SULUNG

SULUNG
MELEPAS KANGEN


__ADS_3

Di sinilah Alan sekarang, di ruang tamu rumah Nadya ditemani Ibu, beliau sangat senang bertemu lagi dengan Alan. Terakhir bertemu saat resepsi Naila dulu, meski tak merestui dengan Nadya tapi beliau masih sayang dengan menantu tak jadinya ini.


"Nadya kalau sudah bertemu dengan teman lamanya kayak gini Nak Alan, lama!" ucap Ibu merasa tak enak karena Alan sudah sejam menunggu kedatangan Nadya yang katanya ke pernikahan Nafa.


"Iya, Bu. Gak pa-pa, Nadya juga jarang sekali bertemu teman-temannya."


"Maafin ibu yang Nak Alan, kamu dan Nadya harus putus."


Alan tersenyum lalu mengangguk, mau bagaimanapun ia memaksa tetap belum bisa. "Kami memang sudah tidak ada hubungan selain pekerjaan dan ipar, hanya saja saya lagi kangen dengan anak ibu. Hampir tiga minggu ini, Nadya gak pernah membalas pesan saya."


Yah ...sejak Mutia menjadi asisten pribadinya, Nadya seakan menjaga jarak dengan Alan. Awalnya saja membalas pesan ala kadarnya, jawabnya juga singkat padat dan jelas, setiap panggilan telpon ditolak, kelamaan pesan Alan dianggurin, belum lagi volume pekerjaan Alan dan Nadya cukup banyak, meski satu kantor tetap saja ia sulit bertemu. Alhasil, sekarang Alan sudah tidak tahan, ia memberanikan diri menemui Nadya di rumah. Masa bodoh kalau diusir oleh Ibu, tapi nyatanya ia tetap disambut baik oleh mertua tak jadinya itu.


Menjelang jam 8 malam, Nadya datang dan yang membuat Alan kesal seketika, kehadiran laki-laki yang mungkin seumuran Nadya mengantarkan Nadya bahkan ikut masuk ke ruang tamu. Siapa dia? Apa jangan-jangan pacar baru Nadya?


"Loh Pak Alan?" ucapnya terkejut melihat Alan duduk manis di ruang tamunya sendiri.


"Malam, Nad!" sapa Alan dengan senyum, menyembunyikan kekesalannya sementara.


"Malam, Pak. Ada-"


"Akhirnya kamu pulang juga, Nak Alan udah nunggu sejak habis Maghrib, Nad. Kamu tuh ke-" Ibu berhenti mengomel karena menyadari laki-laki yang berdiri di samping Nadya. "Yudis, ini Yudis kan?" beliau sumringah dan mendekat ke arah Yudis, malah melupakan keberadaan Alan. Duh emak-emak.


"Ya Allah, tambah ganteng apa kabar?"


"Baik, Bu. Masih ingat saja sama Yudis," ucapnya tak kalah ramah.


"Hem, Nad. Temuin dulu Nak Alan, ibu mau ngobrol sama Yudis dulu!" Ibu langsung menarik tangan Yudis ke ruang tengah, entahlah apa yang akan dibicarakan mereka. Nadya hanya menghembuskan nafas berat. Sudah memprediksi bakal panjang urusannya ini.


"Maaf, Pak, sudah menunggu lama!" Ujar Nadya segera duduk di seberang Alan. Bos ganteng itu hanya menatap tajam Nadya.


"Siapa dia?" tanya Alan to the point dan sedikit ketus.


"Teman SMA saya, Pak. Namanya Yudistira." Nadya juga bingung kenapa dia harus menjelaskan Yudis pada Alan, gak ada hubungannya juga.


"Yakin cuma teman?" Alan memastikan, karena ia yakin ada sesuatu di antara mereka di masa lalu.


"Ck...kalaupun lebih dari teman juga gak pa-pa, Pak."


"Ini bukan kantor, dan aku gak suka kamu sama dia."

__ADS_1


"Pak Alan, udah dong. Saya juga gak melarang bapak berhubungan dengan siapapun kan, kenapa bapak melarang saya!"


"Nad, tolong dong, jangan berantakin hati saya lagi." Alan kesal setengah mati, sikap Nadya sudah mulai berubah drastis, terlihat ingin sekali menjauhi Alan.


"Pak, bapak sadar gak sih, saya udah menghindar dari Pak Alan dengan tujuan agar kita gak bergantung satu sama lain. Kalau hubungan kita berlanjut justru kita sakit terlalu dalam nantinya."


"Aku gak peduli."


"Pak, tolong dong."


"Lalu kamu mau berhubungan dengan si kudis itu?"


