masih kelihatan cinta sama Mbak Nadya, mbak juga kelihatan masih cinta sama bapak."
"Masa' sih, padahal aku udah ketus sama dia loh! Itu pikiran kamu saja, Mutia. Kami udah gak saling punya rasa."
"Oh!" Mutia mengangguk saja, berdebat urusan cinta bosnya juga gak ada untungnya, dirinya juga gak berniat dekat secara pribadi dengan Alan, ketus gitu, merinding aja kalau tiap hari dijutekin. Gak kebayang deh. Ups...apa jangan-jangan Nadya putus karena sering dijutekin Alan? Tak patut.
Kedua pemuda tampan itu selesai sholat, kini giliran para gadis yang menuju musholla. Rilo dan Alan kembali bertukar pikiran, apalagi kalau tidak urusan bisnis.
Ting
__ADS_1
Satu pesan WA masuk ke ponsel Nadya, kebetulan diletakkan di sisi ponsel Alan, mata bos ganteng itu melirik sekilas, Nathan AY ternyata yang mengirimi pesan. Jelas laki-laki, tapi siapa, setahu Alan, Nadya tak punya banyak teman laki yang intens menghubunginya. Bikin penasaran, biarlah nanti Nadya ngamuk lantaran ponselnya dibuka oleh Alan daripada Alan terus kepikiran siapa pengirim pesan itu. Alan pun membuka kode ponsel Nadya yang memang ia tahu, chat teratas sendiri.
/Crut, besok gue pulang. Gue jemput pulang kerja ya, see you/
Begitu pesan yang dibaca Alan, seketika jiwa kepo Alan meronta, ia menscroll pesan di atasnya. Ternyata Nadya sering bertukar pesan dengan cowok ini. Alan sangat telaten membaca satu per satu chatnya, mengabaikan ocehan Rilo yang dicampakkan begitu saja.
Dadanya bergemuruh ketika membaca salah satu pesan yang Nathan kirimkan pada Nadya.
/Dari dulu gue suka sama Lo, Nad. Usia kita juga gak muda lagi, mau coba nikah sama gue? 🤣🤣🤣🤣/
/Nikah kok dicoba brooooo😤😤😤😤😤/
Alan langsung klik foto profil, dia langsung melotot ternyata Yudis. Fix, mereka memang ada apa-apa sejak malam itu.
"Ada apa?" tanya Nadya yang baru selesai sholat, melihat ponselnya sedang dipegang Alan.
"Baca aja, Nathan AY kirim WA!" ucapnya dengan nada tak suka.
"Sahabat SMA! lagian kenapa Pak Alan buka ponsel saya sih?" Nadya tak terima dengan sikap Alan yang main buka ponselnya, tanpa izin terlebih dulu. Gak sopan.
"Kalau aku gak buka, kamu pasti nyembunyiin dia kan?" Alan naik pitam, untung saja mereka memilih privat room untuk makan siang ini. Jadi tidak menggangu kenyamanan pihak lain.
"Ya apa gunanya saya bilang ke Pak Alan siapa Nathan, ingat Pak kita mantan." Nadya menegaskan akan status mereka. Jengah juga kalau lama-lama Alan terus mengatur hidupnya. Terlebih sikap Alan yang kelewat posesif akhir-akhir ini, menambah daftar alasan Nadya untuk menjauhinya.
Alan tersenyum sinis, melihat wajah Nadya dengan kesal, bisa-bisanya dia santai mengungkap status mereka. Apa sudah tidak ada rasa pada diri Nadya, hingga dia bisa bebas meladeni pesan Nathan tersebut tanpa memikirkan perasaan Alan. Dilihat dari waktu mereka berbalas pesan tepat saat pesan-pesan Alan dibalas sekedarnya oleh Nadya. Yang lebih bikin potek hati Alan adalah tak hanya sekali panggilan video yang mereka lakukan, sedangkan panggilan video dari Alan pun diabaikan Nadya begitu saja. Geram minta ampun.
