
Setelah merengek dan berdecak sebal karena Nadya menyebut kudis alias Nathan Yudistira ganteng di depannya, membuat seorang Alan ingin menjauhkan pemuda itu dengan Nadya selamanya. Nomer Nathan mau diblokir, tak mungkin juga, karena Nadya pasti tak mau kehilangan kontak sahabat rasa pacarnya. Cih... menyebalkan sekali mereka. Mau diajak ketemuan terus dilarang bertemu lagi sama Nadya, yah...mana percaya orang status Alan sekarang otw mantan. Duh....butuh strategi nih.
Alan kalang kabut, otak cerdasnya mendadak buntu, tak tenang kalau sampai mereka berchat ria malam ini. "Kita tukeran ponsel buat malam ini, mau?" sebuah penawaran konyol yang dilontarkan seorang pemimpin perusahaan makanan bayi ini, membuat Nadya tambah ngakak. Jelas sekali niat tukar ponsel untuk menghindari chat dengan Nathan.
"Kenapa? hp aku android biasa loh, gak kayak punya Pak Alan yang mehong gak ketulungan."
"Ck...gak usah panggil, Pak. Kenapa sih!"
"Emang buat apa sih tukeran ponsel segala?" Nadya iseng aja pura-pura tak tahu.
"Hem...gak pa-pa, cuma pengen tukeran aja!" Oh Alan masih gak ngaku, oke.... lanjutkan kepura-puraanmu, Lan.
"Nih!" Nadya menyodorkan ponselnya begitu saja, "Gak usah tukeran, pakai aja!"
Alan menaikkan alisnya, heran, kenapa Nadya bisa sepasrah itu, apa dia gak rugi kalau melewatkan chat dengan si kudis itu malam ini? Dih....susah ditebak kamu, Nad, batin Alan menggerutu.
"Kamu bawa ponsel aku aja kalau gitu!" Alan masih nego rupanya untuk barter.
"Buat?"
"Chat sama akulah!"
"Gak mau ah, udah ketemu juga, ampe mau isya aku belum dipulangkan, sholat Maghrib dengan badan lengket lagi."
"Trus mau chat sama siapa kalau sama aku gak mau?" Nah kan kepancing juga, kalau Alan tuh gak rela Nadya chat dengan Nathan.
"Sama siapa ajalah, emang kamu mengharap aku chat sama siapa selain sama kamu?" ketus Nadya. Yap....mau jawab apa kamu, Lan. Udah terpojok tuh.
"Ah...sayang, aku gak mau kamu chat sama Kudis." Nadya sontak tertawa lebih nyaring lagi, Alan bak anak kecil yang kehilangan permennya, kalau gak di tempat umum mungkin nangis mewek dah tuh bos ganteng.
"Kalaupun ponselku kamu pakai, aku masih bisa chat dia via messenger lewat laptopkan, atau zoom aja sekalian, kamu lupa kalau aku masih punya laptop." Masih memanas-manasi Alan rupanya.
"Ya udah kalau gitu kamu ikut ke rumahku aja, aku sekap." Kan pemikiran seorang bos malah semakin konyol.
"Dih... penculikan dong!"
"Sayang, plis dong, gak usah chat lagi sama dia ya?" akhirnya Alan mengaku, tak suka dengan hubungan Nadya - Nathan.
__ADS_1
"Gak mau ah, dia sahabat aku, aku mau chat ria setelah hampir lima tahun gak ketemu juga."
"Nih cewek minta dibayar tunai deh kayaknya malam ini."
"KUA udah tutup."
"Kawin lari lah!"
"Capek tahu, Mas, kawin kok sama lari!"
"Sayaaaaaanggg!" kesal sudah Alan dengan tingkah Nadya yang keras kepala, benar-benar bikin Alan mati kutu, dengan cara apa lagi dia harus menghentikan agenda bertukar pesan mereka. Pasti mengenang masa lalu, duh... membayangkan saja bikin dongkol hati Alan setengah mati.
"Jadi gak bawa hpnya?" tanya Nadya dengan nada meledek.
