SULUNG

SULUNG
CALON MANTU


__ADS_3

Beruntungnya Alan segera melepaskan genggamannya setelah keluar dari bilik devisi keuangan. Nadya pasrah sudah mengikuti langkah Alan menuju lift, dan menekan tombol angka 8. Kaget dong, katanya mau makan siang. Kok menuju ruangannya.


"Loh...katanya makan siang, kok?"


"Makan siangnya di ruangan saya, kamu mau satu kantor tahu kedekatan kita?" tantang Alan yang menatap Nadya sekilas, menikmati wajah kesal Nadya, cukup menggemaskan.


"Cih....kita gak dekat juga!" balas Nadya ketus. Pasti anak keuangan lagi heboh dengan kejadian beberapa menit lalu, bisa-bisa nih Nadya bakal ditodong pertanyaan apapun nanti. "Lagian kenapa juga bapak langsung ke ruangan saya, kan bisa menyuruh Mbak Erfina, atau telpon kek. Gak perlu repot-repot ke bawah." Masih saja Nadya mengomel, dan itu membuat Alan menahan tawa.


"Pengen aja!"


Singkat padat dan jelas serta menyebalkan jawbaban Alan. Bagaimana tidak hanya dengan kata pengen aja, bos ganteng bikin heboh.


Ting


Alan berjalan lebih dulu di depan Nadya ketika pintu lift terbuka, sepertinya gadis itu memang menjaga jarak karena di lingkungan kantor juga. Baru saja membuka pintu ruangan teriakan wanita paruh baya yang pernah didengar Nadya beberapa hari yang lalu.


"Siang, Nadya cantik. Calon mantu mama." Ucap Nyonya Shofi sambil memeluk Nadya erat.


Deg


Nadya melotot sampai bola matanya mau copot, dilihatnya ada Erfina dan Rilo yang menahan tawa. Sial.


"Siang, Nyo-"


"Eh mama dong!" balas beliau masih dengan suara cetarnya.


Nadya meringis, ya kali lidahnya bisa luwes manggil ibu atasannya mama, apa kata orang kantor.


"Saya---"


"Udah ayo makan, mama bawa makanan banyak. Mama juga mau minta maaf sama Erfina karena gak bisa datang di resepsi dulu."


"Gak pa-pa, Nyonya. Kadonya juga sudah sampai, terimakasih banyak." Jawab Erfina ramah, sepertinya Nyonya Shofi begitu dekat dengan Erfina pula. Kalau Rilo jangan ditanya udah dekat banget seperti mamanya sendiri malah.


"Ayo, Nad. Gak usah sungkan. Alan sampai belain jemput kamu loh, istimewa banget deh kayaknya Ampe dijemput bos." Duh si Rilo embernya mulai keluar. Gak tahu apa kalau wajah Nadya sudah kesal setengah mampus.


"Istimewa dong, kan calon mantu mama, harus diperhatikan lah. Masa' dokumen doang yang diurus!" cibir Nyonya Shofi sambil mengambilkan beberapa makanan untuk Nadya.


"Nyonya saya bisa sendiri." Nadya merasa tak enak diperlukan bak putri raja, bahkan makan pun harus disiapkan oleh beliau.


"Sstt...gak pa-pa, saya bukan mertua seperti di film azab kok, Nad. Gak usah takut gitu."


Alan hanya tersenyum melihat keramahan mamanya pada Nadya, ia sadar betul, di usianya yang matang sudah saatnya berumah tangga dan memberikan beliau cucu. Berkali-kali beliau menjodohkan Alan tapi selalu ditolak, dan sekarang.. Nadya yang belum resmi dengan Alan saja diperlukan sebegitu baiknya.


"Habis ini, gak usah balik kerja ya Nad, temani mama belanja. Kita jalan-jalan nanti mama traktir deh."


Nadya manyun, jalan-jalan di jam kerja, sedangkan pekerjaannya menumpuk, apa kata anak keuangan lain. Gini nih yang gak disukai Nadya, gak bisa profesional kalau ada skandal percintaan. Apalagi bos dengan mantan sekertaris.


"Boleh kan, Lan?" tanya mama karena beliau sadar Nadya tak menjawab apapun.


"Terserah, mama!"


"Nah, Nad. Udah diizinin sama Alan kok, santai aja."


Nadya menghembuskan nafas pelan, pasrah sekali dia siang ini. Ih....besok kalau kejadian kayak gini bakal ditolak lagi deh, blokir aja sekalian nomor Alan, saking kesalnya Nadya pada Alan.


Setelah makan siang dan sholat dhuhur, Nyonya Shofi langsung mengajak Nadya jalan ke mall. Beliau berbelanja baju, tas dan nyalon. Astaghfirullah, bukan Nadya banget dengan menghamburkan uang.


/Mbak Er, bawain tas gue ya, mbak. Lagi nemenin mamanya Pak Alan belanja. 😭😭😭😭/


/Kenapa Lo nangis?/

__ADS_1


/Semua outlet dimasuki Mbak, capek/


/😂😂😂😂 Calon mantu/


/Mbaaaaaaaakkkkkkk/


/Beres deh, gue ntar malam nginep di rumah Lo, grup fans Pak Alan heboh./


/Tuh kan/


Nadya kesal sekali, selama ibu Alan memilih baju dia menyempatkan mengirim chat WA pada Ersa, meskipun mama Alan terus saja meminta pendapat dirinya tentang model ataupun warna yang cocok. Horang kaya, main suka main ambil aja deh, tanpa melihat bandrol harga.


Lima paperbag, yassalam, hanya untuk Nadya. Berisi gamis, jilbab, kaos kaki, kemeja dan blazer. Astaghfirullah mendadak seserahan kah ini, Nadya tentu menolak, tapi sang Nyonya memelas agar diterima.


Sebelum Maghrib, Nadya sudah diantar pulang dan menenteng paperbag membuat Naila melongo.


"Belanja Anda, lupa sama adik satu-satunya yang cantik jelita dan baik hati ini." Sindir Naila yang bersandar di pintu kamar Nadya, melihat kakaknya yang sedang melepas hijabnya.


"Ngomong sama tangan!" balas Nadya ketus.


"Beuh....ini mah mehong-mehong." Naila si adik kurang didikan langsung membuka paperbag, merentangkan bajunya dan yang pertama dilihat adalah bandrolnya. Harga selangit bagi Naila.


"Ntar kalau ada teman gue, bilang gue masih mandi." Ujar Nadya yang keluar kamar, tak menanggapi ocehan adiknya yang lagi terkesima dengan barang pemberian Nyonya Shofi.


Setelah membersihkan diri, Nadya kembali ke kamar dan segera menunaikan sholat Maghrib. Ersa yang diminta membawakan tasnya tak kunjung datang.


/Mbak....ke rumah jam berapa?/


Begitu pesan Nadya pada Ersa. Lama menunggu yang tak juga dibalas, akhirnya Nadya pun merebahkan diri, masih bermain ponsel.


Ting


Bukan Ersa, tapi Alan mengirim pesan.


Nadya menepuk keningnya, duh ...kenapa dia bisa lupa sama motornya juga sih, tahu gitu tadi minta antar ke kantor aja.


/Gak perlu, Pak. Makasih. Saya naik ojol saja/


/Tidak ada bantahan/


"Cih...enak saja." Gerutu Nadya membaca pesan menyebalkan Alan tersebut.


/Maaf banget ya Pak Alan yang terhormat, udah dongggggg saya mau bekerja dengan profesional/


/Udah apanya?/


Sengaja Alan memancing emosi Nadya, ia tahu betul gadis itu sangat dongkol kalau mencampurkan urusan pekerjaan dan cinta, dan Alan menikmatinya.