"Oh mantan, oke... sepertinya kamu juga gak akan berjuang untuk hubungan kita. Terkesan menyerah saja, bagus....kamu berhasil berantakin hati aku. Terimakasih." Ujar Alan dengan menekankan ucapan terimakasih pada Nadya. Ia pun berdiri, mengajak Rilo dan Mutia segera pindah tempat untuk meeting. Sedangkan Nadya tetap duduk dan melihat punggung Alan yang semakin menjauh. Pengen nangis, tapi moment inilah yang ia inginkan. Segera jauh dari Alan.
"Kalian pergi aja, nanti aku pesan taksi untuk kembali ke kantor."
"Lo beneran gak pa-pa, Nad!"
__ADS_1
"Gak pa-pa, Pak Rilo, memang ini yang saya mau, biar kita sama-sama cepat move on." Ujar Nadya dengan menyunggingkan senyum. Namun dalam hati, Nadya pengen mewek. Merasa bersalah sekali pada Alan. Pada dasarnya ia hanya bertukar pesan dengan Nathan layaknya sahabat, tak ada niatan untuk menjalin kasih. Tapi biarlah Alan punya pemikiran seperti itu, ia tidak mau menjelaskan juga. Meski Alan akan menganggapnya sebagai perempuan jahat atau perempuan gak bener, terserah.
Lain halnya Nadya yang segera keluar dari restoran dengan menaiki taksi, justru Alan yang bingung setengah mati. Kenapa emosinya bisa melupakan Nadya begitu saja, tega meninggalkan gadis itu sendiri.
"Dia tadi bilang naik apa ke kantor?" tanya Alan pada Rilo, cemas. Ketiga orang di dalam mobil itu hanya diam saja, menciptakan suasana hening yang pada akhirnya Alan sendiri yang mulai mengajak bicara.
"Taksi mungkin."
"Bodohnya gue, kenapa main tinggal aja ya!"
"Hemmm baru sadar, Juned! Lagian Nadya tuh gak salah, wajarlah dia kontekan sama Nathan. Mereka sahabatan juga!"
"Diam Lo, lagian bullshit banget sahabatan cowok cewek tanpa perasaan."
"Ya terus apa masalahnya, biarkanlah kalau mereka jadian atau bahkan merit!"
Sontak Alan menonyor kepala belakang Rilo, kesal sekali pada asisten lucknutnya itu, masa' iya dia harus merelakan kekasih hati menikah dengan orang lain. Itu tidak bisa dan tidak akan terjadi.
"Sebenarnya Lo tuh obsesi sama Nadya, Lan."
"Kita saling cinta."
"Cih...percaya diri sekali Anda Tuan Alan, Lo tuh gak sadar atau gak mau tahu sifat Nadya sih, dia tuh gadis berprinsip, kuat banget malah. Kalau dia sudah bilang putus, yakin deh dia bakal megang ucapan itu, tanpa mau mengejar Lo lagi. Yakin gue."
"Kita udah sepakat putus pelan-pelan."
"Dan dia melakukannya bukan, pelan-pelan, sedikit demi sedikit mengabaikan Lo hingga akhirnya dia sama sekali tak menggubris Lo."
Ucapan Rilo tepat sasaran, selama ini Nadya memang sudah melakukan dan menepati janji untuk putus pelan-pelan, dengan tidak langsung membalas pesan Alan, sesekali mengangkat telpon Alan dan lama kelamaan tidak. Hanya Alan yang masih mengejarnya, dan ia sangat mengharap ada sebuah keajaiban restu dari Ibu untuk mereka suatu saat nanti.
"Sadar, Lan. Mencintai sepihak itu akan melukai perasaan kalian, lepaskan Nadya, dan mulailah membuka lembaran baru untuk perempuan lain." Rilo bijak sekali, bahkan ia sempat memukul pelan bibirnya karena sudah memproduksi ucapan yang bisa menyadarkan Alan akan cinta. "Perempuan samping gue juga nganggur." Yah....konyol lagi deh sarannya. Dasar Rilo, Mutia pun langsung melotot ke arah playboy cap kapak itu.
__ADS_1