
Bertemu dengan Naila tak membuat wajah sendu Nadya pudar, malah semakin suntuk. Mendapatkan kabar bahwa Alan akan dijodohkan dengan Meysa, membuat kepala Nadya cemut-cemut. Cinta kok rumit banget sih, seperti tak ada penyelesaian yang sederhana dan terbaik untuk semua tanpa melibatkan sakit hati. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa kita tidak boleh mencintai makhluk-NYA berlebihan terlebih bukan pasangan halal.
Astagfirullah
Pengalaman pertama Nadya, merasakan cinta juga merasakan rasanya patah hati sekaligus. Roller coster dengan masalah yang sama. Baikan, putus lagi, baikan putus lagi. Entah berapa kali ia melakukan hubungan putus sambunh dengan Alan, padahal mereka jalan belum sampai satu tahun.
Sisi baik Nadya mengatakan, Ya sudahlah, bakti pada ibu.
Sisi jahat Nadya mengatakan, Perjuangkan Alan, kamu akan menyesal mendepak Alan dalam hidupmu.
Bimbang, tentu saja.
Arrrrrggghhh
"Nad, analisisnya mana?" tanya Pak Erick dari meja kerjanya, menagih analisis proyek yang akan dibawa Alan ke Malaysia. "Aku yang harus presentasi ke Alan soalnya."
"Perlu dijilid atau kirim email saja pak?" Nadya mengesampingkan masalah pribadinya dulu. Tuntutan pekerjaan harus ia selesaikan.
"Dua-duanya saja, sekaligus bikin power point untuk jam 3 ya."
"Baik."
Benar saja, ia larut dalam tugasnya. Hingga chat masuk tampak di WA web. MAS FAIQ.
Nadya segera mengirimkan tugasnya pada Erick sebelum membaca pesan dari Faiq, tak mau gagal fokus lagi. Nanti saja menilik pesan dari calon suaminya, Eh.
"Nad, gue balik dulu. Lo lembur?" pamit Ersa. Nadya pun menoleh, meja senior itu udah rapi banget. Dia pun heran saking asyiknya berkutat pada pekerjaan hingga tak sadar akan jam pulang.
"Enggak, Mbak. Ini tinggal save aja kok. Ati-ati." Jawab Nadya. Tinggal dirinya di dalam ruangan. Pekerjaannya pun sudah aman, ia membuka ponselnya. Lima pesan teratas dari Mas Faiq.
**13.39
Mas Faiq : Dek, nanti aku jemput ya, pulang jam berapa?
15.32
Mas Faiq: Kata ibu, pulang jam 5 ya?
16.21
Mas Faiq: Aku jemput
17.10
Mas Faiq : Aku udah di loby
17.20
Mas Faiq: Lembur kah**?
Nadya: maaf baru balas, lima menit lagi aku turun. Maaf merepotkan.
__ADS_1
Mas Faiq: Oke...ati-ati.
Nadya menghembuskan nafas berat. Semoga ia tidak salah langkah, pertemuan ini tidak akan dilewatkan begitu saja. Nadya akan bilang apa adanya tentang khitbah ini. Semoga saja, Faiq baik dan open minded hingga punya keputusan terbaik untuk mereka berdua.
Ting
Pintu lift terbuka. Pemuda itu sudah terlihat, duduk manis dengan bermain ponsel. Berkali-kali Nadya menghembuskan nafas berat saat langkahnya semakin dekat, terlebih karyawan devisi lain mulai menuju lobi juga. Khawatir dijadikan bahan gosip kedekatan dengan pria lain selain Alan.
"Assalamualaikum." Sapa Nadya berdiri di depan Faiq, gadis itu tampak gugup ketika Faiq mendongak, melihat siapa yang mengucap salam.
"Waalaikumsalam, udah beres pekerjaannya?" ucap Faiq sambil tersenyum pada Nadya, dan diangguki oleh gadis itu. "Ayo, kita pulang." Ajaknya kemudian.
