
Alan
Nadya pun enggan menunggu Alan pulang, untuk kali ini ia akan mengikuti saran Rilo, membiarkan Alan berpikir, menenangkan pikiran, nanti kalau timingnya pas, keduanya sudah memiliki keputusan yang terbaik.
Sore itu, Nadya pulang dengan lesu, ingin sekali segera mandi dan merehatkan tubuh sejenak. Ponsel hanya berisi pesan masuk di grup, bahkan Alan masih tidak membaca pesannya. Ya sudah.
Baik Alan dan Nadya adalah anak pertama yang sifat dan karakternya hampir sama, tegas dan keras kepala, oh jangan lupakan sifat egois yang tinggi. Belum lagi sikap yang sok tegar meskipun hatinya rapuh, keduanya sangat pintar menyimpan keluh kesahnya, hanya saja untuk kali ini keduanya terlihat frustasi.
"Kamu gak diantar Pak Alan, Nad?" tanya Cindy, keduanya sedang berjalan menuju parkiran roda dua.
"Enggak, Cyn." Jawabnya pendek, sambil berbalas pesan dengan Tya, sahabat SMAnya dulu, memberikan kabar akan ada reuni di pernikahan Nafa nanti.
"Aku cabut dulu ya!" pamit Cindy kemudian, dan dijawab hati-hati oleh Nadya. Ia masih mengetik dan memilih duduk di jok motornya. Hingga suara klakson mobil membuyarkan fokusnya pada ponsel. Alan dan Rilo rupanya.
"Nad, pulang, jangan ampe kemaleman nyampe rumah!"
Teguran yang hanya ditanggapi anggukan dan senyuman getir, yah... Rilo yang menegurnya tadi, kebetulan ia yang menyetir menyempatkan membuka jendela mobil, Nadya masih sempat melihat siapa di samping Rilo, yup Alan. Kekasihnya itu justru fokus pada ponsel tanpa menoleh atau menawari tumpangan, yakin deh untuk saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan Alan.
Nadya sadar kalau Alan pun kecewa dengan gelagatnya yang akan memutuskan hubungan ini, tapi Nadya ingin mengakhiri hubungan ini juga dengan empat mata, tidak mengabaikan seperti ini. Ayolah bersikaplah dewasa, jangan hanya saat pendekatan saja ia bersikap gentle, tapi saat ini ia harus bersikap gentle juga dalam menghadapi sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Tega Lo ya!" tegur Rilo ketus. Ia tak habis pikir Alan akan mengabaikan Nadya begitu saja. Selama dia menjadi palyboy, dia tak pernah tuh mengabaikan gadis yang ia kencani dengan tak menyapa bahkan membiarkan kekasihnya naik motor sendiri.
"Gak usah bahas dia, lagian sebelum jadian dia juga naik motor."
"Seraaaah!' Rilo tak melanjutkan perdebatan ini, Alan tetap Alan, ia tak mau dibantah, dan raja tega kalau ada orang yang menganggu kehidupannya. Meksipun itu Nadya, gadis yang masih sangat ia harapkan menjadi istrinya.
Dalam Hati Alan, ia sebenarnya tak tega melihat Nadya seperti itu, terlebih tadi siang saat gadis itu masuk ke ruangannya, sungguh Alan ingin sekali memeluknya, meluapkan emosi dengan berbagi cerita dengan Nadya. Tapi ia takut, sangat takut kalau putus tercetus dari bibir Nadya.
"Sampai kapan lo mendiamkan Nadya?"
__ADS_1
"Gue udah gak ada hubungan lagi sama dia!"
"CK....kalau ngomong yang bener."
Alan terdiam.
"Gue tadi sempat makan siang sama Nadya," ucapan Rilo membuat Alan langsung menatapnya tajam, tersirat ketidak sukaan sikap Rilo yang terlalu dekat dengan Nadya. "Biasa aja kali tuh bola mata, copot nyaho' Lo!"