"Gak usah bawa aja, silahkan berchat, telpon, VC Sam dia sepuasnya, lagian aku juga gak berhak melarang, maklumlah otw mantan juga." Alan mulai merajuk, seolah pasrah dengan keadaan, tapi yakin deh hatinya menciut kalau Nadya beneran komunikasi dengan si Kudis. Hufh....
"Oke!"
Nah kan, Alan merasa salah ngomong. Harusnya gak usah terlihat sok pasrah, tapi Nadya juga gadis keras kepala sih, dia mau apa juga tetap dilakukan meskipun dilarang Alan.
Mobil Alan sudah sampai di pelataran rumah Nadya, ia segera berpisah dengan Nadya malam ini, itu artinya Nadya bebas dari pantauannya. Hufh....
"Ayo aku antar, aku juga ingin bertemu dengan Ibu!"
Nadya mengangguk saja, mereka berjalan beriringan, hingga suara Ibu menyambut kedatangan mereka.
"Loh Nak Alan?"
"Assalamualaikum, Bu!" sapa Alan dengan mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Waalaikumsalam, ayo masuk!" jawab beliau ramah, yah beliau masih menyambut baik Alan meskipun terpaksa merestui hubungan mereka.
"Mau minum apa?" tanya Nadya, sebisa mungkin Alan adalah tamu yang harus diperlakukan dengan baik.
"Gak usah, aku gak lama!"
"Ya udah, aku mandi dulu ya, mau ngomong sama ibu kan?" karena dari tadi Nadya dan Alan juga sudah bertemu, gak ada lagi yang perlu dibicarakan, pikir Nadya.
__ADS_1
"Kalian kenapa?"
"Mas Alan lagi cemburu sama Nathan, Bu!" sontak Alan melotot pada Nadya, membuka aib pada Ibu, duh malunya.
"Wajarlah, Si Yudis kan memang naksir kamu, malah katanya mau ngelamar kamu juga pas ngomong sama ibu malam kemarin."
Melamar? si kudis melamar Nadya? Oh tidak bisa Fergussso, enak aja, baru ketemu udah bahas lamar-lamar.
"Bu!" pekik Nadya sambil melirik ke arah Alan yang menatapnya tajam. Duh...rahasia terbongkar.
"Tapi ibu belum kasih restu kok nak Alan, tenang saja. Soalnya Nadya masih cinta sama kamu!"
Seketika mata Alan berbinar terasa lope-lope muncul memenuhi pandangannya pada Nadya. Sedangkan gadis itu mendengus kesal karena ibu sudah membocorkan perasaannya. Malunya.
"Sabar ya Nak Alan, kalau kalian jodoh pasti ada jalannya, meskipun ibu masih memegang pamali tentang hubungan kalian. Sabar ya?"
"Iya Bu!" jawabnya dengan semangat. Ibu pun meninggalkan Nadya dan Alan, memberikan kesempatan untuk berbicara.
"Ya udah gak usah chat sama Kudis lagi ya, kan kita sama-sama masih ada rasa, udahlah gak usah bahas mantan lagi." Pinta Alan ketika mereka sudah berdua, duduk berhadapan, tegas dan tak butuh bantahan.
"Jadi?"
"Ya udah, ibu juga menyuruh kita sabar kan, ya udah kita jalani sajalah, tinggal nunggu waktu kita berjodoh atau enggak!" tegasnya.
"Hem!"
"Aku percaya sama kamu, jadi tolong jangan buat aku cemburu."
Nadya tersenyum, dan mengangguk. "Udah, segera pulang gih!"
"Dih ngusir. Gak jadi pacar Sholiha loh!"
"Dih, mana ada pacar Sholihah!"
"Aku pulang, besok aku jemput!"
Nadya mengangguk, "Iya, ati-ati."
__ADS_1
Malam bahagia untuk Alan, sepulang dari rumah Nadya, perasaan lega terus mendominasi, malam ini ia bisa tidur nyenyak karena Nadya masih miliknya.
I love you, Nad.