"Ck...Yudis, Pak." Nadya meralat, tak suka dengan sikap Alan yang main seenaknya ganti nama orang.


"Terserahlah, yang jelas saya gak suka kamu berhubungan dengan dia. Saya tahu, Nad. Dia itu naksir kamu."


"Ya emang, dari SMA malah."


"Dan kamu---"


"Pak, mari kita akhiri saja ya, saya udah capek Pak, sejak saya menjalin hubungan dengan bapak, banyak yang gak suka dengan saya, mencibir tanpa tahu siapa saya, setiap saya meeting selalu saja ada yang menyindir staf biasa tapi bisa ikut meeting di program penting. Males gak sih digituin, Pak."


"Gak usah didengar!"


"Ya udah kamu jadi asisten saya aja, biar Mutia tukar posisi."


Nadya memutar bola matanya malas, tak habis pikir bos ganteng nan cerdas terlihat bodoh kalau urusan cinta. Apa jadinya kalau Nadya jadi asisten pribadi dan Mutia yang bertukar menjadi staf keuangan, beuh gak semudah itu Bambaaaangggg, apa kata orang seantreo kantor. Duh kalau gak sayang udah digetok dah tuk otak biar kembali ke jalan yang lurus. Main ganti kerjaan orang, mentang-mentang bos.


"Udah deh, gak usah ngaco!"


"Dih, aku serius!"


"Berani macam-macam sama kerjaan orang, aku resign aja deh."


"Gak pa-pa, ntar langsung aku bayar tunai." Mulai mencair suasana tegang keduanya, Alan sudah mulai menggoda Nadya, bikin mood gadis itu anjlok. Meski rayuan yang tak bisa terwujud, tapi nyatanya Nadya merona juga. Menyiratkan masih ada rasa pada gadis itu.


"Hi....Mas Alan, udah dong."


"Kamu sebenarnya kenapa gak mau balas telpon ataupun wa ku, tahu gak aku kangen berat tau."

__ADS_1


Nadya menghembuskan nafas pelan, "Gak pengen bergantung sama kamu,"


"Maksudnya?"


"Takut terlalu jatuh cinta lebih dalam sama kamu, sedangkan aku udah gak sedekat dengan kamu kayak dulu."


"Kenapa gak bisa dekat sama aku?" Alan bingung, hampir tiap hari Alan mengirimi pesan pada Nadya, kadang telpon atau video call nyatanya gak pernah ditanggapi oleh Nadya, tapi sekarang lihatlah dia mengaku gak bisa dekat dengan Alan. Duh...cewek ribet amat yah, sekarang kalau boleh memaki, heh Nadya yang gak bisa dekat itu gue atau Lo, jelas-jelas dia yang menghindar.


"Banyak alasan."


"Salah satunya?"


"Gak ada restu dari Ibu, percuma kalau dekat banget sama kamu, tapi cuma dipacari."


"Apa mau aku kawini baru direstui." Jawaban nyeleneh Alan yang tak pernah terpikir oleh Nadya, bisa-bisanya Alan mengucapkan hal itu, wah bahaya kalau sudah punya niat belok gini. Alhasil bantal sofa langsung melayang ke wajah Alan, tapi si korban malah tertawa ngakak.


"Gak usah macam-macam ya!"


"Ya makanya jangan menghindar, dibilangin jalani aja dulu kenapa sih, kamu kan udah bilang kalau kita jodoh mau sejauh apapun bakal dekat, begitupun sebaliknya."


"Diusahakan."


"Besok aku jemput!" Ucap Alan yang sudah beranjak berdiri,


"Aku gak-"


"Panggilan ibu gih, aku mau pamit!"


Meski sebal, Nadya tetap saja memanggil ibu karena Alan mau pamit, dilihatnya Yudistira yang masih duduk di ruang TV sambil tersenyum padanya.


"Ibu, Alan pamit ya, mau izin juga besok Alan jemput Nadya!"


"Hem...iya hati-hati ya!" ucap Ibu sambil menyambut tangan Alan yang mau salim. Terenyuh juga melihat sikap Alan yang begitu hormat padanya dan begitu sayang dengan Nadya, tapi kondisinya masih terjebak dengan pamali.


"I love you!" ucap Alan sambil mengusap kepala Nadya sebelum masuk mobil.


"I hate you!" balas Nadya ketus, namun membuat Alan tertawa ngakak.


"Udah sana masuk, jangan dekat-dekat sama kudis."

__ADS_1


"Ih dibilangin nama-"


"Assalamualaikum sayang!" ucap Alan langsung masuk mobil, tak memberikan kesempatan pada Nadya untuk menyebutkan nama laki-laki tadi.


__ADS_2