
Nadya masuk kamar setelah Vika dengan wajah bantalnya membuka pintu kamar, meskipun setengah sadar Vika masih menyempatkan berbicara ala kadarnya pada Nadya.
"Dianterin Alan kan?"
"Iya, Mbak. Eh mbak..." Nadya mau menceritakan apa yang dia lihat sebelum naik tangga tadi, tapi ia urungkan karena Vika sudah posisi tidurnya.
"Apaan?"
"Gak jadi deh, aku mau bersih-bersih dulu." Nadya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, cuci muka gosok gigi dan berwudhu. Setelah itu ia sholat isya, baru saja salam ponsel Nadya berdering. Masih dengan menggunakan mukenah ia menerima panggilan video dari Alan.
"Belum tidur?" sapa Alan ketika melihat gadis kesayangannya masih berbalut mukenah.
"Setelah ini."
"Ya udah tidur gih."
Nadya menganģguk, "Mas soal tadi?" Nadya tiba-tiba menghentikan ucapan salam Alan.
"Besok pagi aja, kasihan teman kamu udah ngorok banget tuh, bakal terganggu kalau kita ngobrol gini." Memang Alan mendengar suara dengkuran di balik panggilan video Nadya, merasa lucu juga.
"Iya deh. Selamat malam, Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Sayang." Ucap Alan kemudian mematikan sambungan video tersebut. Tak lama kemudian, ia merebahkan tubuh lelahnya, mengingat kejadian beberapa menit yanh lalu. Ia tak habis pikir, bukan sepasang kekasih tapi bisa bercumbu mesra seperti itu, terlebih si cewek yang menyebut dirinya Niken, akan segera menikah pula. Hubungan macam apa itu. Sebagai pemimpin perusahaan, Alan selalu briefing pada karyawannya, dalam segala acara kantor jangan melibatkan acara berbau mesum karena siapa yang melanggarnya akan terkena sp 1, dan aturan itu sudah tertuang dalam isi kontrak kerja setiap karyawan.
Ah...sudahlah, keduanya juga sudah tahu konsekuensinya, dab besok pagi ia akan menutup acara gathering lebih awal dari rencana sebelumnya. Dengan terpaksa ia mengecut dua kegiatan outbound.
"Siapa sih yang udah berbuat mesum di lingkungan acara kantor, apa jangan-jangan si Nadya dengan bos sendiri terus mengkambinghitamkan seseorang." Ujar Tiwi, salah satu anak produksi yang julid juga.
"Gak usah sok nuduh gue, tanya noh sama nona manis yang sedang nunduk." Celoteh Nadya yabg baru saja keluar kamar dan kebetulan melintas di samping Tiwi and the gank.
"Niken maksud lo?" giliran Ersa yang kaget. "Beuh, korma datang cepet banget ya, kemarin ngatain Nadya sodorin tubuh ke Pak bos, eh ternyata dirinha juga---"
"Udah yuk sarapan, gak penting bahas dia." Ujar Nadya sudah dipanggil Vika dengan lambaian tangan. Sebenarnya mau nolak panggilan Vika, karena pasti Alan di sekitar itu, maklumlah Rilo juga sudah bertengger di samping Vika.
"Makan yang banyak sayang." Kan....baru saja Nadya mengambil piring, Alan sudah berdiri di belakangnya mengambil menu catering yang disediakan.
__ADS_1
"Perasaan di belakanh aku tadi Mbak Ersa deh." Sindir Nadya yang malas di dekati Alan terus. Entahlah risih rasanya kalau terus dipepet, gak bebas.
"Gue di sini, Nad." Jawab Ersa yang berdiri di seberang, sengaja mengambil es dulu daripada nasi.
"Sini piring kamu, mau ambil apa?" pinta Alan dengan nada memerintah.
"Gak usah aku bisa ambil sendiri."
Oke Alan mengalah, tak memaksa Nadya mengikuti perintahnya, apalagi suasana sarapan saat itu sudah ramai. Tepat dugaan Nadya, Alan kembali duduk di sebelahnya saat sarapan. Pasangan Rilo-Vika berada di depan Nadya, sedangkan Erick berbaur dengan karyawan lain, katanya sih menghindar dari Mira.
"Emang hot banget ya, Nad, tadi malam?" tanya Vika tiba-tiba di sela sarapan mereka. Nadya sempat menautkan alis, padahal kejadian tadi malam ia belum bilang secafa detail ke siapapun. Nadya melirik ke Rilo lalu ke Alan, hem ia paham sekarang siapa yang cerita.
"Sehot lo sama Pak Alan?" tanya Vika yang langsung disambut uhuk..uhuk...Nadya terbatuk ditodong pertanyaan seperti itu.
"Ketangkep lo, Bos. Udah pernah ternyata?" Goda Rilo dengan menaik turunkan alis, sedangkan Vika sudah tertawa terbahak-bahak, emang ya mereka tuh pasangan klop, somplak.
"Eh sori ya, kita pacaran ma lurus-lurus aja, massih ingat dosa." Celetuk Nadya kesal.
"Gak usah diladeni sayang." Cibir Alan tak suka pada pasangan di depannya itu.
"Pak Rilo, pacarnya boleh gue tampol omongannya dewasa banget." Keluh Nadya sambil menyendokkan sarapannya.
