SULUNG

SULUNG
MEYSA


__ADS_3

"Maksudnya?" Lagi-lagi kakak beradik kompak bertanya, rayuan janda yang diucapkan Ardhan menarik perhatian mereka.


Meysa, istri dari Amir, kerabat jauh Mama Shofi. Wanita berusia 29 tahun itu harus menjadi janda anak satu, Amir yang seorang tentara meninggal karena kecelakaan. Kini, Meysa menjadi single parent kurang lebih 5 tahun dan selama itu pula ia hidup bersama orang tua Amar.


Sebenarnya Meysa termasuk wanita yang sangat menjaga pergaulannya. Meskipun dia seorang pengusaha muda, cantik, anggun tapi ia tidak berniat menikah lagi.


Namun....prinsipnya berubah saat dua tahun lalu, arisan keluarga di moment idul fitri, ia mulai membuka diri dengan meladeni guyonan keluarga untuk dekat dengan Alan.


Wajar sih saat itu, beberapa tante dan mama mertua Meysa menjodohkan Alan dengan Meysa, karena Amar begitu dekat dengan Alan. Sifat keduanya hampir mirip, dan yang paling utama, putri kecil Meysa bernama Cecilia sangat klop dengan Alan. Gadis berusia 4 tahun yanh tidak pernah mengenal kasih sayang seorang ayah, tumbuh menjadi gadis cantik dan cerewet. Kehadirannya selalu ditunggu oleh Alan. Memang biasanya Alan dan keluarga Tante Sita bertemu saat Idul Fitri saja, maklum keluarga sibuk.


"Hai cantik." Sapa Alan pada Cece, panggilan Cecilia. "Sini kiss Uncle dulu." Alan menyodorkan pipinya pada wajah Cece.


Cup


Gadis imut itu mencium pipi Alan bertubi-tubi dengan tertawa bahagia.


"Uncle Lan Lan, kata mommy sekarang aku boleh panggil uncle daddy." Celoteh gadis imut itu, mata bulatnya tampak lucu saat berkedip.


Sontak saja Alan menoleh pada Meysa yang sedang duduk agak jauh dari Cece. Ditatap Alan secara tiba-tiba membuatnya salah tingkah, dan ia hanya tersenyum kaku. Wanita itu juga tak tahu apa yang dibicarakan putrinya dengan Alan.


"Cece cantik, tetap saja ya panggil Uncle. Kan kasihan daddy Amar kalau Cece panggil Uncle Alan dengan daddy." Alan beralasan seperti itu, karena ia juga sadar Meysa sudah menunjukkan gelagat ingin lebih dekat dengan Alan lebih dari hubungan kekeluargaan, karena hampir tiap hari wanita itu mengirim pesan, meskipun masih berbau bisnis.


Basa basi memang, dan Alan tak pernah menanggapinya terlalu dalam, ia hanya memberikan emoticon jempol ketika Meysa memberi tahu akan kelancaran bisnisnya.


Pernah suatu hari, Meysa menanyakan kabar mama shofi, dibalas ala kadarnya oleh Alan, eh malah keterusan, alhasil Alan jengah, lebih baik mengabaikan, terlebih ia tak mau memberikan kesempatan pada wanita lain untuk masuk pada kehidupan pribadi Alan, hatinya sudah memilih Nadya.


"Ce, mau uncle kenalin sama malaikat cantik gak?"


"Mau, Uncle. Di mana?"


"Sini naik punggung uncle!" Alan pun jongkok agar Cece bisa naik ke punggungnya.


"Sa, gue bawa Cece ke dalam ya." Pamit Alan, karena kondisi rumah lagi ramai, banyak yang lalu lalang, khawatir Meysa mencari.


"Iya, Mas." Jawab Meysa sambil tersenyum.


Mas?????


Alan hanya mengerutkan dahi, sejak kapan Meysa memanggilnya seperti itu. Biasanya ia hanya memanggil Alan, wah....gak beres nih.


Alan masuk ke ruang keluarga, tidak ada Nadya dan calon papa-mama muda di sana. Ia pun menuju dapur, karena bisa dipastikan mereka di sana menemani Naila yang ngemil buah, pikirnya.

__ADS_1


"Sayang, kenalin nih gadis cantik." Ucap Alan ketika menemukan Nadya duduk sendiri di gazebo, dekat kolam renang. Ia sedang bermain ponsel. Alan pun segera menurunkan Cece.


"Hai, nama onty Nadya." Sapa Nadya ramah dengan mengulurkan tangan ke arah Cece, dan mensejajarkan tingginya dengan balita itu.


Cece hanya menatap Nadya saja, tak berani menerima uluran tangan Nadya. Memang ia diberi pesan sama Oma dan Mamanya untuk tidak berkenalan sama orang asing.


"Eh...ini malaikat cantik yang Uncle bilang tadi sayang." Ucap Alan sambil mengelus rambut Cece. Membujuk Cece agar mau bersalaman dengan Nadya.


"Apaan..sih, Mas. Lebay banget nyebut gitu." Protes Nadya dengan tersipu malu.


"Jadi Onty orang baik?" tanyanya polos.


Alan dan Nadya mengangguk, dan tak lama Cece salim pada Nadya. "Anak pinter." Puji Nadya tulus, sambil mencuri kecupan pada pipi balita itu.


"Unclenya juga dong." Pinta Alan manja.