/😭😭😭😭😭/


/😘😘😘😘/


/Gak usah genit, Pak. Maksudnya apa kirim emot seperti itu/


/Genitnya cuma sama kamu/


Nadya curiga, benerkah yang bertukar pesan ini Alan, aneh saya, manusia datar tanpa ekspresi bisa membalas chat pribadi non bisnis secara cepat.


"Malam, Nyonya CEO!" sapa Ersa di depan pintu kamar Nadya, ia sudah dipersilahkan masuk oleh ibu Nadya.


"Eh.... penggemar Pak CEO sudah datang, masuk!" balas Nadya tak kalah sinis.

__ADS_1


"Lo mah Nyonya gue tetap aja babu."


"Dah ah, Mbak gak usah bahas dia. Sebel gue sama dia."


"Kenapa?"


"Mbak kita nonton sambil ngobrol aja, yuk." Ajak Nadya yang sudah siap menyalakan laptopnya, malam ini ia berniat mengobrol dengan menonton drakor.


"Gue izin ke kamar mandi dong, Nad. Ganti baju dulu lah. Pinjam baju."


Nadya pun beranjak mengambil baju di lemari dan memberi Ersa handuk, "Ada air panasnya kok Mbak, otomatis juga."


"Anterin napa, Nad!"


"Heleh kayak baru nginep di sini aja deh, Mbak." Meski begitu Nadya juga mengantarkan Ersa menuju kamar mandi.


"Habis ini ajak teman kamu makan, Nad. Kok kamu gak bilang kalau ada temanmu yang mau menginap?"


"Mendadak, Bu. Tadi ada kepentingan keluar dan Nadya gak balik ke kantor."


Ibu hanya ber O ria saja, Nadya membantu menata makan malam, sekedar menyiapkan piring dan sendok saja. Tak lama kemudian Ersa sudah selesai mandi dan bergabung makan malam.


"Ne baca grup penggemar Pak Alan!" Ersa menyodorkan ponselnya pada Nadya, sengaja memang agar Nadya tahu resiko kedekatannya dengan Alan. Bukan untuk menakuti tapi waspada saja.


"Harus ya, mbak aku tuh gak ada hubungan apa-apa dengan Pak Alan." Rengek Nadya dengan wajah cemberut.


"Ya gue tahu lah, Nad. Lo mana pernah mikir percintaan apalagi di kantor. Cuma kelihatan banget Pak Alan naksir Lo."


Hufh ....Nadya menghela nafas pendek, ia meraih ponsel Ersa, membaca detail apa saja obrolan penggemar rese' Alan.


Tria Marketing: Eh, Sa, tadi di devisi Lo didatangi bebeb ya?


Baru saja Nadya membaca pesan teratas di hari ini sudah bikin mual, bebeb, yassalam. Bebeb bersama gitu maksudnya.


"Gak usah keki dulu sebelum baca semuanya."


"Emang ne para fans gak kerja ya, main hp mulu, banyak banget chatnya."


"Udah baca aja!" perintah Ersa yang siang itu tidak nongol di obrolan di grup penggemar Alan.


/Ah masa sih, ngapain ke devisi keuangan?/


/Ersa mana sih/


/Nadya ancaman berat guys/


/Nadya anak keuangan, mantan sekretaris bulan lalu, cih...sok alim ternyata/


/Tadi gue lihat mamanya bebeb gandeng si Nadya/


/APAAAA/


/Gak bisa dibiarkan nih, besok introgasi dia aja/


/Ersa di kubu kita kan?/


"Mbak......aku gimana besokkkkk? Huaaaa..." Nadya langsung menangis membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi besok di kantor.


Ersa tertawa terbahak-bahak, kelakuan para penggemar memang absurd, tapi ia yakin tidak sampai kekerasan fisik, hanya bully saja. Eh...tapi kalau kalah mental berabe juga sih.


"Mbak Nadddddd....Ada babag ganteng." Teriak Naila dari luar kamar.

__ADS_1


Babang ganteng? Siapa?


__ADS_2