
BRAAAAAĶKKK
Naila jatuh dari motor. Apes sekali, saat pulang dari rumah Bu Endang ia tidak melewati jalan saat berangkat tadi. Ia keluar gang hingga melewati jalan raya, niatnya mau beli es oyen di seberang jalan. Sialnya, saat akan menuju lokasi es oyen langganan, Naila melewati jalan rusak berlubang, dan ada genangan air di atasnya. Alhasil ia tak melihatnya. Naila jatuh tertimpa motor, tak ada luka, hanya saja darah keluar dari telinga kirinya. Hanya itu saja.
Para warga di sekitar langsung menolong Naila yang tak sadarkan diri. Darah terus saja mengucur dari telinganya, bahkan kepala yang kena aspal, tidak lecet sama sekali. Sungguh aneh. Warga sekitar segera melarikan Naila ke rumah sakit terdekat, sembari menghubungi pihak keluarga. Namun sayang, ponsel Naila terkunci. Beruntung STNK dimasukkan dompet sebagai gantungan kuncinya.
Nad, segera ke rumah sakit X. Naila kecelakaan.
Pesan ibu setengah jam lalu, yang baru sempat dibaca Nadya. Sontak ia berdiri, menyambar tas dan memasukkan ponselnya. Wajahnya pucat seketika.
"Ada apa, Nad?" tanya Mbak Ersa.
"Mbak, aku keluar sebentar, Naila kecelakaan."
"Hah? oh...oh...iya, nanti aku sampaikan ke Pak Erick, udah segera ke rumah sakit, kerjaan nomor dua. Kamu juga hati-hati." Ersa ikut gupuh, dan khawatir. Ia tahu adik Nadya itu juga lagi hamil muda, was was banget pasti dengan keadaannya.
Langkah cepat Nadya diimbangi dengan kecepatan lift yang mendukung, tak sampai 5 menit ia sudah berada di loby. Baru saja melangkah keluar dari lift. Nadya terhenti seketika, dari lift khusus tampak Alan juga baru keluar. Bos ganteng itu pun melihat Nadya.
"Bareng kita aja, Nad. Lo mau ke rumah sakit kan?" Rilo yang membuyarkan tatapan mereka berdua. "Udah cepet, waktu kita gak banyak." Rilo puj melangkah menuju loby. Nadya pun turut serta di mobil mereka.
"Gimana ceritanya, Nad. Bisa kecelakaan itu?" tanya Rilo di sela-sela konsentrasi mengemudi. Lumayan kencang juga.
"Aku gak tahu, chat ibu setengah jam lalu. Ini aku hubungi ibu juga gak diangkat." Jawab Nadya dengan penuh rasa cemas. Banyak pertanyaan dalam benak Nadya, kecelakaan di mana? sama Ardhan? atau sendiri?
Hingga mobil yang dikendarai Rilo, parkir asal di depan rumah sakit. Nadya dan Alan segera turun dan menuju UGD. Masih tak ada obrolan di antara keduanya, hanya tujuannya sama mencari Naila.
"Pasien atas nama Naila?"tanya Nadya di loket depan UGD.
__ADS_1
"Pasien kecelakaan setengah jam lalu, Mbak." Lanjut Nadya.
"Ouh..pasien atas nama nona Naila sudah tidak di UGD, Mbak. Sudah dipindahkan ke kamar jenazah."
"Ma-ma-maksudnya?" Nadya masih belum ngeh dengan ucapan penjaga loket itu.
Alan langsung menarik pergelangan tangan Nadya begitu saja, "Ikut aku. Terimakasih mbak."
Nadya linglung, tak terasa kalau sedari tadi ia jalan karena digandeng Alan. Baru sadar ketika langkah Alan berhenti, sebelum masuk ke lorong kamar jenazah, ia melihat ibu yang duduk dengan sesenggukan, meremas tisu. Di sampingnya ada Bu Didan, tetangga sebelah rumah Nadya yang merangkul beliau. Alan sudah melepas tangan Nadya, hendak menuju kamar jenazah namun tertahan oleh Nadya.
"Aku ikut." Gadis itu memegang ujung jas Alan.
"Yakin? Kuat?"
Nadya mengangguk, Alan pun merangkul pundak Nadya, sengaja memang, biar semua orang tahu Alan lah yang ada di saat Nadya butuh. Tampak Ardhan sedang menelpon seseorang, beberapa kali suami Naila itu menyeka air matanya.
"Mas Alan." Ardhan langsung memeluk Alan, ia menangis tergugu, bahkan Alan sampai terhuyung ke belakang. Laki-laki itu hanya menepuk punggung adiknya.
"Jatuh sendiri, Mbak. Pakai motor punya mbak." Jelas Ardhan.
