SULUNG

SULUNG
MULAI GO PUBLIC


__ADS_3

Kenangan manis di hari Sabtu membuat energi Alan terisi penuh menyambut Senin pagi dengan segala aktivitasnya. Bahkan Erfina yang kembali bergabung menjadi sekertarisnya terheran dengan senyum cerah bos ganteng pagi itu. Padahal Alan hanya makan di restoran masakan Korea saja dengan Nadya, tapi begitu berkesan dengan moment itu. Memang ya orang jatuh cinta, moment biasa terasa luar biasa. Lebayyy.


"Pagi, Pak. Bahagia banget sepertinya?" tanya Erfina yang akan membacakan agenda hari ini.


"Biasa, Fin. Orangnya lagi jatuh cinta." Timpal Rilo yang sudah sibuk dengan laptopnya di ruangan Alan.


"Cie...siapa tuh ceweknya?" pancing Erfina kepo.


"Kamu dan Pak Rilo di sini buat saya gaji.". Kalau sudah begini Erfina dan Rilo kincep, bosnya memang jarang sekali bercanda. Alan bisa leluasa ngomong jika berdua saja dengan Rilo, Hem plus Nadya. Ah ..gadis itu memang beda dengan yang lain, membuat Alan selalu berdekatan dengan Nadya.


Sedangkan Nadya sendiri, menyambut senin pagi ini dengan ceria, bahkan terlalu semangat juga karena bisa duduk di meja kerjanya dengan nyaman, ia kembali menjadi pribadi yang ceria bekerja sesuai keahliannya. Dirinya juga lebih nyaman bekerja karena tidak berdekatan lagi dengan Alan.


"Ada yang gajinya luber nih?" sindir Ersa yang memang bagian menggaji para karyawan. "Traktir dong."


"Boleh, iya mbak luber banget." Timpal Nadya dengan senyum mengembang lebar. "Nanti pulang kerja deh, kita makan KF*, anak keuangan deh kecuali Pak Erick."


"Lah ngapa gue gak boleh ikut?" protesnya.


"Ya kali, Pak. Saya traktir manajer di restoran receh gitu."


"Kalau niat traktir ya traktir aja, Nad. Gue mah gak lihat murah mahalnya yang penting kebersamaan kita." Ujarnya bijak.


"Oke deh, nanti Pak Erick ikut juga."


"Sama Alan, ya?"


Nadya menatap Erick tajam, "Ogah."


"Emang Pak Alan mau, Pak gabung sama kita?" Ersa kepo dan semangat 45 kalau sampai bisa makan semeja dengan Alan.


"Maulah, apalagi sama gadis yang disukai." Cicit Erick mulai bikin Nadya gelagapan.


"Siapa?" tanya anak keuangan kompak, kecuali Nadya.


"Kepo deh kalian, ha..ha..ha." Erick benar-benar membuat mereka penasaran, sampai Nadya ditodong pertanyaan beruntun dari Imel, mencari tahu siapa gadis yang disukai Alan, hampir satu bulan loh Nadya menjadi sekertaris Alan, masa' iya dia gak tahu gadis misterius itu.

__ADS_1


"Udah ah, kenapa harus ngomongin bos datar itu sih." Protes Nadya yang sudah siap dengan berbagai laporan devisi marketing yang kebetulan satu bulan kemarin di handle langsung oleh Erick.


"Cie yang takut terciduk." Sumpah pagi itu mulut Erick bikin ketar ketir Nadya, karena Ersa dan Imel sudah menatapnya dengan tatapan horor.


"Jangan bilang Lo, Nad. Cewek yang disukai Pak Alan." Tebak Ersa masih penasaran.


Nadya hanya mengedikkan bahu, berniat mengakhiri pembicaraan tak penting. Apalagi Erick hanya cekikikan saja, dasar tuh orang pagi-pagi bikin emosi jiwa saja.


Oke pembahasan tentang Alan berhenti sampai di sini, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hilir mudik karyawan dari devisi lain, silih berganti masuk ke devisi keuangan mengumpulkan laporan mingguan.


Ting


Pesan masuk di ponsel Nadya, bersamaan dengan suara ketikan keyboard yang tak henti sejak tadi pagi.


/Makan siang bareng ya/


Nadya melirik sebentar pesan itu, ia begidik ngeri, kenapa Alan mengajaknya lagi. Pikir Nadya setelah ia terbebas dari tugas sekertaris, maka bebas juga ia dari gangguan bos rese' tapi ganteng itu.


/Maaf, Pak. Saya makan siang bersama anak keuangan/


/Ya udah saya ikut/


Nadya seketika mendelik, dan sialnya Ersa mengetahui perubahan ekspresi Nadya ketika menatap layar ponselnya. "Kenapa, Nad?" tanya Ersa mendekati meja Nadya. Khawatir kalau ada berita yang tidak mengenakkan.


