
Nadya, Ibu dan Alan hanya terdiam di meja makan. Setelah Bu Tatik dan Faiq pulang, Nadya langsung mencari Alan. Ia tak ikut mengantar tamu istimewa ibu, biarlah dianggap tidak sopan, yang dipikirkan Nadya hanya Alan. Ia yakin Alan mendengar semua ucapan Ibu, Faiq dan Bu Tatik.
"Hai!" sapa Alan yang baru saja meneguk segelas air dingin dari lemari es, menampilkan deretan giginya ketika Nadya menatapnya tajam.
"Kenapa matamu merah, Mas?" tanya Nadya semakin mendekat ke Alan.
"Menurut kamu?"
Tanpa berkata apapun, Nadya memeluk Alan hingga tubuh Alan terhuyung ke samping. Ia tak peduli akan dimarahi ibu karena melewati batas dengan lawan jenis. Ia menumpukan wajahnya di lengan Alan, mendekap erat tubuh lelaki itu dari samping. Menangis sejadi-jadinya.
Alan mematung. Ia tak meyangka reaksi Nadya akan seperti ini. Di mana wajah gadis yang sejak tadi membuatnya kesal bercampur cemburu? Nyatanya hilang terganti oleh tangisan yang menyayat hati. Alan tak tega.
Dielusnya lengan yang mendekapnya erat, membiarkannya meluapkan emosi tertahan sejak khitbah Faiq disetujui ibu.
"Duduk, Nak Alan." Pinta ibu dengan memperhatikan tingkah sang putri. Marah sebenarnya, tapi beliau tahan. Ia tak mau pembicaraan dengan anak besannya itu penuh emosi. Terlebih putrinya sendiri lebih memilih Alan ketimbang mengantarkan sang calon suami.
"Maafkan ibu." Hanya itu ucapan dari ibu dan ucapan itu justru membuat Nadya mengeratkan pelukannya pada Alan.
Semakin terdiam dan tak bisa menjawab apa-apa. Ibu sudah memutuskannya, dan ia tahu Nadya tak setuju sebenarnya. Isakan tangis terdengar semakin sedih.
"Maaf ibu harus ambil keputusan ini. Sebenarnya Faiq sudah lama menanyakan Nadya sebelum Naila menikah malah. Hanya saja, ibu masih memberikan toleransi pada Nadya untuk memilih calonnya sendiri." Ucap Ibu menjelaskan rentetan peristiwa hingga memutuskan menerima khitbah Faiq.
"Lepasin Alan, Nad..Gak sopan." Titah ibu semakin geram saja pada Nadya. Mata beliau rasanya panas melihat putrinya begitu agresif memeluk laki-laki yang bukan muhrimnya.
__ADS_1
Nadya yang memang penurut sontak melepas pelukannya. Keduanya duduk berhadapan dengab ibu layaknya disidang seperti terdakwa.
"Ibu sejak awal memang merestui kalian, hanya saja saat Nadya memutuskan mengalah dari Naila, di situ ibu juga memantapkan diri untuk tidak merestui kalian."
Netra tua itu ingin menangis saja, tak tega bertindak tegas untuk masa depan putrinya. "Ibu pun membiarkan kalian tetap menjalin hubungan dan ibu tetap berdoa kalian berjodoh. Namun, setelah empat bulanan Naila, ibu melihat interaksi Meysa. Ibu takut, ibu takut putri ibu sakit hati terlalu dalam. Wanita itu kelihatan menyukai kamu, Nak Alan. Bahkan anaknya pun sangat dekat dengan kamu."
Alan dan Nadya masih diam, mendengar dengan seksama. Tak mampu menyela atau membantah. Diam lebih baik.
