
Sepulang kantor tadi Nadya bertemu dengan Rafly di ruang tamu, pemuda itu mengangguk pasrah, tatapannya berbeda saat pertama mereka bertemu, Nadya hanya sekedar menyapa saja, namun ibu menahannya untuk duduk serta dengan Naila-Rafly.
"Menurut kamu bagaimana, Mbak?" tanya Ibu meminta kejelasan akan hubungan mereka.
"Saya udah putus sama Mas Alan,Bu! Jadi Naila bisa nikah dengan Rafly."
Ketiga orang yang berada di ruang tamu itu hanya mendelik, kaget juga keputusan yang diambil benar-benar merelakan perasaan Alan.
"Mbak, Lo udah yakin?" protes Naila.
"Udah, aku juga udah bilang ke Alan."
"Kapan?" Naila masih tak percaya ucapan Nadya, siapa tahu Nadya hanya menutupi apa yang terjadi.
"Barusan, via WA!"
"Bego banget sih, Mbak. Perasaan anak orang Lo putus lewat WA, astaghfirullah, jahat banget!"
"Alan udah gak mau ketemu gue!"
Shock lagi, tak menyangka saja Alan sudah menyerah, padahal Naila tahu Alan begitu sayang sama Nadya.
"Ya udah mau gimana lagi, kalau dia gak mau diskusi, gak mau ketemu gue, malah gantung kan, makanya gue langsung kasih ketegasan saja."
"Trus Mas Alan jawab apa?" kali ini Rafly berharap kakaknya masih mengabaikan pesan Nadya yang ingin putus.
"Dia jawab oke!"
"Sumpah?" Naila dan Rafly teriak kompak. Naila bahkan memijat pelipisnya, ne orang-orang cerdas begitu mudahnya melepaskan perasaan yang jelas-jelas masih ada. Apakah mereka yakin tak memakai hati dalam menjalin kasih beberapa bulan yang lalu.
Nadya mengangguk, "Ya udah sih, kalian jadi kapan nikah?" enteng sekali Nadya berucap, serasa tak punya beban atau sakit hati karena putus cinta.
"Alasan mbak putus? karena kita?"
"Salah satunya."
"Salah duanya apa?" Naila tetap memberondong pertanyaan hingga masuk ke logika Naila.
Hugh, Nadya menghembuskan nafas berat, "Dengar ya, Dek. Dari awal aku juga gak tau kenapa ada sesuatu yang mengganjal aku menerima lamaran Alan, selalu aku bilang dengan Alan kalau aku ingin kamu menikah dulu, dan aku baru menyadari ketika kita bertemu dengan pasangan masing-masing, ah....inilah hal yang mengganjal, ia harus tega dan memberikan restu pada adiknya untuk menikah.
"Jadi kapan kamu mau melamar Naila?" kali ini Nadya mengajukan pertanyaan untuk Rafly.
"Maunya Sabtu depan sekalian langsung ijab aja, Mbak Nad!"
__ADS_1
"Bagus deh." Nadya mengangguk dan tersenyum, pandangannya dialihkan pada wajah ibu yang teduh.
"Ibu bagaimana?" tanya Nadya.
"Ibu ingin kamu dulu, Nad yang nikah, pamali kalau kakak dilangkahi adik."
"Bu, dikit-dikit pamali. Jodoh itu ditangan Allah, Bu." Naila mengingatkan, entahlah ia sangat kesal dengan embel-embel pamali. Plis deh, udah zaman smartphone, pemikiran ibunya kok gini. Sudahlah, kalau kita berpikir positif maka hasilnya juga positif, begitupun sebaliknya.
"Lah ...Nadya udah gak punya calon, Bu!" jawab Nadya sambil terkekeh. "Kita sudah mengalah Bu, jangan dihalangi nikahan mereka hanya karena pamali. Ibu harusnya takut kalau anak ibu diewer-ewer Rafly kemanapun tapi tak kunjung dinikahi, bahaya." Cicit Nadya dengan tegas, dan malam itu pun dengab resmi Naila dan Rafly sudah diperbolehkan mempersiapkan ijab qabulnya.
"Lalu kamu menikah dengan siapa?" tanya ibu ketika Nadya mau tidur, ibu ikut merebahkan tubuh beliau di kasur si sulung.
"Ya sama cowok, Bu. Entah siapa nanti yang datang melamar."
"Ibu sebenarnya mau kamu sama Alan, Mbak. Bukan Naila dulu yang menikah."