Baru saja Nadya membalikkan badan, dia terdiam mematung, Alan dan Rilo berjalan ke arahnya, ah...lebih tepatnya akan keluar. Sekilas Alan melirik Nadya dan Faiq yang berdampingan kemudiam berjalan angkuh meninggalkan kantor. Begitupun dengan Nadya, ia melangkah mengikuti Faiq.
"Itu tadi bos kamu?" tanya Faiq mencairkan suasana hening dalam mobil. Pak dosen lagi mencari bahan obrolan pada sang calon istri yang tampak gak nyaman. Masih canggung sekali.
"Iya, dia bos saya."
"Ganteng, masih muda dan sukses." Komentar Faiq dengan menganggukkan kepala.
"Iya. Kesan pertama bertemu Pak Alan memang menganggap seperti itu." Ucap Nadya menimpali. Ia tahu Faiq berusaha mengajaknya mengobrol, tak enak juga kalau di dalam mobil hanya diam seperti orang musuhan. Ya meski mereka belum kenal.
"Umur berapa memang?"
"28 mau 29 tahun."
"Udah nikah?"
"Wah...pasti punya penggemar banyak tuh, kalau kata anak zaman now....mantuable banget."
"Mungkin."
"Beruntung banget perempuan yang menjadi istrinya kelak. Mendapatkan imam yang mendekati sempurna begitu." Ucap Faiq yang sontak membuat Nadya terdiam, ada rasa sesak dalam dada.
Dan perempuan seperti aku termasuk perempuan yang rugi karena tak berjuang mendapatkannya. Batin Nadya.
Nadya tak menimpali, membiarkan suasana hening tercipta lagi sampai mobil masuk ke sebuah restoran makanan jepang. Nadya mwngernyitkan dahi, ia menoleh ke Faiq seakan bertanya kenapa memilih restoran ini?
Faiq hanya tersenyum lalu turun dan membukakan pintu untuk Nadya. Sebenarnya Nadya masih tergugu di restoran ini, kenapa Faiq bisa tahu restoran favoritnya? Namun Nadya hanya menepis perhatian itu, mungkin saja Faiq asal mampir saja?
"Kata ibu, kamu suka banget makanan jepang dan korea, jadi aku sengaja bawa kamu kemari. Gak pa-pa, kan?" tanya Faiq lembut, seraya berjalan beriringan dengan Nadya.
"Iya. Aku memang suka masakan jepang ataupun korea." Jawab Nadya dengan memaksakan senyum, menghargai usaha Faiq agar lebih dekat dengannya.
Memilih tempat dengan view yang sangat bagus, di samping kolam ikan koi yang sangat memanjakan mata. Ia tak mau memilih private room, karena masih sangat canggung berduaab dengan Faiq.
Sambil menunggu makanan, Faiq memanfaatka n moment ini untuk berbicara serius perihal khitbahnya.
"Nad, mumpun kita bertemu aku mau ngomong tentanh hubungan kita." Faiq ini tipe cowok yang to the poin rupanya, mungkin karakter dosen kali ya, langsung pada poin pembahasan tanpa bertele-tele.
"Iya silahkan." Jawab Nadya sambil mengangguk.
__ADS_1
"Maaf kemarin mengkhitbah kamu secara mendadak. Dibilang mendadak sih, gak juga karena orang tua kita sebenarnya sudah merencanakan ini semua sebelum adik kamu menikah."
Nadya masih terdiam, meresapi setiap pengakuan Faiq yang sesuai dengan ucapan ibunya tadi malam.
"Hanya saja saat itu, ibu kamu bilang Nadya masih punya pacar, bosnya kata beliau. Makanya ibuku tidak meneruskan rencana ini. Namun, aku udah terlanjur penasaran sama kamu. Karena ibu sering bercerita tentang kamu. Hem kalau boleh tahu, apakah bos yang dimaksud ibu kamu itu Alan yang tadi bertemu dengan kita di loby?" tanya Faiq, suaranya lembut hingga Nadya pun dengan legowo akan menjawabnya, termasuk pembahasan tentang Alan.
