
Pamali ibu masih berlangsung, Nadya tetap menjadi penurut, apa yang diucapkan ibu ia tak mau membantah. Apalagi sekarang, hanya ibu yang ia miliki. Bahagianya ibu adalah yang utama.
Hubungan dengan Alan terus berlanjut, hanya saja lebih banyak mereka LDR-an, karena Alan lebih banyak mengembangkan bisnis di Malaysia-Singapura. Ardhan juga akhirnya menetap di Singapura, melanjutkan penelitian. Sesekali pulang, ziarah di makam Naila.
"Udah move on?" tanya Nadya setelah menemani Ardhan ke makam Naila, karena hampir tiga bulan ia tak pulang ke Indonesia.
"Move on gak move on, Mbak. Masih keinget lah. Banyak yang deketin, tapi gak bisa kayak Naila. Cantik, cerewet, baik hati, perhatian banget."
Nadya terseyum mendengar penuturan adik iparnya, ya itulah Naila, selalu memberikan kesan menarik dengan orang terdekatnya. Nadya saja, malah sering tidur di kamar Naila karena kangen.
"Mbak kok sama Mas Alan gak meresmikan hubungan ke jenjang yang lebih serius, masih cinta gak sama dia?" tanya Ardhan intens.
"Masih kok berhubungan, emang Mas Alan gak pernah cerita?"
"Anak itu mah soal cewek, gak pernah terbuka. Makanya dulu kesalip sama aku."
Nadya terkekeh, "Sebenarnya Mas Alan udah sering sih melamar ala ala dia, tapi ibu masih belum kasih restu."
"Kok?"
__ADS_1
"Naila belum satu tahun, pamali."
Ganti Ardhan yang terkekeh, heran juga hubungan Nadya-Alan selalu diliputi pamali. Kapan berakhirnya coba.
"Ibu kekeh banget ya sama pamali. Coba sih kenalin aku sama pamali."
"Ngaco aja Pak Dokter ini. Ya udah sih, turutin aja. Lagian Mas Alan juga sibuk banget, lebih sering ke Malaysia daripada di kantor sini."
Baru saja mereka sampai di rumah, ponsel Nadya yang sengaja tidak dibawa bergetar, hingga ibu mengangkatnya, panggilan dari Alan.
"Pacar kamu gak sabaran, udah dibilang kamu lagi ke makam sama Ardhan dia telpon mulu." Omel ibu dengan menyerahkan ponsel Nadya.
"Sama Ardhan?" tanpa menyapa ...eh langsung tanya sewot.
"Waaalaikusalam. Sama Ardhan?"
"Iya."
"Gak usah dekat-dekat sama dia. Duda tuh ..kepincut lagi kamu ntar." Omel Alan yang langsung disambut tawa Nadya.
__ADS_1
"Makanya, buruan dihalalin, dideketin duda yaho' lo." Ardhan malam memanas-manasi, ia sengaja duduk di sebelah Nadya, menatap layar panggilan Alan. Kesal dan marah, perih tuh mata Alan melihat keakraban Nadya dan Ardhan.
"Bu...ibu....besok Alan pulang ya, langsung nikah deh ...bayar tunai anak ibu." Semakin gokil aja Alan kalau menyangkut nikah dengan Nadya. Bahkan Ibu Nadya hanya menggeleng mendengar tingkah Alan yang semakin tak dewasa itu.
"Apaan sih, ogah akunya juga. Jadi pengantin baru ditinggal dinas luar terus malas." Protes Nadya yang sudah jarang kencan, hanya lewat dunia maya seperti ini ia menjalani hubungan dengan Alan.
"Ya sayang, ini juga buat masa depan kamu. Aku nikahin kamu gak sehari dua hari kali, butuh biaya hidup, gak mungkin lah aku ngebiarin istriku banting tulang mencari nafkah. Kamu tuh ntar jadi ratu...apa yang kamu minta insyaAllah aku turuti. Apalagi nanti kalau hamil anakku. Hem..."
"Nikah, nikah jangan obral janji." Cetus Ardhan yang kembali hadir di tengah kemesraan mereka.
"Lo adik gak ada akhlak, jauh-jauh gih dari Nadya."
"Eh...Mas Alan, kebanyakan LDR sama kamu, Mbak Nadya lagi diincar orang tuh."
Pembahasan sensitif bagi Alan, ia langsung melotot dan terdiam. Nadya kelimpungan, mode silent Alan jangan sampai on, kalau terjadi pekerjaan di Malaysia gak bakal rampung dong.
Pukkk
Nadya memukul lengan Ardhan. "Gak usah bikin orang cemburu," omel Nadya. "Gak ada Mas, beneran gak ada yang deketin. Udah konsentrasi sama bisnis di sana ya, insyaAllah aku di sini setia sama kamu."
__ADS_1
"Jangan-jangan, Mas Alan di sana yang gak setia Mbak Nad, makanya gak mau balik." Lagi-lagi Ardhan menjadi kompor meleduk.
"Ngomong apa lo." Hentak Alan sembari menyodorkan bogem mentah ke arah Ardhan. "Adik gak ada akhlak emang." Ucapnya sebelum panggilan itu berakhir.