
HAPPY READING
JANGAN LUPA JEMPOL LIKE YA KAKAK....
TERIMAKASIH 😘😘😘😘
*************
"Kamu emang bisa dekat sama semua orang?" tanya Alan tiba-tiba, nadanya sedikit ketus. Malam ini, di taman belakang tempat biasa mereka makan, sudah disulap menjadi tempat barbeque dengan beberapa alat panggang yang sudah menyala. Jagung, aneka sosis dan Frozen food serta daging slice sudah tersedia. Alan benar-benar loyal memanjakan pegawainya kali ini.
"Dekat maksudnya?" Nadya kebetulan duduk di dekat alat pemanggang. Ia sedang mengoles jagung dengan mentega bersama Ersa dan Niken.
"Sama Agung."
"B aja."
"Jutek banget si Nadya!" bisik Niken pada Ersa.
"Ya emang gitu anaknya, dibalik juteknya dia tuh cinta banget sama Pak Alan." Lanjut Ersa dengan berbisik pula.
"Cinta? tapi kok kayaknya menolak gitu." Niken masih tak percaya dengan sikap Nadya yang terkesan jutek dan menghindar dari Alan. Sok jual mahal banget.
"Panjang ceritanya, yang jelas dua orang itu sama-sama masih cintanya." Bisik Ersa.yang dijawab O saja oleh Niken. Meski keduanya sibuk dengan alat panggang tapi telinganya dipasang dengan seksama untuk menangkap radar dari perdebatan Alan-Nadya.
"Aku gak suka." Ucap Alan dengan tatapan serius pada Nadya.
"Ya terus kenapa, kita udah putus Pak Alan. Udah deh, nanti dikira aku yang terlalu jual mahal mentang-mentang aku dikejar-kejar bos."
"Gak usah bilang putus, kamu tuh masih cinta sama aku."
"Dih..pede banget, tuan."
"Ya udah sih itu emang kenyataannya gitu." Ucap Alan sambil tersenyum, terlebih Nadya terlihat cemberut karena level kepedean Alan sangat tinggi.
"Pak Alan romantis banget sih." Seloroh Niken yang memberanikan diri mengganggu mereka. Mulutnya gatel kalau tidak ikut nimbrung, kesempatan langkah karena bisa sedekat ini dengan Alan. Niken juga sebal pada Nadya yang ketus terus sama Alan, menurut Niken kalau gak usah ya gak usah mendekati Alan. Hem... sepertinya Niken salah paham pada Nadya nih. Apa mungkin karena Niken penggemar Alan sehingga apapun yang dilakukan Nadya salah di matanya.
Alan tak menjawab, dia hanya menaikkan alisnya, lalu tersenyum tipis dan kembali berbincang dengan Nadya.
"Kita jalan yuk."
"Enggak usah, di sini aja." Nadya kekeh menolak.
"Udah, Nad. Ikut aja sama Pak Alan, atau kalau gak mau boleh lah aku gantiin." Ujar Niken, sekali lagi, begitu centil dan langsung disenggol Ersa. Yah...Ersa memang sudah tahu kebiasaan Alan yang gak suka kalau acara berduaan dengan Nadya diganggu, terlebih Niken yang menyodorkan diri mau menggantikan Nadya, pasti ditolak Alan.
"Bisa gak kamu-" tatapan Alan tajam pada Niken, Ersa sudah gemetar dengan tatapan itu. Berbeda dengan Niken yang salah tingkah baru ditatap Alan seperti itu. Pikirnya ia berhasil menarik perhatian Alan, eh taunya Nadya malah menerima ajakan Alan untuk ke paviliun. Kurang ajar.
"Oke ayo!" ujar Nadya cepat, ia sengaja memotong ucapan Alan, karena Nadya yakin bos ganteng itu bakal ngoceh pada Niken dengan ucapan yang nyelekit. Nadya tak mau ada perempuan yang sakit hati karena ucapan Alan. Bukan mengkhawatirkan Alan, tapi Nadya mengkhawatirkan dirinya sendiri, para penggemar Alan pasti tak suka dengan Nadya, membuat pikiran negatifnya berjalan dengan baik, kalau Alan jutek pasti karena sikap Nadya. Itu pasti pikiran mereka.
