
Acara gathering sudah selesai. Senin pagi disambut dengan wajah karyawan yang ceria, otak mereka sudah fresh lagi, siap menyambut pekerjaan yang menanti. Begitupun dengan Nadya, ia kembali beraktivitas seperti biasanya. Mengendarai motor menuju tempat kerjanya.
Banyak karyawan menganggap Nadya selalu dimanja dengan bos, tapi pada kenyataannya Nadya tetaplah seorang karyawan yang harus patuh terhadap atasannya. Alan dan Nadya memang sepakat untuk kembali merajut kasih, dan tak melupakan keprofesionalan dalam bekerja. Nadya juga mengultimatum Alan untuk tidak sering mengantar jemputnya, cukup sesekali saja.
Pandangan tak suka akan Nadya masih berlanjut, meski ia sudah berusaha jaga jarak pada Alan saat di kantor.
"Pak Endru, ini laporan untuk tim marketing periode 3 November ya, sudah ada catatan untuk koreksi." Siang ini terpaksa Nadya berkunjung ke devisi marketing, membawa laporan keuangan. Biasanya perwakilan marketing akan mengambil H+3 setelah penyerahan, namun sampai H+7 laporan itu masih menghiasi meja Nadya.
"Tumben, Lulu gak ambil?" tanya Pak Endru sambil menerima laporan itu.
"Bukannya Lulu sakit ya, Pak. Saya udah wa dia juga." Jawab Nadya tegas. Ia pun segera pamit, namun Tiwi menghadangnya.
"Lama amat ngobrol sama Pak Endru, gak cukup Pak Alan aja ya lo embat, kasih kita-kita dong." Ucapnya lantang sehingga beberapa tim marketing menatap ke arahnya.
"Ya nanti aku kasih, mau pilih Pak Alan atau Pak Endru?" Nadya sengaja menjawab santai, dan ia segera keluar dari kandang macan itu. Entahlah, kaum hawa di marketing sebagian besar mencibirnya. Padahal dari penampilan jelas modisan mereka lah, setidaknya mereka unggul satu poin di atas Nadya, tapi gak berhasil menggaet bos gantengnya.
"Gue heran deh, Tiwi and the gank kenapa benci banget sama gue." Keluh Nadya ketika masuk ke ruangan dengan sedikit membanting ponselnya di atas meja.
"Eh...tuh ponsel belinya pakai duit, main banting aja si Nyonya." Cibir Ersa dengan fokus pada komputernya.
"Sebel aja, dikit-dikit Pak Alan. Emang hidup gue berkutat sama bosnya doang." Semakin kesal saja Nadya bila mengingat sindiran akan hubungannya dengan Alan.
"Eh...dia juga bos lo." Cindy menyahut.
"Lagian, lo gak pernah caper ke Pak Alan, eh malah yabg dipilih. Kita yang caper all out merasa tersisih lah." Kali ini Cindy menjabarkan salah satu Alasan penggemar Alan geram pada Nadya.
__ADS_1
"Ya terus bukan salah gue dong, Pak Alan yang pilih sendiri."
"Ya apapun alasannya, mereka pikir lo yang ngegoda Pak Alan." Tegas Ersa lagi.
"Gini amat ya perempuan itu, cowok udah milih satu, bersikap setia pada satu perempuan, eh si cewek malah dimusihin. Pikirannya gimana sih." Erick berkomentar, kasihan Nadya juga disindir sana sini karena berhubungan dengan Alan.
"Entahlah, kita ma ngefans aja sama Pak Alan, gak sampai benci Nadya." Sahut Cindy lagi yang diangguki Ersa dan Imel. "Pak Alan milih siapa juga sebenarnya hak dia, kenapa ambil pusing."
"Alhamdulillah, gue punya teman yang masih waras." cicit Nadya dengan senyum manisnya.
Memang teman dan kondisi lingkungan kerja merupakan faktor penting dalam bekerja. Kalau rekan dan kondisinya bagus, maka kinerja kita pun juga bagus, begitupun sebaliknya.
Hal inilah yang ditakutkan Nadya sejak dulu bila berhubungan dengan Alan, ganasnya para fansnya. Di awal memang Alan bisa keep hubungan ini, tapi lama kelamaan bos ganteng itu gak sanggup. Terlebih selama berhubungan dengan Nadya, ia semakin kagum pada karakter gadis itu, dan bawaannya memang pengen berdua terus. Alhasil, hubungan mereka terblow-up.
Drt...drt....
Bersiap pulang, panggilan telpon dari Alan berhasil menghentikan Nadya untuk berberes.
Iya, ada apa Pak?" jawab Nadya sopan.
....gak usah panggil, Pak. Napa." Gerutu Alan "yang disambut cekikikan Nadya.
"Ck"
"Iya deh, Ada apa Mas Alan." Ucap Nadya tegas.
__ADS_1
"Tumben berani sebut, Mas, di kantor?"
Nadya berdecak, "Tadi dipanggil Pak, protes. Sekarang dipanggil Mas dibilang tumben."
"Ya aneh aja, anak keuangan udah pada balik?"
"Belum, masih lengkap. Cuma lagi persiapan pulang." Nadya melanjutkan berberes dokumen, dan memasukkan dompet, ces ke dalam tasnya.
"Pulang bareng ya, aku tunggu di loby."
"Gak deh, pulang sendiri aja."
"Ya udah. Aku mampir ke rumah ya?"
"Terserah."
Panggilan pun berakhir, Nadya membuat cewek di devisi keuangan melongo, "Kok Mbak Nadya menolak Pak Alan?"
"Lah emang kenapa?"
"Kalau gue yang ditawari, gue gak bakal nolak, Nad, udah enak tinggal duduk doang, dingin kena AC juga."
"Kasihan motor gue, dianggurin di parkiran, besok juga pasti ribet harus jemput juga." Jawab Nadya yang tak lama kemudian pamit pulang.
Seperti itulah Nadya, gadis cantik nan sholeha, meskipun berhasil menjadi wanita idaman bos, tak membuatnya sombong atau manja. Bekerja sesuai tupoksi, tak pernah merengek akan berbagai tugas yang menjadi tanggung jawabnya, masih tetap ramah dengan menyapa siapa saja yang berpapasan denganya, membaur dengan siapa saja saat makan siang dengan menu sederhana, bahkan pulang pergi masih dengan motor maticnya, walaupun Alan selalu memaksanya naik mobil bersamanya.
__ADS_1