
"Mbak!" sapa Naila dengan melongokkan kepala, saat kamar Nadya terbuka.
"Hem!" balas Nadya dengan berdehem, dia sedang sibuk dengan laptopnya, karena akhir bulan tentu pekerjaan sebagai staf keuangan menumpuk. Laporan keuangan menjadi obyek ia harus serius. Sebenarnya ia jarang sekali membawa laporan keuangan ke rumah, hanya saja ini akhir bulan, sudah pasti ia tak mau lembur di kantor.
"Mbak sibuk ya?" tanya Naila lagi, ia sekarang sudah duduk di tepi ranjang, menatap punggung Nadya yang fokus pada layar laptopnya.
"Mayan, ada apa?" Nadya tahu kalau sudah begini, Naila akan meminta obrolan mereka serius. Ia pun menatap balik adiknya yang kini menopang dagu, tampak frustasi.
"Mbak, beneran aku gak pa-pa nikah dulu?" tanyanya dengan wajah sendu.
Tentu Nadya berkerut kening dong. Biasanya Naila akan antusias setengah mati membahas pernikahannya. Tapi malam ini, wajah cantik itu terlihat hampir mewek.
"Sebenarnya mbak pengen banget kamu selesaikan kuliah kamu dulu, Dek. Kamu baru mau semester 4 loh! Sanggup menjalani perkuliahan dengan nikah juga?"
"Sangguplah, orang Rafly nanti tinggal di Singapura juga kok. Jadi gue berasa single aja."
Nadya menghela nafas, pemikiran masih bocah tapi kok ngebet kawin sih. Main seenaknya saja tangan Nadya menonyor kening Naila.
"Gak percaya gue kalau Rafly dengan seenaknya ninggalin Lo. Lagian Lo gak takut ditinggal di sini? setelah malam pertama Lo misalnya."
"Kenapa harus takut?"
"Hei Maemunah." Mode garang Nadya keluar. "Setelah Lo menyerahkan masa depan Lo, terus kalian menjalani hubungan LDR, apa Lo gak takut habis manis sepah dibuang!"
"Mbakku yang cerdas tapi oon."
"Gue yakin Rafly gak kayak gitu."
"Cih percaya amat sama Rafly. Lo kenal juga lewat DM berlanjut telpon-telponan. Baru kenal beberapa bulan aja langsung mau diajak nikah. Mikir dong, Nai."
"Rafly tuh anak orang kaya, Mbak. Makanya aku yakin aja, dia bakal membahagiakan gue. Terlebih Rafly itu sepupu sahabat gue, Elin."
"Elin anak pengusaha tambang emas?"
Naila mengangguk.
"Gak mungkinlah Rafly macem-macem ninggalin gue setelah kita nikah."
"Sombong, ingat Nai, sebaik-baiknya laki-laki pasti ada sisi buayanya. Apalagi Rafly kaya, pasti dengan mudah mencari perempuan." Cibir Nadya berniat menggoda memang, memancing emosi lebih tepatnya.
Bugh
Bantal melayang di wajah Nadya, diiringi kekehan Nadya yang berhasil menyulut emosi Naila, kesal banget sepertinya.
__ADS_1
"Jadi kakak doanya jelek amat." Gerutunya kesal.
"Lagian kamu, Nai. Usia belum genap 20 udah mikir rumah tangga. Dewasa belum waktunya. Harusnya kamu tuh menikmati masa muda, jalan-jalan sama teman."
"Mbak juga gak pernah tuh jalan-jalan sama teman-teman. Gak pernah foya-foya, padahal gaji mbak juga cukup buat sekedar jalan di mall."
"Gue beda."
"Makanya gue juga ngikutin Lo, gue juga beda. Out of the box lah!"
"Heleh, Lo aja yang kebelet." Kali ini Nadya tak berniat kembali ke laptop, ia sengaja merebahkan tubuhnya ke ranjang, karena ia tahu Naila butuh tempat curhat..
"Lo tau gak mbak kenapa akhirnya gue mau menerima tawaran nikah dari Rafly?"
"Apaan?"
"Ck...tebak dulu kenapa sih?"
"Males, otak gue udah puyeng dengan kerjaan. Ngapain coba nebak hal gak penting."
"Dih..dih...penting tahu, buat masa depan gue."
"Cepetan apaan!"
"Gue?" tanya Nadya kaget, tak menyangka juga alasan dibalik keinginan nikah mudah sang Adik adalah dirinya. "Kenapa dengan gue?"
"Gue mau mengurangi beban hidup Lo, Mbak!" Ucap Naila sendu, ia juga merebahkan tubuhnya, tapi tak berani melihat Nadya. Ia takut akan menangis. Alhasil dia hanya menatap langit-langit kamar Nadya.
