
Hari minggu pagi, Nadya terpaksa bangun pagi sekali, bayangkan di hari libur yang harusnya dijadikan kegiatan hibernasi diganti dengan kegiatan yang terburu-buru. Pasalnya sejak azan shubuh, suara merdu dari ibu bertalun terlalu nyaring, mengultimatum Nadya agar segera mandi dan mengantarkan ke rumah besan. Hari ini adalah empat bulanan Naila yang diadakan di kediaman mertuanya sesuai kesepakatan mereka.
Harusnya ibu menginap sejak semalam, hanya Nadya enggan untuk diajak menginap di sana karena Alan. Bos ganteng itu pasti menempel terus padanya, ah....terlalu ge-er pastinya, tapi Nadya mengantisipasi lebih tepatnya. Apalagi kata Naila keluarga Ardhan dari luar kota sudah banyak yang datang sejak Jumat siang, hem ...kalau mereka tahu hubungan Alan-Nadya tentu akan mengorek cerita panjang mereka dan bisa jadi ada pihak yang menyalahkan ibu sebagai penghalang restu, dan Nadya tak mau itu terjadi. Alhasil, jam 6 teng, Nadya sudah cantik dengan menggunakan celana jeans panjang, kemeja peach dan pashmina.
Style sederhana tapi dicibir ibu, lantaran ke pengajian pakai jeans. Hufh....padahal Nadya juga membawa kaftan putih dalam tas untuk acara nanti siang. Pasangan ibu dan anak itu naik taksi online menuju kediaman Ardhan.
Setelah 45 menit perjalanan, keduanya disambut ramah oleh Mama Shofi, mertua tak jadinya Nadya ini begitu ceria, sangat bertolak belakang dengan putra sulungnya yang tanpa ekspresi di depan umum. Eh...kemana tuh orang, tadi malam kirim pesan kalau ia akan menginap di rumah utama. Apa jangan-jangan masih tidur hingga tak tahu kedatangan Nadya.
"Sudah sarapan?" tanya Mama Shofi ketika mengajak sang besan dan Nadya masuk ke rumah.
"Sudah Jeng. Alhamdulillah."
Setelah berbasa-basi, Nadya dan Ibu membaur dengan keluarga Mama Shofi. Naila yang masih morning sickness, terlihat masih lemah, terlebih manja banget dengan Ardhan. Di mana ada Ardhan di situ ada Naila, menggelikan.
"Kamu mau buah apa, biar Mbak kupasin." Nadya menemani Naila yang harus berpisah dengan Ardhan terlebih dulu karena Ardhan harus menjemput keluarga yang baru datang di bandara, sedangkan para sopir masih ada keperluan mengambil berbagai hantaran untuk berkat pengajiannya.
"Mbak, cari rujak yuk. Depan komplek ..jalan kaki."
"Makan buah ini aja kenapa sih, Nai. Lebih bersih tahu."
"Ck...yang pengen bayiku, bukan aku."
"Heleh, alibi lo aja yang mau keluar. Heran deh, suka banget kelayapan."
"Kelayapan gue cari wawasan, pengalaman, enggak kayak Mbak, buku doang temannya."
"Enggak gue juga sering hang out bareng teman." Sangkal Nadya yang beberapa kali hang out barenh sahabatnya, entah hanya jalan-jalan di mall atau sekedar nongkrong di cafe. Dulu, sekarang hidupnya hanya untuk kantor. Berbeda dengan Naila, dia terlalu lincah jarang di rumah, temannya banyak di semua kalangan dan usia.
__ADS_1
"Siapa, sama Nathan? apa kabar tuh anak?" tanya Naila sambil mencomot semangka.
"Masih di Singapura, udah lama juga gak ketemu, paling chat doang. Kenapa?"
"Masih naksir lo?" tanya Naila tiba-tiba, membahas sahabat sang kakak. Naila kenal dengan beberapa sahabat sang kakak, karena dulu saat Nadya SMA sering sekali main ke rumah.
"Siapa yang naksir kamu sayang?"
Kompak, Naila dan Nadya menoleh. Sudah ada Alan yang bersender di tembok dengan melipatkan tangannya ke dada.
"Mas Nathan lah." Jawab Naila santai, selama ini ia tahu Nadya dan Alan putus sambung dan Naila merasa kasihan dengan hubungan mereka. Alhasil, dia akan membuat kakaknya move on dari Alan, termasuk dengan mengungkit Nathan.
