SULUNG

SULUNG
SAH


__ADS_3

Pengajian menjelang akad nikah Naila telah digelar setelah isya. Keluarga dari pihak ibu dan ayah sudah datang sejak sore tadi. Banyak dari mereka yang kaget kalau Naila menikah lebih dulu daripada Nadya. Banyak yang menyayangkan karena embel-embel pamali itu, ya sudahlah, tinggal berdoa ....semoga rumah tangga Naila dan Rafly yang akan dibangun sakinah mawaddah warahma, dan Nadya segera mendapatkan jodohnya.


Kini, gadis yang masih berusia 19 tahun itu sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dengan balutan kebaya putih, make up flawless yang malah menunjukkan kecantikan gadis khas Indonesia. Tangannya begitu dingin ketika diantar sang kakak menuju mimbar akad. Rasa haru menyelimuti gadis itu, terlebih beberapa kali kata maaf pada sang kakak terlontar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Naila Ayu Salsabila binti Suherman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Begitu lantang dalam satu tarikan nafas Rafly mengucapkan ijab qabul yang sudah mengubah statusnya.


Ah..banyak air mata yang keluar saat ijab Qabul, terlebih sambutan penghulu sebelum acara ijab dimulai, banyak nasehat pernikahan yang beliau sampaikan, bahkan Rafly pun ikut meneteskan air mata. Tangis haru semakin pecah saat kakak kandung ayah Naila, Om Sholihudin menjadi wali nikah Naila. Ah kenangan tentang ayah muncul begitu saja.


"Nad!" panggil Nyonya Shofi, begitu acara ijab Qabul, sungkem dan foto keluarga selesai. Kini acara ramah tamah alias makan-makan digelar, Nadya yang saat itu sedang menyalami tamu karena mau undur diri, menoleh begitu saja saat mama Alan memanggilnya.


"Apa kabar sayang?" tanya beliau begitu ramah, memeluk Nadya dengan sayang. Nadya yang menggunakan kaftan putih dan pashmina tampak anggun, menyambut pelukan sang mantan calon mertuanya.


"Baik, Ma!"


"Duh tambah cantik aja, pantesan Alan dari tadi melihat ke arah kamu."


"Mama bisa aja!" jawab Nadya dengan senyum manisnya, mata sembabnya masih kentara, namun tak menutupi kecantikan wajah gadis itu.


"Duh, penghulunya udah pulang ya, tau gitu kalian ijab aja, baju kalian udah mirip gitu!" celutuk Nyonya Shofi, masih punya modus nikahin si Alan dengan Nadya.


Nadya sempat menoleh ke arah Alan, memastikan warna baju yang senada, ih..gak penting, ke..ke..ke. Tapi apa yang diucapkan mama Alan memang benar. Alan memakai kemeja batik dengan warna dasar putih, sangat ganteng.


"Mama cuma berdoa semoga kalian berjodoh, masih cinta kan sama anak mama?" ya Allan ..nih mama Alan udah tahu anaknya putus malah menggoda terus, perasaan sedih yang dirasakan Nadya tertutup dengan kecerewetan mama Alan yang sengaja menggodanya.


"Masih, Ma!" ucap Nadya tersipu malu, mungkin pembicaraan Mama dan Nadya cukup lama, Alan pun menghampiri mereka.


"Udah reuninya sama mantan calon mantu, lapar Ma!" rengeknya bak anak kecil, dih...manja sekali, Nadya pun tersenyum tipis mendapati Alan seperti itu.


"Karena kalian masih cinta, tolong dong Nad, temenin anak mama makan." Lah ...modus bener Mama Alan agar mereka dekat lagi. Hem...susah sih emang kalau putus tapi perasaan masih ada, terlebih orang tua juga sangat setuju.


"Udah, Yuk, temenin aku makan!" Alan menarik pergelangan tangan Nadya menuju tempat prasmanan.


"Mama mau ke ibu kamu ya, Nad!"


"Silahkan mamaku sayang, tolongin anak bujang mama ya, biar dapat anak sulungnya ibu!"


"Beres!"


Nadya tertawa, interaksi anak dan mama yang selama ini kaku bisa mencair hanya karena putusnya hubungan kisah asmara. Daebak.


