
Nadya dan ibu mengantarkan Faiq dan Bu Tatik sampai beranda. Kali ini Nadya tampak ikhlas mengantarkan Faiq pulang, dan itu tak luput dari pandangan ibu. Ada kelegaan karena putrinya memang bahagia tidak dengan Faiq. Hanya saja memberi restu pada Nadya dan Alan saat ini belum pantas. Apa kata orang, setelah berkabung langsung menerima lamaran saudara ipar. Terkesan kalau meninggalnya Naila memang diharapkan keduanya, dan ibu menghindari hal itu. Lebih baik urusan Nadya -Alan menunggu haulnya Naila saja.
"Tumben habis ngantar calon suami bisa tersenyum?" Goda Alan yang melihat Nadya membawa membawa nampan ke dapur.
"Lagi mencoba iklash aja menerima keadaan."
"Maksud kamu?"
"Gak bermaksud apa-apa."
"Jangan bilang kamu mau menerima Faiq sebagai calon suamimu. Apa kamu gak ingat ucapan Naila, dia akan berusaha mewujudkan kebahagian kamu sampai---" Alan berhenti ngomong, karena pembahasan Naila masih sangat riskan di suasana sekarang.
"Udah cukup. Yang bilang aku menerima Faiq sebagai calon suamiku itu siapa?"
__ADS_1
"Jadi? Kamu udah free? Gak dikhitbah lagi?"
Nadya mengangguk dan tersenyum menatap Alan. Sontak saja pemuda itu berucap Alhamdulillah, seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Beneran?" memastikan dengan terus menatap gadis itu.
"Tunggu satu tahun lagi ya, Nak Alan. Pamali kalau belum haulnya Naila kita menyelenggarakan pernikahan." Sahut ibu yang baru saja masuk ke ruang makan.
Tak menyangka Alan begitu getol dengan Nadya. Bahkan ia tak sungkan bersikap cerewet seperti itu. Kesan datar dan jutek hilang entah ke mana. Bahkan tidak malu kalau dia menjadi pengantri pertama untuk meminang Nadya.
Karenaa sudah hari ketujuh, dan tahlil selesai sebeluk isya tadi. Kini keluarga Ardhan kembalu pulang. Ardhan bahkan menangis, dipelukan sang ibu mertua. Terbayang sudah wajah Naila, cerianya, cerewetnya. Menikah belum genap satu tahun dengan Naila merupakan kenangan yang tak akan pernah terlupakan.
"Jangan lupa sambung doa untuk Naila ya Nak Ardhan, terimakasih sudah mencintai dan menyanyangi Naila meski pernikahan kalian hanya sebentar." Ucap Ibu saat memeluk sang menantu.
__ADS_1
Ardhaan hanya bisa mengangguk saja. Hatinya masih hancur mendapati wanita kesayangannya telah tiada. Harusnya ia dan Naila membina rumah tangga yang bahagia dengan kehadiran buah hati yang baru saja menginjak 4 bulan dalam rahim sang istri. Namun ia bisa apa bila takdir sudah bicara. Hanya satu penyesalan Ardhan, kenapa dia tidak menemani sang istri hari itu dan memilih bertemu profesor. Ah sudahlah, yang terjadi ya sudah. Saat ini tinggal mendoakan Naila semoga mendapat tempat terbaik di sisi-NYA.
Setelah keluarga Ardhan pulang, kini ibu dan Nadya masuk ke kamar Naila, mengamati setiap sudut kamarnya. Nuansa ceria sangat terasa di kamar ini, foto dari gaya alay hingga foto wisuda saat SMA menghiasi dinding kamar almarhumah. Ah....menyematkan title itu membuat Nadya harus menyeka air matanya. Adik kesayangan, adik yangbia perjuangkan agar hidup bahagia kini telah tiada. Meski nanti restu ibu akan didapat, tapi percayalah di sudut hati Nadya tak mau mendapatkannya dengan menukar nyawa sang adik. Tapi kembali lagi, ini sudah takdir Naila, jangan ada rasa bersalah berlebih.
"Maafin ibu ya, Mbak." Ucap ibu sambil membuka album foto Naila, duduk di tepi ranjang, dan sesekali menyeka air mata yang keluar. "Andai saja, ibu tidak memiliki kepercayaan akan pamali itu, mungkin kalian sudah bahagia dengan pasangan masing-masing. Tak ada yang mengalah, ataupun sampai meninggal seperti ini." Beliau sesenggukan kemudian.
"Ibu." Nadya memeluk erat sang ibu. "Bukan salah ibu, tapi rizeki kami memang sebatas ini, Bu. Jangan merasa bersalah terus, Naila di sana pasti sedih. Kalaupun aku dan Mas Alan menikah, tentu ada rasa sesal juga, karena demi restu kami Naila seperti ini. Andai saja, aku menerima dengan ikhlas, tentu dia tidak akan kemari, iya kan?"
"Udah ini salah ibu, ibu yang tidak bisa membuka jalan kebahagian untuk anak-anak ibu. Kamu sekarang harapan ibu, kamu harus bahagia, jangan pernah menuruti keinginan ibu kalau kamu gak suka. Janji?"
Nadya mengangguk. Anggota keluarga mereka semakin berkurang, tinggal dirinya dan ibu saja . Saatnya menciptakan kebahagian untuk ibu di hari tuanya.
Nadya sayang ibu
__ADS_1