"Bagaimanapun seorang janda akan memilih laki-laki yang bisa dekat dengan putrinya untuk dijadikan suaminya. Begitupun dengan Meysa." Ibu menjeda sebentar, menarik nafas dalam sepertinya akan memberikan keputusan yang membuat mereka senam jantung. "Sehingga lebih baik mulai sekarang, ibu mohon sekali lagi kalian tidak berhubungan lagi sebagai kekasih. Faiq baik, insyaAllah bisa membimbing Nadya menjadi perempuan sholeha juga."
"Ibu." Nadya bersuara dengan bergetar. "Ibu, Nadya maunya sama Mas Alan."
"Kamu anak baik, Nad. Ibu yakin kamu bisa membina rumah tangga dengan Faiq. Alan juga kan, kamu juga anak baik, insyaAllah akan mendapat yang lebih baik dari Nadya."
"Bu.....saya dan Meysa tidak ada apa-apa. Memang dia agak agresif, tapi saya bisa menolaknya. Tolong, Bu. Gadia yang saya mau adalah putri ibu." Lirih Alan dengan mengeratkan kedua tangannya yang bertautan di atas meja. Menatap ibu Nadya dengan mata berembun. Sungguh, ia tidak menyangkan hubungannya dipaksa kandas oleh orang tua sang kekasih.
"Mau sampai kapan, Nak Alan. Nadya itu perempuan, ibu takut dia akan menjadi perawan tua bila menunggu restu dari ibu. Ibu memohon dengan sangat ya, jauhi Nadya, karena dia sudah ada yang mengkhitbah." Ucap beliau lalu meninggalkan keduanya.
Tangisan Nadya semakin terdengar, bahkan ia menyembunyikan wajahnya pada lengan Alan. Tak hanya bos ganteng yang patah hati, tapi Nadya juga. Hanya hitungan jam, dia terpaksa putus sekaligus menjadi calon istri orang.
Drama cinta yang tak pernah terpikir olehnya. Butuh perjuangan seperti apalagi agar cinta keduanya segera halal. Ya Allah, jatuh cinta kenapa semenyakitkan ini. Alan merangkul pundak Nadya, menepuk pelan gadis itu. Menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia juga butuh.
"Maaf ya, Nad."
__ADS_1
"Kamu menyerah, Mas?"
Alan mengangguk, "Terpaksa."
"Aku gak mau." Nadya menggeleng kepalanya kuat, meskipun masih menempel di lengan Alan. Ia masih waras tidak menampilkan wajah sembapnya pada Alan.
"Lihat aku sayang." Alan berusaha menatap mata Nadya, "Sekeras apapun kita menunggu restu ibu bikin kita tambah sakit hati, lebih baik kita sudahi saja. Kamu sudah dikhitbah orang, sangat berdosa sekali kalau aku masih mendekati kamu. Kalau memang jodoh kita akan bersatu." Ah...Nadya benci kalimat itu. Beberapa kali ia mengatakan kalimat itu pada Alan dan tak mau tahu perasaan Alan saat itu, dan kini ia merasakannya. Sakit, dan sesak di dada.
Tak lama kemudian, Alan pamit. Ia menyempatkan mengusap puncak kepala Nadya. Berharap memang ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.
Langkah Alan tak terhenti, tak mau menoleh lagi. Malam ini, adalah kesempatan terakhir Alab menginjakkan kaki di rumah Nadya sebagai kekasihnya. Begitu ia keluar, maka saat dia datang kemari dengan status yang berbeda, hanya saudara ipar.
"I love you, Nadya.Semoga kamu bahagia." Lirih Alan dengan melajukan mobilnya, menjauhi rumah Nadya dengan gemuruh di dada. Air mata luruh, patah hati semakin dalam. Andai saja dulu mereka egois, tentu sekarang mereka bersanding sebagai suami istri. Andai ia mengikuti saran Ibu untuk putus lebih awal, mungkin tak sesakit ini.
Kini hanya ada rasa sakit
Lalu menangis
Menanti harapan yang semakin tipis
Hanya sanggup hidup dalam kenangan yang cukup manis
Selamay tinggal, Nad.
__ADS_1
Kamulah mantan terindahku.