"Ah..gak pa-pa." Jawab Nadya cepat-cepat menutup layar ponselnya.


"Curiga gue!" Ersa kembali ke mejanya dengan tingkat kekepoan yang tinggi, pasalnya Nadya terlihat jelas menyembunyikan sesuatu. Maklum Nadya sosok gadis yang ekspresif.


"Paling juga Alan yang WA!" celetuk Erick tanpa melihat wajah kesal Nadya yang sudah komat kamit menggerutu celetukan Erick.


"Wah kalau bener yang disukai Pak Alan, Nadya. Gue mundur deh." Ersa tiba-tiba insecure.


"Kenapa, mbk?" tanya Imel penasaran juga alasan kenapa Ersa mundur.


"Lo tahu kan, Mel. Si Nadya tuh gak tertarik sama cowok, maunya dihalalin langsung."

__ADS_1


"Trus?" bahkan Nadya juga memasang telinga pada percakapan Imel dan Ersa.


"Kalau sampai Pak Alan yang suka sama Nadya, dan mengejarnya, beuh...cinta mati. Lo tahu kan, Mel. Cowok pendiam itu kalau sudah jatuh cinta bakal lopdet banget, dan daripada gue semakin nyesek gue mundur deh." Ersa pura-pura nangis, sedangkan Nadya tertawa ngakak melihat ekspresi Ersa.


"Halah, mbak. Sebelum janur kuning melengkung Pak Alan milik umum kali." Seloroh Nadya menimpali rengekan Ersa, agar seniornya itu tidak insecure.


"Tuh kan, Mel. Dia cuek bebek, kelihatan banget kalau Pak Alan yang ngejar dia."


Tak hanya Nadya yang ngakak, Erick pun ikut tertawa terbahak-bahak karena satu demi satu penggemar Alan akan patah hati. Tinggal menunggu waktu saja.


Sumpah demi apa devisi keuangan dibuat melongo dengan kehadiran Alan yang tiba-tiba nongol. Ia menyandarkan badannya di pintu dengan menatap Nadya yang kelewat serius. Sedangkan Ersa, Imel, Cindy dan Egi melongo, hingga menelan salivanya kasar.


"Mau apa--" Erick hendak bertanya apa yang membuat Alan sampai di devisi keuangan, di waktu menjelang istirahat lagi. Namun belum sempat melanjutkan pertanyaan, Alan sudah memberikan signal untuk diam. Bos ganteng itu hanya menempelkan telunjuk di bibirnya, isyarat untuk Erick agar diam.


"Pak, nanti jangan lembur ya kalau gitu. Katanya minta traktir, pulang tet jam 5 ya? Nanti pesannya jangan mahal-mahal juga, tekor saya." Cerocos Nadya yang masih fokus di depan komputernya.


"Kok pada di-----" Nadya menoleh, dan dia sontak berdiri, mengangguk hormat setelah tahu ada Alan di depan pintu. "Selamat siang, Pak." Ujarnya ramah.


Alan berjalan menuju mejanya, Nadya mengerutkan dahi, bingung dan heran, tak biasanya Alan datang langsung ke bilik kerja karyawannya. Biasanya menyuruh Erfina atau mereka yang disuruh ke ruangan Alan.


"Yuk, makan siang." Ujar Alan yang sudah berdiri di depan Nadya.


Sontak Nadya melongo mendapat tawaran langsung.


"Mingkem, Nad. Diajak bos makan siang tuh." Erick kembali menjadi kompor meleduk, sengaja agar suasana biliknya kembali kondusif. Terlebih anak buahnya masih shock dengan kehadiran Alan.


"Pak Alan ngajak saya?" lah Nadya si oon kumat, "Yah...saya maunya makan siang sama mereka."


Ersa dan anak keuangan lain geleng-geleng kepala, betapa bodohnya Nadya menolak ajakan Alan, langkah Nad, biar gue gantiin Lo aja gimana, mungkin seperti itu ocehan batin mereka.


"Ya udah saya ikut kamu, yuk." Alan malah menarik pergelangan tangan Nadya begitu saja, tak menghiraukan rengekan Nadya yang meminta melepaskan genggamannya. Apa kata para penggemar Alan, ya Allah. Nasib disukai bos gini amat. Lagian si bos, main tarik aja, gak ada jaim-jaimnya.


"Sukses brooooo!" teriak Erick ketika Nadya sudah dibawa kabur keluar ruangan, dan dijawab Alan dengan sebuah jempol.


"Rizekinya mbak Nadya." Ucap Imel pasrah dengan keadaan, "Gue juga mauuuuuuu." Lanjutnya merengek.

__ADS_1


"Samaaaaaaa!" balas Ersa tak kalah heboh.


__ADS_2