
Seusai sholat shubuh, Nadya terus memeluk Alan. Bahkan Alan mau minum air putih pun ia terus bergelayut di lengan Alan. Awalnya Alan gemes, mengelus rambut Nadya yang berlagak manja. Namun, saat keduanya tiba di parkiran kantor. Nadya memeluk erat lengan sang suami dan MENANGIS.
"Loh kenapa sayang?" jelas Alan kaget, dari tadi senyam senyum manja, sekarang kok mewek.
"Kita bakal pisah. Hiks....Hiks..."
"Kamu mau di ruanganku aja?" tawar Alan tapi dijawab gelengan kepala oleh Nadya.
"Aku mau dekat kamu aja."
"Ya udah aku yang kerja di ruangan kamu ya, nanti Erfina aku suruh bawa laptop dan dokumen penting ke meja kamu gimana?"
Nadya langsung tersenyum merekah, dan mengangguk. Keluar dari mobil pun ia terus memegang lengan Alan, berjalan beriringan menuju lift pun posisinya sama. Posesif. Penggemar Alan yang masih belum move on pun mencibir tak suka akan sikap Nadya.
*Mau pamer kalau Pak Alan cuma punya dia doang.
Cuih....sombong amat, kenak pelakor mewek kejer. Rasain.
Dih....Murahan banget Nadya, emang dari dulu dia tuh yang naksir duluan*.
"Selamat datang di ruanganku." Ucap Nadya girang, menampilkan gigi putihnya tapi disambut gelengan kepala oleh Cindy dan Imel yang sudah duduk manis di tempat kerjanya.
"Cin, Mel, hari ini aku bakal ditemani suami tercintaku."
"Apaaaaa??" Dua gadis itu sontak berdiri dan sangat terkejut dengan berita pagi dari Nadya.
Gila. Mana bisa fokus kerja kalau bos ada di sini.
__ADS_1
Ya Allah Tuhan, apa maksud Nadya sih? gerutu Cindy.
Mbak Nad, yang bener saja bawa Pak Alan kemari? Mau audit keuangan sekarang? Jangan doooong, aku belum revisi laporan. Imel menunduk ketakutan.
"Eh kalian gak seneng ya, suami aku di sini?" Nadya memicingkan mata pada keduanya. Alan pun menatap wajah sang istri yang tiba-tiba sendu akan reaksi rekan kerjanya.
"Suuu- suu-ka kok, Nad." Cindy gelagapan sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Ooooke, nanti aku traktir kalian boba dan kebab deh. Yuk sayang kamu mau duduk di mana?" Nadya berlogat sangat centil, tidak seperti biasanya yang di kantor pun memanggil Alan dengan Pak, tapi lihatlah sekarang memanggil Alan dengan sayang di depan Cindy dan Imel.
"Kamu kenapa sih, ada masalah?" tanya Alan yang memilih duduk di kursi depan meja kerja Nadya, berhadapan dengan sang istri. Berusaha mengamati keanehan Nadya juga.
"Aku kenapa emang? Gak kenapa-kenapa deh."
"Gak biasanya kamu kayak gini loh, manja dan gak malu deketan sama aku, biasanya---"
"Ouh jadi kamu gak suka kalau aku minta kamu temani kerja. Aku tuh gak mau ke ruangan kamu soalnya pasti kamu bilang aku pengganggu konsentrasi. Belum lagi, kamu mesum seenaknya aja cium dan *****-***** kalau lagi berdua."
*Nadya lo gilaaaaaa, itu bos loh.
Mbak Nad, cuma lo yang berani maki tuh bos. Keren kali*.
"Sayang, aku cuma beberapa kata loh. Kamu kok--"
"Ouh jadi gak suka kalau aku banyak omong gini. Sebenarnya aku yang harus tanya ke kamu, kenapa sih hari ini kamu banyak protes. Udah gak tahan dan gak sabar lagi mengjadapi aku? Bilang dong, tau gitu aku juga gak mau maksa kamu kerja di sini. Ya udah...silahkan ke ruangan kamu aja. Aku juga bisa kok kerja tanpa---
Cup
__ADS_1
Alan mengecup bibir Nadya sekilas, sadar kalau di ruangan ini tidak hanya mereka berdua tapi ada Cindy serta Imel. "Biar gak ngomel." Ucap Alan ketika menjauhkan kepalanya dari Nadya. Sang istri tentu saja terkejut, dan langsung melipat bibirnya ke dalam.
"Dengerin aku." Pinta Alan sambil menangkup pipi Nadya, "Aku sayang sama kamu, aku gak protes apapun yang ada di kamu, aku cuma heran sayang karena kamu hari ini beda banget kayak biasanya. Manja dan gampang mewek. Kamu lagi merasakan apa sih?"
Nadya menggeleng, dan menangis lagi. "Aku gak tahu."
"Kita ke ruanganku aja ya? biar kita enak ngobrolnya?" tawar Alan dengan berbisik, dan Nadya pun setuju. Alan hanya berkomat kamit pada Cindy dan Imel seolah bilang Nadya gue bawa. Tak berselang lama pasangan lebay itupun keluar dari ruangan.
Cindy dan Imel menghembuskan nafas berat, saling berhadapan, mencoba cari tahu ada apa dengan Nadya, namun keduanya juga tidak tahu.
"PMS kali ya?" tebak Cindy.
"Atau jangan-jangan lagi ngidam?" tebak Imel juga.
"Ah ...masa' orang hamil gitu?" Cindy tak percaya.
"Mungkin, kakak iparku pas lagi hamil juga radak kongslet, masa' nyamuk dipukul nangis kejer."
"Ah segitunya sih, Mel?" Cindy masih tak percaya.
"Hem dibilangin gak percaya."
"Gak percaya apaan?" tanya Ersa yang tiba-tiba menyela obrolan keduanya.
"Orang hamil." Jawab Imel singkat.
"Siapa yang hamil?" tanya Ersa lagi.
__ADS_1
"Nadya/Mbak Nadya." Ucap Cindy dan Imel kompak.
"APAAAAAAA?????