
Ardhan melambaikan tangan saat Nadya dan Mutia baru masuk Cafe. Adik Alan itu begitu antusias menyambut kehadiran kakak ipar. Baginya Nadya harus dijaga karena ia pernah mengalami kehilangan sang istri di trimester awal kehamilan. Ardhan bertekad, jangan sampai sang kakak mengalaminya.
"Nih...oleh-oleh dari SG." Ucap Ardhan sambil menyodorkan paper bag di hadapan Nadya.
"Makasih." Ucap Nadya sumringah, ia mengintip wafle itu lalu mengeluarkannya. Meskipun sudah tidak hangat lagi ia akan memakannya sekarang.
"Mau dimakan sekarang Mbak?"
"Iya, emang kenapa?"
"Makan nasi dulu, aku di WA mas Alan nih." Ucap Ardhan sambil menampilkan room chatnya dengan Alan.
Umpetin Wafflenya dulu, Suruh makan nasi dulu
"Ck..... Menyebalkan."
Ardhan tertawa, "Udah tahu, Kakakku bucin akut, turutin ajalah."
"Menyebalkan banget tau, Dhan. Posesif banget, aku gak boleh ini gak boleh itu. Nih...bahkan keluar dari kantor ini harus ada bodyguard. Eh....ini sekertaris pribadi Mas Alan, Dhan. Mutia ini Ardhan....Ardhan ini Mutia." Ucap Nadya meminta mereka berkenalan.
"Ardhan."
"Mutia."
"Kasihan Mutia tau, dia jadi baby sitter aku."
"Udah gak pa-pa, demi keselamatan Mbak Nadya. Mas Alan gak mau kejadian Naila terulang lagi."
Nadya terdiam, ucapan Ardhan ada benarnya. Kenapa dirinya tidak berpikiran ke arah situ ya. Pantas saja, sejak dinyatakan hamil Alan protektif banget. Bahkan ia selalu memaksa Nadya kerja di ruangannya. Astaghfirullah....harusnya dia bersyukur diperhatikan seperti itu.
"Udah gak usah mewek, makan nasi baru boleh makan Wafflenya." Ardhan pun menyodorkan nasi beef teriyaki dan steak ke arah Nadya sampai-sampai Nadya melotot.
"Dhan, mana sanggup aku makan sebanyak ini."
"Udah pelan-pelan, sambil ngobrol juga. Pasti habis. Ya kan, Mutia?"
Mutia hanya mengangguk dan senyum ala kadarnya, sejak tadi ia hanya mendengar obrolan adik dan kakak ipar ini. Begitu dekat dan tak canggung sama sekali. Bahkan Mutia sempat berpikir, kalau Ardhan pernah naksir Nadya tapi mengalah untuk sang kakak. Ah... sinetron sekali.
"Mut----"
"Dhan, gak enak banget kamu manggilnya. Mat...mut ..mat mut, panggil aja, Mutia atau Tia aja kenapa sih." Bumil mulai ceramah.
"Iya deh. Mutia aja kalau begitu. Kamu kok gak makan?" Ardhan melihat makanan yang dipesan Mutia tak kunjung dimakan. Malah sibuk dengan ponselnya.
"Lagi balas chat dengan Pak Alan." Ucapnya lirih.
"Boleh lihat ponsel kamu, saya penasaran apa yang ditulis kakak posesifku itu."
Pak Bos Alan: Mutia, adik dan istri saya gak macam-macam kan?
Me: Macam-macam bagaimana, Pak?
__ADS_1
Pak Bos Alan: Saya Otw ke sana.
Ardhan dan Nadya tergelak membaca pesan Alan. Pasti dia tak konsentrasi meeting, karena Nadya bertemu dengan Ardhan, padahal adik ipar sendiri. Ya memang sih, ipar juga bagi sebagian orang berbahaya juga. Tapi Ardhan tahu lah batasan dekat dengan Nadya seperti apa. Ia tak mungkin merebut Nadya dari Alan. Apapun yang dilakukan Ardhan semata karena peduli sebagai adik saja, tak ada niat apapun. Apalagi, Alan sangat sibuk sebisa mungkin Ardhan akan memanjakan sang kakak ipar.
"Kita kerjai yuk, Mbak."
"Jangan jahil deh, Dhan. Ngambeknya parah tuh orang."
"Halah palingan marahnya bentar doang."
"Enggak, gue gak mau dia tambah posesif."
Ardhan yang sudah menangkap langkah Alan mendekati mejanya segera mengubah topik obrolan mereka. "Mbak, kalau anak Mbak cowok, pengen mirip siapa?"
"Ya bapaknya lah." Jawab Nadya sewot. Rencana pertama gagal, duh...Ardhan segera memutar otak sebelum Alan semakin dekat.
"Mbak, Mbak dulu pasti punya cita-cita mau nikah sama siapa gitu?"
Nadya hanya mengernyitkan dahi, pertanyaan Ardhan kok aneh, melenceng jauh dari pertanyaan pertama. Mutia pun ikut melongo dengan pertanyaan Ardhan ini.
"Apaan sih, Dhan. Pertanyaan kamu aneh."
"Udah cepetan jawab."