"Cih..."
"Dia mau ngomong empat mata sama Lo, kasih lah kesempatan dia buat ngomong apa yang ia inginkan."
"Enak sekali, ia inginkan, tanpa melihat keinginan gue gitu!"
"Somplak, Lo. Susah emang ya ngomong sama orang yang patah hati dan keras kepala kayak gini." Rilo putus asa membujuk Alan agar mau bicara empat mata dengan Nadya. Okelah sekedar membalas pesan kalau tak mau bertemu langsung.
"Big No!"
"CK...justru Nadya yang menyesal karena melepas gue." Masih saja Alan menampakkan ego, ketus tanpa mempertimbangkan perasaa. rindunya pada gadis cantik nan Sholeha itu.
"Yah kita lihat, gue bakalan ketawa kalau elo mewek kejer ditinggal Nadya."
"Gak akan."
Ketika Ego sudah mendominasi, melenyapkan rasa rindu yang begitu dalam, terlebih Alan untuk saat ini sangat dendam dan marah akan sikap Nadya. Negative thinking terlalu menguasai logikanya, yah Alan saat ini sangat membenci Nadya, namun ia sadar, tak sanggup kalau memaki bahkan mengumpat Nadya di depan umum, alhasil pilihan untuk menghindar dari Nadya adalah pilihan terbaik.
Pesan WA
Alan tahu pesan Nadya bejibun yang masuk, Alan sengaja menonaktifkan tanda birunya, ia membaca semua pesan Nadya, dan ia ingin berlari memeluk gadis itu, karena beberapa kali Nadya mengirim pesan yang membuat Alan semakin cinta pada Nadya.
__ADS_1
/Mas Alan sudah sampai?/
/Kok gak balas/
/Mas kok gak VC/
/Mas kamu baik-baik saja/
/Mas aku kangen kamu, aku kangen denagr suara kamu, aku kangen gombalan receh kamu/
/Mas kamu sengaja gak mau balas WA ku ya/
/Kalau sudah plong hati kamu, segera WA aku ya/
/Love you 😍😍😍/
Begitu pesan Nadya yang terkirim dan berhasil membuat Alan semakin menderita. Saat ini pemuda itu sudah bersiap memejamkan mata. Berharap beban pikiran pada Nadya segera teratasi dan esok ia akan mengajaknya bicara.
Ting
Pesan Nadya masuk, Alan hanya memejamkan matanya sekilas setelah membaca pesan Nadya tersebut. Usai sudah.... hubungan seumur jagung ini berakhir. Nadya benar-benar memilih putus.
/Mas Alan, mungkin ini pesanku terakhir untuk kamu, maaf dan terimakasih sudah memberikan moment bahagia dalam perjalanan hidup aku. Aku tahu Mas Alan sangat menghindari aku, bahkan marah juga dengan kondisi ini. Tapi percayalah, masalah kita harus dihadapi, semakin kita tak bertegur sapa, maka hubungan ini akan semakin membuat kita sakit, oleh sebab itu mulai detik ini aku tidak akan menganggu Mas Alan lagi, baik di kantor maupun WA. Sekali lagi terimakasih, semoga Mas Alan mendapatkan istri yang Sholeha dan lebih baik dari aku. Maaf..aku yang terlalu egois demi kebahagian adikku.
Salam cinta dari Nadya
I love you Alan Presdio 😘😘😘😘😭😭😭/
/Oke/
__ADS_1
Akhirnya Alan membalas pesan Nadya, tak perlu kata yang panjang, balasan dengan 'Oke' sudah cukup membuat Alan dan Nadya hanya sebatas bawahan dan pimpinan, hubungan seperti sebelumnya.
Sakitnya patah hati terulang lagi pada Alan, malam itu ia hanya memandang langit kamarnya berbantal lengan, dan air mata lolos begitu saja di sudut netra. Malam ini Alan tersenyum getir karena kehilangan kekasihnya.