SULUNG

SULUNG
KESEMPATAN LUAR BIASA


__ADS_3

Malam ini Alan terpaksa pulang ke rumah utama. Sang mama merengek agar sulungnya itu berkumpul bersama, toh Ardhan juga di rumah bersama Naila. Mereka berempat sengaja berkumpul di ruang TV.


"Kamu tuh jadi cowok jangan jutek amat, Lan!" omel Mama pada Alan, pasti kejadian tadi siang di butik saat mereka fitting baju untuk lamaran Alan-Jihan tiga minggu lagi. Alan sejak perjalanan menuju butik hanya diam, tak menanggapi ocehan Jihan sama sekali. Namun saat, Jihan mencoba baju pilihannya untuk lamaran barulah Alan komentar, sampai Jihan menangis.


"Ini baju pilihan kamu? Jadi perempuan kok gak bisa menghargai diri sendiri, diumbar ke mana-mana. Gak takut dikerubuti lalat? Ck...gini kok ya jadi pilihan mama, heran gue!" gerutu Alan setelah melihat baju pilihan Jihan warna merah dengan lengan sampai pundak terbuka, ketat membalut tubuh ramping Jihan. Bukannya tergiur, Alan malah memandang jijik, ia pun pulang tanpa menunggu Jihan. Kejam.


"Males kan, Mas. Kalau lihat yang udah ke buka gitu? Enakan yang tertutup, bikin penasaran!" ujar Ardhan yang sontak menoleh ke arah Naila dengan seringai mesumnya.


Bugh


Bantal sofa mendarat cantik di wajah Ardhan, serangan dari sang kakak membuatnya kesal.


"Lah terus jadi kapan kalian tunangan?" tanya mama kembali ke topik pertunangan Alan.


"Kalau acara Naila kapan?" Alan tanya balik, setahu Alan, sang adik juga mau mengadakan acara 4 bulanan sang istri.


"Masih lama, sekarang kandungan Naila masih 9 Minggu juga!" cicit Ardhan yang tahu akan niat Alan yang mau mengundur atau membatalkan tunangannya dengan Jihan.


"Ya udahlah, Ma. Setelah 4 bulanan Naila aja, baru aku pikirin tunangan atau enggak!" tegas Alan.


"Eh tunggu, baru mau kamu pikirin? yang benar Alan, jangan bikin mama malu sama keluarganya Jihan dong, terkesan mama PHP anak orang loh!"


"Mq, yang mau nikah tuh Alan, kalau Alan gak cinta ngapain diteruskan juga."


"Eh...kamu jangan mendahului kehendak Allah ya, bisa jadi kalian jatuh cinta setelah pernikahan. Who knows?"


"Never."


"Gak percaya mama, laki-laki normal berdekatan dengan perempuan cantik dan istrinya pula, masa' gak penasaran lalu gak mau nyentuh." Mama meragukan keangkuhan Alan yang menolak mentah-mentah Jihan sebelum menikah. Kita lihat saja bagaimana Alan akan menjadi budak cinta pada Jihan.


"Gimana mau penasaran, orang paha dada udah terekspos ke mana-mana. Lagian Alan tuh heran deh, kok mau sih punya mantu modelan kayak Jihan, dih... gak yakin juga gadis itu masih gadis atau enggak."

__ADS_1


"Eh .. astaghfirullah anak mama omongannya. Jangan merendahkan wanita, Nak. Gak baik. Mama gak pernah ngajarin kamu kayak gitu."


"Alan sama sekali gak merendahkan Jihan kok, orang Jihan sendiri yang memberi harga pada dirinya melalui cara berpakaiannya. Seorang wanita yang menjaga kehormatannya tidak akan mempertontonkan lekuk tubuhnya ke khalayak umum, ini gak baju udah ****, nyamperin laki Mulu, risih Ma!" kesal sudah Alan pada sikap mama yang ngotot menjodohkannya,


Mama Shofi terdiam, ucapan Alan cukup menohok ulu hatinya. Bagaimana ia mengabaikan pribadi Jihan terutama dalam memilih pakaiannya. Apa yang diucapkan Alan memang benar.


"Mama tuh kenapa sih harus jodohin Mas Alan dengan gadis itu?" tanya Ardhan mencoba menengahi hubungan Alan dan mama yang semakin renggang semenjak perjodohan itu ada.


"Takut gue jadi perjaka tua!"


"Mama yakin Mas Alan masih perjaka?" ledek Ardhan yang disambut lemparan bantal sofa dari Alan, sedangkan Naila sudah cekikikan mendengar perdebatan antara adik dan kakak ini.


"Dia tuh nunggu Nadya, mbak kamu tuh Nai. Susah banget move on, padahal Jihan udah tiap hari nyamperin si bujang lapuk tapi dicuekin juga."


"Mama salah strategi!" ujar Naila kemudian.


"Gak usah macem-macem sayang!" tegur Ardhan yang tahu isi otak sang istrinya penuh dengan kekonyolan hakiki.


"Eh diam dulu!" titah mama pada Alan dan Ardhan yang akan protes dengan ucapan Naila.


"Suruh Jihan gak usah mengejar mas Alan lagi, nah kan tiap hari udah ngrecokin Mas Alan, suruh cuek deh, pasti mas Alan akan merasa kehilangan lalu Mas Alan akan berinisiatif mencari Jihan." Nah...kan konyol ide dari Naila siang ini. Bahkan Ardhan pun hanya geleng kepala, heran ide cetek dari pikiran Naila.


