
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Itulah kalimat yang terucap oleh Mama Shofi, Ibu, Ardhan ketika Alan memberi kabar kondisi Nadya saat ini. Meskipun sang mama di awal sambungan telpon sudah mengomel tak jelas karena Alan mengaku Nadya di rumah sakit, membuat wanita paruh baya itu gelagapan, dan berakhir suka cita karena Nadya hamil.
"Mama girang banget kayaknya." Tebak Nadya dengan wajah pucatnya, diiringi senyum tipis pada sang suami.
"Banget lah, sayang. Momentum hidupku tuh yang paling ditunggu mama, menikah dan punya anak. Karena beliau sadar aku harus menjadi tulang punggung keluarga di usia sangat muda. Bahkan mama takut banget karena aku gak pernah dekat dengan cewek."
"Makanya pas aku nemenin kamu sakit dulu mama heboh banget yah, beliau pikir aku pacar kamu ya, padahal cuma sekertaris doang." Balas Nadya mengingat awal kedekatan mereka.
"Aku udah tertarik kali sama kamu, cuma kamunya aja yang menghindar. Emang gak tertarik sama aku waktu itu?" tanya Alan sambil memegang tangan Nadya erat.
"Enggak sama sekali, aku gak suka punya cowok yang banyak penggemarnya, apalagi punya tampang kayak gini. Gak pernah terpikirkan sama sekali." Celetuk Nadya sambil memegang dagu sang suami.
Alan tersenyum, memang istrinya ini beda dari perempuan lainnya. Di saat perempuan lain akan merasa istimewa mendapat kekasih yang banyak penggemarnya, eh dirinya malah gak suka. Sangat aneh bukan??
__ADS_1
Waktu pun terus bergulir, kondisi Nadya semakin membaik, berbagai vitamin dan tips dalam mengatasi morning sickness dijelaskan oleh dr Malik. Bahkan sang mama dengan kekuatan fulus langsung memesan catering khusus ibu hamil. Betapa detailnya beliau saat menjelaskan makanan apa untuk sang menentu, baik makanan utama maupun camilannya. Harus bervariasi dan memenuhi gizi seimbang. Padahal nafsu makan Nadya belum begitu naik secara drastis, tetap saja buah dan puding menjadi menu andalan di kala mual melanda.
Meski di trimester pertama ini Nadya agak ribet, ia tetap bekerja loh. Entah kekuatan apa, di saat berangkat kerja mual dan pusing hilang begitu saja. Padahal di kantor matanya selalu awas pada layar monitor, tapi tak lelah juga. Alan malah khawatir, akan kondisi istrinya. Berkali-kali mengecek kondisi Nadya, bahkan Erfina, Mutia atau Rilo disuruh beli camilan, minuman, bantal punggung kalau Alan lagi repot.
"Udah dong, jangan suruh mereka terus. Kasihan. Mereka juga punya kerjaan lain." Keluh Nadya saat istirahat di ruangan Alan, menselonjorkan tubuhnya di sofa sambil membuka ponsel. Kepalanya ia letakkan di pangkuan sang suami yang masih makan siang.
"Ya udah kerja di ruangan ku aja, aku bisa awasi kamu."
"Ya gak gitu juga, Mas. Aku tuh hamil, bukan sakit, catat ya. Gak perlu digituin banget." Balas Nadya tak kalah sengit. Sikap over protektif Alan membuat ia jengah, dikit-dikit kamu hamil loh, hamil jangan begini, hamil jangan begitu. Haduh....udah tahu istrinya itu tak bisa diam, eh ruang geraknya sangat dibatasi. Berontak deh.
"Mulai besok jangan suruh mereka, kalau aku butuh apa-apa aku bakal hubungi kamu aja."
Seperti halnya saat ini, Nadya suntuk di kantor selagi istirahat dan selesai sholat. Ardhan mengajaknya makan di Cafe sebelah kantor. Ia membawa wafle Singapura. Siapa coba yang tahan godaan makanan enak seperti itu, Nadya pun pamit pada Alan. Berniat menerima ajakan makan siang, Ardhan. Cari suasana baru saja saat makan siang ini.
"Ya Allah udah sama Ardhan kenapa Mutia harus ikut sih." Protes Nadya saat Mutia sudah berada di ruangannya. Ia langsung menelpon sang suami yang katanya masih meeting di luar.
"Mutia ikut atau gak usah ketemu Ardhan sama sekali. Lagian ngapain sih duda itu ngajak kamu ke cafe segala, toh di rumah nanti juga ketemu.
"Biarin napa, dia unclenya ..wajarlah perhatian." Cicit Nadya kesal dan tak lama menutup sambungan telpon itu dengan salam.
__ADS_1
Mau tak mau, Nadya mengajak Mutia. Mereka berjalan kaki, karena jarak cafe dengan kantor hanya 300 meter. Saat perjalanan, video call dari Alan tak bisa ditolak oleh Mutia, alhasil ponsel Mutia diarahkan ke Nadya. Istri bosnya itu cemberut, langkahnya dibuat cepat, karena gak mau meladeni video call Alan.
"Mutia kenapa kalian jalan, kan saya sudah bilang biar di antar Pak Din. Itu kenapa juga gak pakai payung, aduh gimana sih kamu Mutia. Kan kamu saya suruh jaga istriku, ini sama aja kamu gak prepare, membiarkan istrinya saya capek. Udah dekat belum cafenya?" Mutia hanya diam tak berkomentar, mendengarkan berbagai omelan sang bos di siang terik ini. Sungguh, baru kali ini Mutia menyesal menjadi sekertaris pribadi Alan.
"Kok diam?" tanya Alan jutek.
Nadya mengambil ponsel Mutia, menampilkan senyum manis pada sang suami agar menghentikan terornya pada Mutia.
"Kita udah sampai, Mas. Silahkan meeting ya, dan jangan ganggu kita. Bye..."
Tut
Nadya memutuskan sepihak, menyerahkan ponsel Mutia dan menarik tangan Mutia ke dalam cafe. "Nanti kalau suamiku telpon lagi, biar aku yang angkat."
"Baik, Bu."
"Eh ...kamu jangan panggil Bu dong. Kayak dulu aja, kamu panggil Mbak kan?"
Mutia mengangguk saja, kepalanya sudah pusing menuruti permintaan aneh sang bos beberapa hari ini. Pasalnya bukan perkejaan sekertaris tapi cenderung pekerjaan baby sitter Nadya malah. Awas aja kalau gak ada bonus gajian untuk 3 Minggu neraka ini.
__ADS_1
"