"Ck.....iya iya. Hem....aku tuh pengen banget nikah sama cowok yang pakai seragam, polisi tentara gitu deh, lihat teman aku yang nikah dengan pernikahan ala militer pedang pora gitu kepengen banget deh. Eh...bentar lagi temanku juga ada nikah kayak gitu. Nanti kita diundang loh, Mutia. Hem pokoknya nanti aku bakalan foto sama--"
"Gak usah datang ke pernikahan Cindy." Ucap Alan sambil duduk di samping Nadya dengan nada ketus.
Lah Pak Bos sudah di sini, waduh...bakal ada perang dunia nih, batin Mutia.
"Loh....Mas kok udah sampai?" Nadya kaget perasaan Mutia baru balas deh, kok sudah sampai.
"Kenapa? Kaget? Kalau aku gak datang kamu bakal mengenang cita-cita kamu jadi istri polisi atau tentara." Tuduh Alan dengan nada ketus. Auranya dingin, bahkan ia lupa kalau yang sedang dihadapi adalah ibu hamil dengan suasana hati roller coaster.
"Gak usah jutek-jutek, Mas. Kan Mbak Nadya hanya---"
"Diam. Aku lagi gak ngomong sama kamu." Untuk urusan cowok di sekitar Nadya, Alan tak mau tahu. Bagi Alan, Nadya hanya miliknya. Tidak boleh dimiliki atau memiliki laki-laki lain, meskipun hanya sebuah masa lalu atau angan-angan. Sangat cemburu.
"Ini orang kenapa sih, datang-datang langsung marah gak jelas."
"Kamu yang bikin aku marah."
"Lah kok aku."
"Udah deh, gak usah kayak anak kecil." Ardhan berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang. Tak disangka, sang kakak begitu marah kalau berurusan dengan cowok lain. Salah banget nih karena tak menghiraukan peringatan Nadya tadi.
"Aku gak suka, Nadya. Kamu bahas cowok lain."
"Bentar deh, siapa yang bahas cowok lain sih." Bumil mulai kesal. Mutia pun mengelus punggung Nadya pelan, jangan sampai terbawa emosi Alan.
"Kamulah."
__ADS_1
"Kapan?"
"Ck....lupa kalau kamu bilang dulu mau menikah sama cowok yang berseragam."
"Ya ampun, Mas. Itu kan dulu."
"Tetap saja, kamu bayangin cowok lain."
Nadya menggelengkan kepala. Menghembuskan nafas berat, karena Alan menuduhnya seperti itu. "Mas kamu cemburu?"
Glek
Alan mematung seketika, emosi yang sudah sampai ubun-ubun semakin bertambah, cemburu? Kalau mengakui jelas ditertawakan Nadya dan Ardhan, ada Mutia pula. Gengsi dong.
"Ngapain aku cemburu."
Ardhan melipat bibirnya, menahan tawa sekuat mungkin agar tidak pecah, sorot mata marah dibilang gak cemburu. Duh ...mamanya dulu ngidam apa sih punya anak kok menggemaskan sekali hingga pengen nonjok.
"Kalau gak cemburu gak usah sewot." Balas Nadya tak kalah ketus, ia pun mengambil paper bag Wafflenya, dan menarik tangan Mutia. "Gue balik, Dhan. Makasih Wafflenya."
"Kamu mau ke mana?" tanya Alan sambil mencekal tangan Nadya.
"Balik ke kantor, nafsu makan hilang."
"Duduk, selesaikan makan kamu. Gak usah manja, kamu tuh lagi hamil."
Nadya kaget Alan berucap semakin ketus dibilang manja lagi. Hufh...semakin kesal saja Nadya saat itu. Tanpa menghiraukan Alan, ia balik ke kantor diikuti Mutia. Air matanya luruh sepanjang jalan menuju kantor.
"Puas udah marahin Mbak Nadya?" tanya Ardhan begitu Nadya pergi. Tinggal Alan yang mengusap wajahnya kasar. "Kenapa sih, Mas. Kamu tuh emosi banget tadi. Wajarlah Nadya punya pernikahan impian, dan itu masa lalu. Kenapa harus semarah itu."
"Gara-gara kamu juga."
"Ya emang gara-gara aku, sengaja memang buat mancing kamu. Biar gak posesif sama Nadya. Kasihan tahu."
"Gue melakukan hal itu untuk kebaikan dan keselamatan Nadya. Gak ingat Naila yang gak Lo awasi terjadi kayak gitu." Tak kalah tajam juga, Alan membalas Ardhan.
"Ya emang gue salah untuk Naila. Teledor. Tapi Lo juga gak bisa mengekang Nadya seperti itu. Ibu hamil tuh moodnya berantakan banget, buatlah dia nyaman. Sikap Lo yang kayak gini bikin Nadya tambah tertekan tau gak. Udah sana minta maaf."
"Gak usah."
"Ck....Lo tuh kapan dewasanya sih, Mas. Minta maaf bukan berarti salah. Nadya juga gak salah. Gue yang salah karena mancing emosi Lo."
"Kalau Nadya jutek sama gue, Lo yang harus tanggung jawab."
"Oke....jadi bapak sambung anak Lo, gue juga sanggup."
"Ngomong apa Lo barusan."
"Ya siapa tahu, Nadya bosen dicemburui sama Lo terus menerus. Gak betah terus lari ke gue."
"Adik gak ada akhlak emang Lo." Ucap Alan lalu pergi meninggalkan cafe.
__ADS_1
"Dasar pencemburu."