"Dih...gak bakal gue cari dia." Alan mencibir ide tersebut.


"Ah masa'?" goda pasangan gesrek itu, meragukan Alan yang masih menolak Jihan. Ya kali tiga bulan ini cuek bebek pada gadis manja itu tanpa ada sentuhan kulit, padahal keduanya sering jalan berdua. Mencurigakan bukan???


"Ah mama gak mau, Nai. Kalau pakai caramu, Alan bakal tambah cuek sama Jihan." Naila sontak mendengus kesal, siapa tahu dengan menghindari Jihan, Alan bisa dekat dengan Nadya lagi.


"Udahlah, Ma.. Setelah acara 4 bulanan nanti, Alan bakal kasih keputusan..Yah Alan masih berharap Nadya yang jadi istri aku sih."


"Dih belum move on.".Ledek Naila yang hanya diberi seringai sinis dari Alan.

__ADS_1


***


Waktu terus berjalan seperti biasanya, pekerjaan kantor mendominasi aktivitas di hari Rabu. Pagi ini, masing-masing devisi diminta berkumpul, guna membahas acara gathering yang dilakukan tiap bulan November, kebetulan bulan ini ada long weekend, Jumat tanggal merah sekaligus weekend. Rencana gathering yang akan dilakukan di puncak memang menjadi agenda tahunan bagi siapa saja yang mau ikut pada tiap devisi di kantor pusat dan cabang Jakarta dan Bandung.


"Kalau panitia biasanya Pak Rilo yang main tunjuk, Eh Nad nanti kayaknya devisi keuangan yang jadi panitianya." Tukas Ersa yang pernah jadi salah satu panitia di acara gathering.


"Emang gak melalui EO ya?" tanya Nadya memastikan, biasanya acara seperti ini tahunya beres aja.


"Ya tetap ada panitianya lah, Nad. Untuk terjun ke lapangannya baru urusan EO!" Sahut Cindi.


Nadya hanya ber oh saja, mereka pun menuju aula untuk meeting pembukaan gathering. Memang acara ini adalah acara untuk refreshing dari kepenatan kerja, makanya sifatnya sukarela, mau ikut atau tidak, gak pa-pa. Bagi yang masih jomblo sih asik, karena dapat liburan gratis, tapi kalau yang sudah berumah tangga sih jarang ada yang ikut karena lebih memilih menghabiskan long weekend dengan keluarga mereka. No problemo.


Sesuai prediksi Ersa, panitia memang disiapkan oleh Rilo, ia sudah menunjuk ketua, bendahara dan tim acara saja dan hanya lima orang yang ditunjuk untuk tugas itu.


"Ihsan dari devisi produksi, sebagai ketua acara ini. Nadya dari devisi keuangan sebagai bendahara, dan Mario sebagai koordinator acara dari devisi marketing." Begitu Rilo menjelaskan.


"Yah kok gue sih!" keluh Nadya sambil mengerucutkan bibirnya, malas juga menjadi panitia, ia ingin sekali duduk manis menikmati acara saja.


"Wajarlah, anak keuangan biasanya memang jadi bendahara." Sahut Cindy menimpali keluhan rekan kerjanya itu.


Hampir 45 menit berlangsung, meeting secara umum pun berakhir. Kini hanya menyisakan lima orang saja di ruangan itu beserta Rilo dan Erfina. Rilo kembali menjelaskan prosedur acara gathering ini, dan EO yang ditunjuk untuk penanggung jawab acara ini.


"Silahkan koordinasi dulu ya, saya tinggal nanti kalau fix segera konfirmasi ke saya. Terutama untuk dananya juga, jangan lupa anggarannya sedetail mungkin untuk meminimalisir biaya tambahan insidental."


"Baik!" jawab mereka kompak. Rilo dan Erfina pun keluar aula membiarkan Ihsan cs berdiskusi. Kelima orang ini mulai berdiskusi tentang jalannya acara, mulai pendataan peserta gathering, waktu keberangkatan, pembagian kamar, acara dan waktu pulang. Mereka saling memberikan ide untuk


"Nad, kalau nanti aku wa sama kamu tentang gathering ini gak pa-pa kan?" tanya Ihsan setelah mereka keluar dari ruang meeting dan menuju ke ruang masing-masing.


"Maksudnya?" Nadya mengerutkan dahi atas pertanyaan Ihsan barusan.


"Takut kena semprot Pak Alan, kamu tahu kan beliau uring-uringan akhir-akhir ini." Lanjut Mario yang merasakan kekhawatiran yang sama bila berdekatan dengan Nadya. Mereka tahulah siapa Nadya.

__ADS_1


"Gak ada yang marah, tenang saja. Aku balik dulu ya, Yo, segera bikin grupnya. Bye semua!"


"Yes....Bye cantik!" balas Ihsan sumringah. Tampak bahagia bisa dekat dengan perempuan cantik itu, sebenarnya gak naksir sih cuma kalau berdekatan dengan cewek cantik, cekatan dan cerewet rasanya gimana gitu kalau gak memanfaatkan kesempatan ini, ya syukur-syukur kalau bisa jadi gebetan. Kesempatan luar biasa.


__ADS_2