
Di sinilah Nadya, semobil dengan Nathan dan Tya. Setelah berbincang dengan mama Alan, Nadya memutuskan bergabung lagi dengan teman-temannya. Alan ingin membawa Nadya pergi dari Cafe itu, ingin bicara berdua dengan kekasihnya. Ia yakin mama Alan telah membicarakan hal konyol soal perjodohan, namun kali ini Nadya menolaknya, membiarkan Alan bicara dengan mama dan cewek yang masih merangkul lengan Alan meskipun beberapa kali Nadya lihat Alan menghempaskan tangannya serta wajah kesal pada gadis itu tampak jelas pada raut Alan.
Hufh...kalau responnya Alan seperti ini, mana bisa dia menerima perjodohan dengan gadis itu. Sungguh rumit.
"Kalau kata aku sih, kalau Lo cinta ya udahlah perjuangin cinta kalian, Nad!" cetus Tya ketika Nadya mau pamit keluar mobil, Nadya terpaksa meminta saran pada Tya dan Nathan sebagai sahabatnya.
"Gue sebenernya mau berjuang kalau akhir cerita cinta kita dapat restu, tapi kalau gak ya udah gak usah lama-lama lah pacaran sama dia." Masih kekeh juga prinsip Nadya.
"Ya udah putus aja, gue juga siap bayar tunai Lo, Crut!" kali ini Nathan bersuara, terdengar bercanda namun terselip harapan yang sesungguhnya.
Tya menonyor kepala belakang Nathan gemas, "Ck...lo udah ditolak, nomor belakangan kalau melirik Lo jadi suami si Nadya!" lanjut Tya sewot.
"Eh gue juga gak kalah ganteng dan tajir, Juned!" Nathan membalas tonyoran Tya, gemas pula.
Nadya yang melihat perdebatan unfaedah dari kedua sahabatnya ini jengah juga, dari SMA sampai sekarang kelakuan mereka tetap sama, gak penting.
"Udah deh, kalian aja kayaknya yang nikah, tengkar Mulu." Nadya memberikan solusi yang tidak solutif.
"Dih... Nauzubillah nikah sama dia!" jawab mereka kompak dengan ekspresi wajah jijik satu sama lain.
Nadya pun tertawa, ia pun segera pamit dan berterimakasih karena menemaninya dalam menghadapi shock terapi di cafe beberapa jam yang lalu.
Memasuki rumah, suara televisi mendominasi di ruang tengah. Kanjeng mamih sudah duduk anteng dengan posesif memegang remote TV.
"Mbak, udah ketemu mama?" baru saja Nadya akan mengajak bicara ibunya eh suara cempreng Naila membuyarkan niatnya, entahlah sejak kapan dia pulang dari SG. Heran juga Nadya sama adik semata wayangnya itu, bolak balik SG seperti halnya monas-ancol aja. Tak efisien.
"Udah, tadi di cafe. Kamu kapan pulang?" Nadya pun terpaksa mengekori sang adik menuju meja makan. Ia meneguk segelas air dingin, yah biar membantu otaknya yang lagi panas.
__ADS_1
"Mama tadi minta maaf loh ke aku, karena mau jadiin Jihan mantu!" saat Naila berkunjung ke rumah mertuanya, beberapa kali Naila bertemu dengan gadis cantik nan manja itu, dan mertua Naila pun bercerita akan perjodohan Alan-Jihan.
"Jeng Shofi mau melamar buat Rafly lagi?" tanya Ibu polos, beliau ikut nimbrung dengan kedua putrinya, dan salah tangkap lagi.
"Astaghfirullah, Ibu. Mantu mama buat Rafly cuma aku aja kali." Sewot Naila yang membuat Nadya tertawa ngakak.
"Ck..terus buat siapa?"
"Ya Mas Alan lah, toh ibu juga gak kunjung kasih restu makanya mama mau menjodohkan Mas Alan aja, daripada jadi perjaka tua."
"Eh ni bibir lemes amat ya!" tegur ibu sambil menepuk bibir cerewet si bungsu. "Benar itu, Nad?" lanjut ibu sambil menatap si sulung.
Nadya tersenyum lalu mengangguk, pintar sekali menutup kekecewaannya pada kedua orang yang begitu ia sayangi ini.
"Maafin ibu ya, Nad. Gara-gara ibu--"
"Makanya kasih mbak restu sebelum Mas Alan melengkung." Banyolan unfaedah dari Naila untuk menghibur kakaknya yang ia tahu pasti sedih.
/Sayang please jangan dengerin mamaku/
Sadar akan Nadya online, Alan langsung melakukan panggilan video, namun direject Nadya, gadis itu lebih baik menghindar untuk saat ini, besok ia akan menyelesaikan urusan dengan Alan.
/Maaf, Mas. Besok aja kita bicarakan lagi/
Dan Nadya tak menanggapi pesan Alan yang masuk bertubi-tubi. Udah di rumah, saatnya istirahat tanpa ada beban pekerjaan atau cinta.
Lain halnya Nadya, di meja makan terjadi perdebatan sengit antara ibu dan bungsunya.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" ucap Ibu kaget melihat foto Jihan yang merupakan calon yang akan dijodohkan dengan Alan. "Ini gak pantes buat dijadikan calon mantu mertua kamu, Nai."
Naila memutar bola matanya malas, "Trus siapa yang pas buat mas Alan? Mbak Nadya? Gak dikasih restu gitu." Sindir Naila ketus.
"Ya meski bukan Nadya, tapi dari segi penampilan carilah yang mirip, serba tertutup gak kayak gini, haduh Jeng Shofi ini kok mau aja!" celoteh Ibu mengomentari baju minimalis ala Jihan.
"Ya tapi kan gadis itu kaya, cantik, ya sejajar lah dengan keluarga mama Alan."
"Ya tapi gak gitu juga, Nai kalau pilih next mantu." Naila tertawa saja mendengar ucapan ibu yang pakai bahasa Inggris gitu.
"Ya tapi memang itu kelebihan yang dimiliki Jihan, Bu. Sedangkan mbak Nadya tuh kelebihannya banyak tapi kalah akan satu kekurangannya."
"Apa?" tanya beliau sambil mengerutkan dahi.
"Kekurangan mbak Nadya cuma satu, gak dapat restu dari Ibu!"
Hening
Ibu mulai terhasut dengan ucapan pedas Naila.
"Ibu egois ya Nai?" tanya beliau pelan, setelah dipikir-pikir ia adalah faktor utama keruwetan percintaan Nadya - Alan yang terbalut pamali.
"Banget!" Naila masih jutek memojokkan ibu, astaghfirullah sifat yang tak patut ditiru tapi pasti didukung para reader Sholehah, ke..ke..ke.
"Jadi kasih restu Mbak sama Mas Alan aja, mama juga bilang kok andai saja restu dari ibu untuk Nadya-Alan, maka saat itu juga mama melamar Nadya!"
"Pamali Naila!" geram juga si Ibu pada serangan Naila, beliaupun masih bersikukuh akan pamali dalam hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Gue jadi pengen ketemu orang yang namanya pamali itu, bakal gue bejeg aja udah ngercunin emak gue!" protes Naila bermonolog dengan suara kencang.
"Sembarangan!" ujar Ibu tak kalah sewot dengan segala pamalinya. Hadeh....