
Bahagia Rafly tentu dirasakan oleh Alan, mau bagaimana juga sang adik sudah menemukan belahan jiwanya. Adik yang selama ini selalu ia jahili, selalu diutamakan kepentingannya, selalu dilindungi meskipun tertutup dengan ucapan ketus ataupun judes ala Alan, tapi percayalah Alan sangat sayang pada Rafly.
Selain itu bahagia Alan, karena sejak Jumat, sejak momen akad nikah Rafly, ia terus bersama Nadya, meski hanya embel-embel bos Nadya bin saudara ipar, Alan selalu menjawab saudara atau kolega yang tanya status gadis cantik berbalut kebaya muslimah berwarna blue ice itu.
"Yakin nih kamu putus sama bosmu?" tanya Tante Sari, di sela-sela acara resepsi Naila. Beliau tahu cerita Nadya-Alan dari ibu. Maklumlah, ponakan satu itu jarang dekat dengan laki-laki, tapi saat akad kemarin ada yang nempel mulu dengan Nadya. Membuat istri Om Shol ini bertanya-tanya siapa gerangan.
"Cinta mati kayaknya, Dek, sama kamu?" tebak Aflah, anak tertua Om Shol. Pria yang hanya terpaut dua tahun dengan Nadya itu langsung dicubit Ibu.
"Gak boleh mereka melanjutkan, pamali."
"Ck....Tante, zaman udah kayak gini masih mikir pamali, kasihan tuh Nadya baru kenal cinta berakhir mengenaskan!"
"Nanti juga ada jodoh ya sayang!" Tante Sari yang 11-12 dengan sang ibu ikut prihatin akan hubungan ponakannya, tapi mau gimana lagi pamali masih dipegang teguh oleh mereka.
Acara resepsi pun mulai digelar, dekorasi dengan full bunga menambah kesan elegan dan mewah, baik dari keluarga Rafly dan Nadya menggunakan kebaya modern dengan warna senada, yakni blue ice, bagi keluarga perempuan. Sedangkan keluarga pria menggunakan batik dengan warna dasar navy. Begitulah kekuatan uang, hanya hitungan hari masalah seragam teratasi.
Banyak teman Rafly dan Naila yang datang, begitu juga beberapa kolega bisnis dari keluarga Alan. Rilo dan Erick tampak hadir juga, setelah dinas luar kota, termasuk rombongan keluarga Rafly.
__ADS_1
Acara demi acar terlewati hampir 3 jam sudah, kini giliran lempar bunga, Nadya sengaja tidak ikut karena dipastikan banyak teman Naila yang sudah mengantri rebutan lemparan bunga pastinya. Ia masih bermain ponsel atau bercengkrama dengan tamu undangan yang ia kenal.
Alan di mana? pasti tak jauh dari Nadya, terlebih ketika Erick atau Rilo mengajak Nadya berbicara, beuh pasti deh Alan nempel. Cemburu, kalau Nadya dekat dengan playboy cap kapak seperti mereka, terlebih keduanya tahu status hubungan Nadya-Alan seperti apa.
/Meski ku bukan yang pertama, di hatiku tapi..../
sepenggal lagu berjudul Cinta Terbaik yang dilantunkan oleh wedding singger, mulai menggema, Naila sudah bersiap melempar bunga itu, teriakan dari teman-teman Naila sudah terdengar melebih suara penyanyi malah, namun.....Naila dan Rafly berjalan ke arah Nadya yang berdiri dekat gerombolan para penunggu bunga.
"Buat kakakku tercinta, makasih, dan semoga segera menyusul dibayar tunai." Ucap Naila dengan menyodorkan bunga pengantin itu, Nadya tertawa, konyol juga, ia tak perlu susah-susah mengambil bunga, eh malah diantar sang pengantin.
"Makasih!" ucapnya sembari menerima bunga lalu memeluk erat sang adik. Mengabaikan protes teman-teman Naila yang tak dapat bunga.
"Seneng banget dapat bunga!" sindir Alan yang entah kenapa tak mau jauh dari Nadya sedetik pun.
"Sini kalian gue foto, baju udah pantas lah buat moment lamaran." Celetuk Erick yang sudah siap dengan kamera ponselnya.
"Pak Erick gak usah macam-macam ya!" protes Nadya jutek.
__ADS_1
"Udah, kita juga gak punya foto berdua!" Alan malah setuju dengan ide Erick, keduanya tak tahu saja ada udang dibalik rempeyek dalam otak jahil Erick.
Alan yang menghadap kamera dengan memasukkan satu tangan ke saku celananya bersanding dengan Nadya yang tersenyum manis sembari memegang buket bunga. Keduanya tampak serasi sebagai pasangan kekasih, dan cekrek. Moment manis sudah diabadikan.
"Gue kirim ke wa kalian ya!" pinta Erick dengan senyum jahil. Memang dia mengirim foto ala lamaran abal-abal itu ke wa Nadya dan Alan, tapi percayalah Erick juga memposting di status wa nya, di grup keuangan, dengan caption Alhamdulillah.
"Pak Erick jangan macem-macem!" Nadya curiga karena Erick masih berkutat dengan ponsel dan senyum tak jelas.
"Udah, biarin aja!" entahlah Alan selalu membela apa yang dilakukan Erick, padahal biasanya dirinya yang paling mencegah perbuatan konyol Erick yang akan diciptakan.
"Gila, kayak lamaran beneran loh kalian!" celetuk Rilo yang baru saja bergabung dan menampilkan foto Alan dan Nadya.
Nadya membulatkan bola matanya ketika menangkap nama grup di mana fotonya berada. Grup umum yang berisi manajer, staf, Rilo dan Alan.
"Pak Erick!" hentak Nadya kesal, bahkan sampai bunga pengantin dijadikan alat pukul untuk manajer keuangan itu.
"Aduh!" ringis Erick dengan tawa yang menggelegar. Berhasil membuat kehebohan di grup umum yang kebanyakan penggemar Alan, entahlah bagaimana hari senin besok. Membayangkan betapa hancurnya para penggemar Alan saja membuat Erick terkekeh geli. Sedangkan Alan puas, tak marah sama sekali bahkan sangat setuju dengan tindakan Erick kali ini.
__ADS_1
"Nyebelin." Ucap Nadya ketus, meninggalkan ketiga pria tampan yang masih menertawakan kekesalannya. Sungguh menggemaskan.