
Seorang bos ganteng terlalu khawatir akan cerita Rilo beberapa menit lalu, pasalnya sahabat playboynya itu mengatakan dengan jelas Ihsan mulai mendekati Nadya, dan berencana kamis sore akan belanja untuk keperluan gathering. Ia sadar juga, pasti banyak yang naksir dengan Nadya kalau sudah pernah kerja bareng sama gadis itu. Supel, cekatan dan selalu mendapat ide menarik, tentu Ihsan yang lumayan ganteng juga tak menolak kesempatan untuk mengajak kencan Nadya sebagai tahap awal pendekatan mereka.
Mau melarang? Siapa Alan?
Mau membiarkan saja? Panas dong hati babang Alan?
"Ya udah sih, biarin aja. Toh Lo juga bukan siapa-siapa Nadya lagi."
"Gak bisa, gue saudara ipar yang harus melindungi dia dari mulut buaya, termasuk Lo!"
"Ya elah, Bembi. Hubungan ipar doang sombongnya Nauzubillah, percuma toh sekarang di mata Nadya Lo tuh cinta banget sama Jihan, ke mana-mana nempel terus."
Alan terdiam, tanpa pikir panjang ia langsung menyambar kunci dan meninggalkan ruangannya tanpa menghiraukan teriakan Rilo. Alan menuju parkiran mobil, pikirannya hanya tertuju pada rumah Jihan. Entah suatu kebetulan atau memang ia sudah janjian, orang tua Jihan dan Jihannya sendiri di rumah. Menyambut kehadiran Alan.
"Sore sayang!" begitu Jihan menyapa dengan menyambar lengan Alan, bergelayut manja, dan Alan hanya meliriknya. "Waalaikumsalam Jihan!" sindir Alan dengan ketus, Jihan hanya tersenyum kikuk.
Alan pun seperti biasa tak menghiraukan keberadaan Jihan meski di depannya sekarang sudah ada orang tua Jihan yang menganggapnya sebagai calon mantu.
"Nak Alan ada apa kok ke sini tiba-tiba, untung saja Om sudah di rumah." Ucap Pak Sony, papa Jihan dengan ramah. Sebenarnya Alan berhubungan dengan Pak Sony sangat baik, beliau adalah rekan kerja almarhum papanya dulu.
"Maaf, Om. Kalau kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Om Sony."
__ADS_1
"Eh...gak pa-pa Nak Alan, kayak sama siapa aja!" Sahut Tante Marta, mama Jihan, dengan membawa minuman, beliau juga sangat ramah. Tak tampak kalau mereka berdua adalah orang tua kolot yang mau menjodohkan anaknya di zaman serba modern ini.
"Kamu kenapa gak bilang mau ke sini sayang?" tanya Jihan manja, dan kedua orang tua yang duduk di depannya hanya tersenyum. Mereka sangat bahagia melihat anaknya begitu sumringah di samping pria yang memang sangat menawan.
"Bisa tolong lepaskan tangan kamu!" lirih Alan sambil melirik tangan Jihan, dan gadis itu hanya tersenyum getir lalu melepasnya.
"Maaf Om sebelumnya." Alan mulai membuka obrolan serius, tatapannya lurus ke arah Om Sony, tangannya bertautan satu sama lain, terlihat sekali pemuda itu sedang serius. "Alan tidak bisa melanjutkan perjodohan ini, sebelum resmi ke jenjang pertunangan." Ucapnya tegas.
"Sayang!" pekik Jihan kaget, matanya melotot tak terima dengan keputusan sepihak Alan. Bagaimana bisa, kedatangan Alan ini malah membatalkan rencana perjodohan mereka. Kenapa? Pasalnya Mama Shofi justru getol membicarakan konsep pertunangan mereka.
"Loh...kenapa?" tanya Tante Marta, shok juga. Sedangkan rahang Om Sony mengeras dan mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa, keluarga terhormatnya diberi harapan palsu seperti ini, terlebih terkait masa depan sang putri tunggalnya.
"Sekali lagi saya minta maaf Om, Tante, dan Jihan, saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini...."
"Sabar, Sayang!" tegur Om Sony. Beliau masih waras untuk tidak melayangkan bogem kepada Alan, meski pemuda itu telah membuat putrinya menangis. "Katakan alasan kamu!" lanjut beliau tegas.
"Saya...saya tidak mau mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa cinta Om. Saya tidak mencintai putri Om." Ucap Alan tegas, sebagai pemimpin perusahaan tentu ia tak mau dikendalikan oleh seseorang terlebih ini urusan hati dan masa depannya. Tak mungkin ia membiarkan menjalani sisa hidupnya dengan perempuan seperti Jihan yang bukan kriteria wanita idaman baginya.
"Kalian bisa belajar saling cinta, perlahan aja. Tante tahu, kalau kamu belum terbiasa dengan Jihan, tapi ya gak usah sampai membatalkan perjodohan ini, buru- buru sekali kamu mengambil keputusan." Ucap Tante Marta.
"Apa kamu punya kekasih?" tanya Om Sony, sepertinya karena sama-sama laki-laki, mungkin beliau sudah menangkap gelagat Alan yang memang tak punya perasaan dengan putrinya, terlebih rencana pertunangan yang terus diundur dengan alasan Alan masih sibuk.
__ADS_1
Alan menatap Om Sony lekat lalu mengangguk pelan.
"Siapa....siapa ****** itu?" tanya Jihan dengan berteriak, dan Alan hanya mendecih kesal.
"Jihan kendalikan emosi kamu!" tegas Om Sony.
"Papa sadat gak sih, anak papa ditolak sama Alan Pa, baru kali ini ada yang nolak Jihan. Jihan kurang apa?" gadis itu semakin meraung.
"Maaf, Om!" Alan hanya bisa berucap kata itu, terlebih dirinya ingin segera pamit karena rengekan Jihan yang membuat dirinya tak nyaman. Ingin mengumpat tapi ada orang tuanya, ingin membiarkan tapi Jihan masih membujuknya, ah diam lebih baik.
"Pulanglah, bicarakan dengan mamamu, karena bagaimanapun ini rencana dia. Saya juga tidak mau anak saya dicampakkan oleh laki-laki yang terpaksa menikahinya."
"Papa!" sentak Tante Marta dan Jihan.
"Baik, Om. Terimakasih!" Alan pun pamit, ia menyalami Om Sony dan Tante Marta, namun ditolak oleh wanita cantik itu, sedangkan Jihan langsung masuk kamar tak terima.
"Akan kubuat perhitungan dengan gadis yang membuatku ditolak Alan, titik." Teriak Jihan yang mengiri langkah Alan keluar dari rumah mewah itu.
#######
Maaf baru nongol, suiiibukkkk....
__ADS_1
Minta jempol dan komennya ....makasih semua 😘😘😘