SULUNG

SULUNG
TAHAP MENYANGKAL


__ADS_3

Alan pulang, urusan bisnisnya di Malaysia-Singapura hampir rampung, tinggal Rilo yang tetap di sana hingga beberapa hari lagi. Alan memaksa pulang karena ia sudah rindu setengah mati dengan Nadya. Meski sering pulang ke Indonesia, tetap saja bertemu dengan Nadya sangat kurang.


"Makasih." Ucap Alan saat Nadya rela menjemputnya di bandara sepulang kerja. Menjelang maghrib juga. "Berasa kaya dijemput istri nih."


"Mematuhi perintah bos." Ucap Nadya dengan nada mencibir, tapi tersenyuk juga. Rasa kangen juga dirasakan Nadya. Kali ini ia akan dekat dengan Alan lebih lama dan hampir tiap hari bisa bertemu dengan bos gantengnya.


"Apaan sih bilang bos bos, bos hati kamu." Gerutu Alan dan langsung merangkul bahu Nadya, segera pulang.


"Mas." Protes Nadya, karena risih dirangkul Alan. Masih waras akan kedekatan lawan jenis. Bukan berarti akan dinikahi Alan, ia membiarkan laki-laki itu melakukan skinship dengannya. Big No.


"Oke ....sori." Ucap Alan sambil nyengir. Kini sepasang kekasih itu, berjalan beriringan tanpa ada rangkulan di pundak atau pegangan tangan.


Mobil kantor yang tadi mengantarkan Nadya sekarang melesak menuju rumah Alan. Nadya sudah menyuruh Alan pulang ke rumah utama tapi ia menolak. Dia lebih suka tinggal di rumahnya sendiri.


"Kamu itu kebiasaan, Mas. Gak mau ke rumah utama, emang gak kangen sama mama." Omel Mama yang sedang video call dengan putra sulungnya. Itupun melalui ponsel Nadya.


"Ma....Alan udah dewasa, mandiri, habis ini juga nikah." Ucap Alan datar.


"Nad, Nadya ....ikut ke rumah Alan?" tanya Mama. Siapa tahu lewat Nadya, Alan mau ke rumah utama.


"Enggak, Ma. Ini mau ngantar Nadya du---"


"Lah kok gitu?"

__ADS_1


"Ya masa' aku ke rumah kamu, Mas."


"Ya gak pa-pa, lah calon istri kok."


"Ogah. Bukan Muhrim."


"Hem...kalau ke rumah mama dulu, pasti Nadya mau. Ya kan Nad?" tawar mama. Sudah berbulan-bulan, Alan bolak balik dan lebih banyak tinggal di Malaysia-Singapura, dan saat pulang ke Indo lebih banyak menemani Nadya ketimbang mengunjungi sang mama.


"Gimana, mau ke rumah mama?" tanya Alan.


Sebenarnya Nadya enggan ke rumah Alan, masih belum sreg aja seorang gadis ke rumah laki-laki yang bukan muhrim. Meskipun Nadya masih sangat tahu batasan. "Pokok gak berduan sama kamu."


"Ya kalau di rumah mama gak mungkin berduaan sama kamu lah, pasti ada mama yang ngercokin."


"Mama di rumah?" tanya Nadya memastikan.


"Iya, mama di rumah, baru sampai dari arisan. Ayo dong, Nad. Ajak Alan ke sini."


Nadya menoleh ke Alan yang kembali berselancar dengan ponselnya. Gemes juga dengan sikap cueknya sama Mama, gak ingat saat Nadya dilamar Faiq dulu meluk siapa, dasar anak durhaka. Batin Nadya mengumpat.


"Gimana, Mas?"


"Terserah kamu sayang."

__ADS_1


"Oke deh, Pak Dul ke rumah Mama Shofi..eh maksud saya ke rumah utama Pak Alan." Ralat Nadya yang langsung mendapat usapan kepala dari Alan. Sangat menggemaskan sikap Nadya barusan.


Setelah panggilan video mama berakhir, kini Nadya menghubungi sang ibu. Sekedar izin pulang terlambat dan ke mana.


"Jangan malam-malam, Nad. Apalagi di rumah Alan." Ucap Ibu di seberang. Nadya juga meloudspeaker, menuruti permintaan Alan yang kepo.


"Iya, Bu. Lagian di rumah mama kan banyak orang, aku gak bakalan berduaan sama Mas Alan."


"Halah gak berduaan tapi mepet ke kamu."


Alan terkekeh mendengar omelan calon ibu mertuanya. "Makanya, Bu. Saya nikahin besok ya?"


"Belum haul Naila."


"Hal baik harus disegerakan loh, Bu. Apalagi saya nempel terus sama Nadya, nanti ibu juga katutan dosa loh." Alan memberanikan diri untuk menyangkal pamali ibu. Sudah cukuplah masa berkabung pada Naila, sudah melewati 100 harinya. Kini ia pun lemah di dekat Nadya. Sumpah, Alan mengakui ingin berdekatan dengan Nadya, khawatir dia juga tidak bisa mengontrol untuk sekedar cium pipi atau bahkan melebihi hal itu.


Beruntung sekali, mengembangkan bisnis IT di Malaysia-Singapura bisa dijadikan tabir sementara. Tapi sekarang? Alan sudah pulang, bisnis di sana sudah dipercayakan ke anak buahnya. Ia pun hanya berkunjung di akhir bulan. Sanggup tidak melakukan skinsip pada Nadya? Godaan banget.


"Bu?" tegur Nadya yang tak mendengar suara ibu.


"Ibu tutup dulu, nanti kalau Alan ke rumah kita bahas lagi."


"Siap, Bu."

__ADS_1


__ADS_2