"Dasar Munafik." Lirih Niken dengan tatapan tak suka pada kedua orang yang sedang berjalan menjauhinya.
"Kamu tuh cari gara-gara, Niken. Kamu gak tahu aja kalau bos tuh bucin banget sama Nadya." Geram Ersa yang sejak tadi diam.
"Gak usah belain dia, Ersa. Lo sendiri juga ngebet sama Alan kan, sok sok an lapang dada menerima Nadya jadi kekasih Alan, basi tahu gak sikap Lo ini."
"Kok Lo nyolot sih."
"Ya gimana gak nyolot. Lo tuh keluar dari grup sejak mereka jadian, Lo tuh harusnya berjuang buat ngerebut Alan dari gadis munafik itu."
"Hei, Niken. Gue masih waras ya, gue hanya sekadar ngefans sama Pak Alan gak terobsesi buat jadi pelakor, apalagi milik sahabat gue. Cinta boleh sama Pak Alan asal gak bego."
"Gue heran apa jangan-jangan Nadya tuh ngerayu Alan pakai tubuhnya ya."
"Eh jaga mulut Lo ya!"
"Ada apa, Mbak?" tanya Imel yang mendengar teriakkan Ersa.
"Kasih tahu Nadya dong, Mel. Jadi cewek jangan suka nawarin tubuhnya ke bos." Ujar Niken dengan jumawa, ia meletakkan penjepit sosis dengan kasar lalu meninggalkan keduanya.
"Sinting Lo!" ujar Ersa dengan melempar sandal jepit ke arah punggung Niken yang semakin jauh darinya. Sedangkan Imel hanya melongo, nawarin tubuh? ke bos? Nadya?
"Kenapa Mbak sampai Niken bilang gitu."
"Emang Lo udah keluar dari grup penggemar Alan?" tanya Ersa tiba-tiba.
Imel menggeleng, "Tapi gak pernah gue baca. Chatnya numpuk. Kenapa sih?"
"Mana ponsel loh, gue mau baca."
Imel dan Ersa duduk berdampingan membaca chat dari grup penggemar Alan. Ersa fokus membaca komentar masing-masing penggemar, sesekali ia mengumpat kesal pada komen yang terlalu memojokkan Nadya.
Berbeda dengan Ersa yang kesal, Nadya justru dibuat terpesona untuk kesekian kali pada Alan. Mereka tak jadi ke paviliun, tapi Alan mengajak Nadya keluar dari lingkungan Villa. Sekedar jalan-jalan dengan mobil Alan.
__ADS_1
"Kangen banget tau semobil gini." Ujar Alan dengan pandangan lurus ke depan, dan sesekali menatap Nadya.
"Jangan jauh-jauh, ntar gak tau arah pulang." Cicit Nadya yang disambut gelak tawa oleh Alan.
"Kamu takut semobil dengan aku?"
"Ya iyalah, semobil dengan playboy takut lah, nyesel tadi aku ikut kamu, Mas."
Alan semakin tergelak, apa tadi Nadya bilang? Playboy?
"Playboy apa, bucin banget sama kamu mana bisa jadi playboy sih."
"Gombal banget, Tuaannnn!" Sahut Nadya dengan tersipu malu.
"Sebagai laki-laki, gak akan mau merusak wanitanya sebelum halal sayang. Meskipun aku ajak kamu berdua kayak gini, mana berani aku melakukan hal aneh-aneh."
"Tetap aja, Mas. Khawatir yang ketiga setan."
"Insyaallah aku gak tergoda kok." Ucap Alan sambil mengelus kepala Nadya.
"Nah...nah katanya gak tergoda tapi pegang-pegang." Ketus Nadya menghindari usapan Alan.
"Ya Allah, gemes banget sama kamu tahu gak. Itu kepala kamu manggil-manggil aku sayang, Mas Alan usap dong."
"Dih ngaco, udah ah. Aku gak suka ada skinship."
"Iya, maaf ya."
Keduanya terdiam sebentar, Alan beberapa kali toleh kanan toleh kiri mencari tempat nongkrong atau cafe di sekitar villa yang tidak terlalu ramai, apalagi long weekend seperti ini.