"Bu....sudahlah, Nadya mencoba ikhlas, mengalah lebih baik Bu, karena Nadya juga gak mau melihat ibu dan Naila sedih. Kalau Naila menikah sekarang, dan Naila bahagia dengan Rafly, Nadya sangat bahagia Bu. Tanggungan Nadya setidaknya sudah selesai."
"Maaf ya, Nad. Kamu harus menanggung hidup kami."
"Ibu, ngomong apa sih. Itu sudah kewajiban Nadya Bu."
"Ibu berharap kamu akan mendapatkan pria seperti Alan. Ibu itu sayang banget sama Alan."
"Boleh. Tapi Naila gak usah nikah sama Rafly."
"Ck....ya udah nanti Nadya cari calon suami yang lebih baik dari Alan." Fix Nadya mundur saja, urusan pamali masih tidak bisa diganggu gugat. Biarlah yang penting tidak menentang ibu. Ia yakin suatu saat nanti, akan ada jodoh untuknya. Aamiin.
Lain Nadya, lain Alan dan keluarganya. Terpaksa malam itu Alan ke rumah utama, karena mama mengajak rundingan pernikahan Ardhan.
"Nanti kalau melamar Naila, ajak Nadya juga Lan!" pinta mama yang lagi berbalas pesan dengan temannya untuk order hantaran lamaran dan ijab Ardhan.
"Gak usah, Ma!"
"Loh kenapa?" tanya Mama dengan menoleh pada putra sulungnya itu.
"Alan udah putus sama Nadya."
"Loh kapan?" kaget juga mama mendengar kabar perpisahan sang putra dengan Nadya. Begitu juga dengan Nadya, mama Alan sangat merestui mereka.
"Maghrib tadi."
"Mas Alan putus karena Ardhan, Ma!" ujar Ardhan yang baru selesai membersihkan diri dan bergabung di ruang keluarga.
__ADS_1
"Maksudnya?" mama hanya berkerut kening mendengar sahutan Ardhan.
"Jangan sok tau!" balas Alan ketus.
"Kenapa sih?"
"Naila dan Nadya adik kakak!" jawab Ardhan
"Eh iyakah? kok mama baru tahu, mereka gak mirip loh, yang bener sajalah, candaan kalian gak lucu."
"Maa...."
"Ya gini nih, kalau kalian gak pernah peduli satu sama lain. Kalian juga kenal dengan perempuan bahkan gak kenal seluk beluknya keluarga. Main langsung nikah aja, mama udah sering bilang kan sama kamu, Dhan. Biar mama mengunjungi calon besan mama, tapi kamu selalu nolak, yang gak enak lah, nanti ajalah sama Ardhan, kalau kayak gini bakalan ada yang sakit hati, kan!"
Mama meneguk segelas jus dengan dengan tergesa, membasahi tenggorokan yang siap memberi omelan pada Alan dan Ardhan. "Sekarang mama tanya pada kamu, Dhan. Jadi gimana?"
"Ya Sabtu depan nikah langsung sama Naila, Ma. Mau gimana, mas Alan dan Mbak Nadya udah putus, jadi ibu Naila dengan terpaksa merestui kita."
Alan hanya diam mendengar perdebatan adik dan mamanya. Menurutnya ia tak perlu turut campur, karena kehadirannya hanya sebagai pendengar saja.
"Kok terpaksa? ck...kalian ini mau menikah gimana sih sampai calon mertua kamu aja terpaksa. Naila gak hamil kan?"
"Astaghfirullah, Ma. Ya enggak lah!"
"Lah terus? kok terpaksa?"
"Sebenarnya ibu Naila, sangat sayang sama Mas Alan dan berharap Mas Alan nikah sama Mbak Nadya."
Ucapan Ardhan membuat Alan menoleh ke arahnya. "Tapi Mbak Nadya memilih mundur karena mengalah untuk kebahagiaan Naila."
" Ya Allah!" mama pun ikut sedih, terharu betapa baiknya Nadya hingga mau mengorbankan kebahagiaannya.
"Ibu juga bilang kalau Nadya dilangkahi Naila juga pamali."
"Haduh mertua kamu ribet amat sih, terus ini jadi gimana?"
" Ya aku dan Naila nikah, Ma,!"
" Terserah, mama cuma bisa kasih restu. Mama gak akan melarang ini itu yang penting kamu tidak melanggar agama!"
Mama kini beralih ke Alan, "Dan untuk kamu, Lan. Gak usah trauma, kalau kalian jodoh, mau dikatakan pamali atau apapun, nanti pasti akan bersatu. Besok kalau adik kamu nikah, tetap ikut meski di sana bertemu Nadya."
"Iya, Ma!"
__ADS_1