SULUNG

SULUNG
PANAS


__ADS_3

"Cih... penampilannya saja sok alim, tapi perebut laki orang!" sentak Jihan yang beberapa menit lalu berhasil membuat wajah dan jilbab Nadya basah kuyup.


Ihsan yang kebetulan tahu moment menegangkan itu segera membantu Nadya mengeringkan wajahnya. Bagaimana dengan Alan, ia hanya berdiri mematung sembari membawa nampan, tertegun, mungkin saking shocknya hingga menghentikan refleknya untuk membantu Nadya.


"Udah, gak pa-pa, San. Makasih." Ucap Nadya menghentikan Ihsan yang membantunya mengelap wajah dengan tisu.


"Gila nih cewek-cewek bar bar banget!" gerutu Ihsan yang masih memberi Nadya tisu.


"Cewek Lo yang bar-bar, main rebut pacar orang!" sungut Jihan tambah kesal. Nadya malah tak menggubrisnya, ia jadi kikuk karena beberapa pengunjung foodcourt mulai berbisik.


"Kamu tuh apaan sih!" tegas Alan yang langsung menarik tangan Jihan kasar. "Kamu gak pa-pa, Nad?" tanya Alan segera mendekati Nadya.


"Gak pa-pa." Ketus Nadya sambil menepis tangan Alan yang membantunya.


"Sayang, kamu kok belain dia sih. Emang apa kurangnya aku sampai kamu memilih gadis munafik itu."


Alan sudah terlanjur marah atas apa yang dilakukan Jihan pada Nadya, terlebih omongan Jihan seolah dirinya yang teraniaya. "Hey cewek gak tau malu, asal Lo tahu, dari dulu saat mama gue mau Lo jadi mantunya, gue gak pernah suka sama Lo. Dan Lo pasti ingatkan, pacar gue sapa, dan dia rela mundur agar gue menjadi anak berbakti pada mama, tapi sekarang lihat....Lo begitu kasar sama cewek yang mengalah sama Lo. Pikir woy.... introspeksi diri, kurang apa dalam diri Lo hingga gue jijik buat sekedar ngelirik doang."


"Alan!" sentak Jihan tak terima dipermalukan di depan umum seperti ini. Harga dirinya begitu mudah diinjak oleh Alan.

__ADS_1


/Oh ternyata cewek ini ngebet sama mas nya/


/Ih...gak punya harga diri banget sih udah ditolak malah ngelabrak pacarnya si mas/


/Ternyata dirinya yang pelakor/


Telinga Jihan semakin panas mendengar bisik-bisik pengunjung. Niat hati ingin mempermalukan Nadya, gadis yang selalu merajai hati Alan, tapi kini justru dirinya yang dianggap pelakor oleh masyarakat. Sial.


"Selesaikanlah urusan kalian, jangan bikin malu. Gue gak pa-pa." Lirih Nadya yang berjalan di samping Alan, hendak pergi.


"Gak ada yang perlu dibahas lagi sayang, aku jelas pilih kamu." Ucap Alan tegas.


"Untuk saat ini lebih baik kamu fokus sama hubungan kalian, Mas. Selesaikanlah dengan baik-baik, agar tidak korban yang dipermalukan lagi. Permisi."


"Kita udah putus, kan? jangan memanggilku dengan sebutan itu karena ada perempuan yang sakit hati akan penggilan itu." Nadya menepis pelan tangan Alan yang mencekalnya.


"Dan buat kamu, Nona Jihan perbaiki diri kalau mau dicintai orang lain. Asal kamu tahu, gue gak pernah rebut Mas Alan dari Lo!" Ucap Nady ketus tepat di telinga Jihan yang masih mode marah level akut.


Nadya pun keluar dari kerumunan itu, Ihsan yang sedari tadi diam segera mengekori Nadya dengan membawa paperbag belanjaan Nadya, namun sayang langkah gadis itu terlalu cepat hingga Ihsan kehilangan jejaknya.

__ADS_1


"Biarlah, gue kasihkan besok aja. Mungkin Nadya ingin menenangkan diri dulu." Ucap Ihsan lesu, memandang paperbag Nadya yang tertinggal.


Sepeninggal Ihsan dan Nadya, Alan langsung menjauhi Jihan, namun gadis itu terus " mengekor langkah Alan meski harus terseok-seok.


"Apa sih hebatnya gadis itu, cantikan aku, kaya juga aku. Apa yang kamu pilih dari dia?" gerutu Jihan disela-sela langkahnya mengiringi Alan.


"Sayang, kita balikan yuk, aku tuh sayang sama kamu." Masih meracau untuk menarik perhatian Alan.


"Sayang...sayang."


Alan berhenti seketika, menatap Jihan intens, "Kayaknya kamu gak punya kaca sehingga gak bisa menilai diri kamu sendiri. Memang kamu kaya, memang kamu cantik, tapi kamu gak berakhlak. Aku hanya mau punya istri yang bisa menjaga kehormatannya."


"Sayang aku selalu menjaga kehormatanku!"


"Ouh ya, dari segi apa kamu menjaga kehormatan kamu, baju minim seperti ini jelas memperlihatkan berapa level kehormatan yang kamu jaga. Satu lagi, aku pastikan kejadian ini akan berimbas kepada respect mama pada kamu. Setidaknya mama tahu, calon mantu pilihannya bar bar."


Jihan mematung, ia tidak menyangka akan dipermalukan seperti ini oleh seorang laki-laki.


Sakit hati? Jelas.

__ADS_1


Malu? Apalagi.


Shittt


__ADS_2