"Lo sih, belum tahu rasanya dicumbu melalui tatapan mesra, eh gimana sayang kalau kamu menatap aku?" pancing Vika, sengaja memang mau menggoda pasangan yang sering putus sambung itu.
Rilo si playboy dan kelewat mesum pun langsung menatap Vika dengan tatapan mesumnya, sumpah Nadya menyesal bergabung dengan mereka, apalagi Vika juga membalas tatapan itu, lebih menggoda lagi. Astaghfirullah.
Alan spontan saja menutup mata Nadya, "Berhenti gak kalian, jangan bikin otak suci Nyonya Alan ternoda deh."
"Beuuh....orang kita cuma tatap-tatapan doang juga, mana bisa bikin otak ternoda. Aneh lo, Lan!" Protes Rilo. Mereka pun kembali fokus pada sarapannya, tapi tetep pasangan somplak itu masih mendominasi obrolan dan topiknya seputar adegan 21+.
Banyak dari mereka yang menatap ke arah Nadya, lebih tepatnya mencibir karena ia hanya karyawan biasa tapi bisa duduk di samping Alan, malah afa yang bilang Nadya itu sombong gak mau bergabung dengan karyawan lain, kafena sudah kadi istri bos.
"Gue heran sama kalian deh, kenapa sih benci amat sama Mbak Nadya." Imel sudah tidak kuat menahan bisik-bisik tentanh Nadya lagi. Kelewatan tuduhan mereka itu.
"Udah, Mel, sarapan." Cindy memperingati, sebenarnya sejak kemarij kupingnya juga panas mendengar ocehan tentang Nadya. Mereka itu hanya melihat luarnya Nadya doang, tanpa tahu keadaan sebenarnya. Kasihan juga Nadya, dia yang selalu menghindari Alan justru ia yang dianggap murahan. Maha bebar netijen.
__ADS_1
"Kalian dibayar berapa sih sama Nadya ampe membela dia banget, noh ...dia lebih memilih duduk sama petinggi perusahan daripada kalian kaum pekerja seperti kalian." Ucap Rini cukup nyelekit.
"Gak usah dibalas, menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada orang yang gak suka sama kita itu percuma, so...biarkan mereka menggonggong."
JLEB
Kalau Ersa sudah beradu mulut, banyak dari mereka takut dan langsung kincep, seniornya anak keuangan cuy, apalagi berkutat pada gaji karyawan, takutlah kalau bonusan dicut.
Setelah sarapan, mereka diminta kumpul di aula villa, Agung menjadi MC lagi, suasana ceria pun kembali hadir. Mereka sangat terhibur dengan celotehan Agung, meski kegiatan mereka dipangkas.
Rilo sudah menyiapkan reward kepada karyawan yang telah berdedikasi tinggi pada perusahan pada masing-masing devisi.
"Emang rewardnya apaan?" tanya Nadya penasaran, ini di luar agenda yang disiapkan oleh tim acara pastinya.
"Biasanya sih uang, ma ratus rebong." Sahut Cindy. Maklumlah, baru kali ini Nadya ikut gathering, karena dua tahun sebelumnya ia masuk rumah sakit saat gathering dilaksanakan.
"Cih...pasti Nadya yang dapat reward." Niken berkomentar, kebetulan dia duduk di samping anak devisi keuangan.
"Ya iyalah, tukar badan." Sahut
Cindy dan Imel menatap tajam pada Niken dan Tiwi, sunggun mereka klop banget kalau ngeghibahin orang.
"Sirik aja deh, tanda tak mampu. Mau goda bos, eh yang dapat Nadya. Ngarepin reward ternyata Nadya juga yang dapat gimana dong, pengen mewek tapi malu sama bibir julid." Sentak Nadya tanpa menoleh ke arah mereka. Geram juga dikatain terus, mau cuek tapi kok kuping dan hati panas. Setidaknya dia akan membalas apa yanb mereka lakukan, Nadya bukan perempuan lemah yang bisa ditindas siapapun.
"Mini dari devisi marketing, yang mendapatkan reward ke bali secara cuma-cuma." Ucap Rilo dengan semangat. Mini yang kebetulan bergabung dengan Nadya tercengang juga, tak menyangka kerja kerasnya dihargai perusahan.
"Selamat minimalis." Ucap Cindy tulus, ia yang di dekat Mini spontan memeluk gadis cantik itu.
"Traktiran euy." Nadya semangat menodong minta traktiran.
"Setuju." Giliran Imel dan Ersa yang semangat meminga traktiran.
"Heleh..pantes aja Mini, sohibnya Nadya." Celetuk salah satu anak buah produksi bernama Yesinda.
"Hadeh....resiko ya jadi pacarnya Bos, disangkut pautin terus deh." Keluh Nadya, ia merasa bosan dikatai terus. Ini termasuk pembullyan secara lisan loh, lebih nyelekit dan bikin mental merosot.
__ADS_1
"Sabar, Nad." Ersa menepuk bahu sang sahabat, ia tahu betul Nadya anak baik-baik, pacaran dengan Alan pun berjalan bersih, skinship biasanya terjadi dengan menyentuh kain lengan Nadya, that is.