"Turun yuk." Ajak Alan dengan melepas seatbeltnya. Tak ada kata romantis dengan Alan, karena ia tak berniat membuka pintu mobil buat Nadya.
"Pakai ini." Ujar Alan sambil menyerahkan sweaternya pada Nadya.
"Kamu?"
"Peluk aku deh, bakal gak kedinginan."
"Ck...pulang aja kalau gitu." Nadya mendengus kesal dan berbalik badan, namun Alan segera menahannya.
"Dih ngambek. Udah ayo masuk."
Alan pun jalan beriringan dengan Nadya, mencari lesehan yang cocok untuk tempat ngobrol mereka.
"Hush..... disyukuri, lagian pakai mobil juga, tunggu reda nanti kita pulangnya." Alan mencoba menenangkan Nadya yang resah karena hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
"Takut banget tahu, pasti jalan juga licin, menanjak pula."
"Ya udah ntar menginap di villa sekitar sini aja kalau kemalaman."
"Dan besok para penggemar kamu bakalan menjadikan aku sebagai topik gosip mereka."
"Gak usah didengerin, mereka kan cuma mengira gaya pacaran kita. Gak tahu aslinya."
"Ya sama aja, namaku jelek, nama kamu disanjung. Mana Mbak Ersa kirim wa nyesek pula." Ucap Nadya dengan cemberut ketika membaca pesan Ersa. Ia baru saja membuka ponselnya dan pesan Ersa menarik perhatiannya.
"Bilang apa?" Alan tentu penasaran dengan isi pesan tersebut, terlebih mimik Nadya berubah.
"Nih baca sendiri." Nadya menyodorkan ponselnya.
/Kamu ke mana, Nad sama bos ganteng? Niken bikin perkara tahu, di grup penggemar bos, dia bilang Lo nawarin tubuh Lo, sampai bos ketagihan/
Alan langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan beberapa pengunjung menatap ke arahnya. Sial.
"Dih ...gak prihatin sama gue banget sih." Keluh Nadya yang langsung mengambil ponselnya begitu saja.
"Bukan gak prihatin pada kamu sayang, cuma lucu aja pemikiran mereka."
"Lucu? kamu sadar gak sih, mereka tuh nuduh aku keji banget. Ini semua gara-gara kamu tahu gak. Udah dibilang kita putus aja, eh ngintil aku mulu. Menyebalkan."
Alan tersenyum. "Dah mau pesen apa?" tanya Alan mengalihkan kekesalan Nadya, karena ia tahu kelemahan Nadya adalah pada makanan.
"Samain aja." Terlanjur badmood, hingga tak bisa mikir camilan atau minuman apa yang cocok untuk disantap di suasana dingin seperti ini.
"Hot vanilla latte 2, kentang goreng, dan pancake madu 2 juga." Ucap Alan mendikte pelayan cafe.
"Baik, mohon ditunggu ya kak." Pelayan pun meninggalkan mereka, Nadya masih asyik bermain ponsel. Ia membalas pesan Ersa.
"Nah tuh baru Nyonya Alan." Puji Alan yang entah sejak kapan di samping Nadya hingga tanpa jarak, bahkan Alan bisa membaca balasan Nadya pada Ersa yang hanya dijawab 'Biarin, yang penting gue gak nyodorin tubuh gue ke Alan.'
"Ya tapi gue nyesek dituduh gitu. Ini juga jauh-jauh."
__ADS_1
"Juteknya Masya Allah." Alan pun kembali ke tempat semula, menjauh dari Nadya.
"Lagian kamu, Mas. Nempelnya terlalu dekat."
"Dingin, Sayang."
"Ya udah nih pakai sweaternya."
Alan menggeleng, ia menopang wajahnya dengan kedua tangan, menatap lekat Nadya yang masih murung. Wajarlah, dituduh seperti itu pasti kepikiran juga.
"Makanya nikah aja, yuk."
"Pembahasan yang tidak ada titik temu dimulai." Sindir Nadya yang enggan sekali membahas topik ini.
Alan menghembuskan nafas pelan. "Kadang doaku jelek pada Ardhan dan Naila, Nad." Ujarnya serius, melihat respon Nadya yang kini membalas tatapannya.
"Kadang aku memaksa Allah buat jodohin kita, bahkan pernah terbersit gantian ya Allah saatnya aku yang bahagia, Ardhan dan Naila sudah cukup."
"Kamu jahat tahu, Mas. Doain mereka agar kebahagiaan adik kita berhenti."
"Ya gimana, Sayang. Aku juga manusia. Aku juga ingin menikah sama wanita pilihan hatiku, udah beberapa bulan kita mencoba menyingkirkan perasaan ini tapi tetap aja tidak bisa."
"Apa aku resign aja, biar kita gak bertemu?"
"Berani gitu, aku bawa ke penghulu sekarang."
Nadya tergelak, oke lupakan tuduhan mereka saat ini biarkan meluangkan kesempatan mengobrol dengan Alan. "Lagian kamu susah banget melupakan aku."
"Emang kamu bisa lupain aku?"
Nadya hanya tersenyum kecil lalu menggeleng. "Bahkan ketika kamu dekat dengan Jihan pun, hati aku sakit banget, pengen mewek tapi malu, pengen ngelarang tapi aku siapa."
"Sumpah sayang aku gak pernah dekat dengan Jihan."
"Kalau dia ke ruangan kamu, ngapain?"
"Mutia dan Erfina aku suruh masuk, sumpah aku gak pernah berduaan sama dia."
"Masa'?"
"Pernah sekali sih, semobil waktu mau fitting baju tunangan."
"Eh kamu beneran mau tunangan sama Jihan waktu itu?" Alan melongo beberapa detik, wajah sendu Nadya tiba-tiba hilang, berganti wajah berbinar dengan seringai mengejek.
"Kok kamu kelihatan bahagia sih aku mau tunangan sama Jihan?"
"Ya itu artinya kalau Mas udah tunangan berarti mas bisa move on dari aku, dan aku harus memantapkan hatiku agar move on juga, terus cari cowok lagi deh."
Tik
Alan menyentil pelan kening Nadya, "Gak usah mikir macem-macem. Apalagi cari cowok, meskipun aku tunangan sama Jihan aku bakal melarang kamu buat dekat cowok lain."
"Kok gitu?"
"Karena kamu milikku, tunggu tanggal mainnya aja."
Nadya terdiam, masih menatap lekat wajah Alan. "Kamu cinta banget ya sama aku?"
Alan mengangguk. "Makanya jangan pernah minta putus ,karena aku pasti gak sanggup. Aku tetap mencintai kamu sampai waktu menjawab kita berjodoh atau enggak."
"Sabar menunggu tanpa melirik perempuan lain?" Nadya memastikan, kini ia begitu girang dalam hati karena Alan begitu mencintainya, bahkan rela menunggu tanpa batas waktu.
"Yakin."
"Kalau ternyata aku dilamar orang diam-diam, dan aku gak bilang kamu?"
"Maka saat itu aku terpaksa melepas kamu. Tapi aku gak yakin kamu tega menyakiti aku."
"Kata siapa aku gak tega, sekarang pun aku bisa kasih jawaban ke cowok yang melamar aku."
"Gak usha bercanda."
"Beneran. Aku telpon ya." Nadya mulai mencari nama seseorang yang berniat melamarnya, Alan tahu itu, ia pun deg-degan akan kenyataan yang akan terjadi.
"Boleh." Jawab Alan enteng dengan menyesap minuman hangatnya. Sengaja menutupi ketakutannya dengan membiarkan Nadya menghubungi siapa yang melamarnya itu. Namun, Nadya justru mengernyit heran akan respon Alan. Ia berhenti menghubungi orang tersebut.
"Kok gak jadi telpon?" tantang Alan. Nadya tertegun sebentar lalu menelpon kembali. Tak lama ponsel Alan berdering, bos ganteng itu melihat latar ponselnya dan senyum manis pun terbit.
"Kok ditolak?" tanya Nadya.
"Karena aku mau jawaban langsung, takut jawabannya dipending sama operator."
__ADS_1
"Rese."