"Gue tahu, setalah ayah meninggal hidup kita hanya bergantung sama Lo. Padahal saat itu, Lo masih skripsi. Dan setelah wisuda, Alhamdulillah Lo dapat kerja, gaji Lo semua diserahkan ke ibu."
"Gak semua, gue sisain lah buat pegangan."
"Iya, ibaratnya ibu dan aku 90% sedangkan Lo cuma 10%."
"Gak pa-pa, Nai. Gue ikhlas."
"Lo ikhlas, tapi gue enggak."
"Eh... gimana-gimana, kok bisa Lo gak ikhlas." .
"Gue merasa gak guna tahu, Mbak. Gue hanya bisa menghabiskan uang Lo. Lo gak pernah beli baju, ataupun kepentingan Lo sendiri. Selalu menomorsatukan gue dan ibu."
"Karena gue udah pernah dinomor satukan ayah, Nai. Gantian lah." Jawab Nadya santai, pembahasan seperti ini sudah biasa bagi Nadya. Dia harus kuat, apapun kondisinya ia akan menomorsatukan adik dan ibunya. Harus dengan siapa lagi mereka bergantung, kalau tidak Nadya yang beraksi.
__ADS_1
"Ya Makanya, gue mau nikah aja, sama orang kaya biar bisa menjamin kehidupan kita."
"Idih...Lo gak malu minta ke laki buat jatah gue."
"Dia kaya kok, ngapain gue malu. Apalagi kebutuhan Lo gak banyak, gue tahu mbak, Lo bukan tipe cewek sosialita."
"Ya siapa tahu gue berubah."
"Halah...laki Lo juga kaya banget!"
"Tahu dari mana Alan kaya?"
"Sejauh mata suci ini memandang, wajah Pak Alan tuh hoyang kaya sejatilah, mana ada sih orang biasa punya mobil mewah kayak gitu, mana jemputnya di perumahan mini, gak elit banget." Ledek Naila sengaja menyindir sang kakak. Padahal perumahan mini yang ia ucap juga tempat tinggal dirinya juga, heran.
"Sembarangan, gini juga rumah Lo, situ sadar gak sih!" ujar Nadya sewot sambil menonyor kening sang adik, eh si Naila malah tertawa ngakak.
"Sadar gak sih, Mbak. Kita tuh dijodohkan sama orang kaya?" tanya Naila sambil menatap wajah polos sang kakak.
"Enggak sih, gue menganggap kita dekat dengan orang kaya banget mungkin karena doa ibu juga, berharap putrinya punya suami yang bisa membahagiakan dari segi apapun, khususnya materi."
"Gue tahu, gue tahu." Naila bangkit dari rebahannya. "Pasti ibu berdoa, ya Allah semoga anak-anak saya mendapat suami yang Sholeh, dan kaya ya Allah." Begitu Naila menirukan doa sang ibu dengan logat beliau juga. Anak gak ada akhlak memang, tapi percayalah dua gadis, adik kakak ini begitu menyayangi sang ibu.
"Dosa tahu!" Nadya memperingati adiknya, sok serius, padahal ia masih tertawa juga.
"Meskipun Lo udah nikah, lanjutkan kuliah kamu hingga selesai."
"Males ah, otak gue juga gak nyampe. Kalau nanti habis nikah, gue langsung bunting gue putus kuliah aja."
"Dih...Lo gak sayang, kuliah tinggal beberapa semester aja. Ingat dek, banyak orang yang pengen kuliah, Lo yang tinggal datang kuliah doang, gak mau. Gak bersyukur Lo!"
"Bukannya gak bersyukur, tapi gue malas kuliah, malas gue mengerjakan tugas."
"Sekarang Lo merasa nikah punya anak bakal enak, apalagi punya suami kayak. Tapi percayalah, suatu saat nanti Lo akan menyesal kalau sampai tidak melanjutkan kuliah. Terlebih Lo akan menjadi ibu, sekolah pertama buat anak Lo. Bayangkan betapa pintarnya anak Lo yang diasuh oleh ibu yang berpendidikan tentunya."
"Ntar deh gue pertimbangkan mau lanjut apa gak."
"Ck...emang si Rafly tuh gak dukung kamu buat lulus?"
"Dukunglah, dia juga ingin punya istri yang pintar dan bijaksana."
"Nah, betul itu."
"Betul si betul, tapi otak gue yang gak nyampe."
__ADS_1
"Alasan!" ujar Nadya sambil mendorong tubuh adiknya agar segera keluar dari kamar Nadya. Kakak yang kejam.