"Kok bisa? Kamu gak nemenin dia naik motor?" Cecar Nadya dengan kesal.
Ardhan menggeleng dengan wajah menunduk. Ia juga tidak menyangka kejadian ini. Sejak tadi pagi ia sudah meminta Naila stay di rumah saja, gak usah keluar. Tapi nyatanya, sang istri punya misi dan berakhir dengan kecelakaan.
Ardhan menceritakan krobologi kejadian yang dia dapat dari sang ibu. Nadya langsung terduduk, lemas rasanya. Secara tidak langsung ia juga yang menyebabkan Naila kecelakaan.
Astaghfirullah
__ADS_1
Barulah air mata Nadya keluar, sangat deras hingga sesenggukan. Alan terus berada di samping Nadya hingga jenazah dibawa pulang. Alan dan Nadya serta Ardhan ikut di mobil jenazah, sedangkan Ibu dan Bu Didan ikut di mobil Rilo.
Hening
Tak ada suara di mobil jenazah itu, Nadya hanya menatap kosong pada keranda Naila. Alan terus menggenggam tangan Nadya. Tak tega, sungguh tak tega Alan melihat kondisi Nadya seperti ini. Tatapan matanya kosong, diam saja, tangannya dingin. Lebih baik Nadya menangis daripada diam seperti ini.
Rumah Nadya sudah dipasang tenda dan bendera putih. Kursi pelayat juga sudah banyak terisi. Ruang tamu pun sudah rapi dengan karpet. Nadya, Alan, serta Ardhan keluar dari mobil jenazah disambut bapak-bapak perumahan yang siap membawa keranda Naila. Suara tangis ibu terdengar jelas ketika keranda Naila dibawa masuk ke ruang tamu. Ibu-ibu pengajian terus membaca al ikhlas, dan ya sin, ada juga yang membaca tahlil.
Silih berganti pelayat datang, Ibu dan Nadya sudah tidak bisa mengontrol tangisnya ketika teman Naila datang. Mama Shofi terus berdekatan dengan Ardhan yang masih terpukul. Calon ayah itu harus kehilangan dua nyawa sekaligus, sangat menyesakkan.
Pukul 13.00, ba'da dhuhur, jenazah disemayamkan. Ardhan mengadzani sang istri sebelum dikebumikan, suaranya bergetar menahan tangis. Harus ikhlas, jangan sampai air mata jatuh di tanah makam.
Setelah prosesi selesai, para pelayat mengundurkan diri. Hanya adaArdhan, Nadya, ibu, Mam Shofi, Alan dan Faiq yang masih di makam. Mendoakan Naila.
"Maaf, databg terlambat." Ucap Faiq pada ibu ketika rombongan akan pulang. Nadya masih berjalan di belakang ibu ditemani Alan, ia tak menghiraukan Faiq sama sekali. Biarlah suasana hatinya yang masih berkabung tetap tenang, tak perlu menghiraukan urusan dengan Faiq.
"Gak pa-pa, Nak Faiq. Terimakasih sudah datang." Ucap Ibu dengan wajah sembapnya. Semua dipaksa ikhlas dengan kepergian Naila. Tidak ada yang menyangka, Naila sudah tiada meninggalkan seorang suami dan keluarga yang begitu menyanyanginya.
"Itu calon suami kamu, Nad?" tanya Mama Shofi tiba-tiba.
"Ma......" Tegur Alan dengan pelan. Nadya hanya tersenyum saja.
"Katanya sih iya, Ma." Jawab Nadya kemudian.
"Kelihatan banget kalau kamu kepaksa Sayang."Ucap Mama Shofi dengan mengelus lengan Nadya.
"Semoga segera ada jalan keluar, kamu anak baik, penurut, tanggung jawab sama keluarga insyaAllah akan bahagia. Begitupun anak tante, baik Ardhan dan Alan insyaAllah juga akan bahagia, dengan cara yang indah tentunya. Mama berharap, kejadian Naila ini menjadi pengingat kita agar lebih hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan."
__ADS_1
"Iya, Ma." Jawab Nadya yang langsung dipeluk oleh Mama Shofi. Mertua Naila itu memang sangat menyanyangi Nadya, bahkan Naila pun sempat iri dengan kedekatan mereka. Seperti halnya ibu Nadya, Mama Shofi pun memilih Alan-Nadya yang menikah terlebih dahulu. Namub nasi sudah menjadi bubur, Naila yang menikah dengan Ardhan. Mengorbankan banyak perasaan, dan diakhiri dengan kesedihan.
Selamat jalan, Nai. Adikku sayang. Terimakasih sudah memperjuangkan kebahagian kakakmu, Kita semua sayang kamu, Nai. Kami ikhlas, semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin..