SULUNG

SULUNG
JANGAN HARAP


__ADS_3

"Maaf ya, nunggu lama!" ujar Nadya pada Yudistira, sahabat SMA yang baru bertemu di pernikahan Nafa, setelah sekian lama hilang kontak dengannya.


"Gak pa-pa, kan emang tujuan gue ketemu Ibu!" sahut Yudistira sambil tersenyum manis, wajah tampannya masih begitu mempesona, padahal jaman putih abu-abu aja sudah wow, eh sekarang makin macho, kalau dibilang Yudistira ini mirip sama Ji Chang Wook, wow banget kan. Bahkan Nadya saat bertemu tadi sampai melongo, terkesima dengan perubahan tampilan Yudistira. "Mantan Lo, ya?" lanjut Yudistira karena tadi ia sempat tukar cerita dengan Ibu Nadya, salah satunya cerita tentang Alan.


Nadya mengangguk saja, urusan pribadi malas sekali ia umbar, meski dengan sahabat sendiri. Setelah tak bertemu lama, karena Yudistira pindah dan kuliah di Singapura, Nadya agak canggung berbicara dengannya. Padahal dulu saat SMA, hanya Yudistira yang dipercaya Ibu kalau mereka keluar malam. Kalau kata Ibu, Yudistira itu paket komplit, anak orang kaya, terhormat, dan sangat sopan.


Bahkan dulu saat perpisahan, Ibu malah memberikan sebutan mantuku pada Yudistira, dan ia tak pernah marah, karena sejak dulu ia juga naksir sama Nadya. Merasa mendapat lampu hijau dengan sebutan itu, namun sayang si putri tak mau pacaran, dan alasan pemuda yang bernama Nathan Alexander Yudistira itu kuliah dan bermukim di Singapura salah satunya ingin move on dari Nadya yang tak sekali menolaknya.


"Udah berani ya sekarang main pacaran, dulu aja berapa kali gue nembak ditolak mulu."


"Ini juga baru sekali nyoba pacaran, mikirnya ke jenjang nikah eh...putus juga karena pamali." Nadya yakin ibu pasti sudah cerita akan putusnya Nadya-Alan, dan itu membuat Yudistira tertawa, sahabatnya sudah mengenal cinta dan patah hati sekaligus.


"Ya udah, main cinta selanjutnya sama gue aja ya!"


Ganti Nadya yang tertawa, "Tuan Nathan Yudistira belum punya pacar? Gak percaya!"


"Dih, si Eneng, hatiku dari dulu buat Neng Nadya tahu."


"Dah..ah, udah malam, save flight ya!"


"Dih ngusir." Nathan menyempatkan menatap wajah Nadya, hampir lima tahun tak bersua ternyata desiran itu masih ada. "Makasih." Ucapnya sebelum meninggalkan kediaman Nadya.


Semenjak malam itu, Nathan Yudistira terus bertukar pesan dengan Nadya, dan gadis itu meladeninya. Berstatus sahabat dari SMA, Nadya sangat nyaman cerita dengan Nathan, pemuda itu masih sama dengan masa putih abu-abu dulu, humoris, konyol, tapi baik hati. Meski punya rasa dengan Nadya, ia tak pernah menyinggung masalah hati, biarlah waktu nanti yang memutuskan Nadya berjodoh dengan dirinya atau tidak, yang penting komunikasi jalan terus.


Alan? Hubungan mereka masih tetap, jalan di tempat menuju berhenti total, Nadya hanya membalas pesan Alan dengan singkat padat dan jelas, berusaha membatasi kedekatan di antara mereka berdua. Tak ada cerita panjang atau curhatan Nadya pada Alan, ia hanya sebagai pendengar Alan saja ketika bos ganteng itu sedang punya banyak pikiran. Bahkan tak sekali, Nadya menolak ajakan Alan untuk kerja di ruangannya, atau mengajak pulang bersama. Sudah cukup, ia tak mau buang-buang waktu dengan hubungan tak jelas ini, meskipun Alan akan mengomel atau marah, terserah.


"Hari ini ikut makan siang sama aku." Titah Alan setelah duduk manis tanpa permisi masuk ke ruangan devisi Nadya. Bos minim akhlak memang. Bahkan Ersa cs, cuma melongo melihat kehadiran Alan secara tiba-tiba.


"Maklumin aja, bos!" cibir Erick yang melihat keterkejutan anak buahnya beberapa detik lalu. Satu per satu staf dan manajer keuangan keluar kecuali Nadya, ia sebal sekali pada Alan yang main ajak makan siang tanpa pemberitahuan.


"Ini yang terakhir." Ucap Nadya ketus.


"Kenapa?"


"Pak Alan yang terhormat, udah dong, hubungan kita cuma mantan."


"Otw mantan, lebih tepatnya."


"Serah!" cicit Nadya yang memilih berjalan lebih dulu ketimbang beriringan dengan Alan.


Sampai loby, mobil Alan sudah standby, ia pun dengan manisnya membukakan pintu mobil untuk Nadya, mengabaikan pandangan heran dari beberapa karyawan yang melewati lobi.


"Apa kabar nyonya Alan!" sapa Rilo iseng, Nadya hanya berdecak sebal, tak membalas ledekan si asisten pribadi ganteng itu.

__ADS_1


"Udah ada Mutia kenapa aku harus ikut sih!" protes Nadya pada Alan yang sedang berbalas pesan.


"Diam deh, gak usah cerewet gitu." Sahut Alan tanpa merasa bersalah.


"Mutia, emang ada meeting di luar?" oke Nadya lebih baik tanya dengan Mutia saja, kenapa makan siang harus jauh dari kantor.


"Iya, Bu. Nanti setelah makan siang!" jawab Mutia pelan dengan menyunggingkan senyum tipis.


"Terus aku ikut meeting gitu!" kali ini Nadya menyalak pada Alan.


"Kenapa si sayang, gak mau banget nemenin aku meeting."


"Cih...sayang!" Cibir Rilo, eneg juga dengar panggilan Alan yang terlalu mesra itu.


"Diem Lo!" hentak Alan tak suka.


"Kerjaan ku banyak Pak Alan!"


"Ya nanti lembur, aku temani deh."


"Itu sih mau kamu!"


"Heleh, kamu juga mau, tapi malu aja!"


Saat menunggu pesanan makan siang, ada video call dari Rafly, kebetulan Nadya duduk di samping Alan, namun Alan seperti biasa cuek dengan keluarganya.


"Rafly vc tuh!" bisik Nadya.


"Angkat aja!" jawabnya dengan memeriksa dokumen via email di tablet yang dibawa Mutia. Nadya menyadari ternyata Mutia hanya membawa tablet, tidak seperti dirinya dulu yang disuruh membawa ponsel Alan juga. "Password masih sama!" lanjut Alan lagi, menyadari kalau Nadya enggan menyentuh ponselnya lagi.


"Assalamualaikum, Rafly!" Nadya akhirnya menjawab, siapa tahu ada yang penting.


"Loh, Mbak, kok sama mas Alan?" ujarnya kaget, maklumlah di kalangan keluarga Nadya -Alan sudah putus, lah sekarang kok pegang ponsel Alan.


"Makan siang status staf Pak Alan, Raf!" Ucap Nadya menjelaskan agar tak salah paham, tapi apa yang terjadi, Alan tiba-tiba mendekat, bahkan pipi keduanya hanya berjarak beberapa inci saja, bahaya.


"Astaghfirullah, Mas gue, main srobot aja!" pekik Rafly melihat tingkah Alan yang posesif pada Nadya.


"Kenapa?" tanyanya jutek. Alan mengambil alih ponselnya.


"Mas, Mama kemana?"


"Ya di rumahlah,"

__ADS_1


"Kok tumben gak bisa ditelpon?"


Alan mengangkat bahu saja, Nadya seketika mencubit lengan Alan, bagaimana bisa mamanya gak bisa dihubungi cuek begitu.


"Sakit Yang!" protes Alan manja tapi tak digubris Nadya.


"Nanti aku telpon, Mama Raf. Mungkin ponselnya mati. Naila mana?" tanya Nadya yang mengambil alih ponsel Alan.


"Mbakkkkku sayaanggg!" teriak Naila yang hanya menyampirkan pashminanya saja, kebetulan weekend ini dia meluncur ke Singapura.


"Jangan lupa bawa oleh-oleh."


"Astaghfirullah, Mbak. Gak ditanya kabar malah minta oleh-oleh."


"Ingat suami Lo kaya, masa iya, Mbak yang cantik gini gak dikasih oleh-oleh."


"Mau apa mbak?" tanya Rafly sambil tertawa ngakak karena mendengar kenarsisan iparnya itu.


"Gak usah, ntar kalau aku Singapura aku ajak kamu aja!" mulai deh posesifnya Alan keluar, bahkan dengan Rafly saja ia cemburu. Menyebalkan.


"Gantungan kunci." Cetus Nadya sebal.


Makin ngakak saja pasangan muda itu mendengar keinginan Nadya, ya kali jauh-jauh dari Singapura cuma bawa gantungan kunci.


"Udah ah, kita mau makan siang!" Tut...


Alan memutus panggilan video itu sepihak, sekarang fokus ke makan siang bersama. Rilo yang sedari tadi berbalas pesan dengan Vika tak menghiraukan obrolan Nadya-Alan, sedangkan Mutia pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal beberapa kali melirik pasangan itu.


"Harus tahan sama kebucinan mereka ya, Mut, ngakunya putus tapi kenyataannya kaya' truk gandeng, susah pisah." Celetuk Rilo dengan nada mencibir.


"Jangan mau dipanggil Mut sama asisten playboy ini, orang cantik dipanggil mat Mut mat Mut!" protes Nadya.


"Suka-suka gue lah, gue aja manggil Lo ..Nadya sayang!" Ledek Rilo, dan sontak saja Alan melotot ke arahnya. "Biasa aja kali tuh bola mata, toh udah mantan kan!"


Alan hanya berdecih, karena Nadya tertawa mendengar Rilo mengulang-ulang status mereka. Sedangkan Mutia hanya tersenyum kikuk, masih belum bisa membaur dengan mereka.


"Santai aja, Mutia, meskipun Pak Alan dan Pak Rilo terkesan datar, tapi mereka baik kok."


"Gue baik, yang situ mah enggak!" ceplos Rilo menyindir Alan, karena beberapa kali Rilo tahu, Alan bersikap ketus pada Mutia, kebiasaan lama.


"Kamu tuh yang baik dong sama Mutia, dia kan bantu urusin kepentingan kamu!" Nadya memberi saran pada Alan untuk mengubah sikapnya, ada hal lain juga yang terselip atas saran itu, siapa tahu kalau Alan bisa kacantol dengan Mutia.


"Kamu nyuruh aku baik sama dia, biar aku bisa membuka hati dan move on dari kamu kan? jangan harap, karena aku masih cinta sama kamu." Bisik Alan yang membuat Nadya menoleh dan berkerut kening, kok tahu????

__ADS_1


"Silahkan makan!" ucap Rilo membuyarkan acara saling tatap Alan dan Nadya.


__ADS_2