"Gak usah macem-macem." Jawab Nadya ketus, tapi Alan hanya terkekeh saja. Alan mengangkat tubuh kecil Cece ke gazebo, bergabunh bersama Nadya juga.


"Onty kalau panggil Uncle Alan apa?" tanya Cece sambil bermain game di ponsel Alan.


"Ehm...kadang Pak, kadang Mas. Kalau Cece?" Alan tersenyum, melihat interaksi keduanya. Nadya memang ramah dan easy going, tampak Cece langsung nyaman di dekatnya.


"Ah..enggak kok, Nad. Dari tadi kan panggil Uncle." Protes Alan cemas.


"Oh...kenapa kok disuruh panggil daddy, memang daddynya Cece ke mana?" Tanya Nadya tanpa menghiraukan aksi bela diri Alan. Oke....Nadya tak boleh marah, hanya karena celotehan balita ia tak boleh berpikir macam-macam. Terlebih Ardhan bilang, Cecilia ini dari lahir sudah ditinggal ayahnya.


"Daddy Amar udah di surga, kata mommy habis ini Uncle Lan Lan jadi daddy Cece, biar Cece bisa bobok bareng dengan Daddy. Iya kan Uncle?"


Nadya hanya menganggukkan kepala, sembari tersenyum miris, takdir apalagi ini. Buru-buru Alan meralat celotehan Cece, tapi Meysa sudah keburu datang. Wanita cantik itu berjalan anggun, ke arah mereka.


"Aku pergi dulu, ya. Takut ganggu." Nadya hendak turun dari gazebo namun Alan mencekal lengannya.


"Di sini aja, Meysa cuma ambil Cece doang mungkin." Tebak Alan, dan berharap memang itu tujuan Meysa. Raut masam Nadya sejak celotehan Cece tadi cukup kentara.


Cemburu kah? Bolehkah Alan tertawa bahagia? Nadya sayang........


"Hai, lagi main apa nih, Mas?" tanya Meysa lembut, tatapannya langsung tertuju pada Alan, bahkan mengabaikan keberadaan putrinya dan Nadya. Cih.....tebar pesona Buk???


Melihat penampilan Meysa, Nadya yakin siapapun lelaki yang memandangnya akan terpesona. Wajah cantiknya seperti Shireen Sungkar, kalem, tampak anggun sekali.


"Lagi ngobrol aja." Jawab Alan yang melihatnya sekilas lalu melirik Nadya. Duh ...makin cemberut sodara.

__ADS_1


"Eh....Mbak ini namanya siapa?" tanya Meysa basa-basi. Ia memilih duduk di dekat Alan tanpa permisi. Dih..menyebalkan.


"Bukan Mbak, Mommy, tapi Onty Nadya."


Meysa tertawa mendengar kritik dari sang putri, ia menoel hidung mungil Cece, gemas. "Oh..Nadya, aku Meysa, mommynya Cece." Sapa Meysa ramah, mengulurkan tangannya ke arah Nadya.


"Iya, Mbak. Salam kenal." Balas Nadya ramah, ia menampilkan senyum ceria. Mau bagaimanapun ia harus menjaga attitude, apalagi ini bukan wilayahnya.


"Saudara kamu, Mas?" pancing Meysa.


"Bukan, calon istri." Jawab Alan tegas. Nadya merona. Kali ini ia bahagia sekali disebut calon istri, dan segera saja ia mengamini dalam hati.


"Wah....selamat, yah....gagal dong PDKTku, Mas." Celetuk Meysa bernada manja, entah hanya guyonan atau serius yang jelas Nadya langsung menunjukkan wajah datarnya.


"Boleh sih, kalau mau jadi yang kedua."


Niat Alan hanya iseng, karena sepengetahuannya perempuan tidak akan mau menjadi nomor dua. Tapi sayang, bagi Nadya ucapan Alan itu serius, ia menganggap Alan akan berpoligami. Tak ada candaan bila menyangkut masalah hati.


"Wah...boleh-boleh." Sahut Meysa girang


"Enggak kok, Mbak. Pak Alan bercanda, saya hanya karyawan beliau di kantor, kebetulan saya kakaknya Naila, istri Ardhan." Alan spontan menatap Nadya tajam. Nadya sengaja menyembunyikan hubungan Alan dari Meysa. Belum terlalu kelihatan sifat asli Meysa.


"Oh.....bercandamu gak lucu tahu, jangan keseringan bikin baper anak orang. Gak baik." Ucap Meysa sambil menabok lengan Alan. Akrab sekali sepertinya mereka.


"Mommy, Cece mau pipis, anterin."


"Ayo, anak mommy, saya masuk dulu ya." Pamit Meysa kemudian. Keduanya masih terdiam setelah Meysa sudah menjauh dari pandangan mereka.


"Sayang, aku----"


"Aku masuk dulu, mau sholat ashar." Nadanya semakin terus dan ogah menatap wajah tampan suamnya.


"Kamu cemburu?"


Nadya mengerutkan dahi, "Cemburu? Kenapa?" tanyanya sok tegar, kebiasaan seorang wanita yang berkelit akan perasaanya.


"Aku gak ada apa-apa sama Meysa."


"Kalaupun ada juga gak pa-pa kali, Mas. Kan janur kuning belum melengkung, Mas Alan masih milik umum." Cicit Nadya dengan senyum manisnya, terpaksa. Alan tahu, Nadya marah, ia pun membiarkan Nadya masuk ke dalam rumah.


MATI GUE!!!!!

__ADS_1


__ADS_2