"Kudis?" Alan memastikan.
Nadya dan Naila serempak berdecak malas, orang ganteng dipanggil kudis. Cemburu ya gak usah segitunya kali.
"Gak ada yang naksir aku, Mas." Sangkal Nadya, malas meladeni Alan yang cemburu. Butuh energi dan rayuan yang lama pastinya.
"Apaan sih lo, ember banget." Nadya memukul lengan Naila gemas, karena membuka rahasianya di depan Alan. Menyebalkan.
"Cerita, Nai. Gue dengerin." Titah Alan sambil duduk di samping Nadya.
"Ampe cerita gue pecat jadi adik gue lo."
"Gak takut, gue udah punya suami yang perhatian sama gue."
Alan menghembuskan nafas berat, melihat perdebatan kakak dan adik yang gak penting ini.
__ADS_1
"Maaf ya Nak Alan, mereka ribut kalau berdekatan gini." Ujar Ibu yang baru saja kembali dari ruang tengah.
"Sama aja, Jeng. Ardhan dan Alan kalau dekat juga begini, cek cok mulu." Mama Shofi ikut bergabung, beliau sangat bahagia dengan keramaian rumahnya.
Tepat pukul 2 siang, acara pengajian ibu-ibu dimulai. Naila membaca surat Maryam dan Yusuf dengan merdu. Tamu yang hadir sangat kagum dengan menantu Mama Shofi tersebut, tak menyangka orang kaya mendapat menantu yang bisa membaca Al Qur'an dengan fasih dan merdu. Setelah membaca surat Al Qur'an, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat nabi dan ceramah dari ustadzah tentang amalan-amalan mendapatkan keturunan yang sholeh-sholeha.
Acara pengajian berakhir pukul 4 sore. Nadya yanh selalu berdekatan dengan Naila, Ibu dan Mama Shofi juga kecipratan dipuji dengan ibu-ibu yang berpamitan pulang. Bahkan ada dari mereka yang menawarkan anak bujangnya pada Nadya.
"Beuh, udah move on aja dari Mas Alan. Banyak yang melamar tuh." Ketika mereka kumpul di ruang keluarga, Naila sengaja memancing kekesalan Alan.
"Istri lo boleh gue tabok gak, Dek." Ucap Alan yang kesal dengan ocehan Naila. Adik iparnya itu sengaja menguji kesabarannya, karena sejak tadi terus menghasut Nadya agar mencari pengganti Alan. Oh tidak bisa Maemunah.
"Lah ..emang bener juga. Mbak Nadya mending cari pacar baru aja, daripada nunggu bujang lapuk." Duh...si Ardhan malah memprovokasi lebih berat, Alan langsung melempar wajah adik satu-satunya itu dengan bantal sofa, semakin emosi lagi dengan tawa renyah dari Naila dan Nadya. Semua tampak menyerang Alan.
"Aku coba deh, tadi siapa Nai, namanya anak Tante yang menor tadi." Nadya juga berniat mengusili Alan.
"Rangga."
"Gak usah macem-macem kamu, belum pernah ngerasain diculik ke KUA kan."
Bukannya takut, malah ketiganya Ngakak. Mama dan Ibu yang masih mengobrol dengan beberapa ibu-ibu pengajian, menoleh sebentar ke arah ruang keluarga. Tampak anak dan mantunya tertawa kencang sedangkan anak bujangnya cemberut.
"Ancaman macam apa itu." Ledek Nadya semakin gencar. Wajah Alan semakin suram, dan decakan sebal terus terdengar. Baginya Nadya tidak boleh ada yang naksir, apalagi melamarnya, TIDAK BOLEH.
"Lan, ada Tante Sita dan Meysa tuh." Panggil Mama yang baru saja masuk ke ruang keluarga. Alan hanya menampilkan wajah datarnya tapi beranjak juga, menemui tamu yang disebut mama. Sedangkan Ardhan hanya mendengus saja sembari memperhatikan langkah Alan.
"Hati-hati, Mbak." Tiba-tiba Ardhan memberikan peringatan dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Maksudnya?" Naila dan Nadya kompak bertanya.
"Rayuan Janda." Jawab Ardhan singkat.