SULUNG

SULUNG
STATUS BARU


__ADS_3

"Nad, kamu ikut saya ya, briefing karyawan magang yang mau diangkat buat cabang Jawa Timur!" titah Erick dengan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Lah kok saya, bukannya para manajer saja ya?"


"Kamu lupa, kalau saya lusa mau ke Bangka, sama Rilo!"


Nadya hanya meringis, urusan pribadi cukup menyita konsentrasi Nadya di kantor hingga dia lupa jadwal dinas luar Erick lusa.


"Kenapa juga gak Mbak Ersa atau anak lain?"


"Kenapa Lo protes terus sih, Lo lupa kalau Ersa yang gue bawa tidak hanya calon anak keuangan yang takut, calon anak devisi lain bisa ikut kejer."


"Ye...Pak Erick lebay deh, saya tuh emang gini bawaan orok judes-judes manis."


Nadya dan Erick hanya mendengus kesal, staf keuangan yang lumayan senior itu begitu percaya diri. Yah kali ini devisi keuangan, produksi, marketing dan analis diminta meeting untuk persiapan pendampingan karyawan magang yang akan ditempatkan di Jawa Timur.


Erick sengaja membawa Nadya sebagai wakilnya karena lusa ia ada dinas di luar sehingga saat pendampingan biar Nadya yang menghandle. Alasan Erick memilih Nadya, karena dia anak yang cermat akan skill ya g dibutuhkan staf keuangan. Tampilan Nadya yang kalem namun tegas pasti bisa membuat calon karyawan tetap itu bisa bekerja dengan suasana kondusif tanpa tertekan sehingga mereka akan menampilkan performa yang terbaik. Maklum staf keuangan hanya butuh dua saja untuk ditempatkan di Jawa Timur, sedangkan yang lolos tes wawancara ada lima.


Rapat pun dimulai, Nadya berusaha setengah mati untuk tidak menatap intens Alan, ia hanya menatap layar persentasi yang menyajikan poin-poin penting dalam penentuan karyawan tetap nantinya.


"Usahakan cowok ya Nad yang Lo terima nanti!" bisik Erick ketika sesi tanya jawab dari devisi lain dimulai.


"Ya tergantung dong, Pak. Kalau yang cowok gak kompeten mana bisa saya loloskan."


"Kan saya bilang usahakan!"

__ADS_1


Nadya mengangguk saja, karena ia mulai tak nyaman, ada sepasang mata yang mulai menatapnya. Entah... mungkin itu perasaannya saja.


Masing-masing devisi kemudian diberikan waktu lima belas menit untuk berdiskusi dengan Alan untuk standarisasi calon karyawan tetap di Jawa Timur nanti. Pasalnya kondisi di Jawa Timur ada sedikit berbeda dengan kondisi di Jakarta, terlebih masalah gaji.


"Loh Pak, kok bedanya jauh dengan staf keuangan di sini?" Nadya mulai menelisik gaji yang akan diterima para karyawan staf keuangan di sana, karena pertanyaan tentang gaji adalah prioritas utama mereka setuju untuk tanda tangan kontrak.


"Di sana disediakan mess, makanya gak ada tunjangan transport dan tempat tinggal."


Nadya hanya ber oh ria, saking sibuknya dia mengamati beberapa poin yang harus ia lakukan pada training karyawan baru nantinya sampai ia tidak sadar kalau Alan sudah duduk di dekatnya.


"Modus." Cicit Erick melihat tingkah Alan yang main duduk saja di samping Nadya.


Nadya berkerut kening lalu menoleh ke samping, ia pun kikuk, kenapa bisa sedekat ini dengan sang mantan. Spontan saja ia berdiri dan mengangguk hormat.


"Biasa aja kali, meskipun kita sudah mantan. Silahkan lanjutkan observasi dokumennya." Ucap Alan dengan nada memerintah, terdengar sedikit ketus dan enggan menatap Nadya. Sedangkan Erick masih mengamati gelagat keduanya.


"Kamu tanya ke siapa, aku?" tanya Alan dengan nada jutek, sengaja sekali dia duduk di samping Nadya tapi tak kunjung membahas masalah pekerjaan, malah memancing Erick untuk kepo akan hubungan mereka.


"Sama tembok! buruan cerita kampret!" Erick berani sekali masih ada karyawan lain memanggil Alan dengan kampret.


"Kamu gak cerita sama atasan kamu?" tanya Alan sambil mencoel lengan Nadya yang berbalut blazer berwana mocca.


"Enggak, Pak. Bukan urusan Pak Erick juga!" Nadya pintar sekali menyembunyikan gemuruh dadanya, ia masih berucap jutek seperti biasanya dan tanpa mengalihkan pandangannya pada lembar standarisasi perekrutan karyawan tetap devisi keuangan.


"Jadi urusan gue lah, Nad. Orang gue dari awal naksir Lo!" Ujar Erick sambil menaik turunkan alis tebalnya. Duh pengen tabok saja tuh wajah tengil sang manajer.

__ADS_1


Nadya menghentikan pekerjaannya, menatap Pak Erick, "Ck....serius Pak, gak enak didengar karyawan lain, mereka kira aku cewek gak bener lagi."


"Emang kamu cewek gak bener kan, suka berantakin perasan orang." Bukan Erick yang mencibir tapi Alan. Nadya sontak memejamkan mata, meredam air matanya sekuat tenaga setelah mendengar ucapan Alan yang begitu ketus dan memojokkannya. Bahkan Erick hanya melongo mendengar cibiran Alan barusan, tidak menyangka sama sekali Alan bisa berkata ketus pada Nadya, tak ada lagi ucapan memuja atau kagum pada gadis itu. Its over.


Sepeninggal Alan, keduanya kembali fokus bekerja, lebih tepatnya memaksa untuk fokus. Nadya ingin menangis saja, mendapat cibiran yang cukup menohok. Tak tahu saja, Nadya juga merasakan patah hati karena melepas sosok laki-laki yang begitu baik dan perhatian dengan dirinya, terlebih ini adalah pengalaman pertama seorang Nadya merasakan jatuh cinta.


"Nad, bener nih apa yang aku dengar?" tanya Cindy setelah balik dari toilet. Ia langsung menuju meja kerja Nadya, kebetulan Erick dan Nadya baru selesai meeting.


"Apaan?" tanya Nadya yang mulai fokus dengan layar excelnya.


"Kamu putus sama Pak Alan?"


"Dengar dari siapa?" terpaksa Nadya menghentikan pandangannya kini ia melihat wajah Cindy yang entah kenapa mendadak tegang.


"Tadi di toilet ada Vina anak produksi dan Rika anak analis ngomongin kamu saat di toilet, mereka gak tau kalau aku ada di dalam."


"O!" jawab Nadya singkat, jelas sekali dia enggan membahas masalah itu lebih lanjut.


"Kok kamu O doang sih Nad!" kesal juga Cindy yang tak juga mendapat penjelasan dari sumbernya. Meski Cindy juga termasuk penggemar Alan, namun kalau hubungan keduanya putus kasihan juga.


"Udah balik-balik, kerja!" tegur Erick, sengaja agar Cindy back to work, tak tega juga kalau Nadya harus cerita. Erick tahu, Nadya masih menyimpan luka terlebih cibiran Alan di ruang meeting tadi.


"Nanti pas makan siang ya gue bakal cerita, dah balik ke meja deh!"


"Oke ..kita makan siang bareng kalau gitu!"

__ADS_1


"Iya bawel!" sahut Nadya ketus.


__ADS_2