"Mau makan apa, Mas?" tanya Nadya yang sudah di meja prasmanan.

__ADS_1


"Capcay aja sama rendang!"


"Yakin gak mau yang lain?"


"Mau sih!"


"Apa?"


"Mau kamu!"


Blush ...spontan merah merona tuh pipi Nadya.


"Sejak kapan pinter gombal?" tanya Nadya mengalihkan rona malunya, sedangkan Alan masih terkekeh, dirinya saja juga heran kenapa bisa gombal gini.


"Belajar dari Rilo lah, makan di sana yuk. Kamu ambil apa, sini piringnya aku bawa aja!" begitulah Alan, selalu peka terhadap Nadya. Hal kecil yang membuat Nadya sulit melupakan sosok Alan, ya elah masih hitungan hari juga putusnya, wajar dong masih sulit melupakannya.


"Makasih, aku ambil air mineral dulu!" ucap Nadya sembari menyerahkan piring pada tangan Alan.


Keduanya kemudian makan semeja, melupakan rasa yang entah bagaimana akhirnya, mau lanjut atau tidak, yang penting hari ini mereka bahagia sudah mengantar sang adik menemukan belahan jiwanya.


"Kamu nanti malam nginep di hotel?" tanya Alan dengan menyendokkan makanannya.


"Iya habis isya mungkin ke sana! Lagian Rafly gak tanggung-tanggung booking kamar, banyak banget."


"Gak banyak, ibu kan anak tunggal, ayah dua bersaudara saja sama Om Shol. Kakek nenek juga udah gak ada, itu keluarga inti sih, yang lain mau ikut silahkan mau enggak juga gak pa-pa, yang pentingkan amplopnya!" Nadya nyengir saja, entahlah dia lebih leluasa banyak bicara dengan Alan siang itu.


"Kamu juga nginep sama mama nanti?"


"Iya, tapi paling datang agak malaman aja."


"Ada acara?" tanya Nadya kepo.


Alan mengangguk. "Mau ikut?"


"Ke mana?"


"Nongkrong di restoran teman, launching sih lebih tepatnya."


"Enggak deh!" tolak Nadya, malas juga kalau nongkrong gak jelas begitu, bukan dirinya banget.


"Kamu memang ada acara malam ini?" tanya Alan menatap Nadya lekat. Ingin sekali kencan dengan gadis itu, rasanya belum puas bisa berdekatan seperti ini.

__ADS_1


"Gak ada, ke hotel ya udah diem di kamar, nyicil kerjaan mungkin."


Alan tersenyum, gadis yang ia taksir kerja keras sekali. "Kalau kamu nikah sama aku, gak akan aku biarkan kamu kerja sepenat itu kali, Nad."


"Mulai deh, pembahasannya gak asik." Elak Nadya, yah meskipun tersirat merona diistimewakan oleh Alan seperti itu.


"Beneran."


"Emang kamu cinta banget sama aku?"


"CK...pakai nanya lagi."


"Ya siapa tahu gombal aja, kan sekarang udah pinter banget gombalnya."


Alan tertawa, kebiasaan Rilo si playboy itu ternyata bisa ditiru, meski Nadya berkali-kali bilang gombal, nyatanya membuat gadis itu merona, menggemaskan.


"Nanti aku jemput aja ya, aku antar deh nanti ke hotel!"


"Dih maksa."


"Sekali deh!"


"Kemana?"


"Kencanlah!"


"Bilang ibu, berani?" tantang Nadya.


"Berani, bayar tunai sekarang aja berani!"


"Kemana emang?"


"Mall!"


"Katanya ada cara launching restoran teman?"


"Ya sekalian aja, launching dulu baru kencan. Atau kencan dulu baru ke restoran Rifki."


"Minta izin sama ibu dulu, kalau diizinkan aku ikut, kalau gak ya udah gak jadi."


"Oke, aku ke ibu dulu."

__ADS_1


"Dih.... semangatnya!"


"Harus, demi hati!" ucap Alan dengan menepuk dada kirinya, lebay. Nadya hanya tersenyum saja, menikmati suasana bahagia dengan Alan, meskipun hanya sementara.


__ADS_2