"Iya, Pak Alan itu mantan saya." Jawab Nadya jujur. Pikirnya kalau hubungan inj berlanjut, ia tak akan menutupi masa lalunya.
Faiq mengangguk, sepertinya menerima keterbukaan Nadya. Mungkin karena dosen muda kali ya, open minded. "Kamu sudah ikhlas melepasnya? maksud saya, kamu menerima saya sebagai calon suami kamu tanpa ada bayangan dari Alan?" hati-hati sekali Faiq bertanya kesiapan Nadya akan lamaran ataupun jenjang pernikahan. Apalagi, ada sesorang yang mungkin terpaksa diputuskan.
"Aku harap kamu terbuka sehingga kita bisa mencari solusi untuk hubungan ini."
Nadya menegakkan tubuhnya, menarik nafas berat sebentar lalu menatap wajah Faiq dengan lekat. Oke....harus terbuka dan jujur.
"Saya dan Mas Alan sebenarnya masih berhubungan hingga malam itu. Bahkan Mas Alan ada di rumah saya saat itu, dia ingin tahu sosok yang mau melamar saya, yah meskipun resikonya akan sakit hati seperti sekarang. Bukan hanya mas Alan, tapi saya juga." Nadya menjeda kalimatnya sebentar. Menahan tangis yang siap meledak bila teringat mata merah Alab malam itu.
"Sebenarnya saya gak mau menerima lamaran Mas Faiq, saya bilang ke ibu kalau saya maunya Mas Alan yang menjadi suami saya. Namun, ibu tidak merestuinya. Daripada kami terlibat hubungan tak jelas ini akhirnya beliau menerima kedatangan dan lebih ekstrim lagi ibu menerima khitbah Mas Faiq tanpa menawarkan pada saya. Saya kesal dan marah sama ibu, ini masa depan saya tapi kenapa tidak minta persetujuan dari saya dulu. Apalagi Mas Alan beberapa kali meminta saya pada ibu secara langsung."
"Maaf."
"Bukan salah, Mas Faiq. Hanya saja saya melihat ibu terlalu memaksakan kehendak beliau. Namun saya tidak berani bilang, saya takut menyakiti hati ibu saya."
"Lalu kamu terpaksa menerima khitbah saya dan putus dengan Alan."
"Iya." Jawab Nadya tegas.
"Saya yakin suatu saat nanti kamu menerima saya."
"Mungkin, karena tidak munafik saya terpaksa setuju dengan ibu."
"Gak pa-pa, saya memaklumi." Ujar Faiq santai.
Eh gimana? Apa maksudnya memaklumi?
Mas Faiq mau menikahiku meskipun aku terpaksa begitukah?
"Saya akan terima kamu apa adanya, suatu saat nanti kamu akan bisa lepas dari bayangan Alan. Kamu tipe perempuan penurut, yang tidak akan melanggar aturan agama dalam menyenangkan hati suami."
Yakin banget kamu Mas Faiq? Padahal aku gak yakin bisa move on dari Mas Alan.
"Terimakasih atas penilaian yang baik untuk saya. Tapi saya tidak sebaik itu."
"Gak pa-pa, membangun rumah tangga itu adalah ibadah sabar paling lama. InsyaAllah saya akan sabar menunggu kamu menjadi istri saya seutuhnya."
Hufh...kekeh sekali sih.
"Baikalah kalau jodoh saya dengan Mas Faiq saya juga bisa apa."
Faiq menganggul lalu tersenyum, "Kita sama-sama belajat untuk mecintai, menyanyangi dan memahami. Setuju?"
Enggak.
__ADS_1
"InsyaAllah." Terpaksa Nadya menjawabnya, tak ada raut bahagia seperti halnya perempuan yang dilamar orang, dan Faiq tahu akan hal itu.