
Suasana terasa sangat canggung dengan kehadiran Manda, Alan bahkan sampai menatap perempuan itu lekat. Nadya pun juga ikut menatapnya. Kalau ada jangkrik di antara mereka pasti hanya bunyi suara hewan itu yang terdengar, krik...krik...
"Ehem!" Alex membuyarkan suasana canggung dengan berdehem sedikit keras, "Kayaknya kalian bicara dulu deh, biar Nadya aku ajak ke sana saja!" tunjuk Alex pada panggung penyanyi. Eh gila apa, Nadya gelagapan melihat arah telunjuk Alex, mau apa si bule itu. Mengajaknya menyanyi?
"Gak usah, kan Lo bilang juga Lex, kita reuni untuk hepi-hepi, tak perlulah buang waktu untuk mengenang masa lalu."
Nyelekit sekali ucapan Alan, Nadya tahu setiap perkataan Alan menyertakan sebuah kenangan pahit di usia remajanya. "Atau kita pulang aja, Nad?" tawar Alan kemudian.
"Boleh!" ucap Nadya mantap. Kasihan juga sama si Mbak Manda yang dikacangin Alan, bahkan tidak dipersilahkan untuk duduk. Alex hanya menghembuskan nafas berat, ia menyadari sakit hatinya Alan masih teramat jelas.
"Yuk!" Alan sudah berdiri, ia menonjok lengan Alex sebentar lalu memegang lengan Nadya untuk segera keluar dari tempat reuni.
Baru saja, ia melangkah. Suara Manda membuat Alan berhenti. Tangannya masih memegang lengan Nadya erat, seperti meminta kekuatan.
"Kamu mau menghindari saya sampai kapan, Lan? Bahkan Tuhan saja mudah memaafkan kesalahan hamba-Nya. Kenapa kamu tidak bisa? Mungkin kamu bisa menertawakan kehidupanku sekarang, kalau itu bisa membuat kamu memaafkan aku."
Alan tak bergeming, Nadya yang berada di tengah keduanya hanya diam. Banyak bisik-bisik yang terdengar apalagi Alan cukup terkenal di angkatannya.
"Jangan libatkan perasaan orang lain sebelum kamu merelakan perasaan kita." Manda masih mendominasi. Tanpa diduga Alan berbalik, dan menarik tubuh Nadya begitu saja. Ia lebih baik keluar dari acara itu daripada membuat onar dan melibatkan perasaan.
"Bapak kenapa sih? Mbaknya cantik loh, dianggurin aja!" protes Nadya yang sudah memaksa Alan untuk melepaskan lengannya.
"Cantik tapi gak setia percuma!" ketusnya sambil menekan remote mobilnya. Nadya mencibir, katanya gak pernah pacaran kok ngomongin setia. Aneh.
"Bapak mantannya si mbak itu?" Nadya kepo.
Alan meliriknya sekilas, dan tersenyum. "Kalau kamu mau jadi pasangan halal saya, saya bakal terbuka buat kamu. Buka-bukaan tiap hari juga gak pa-pa."
Nadya melongo, wajah jahil si bos pengen ditabok saja. Beraninya bahas topik yang bikin otak traveling. Astaghfirullah.
"Udah ayo antar saya pulang." Pinta Nadya ketus. Biarlah dianggap tidak sopan, ia sudah jengah berdekatan dengan Alan.
"Kamu gak penasaran cerita saya sama dia?"
__ADS_1
"Enggak, Pak. Karena bukan kapasitas saya untuk tahu urusan pribadi bapak."
"Kan kamu pacar saya."
"Pacar dari Hongkong. Ah..udah deh, Pak berhenti bikin baper, karena percuma saya gak bakal baper sama bapak."
"Dih ..dih .." Alan menggelengkan kepala, ingin protes pada ucapan Nadya yang gak mau dibaperin. "Yakin gak mau dibaperin?"
"He'em yakin, Pak."
"Segitu gak sukanya sih kamu dengan saya, Nad!"
"Professional, Pak. Lagian saya sadar diri lagi, kalau mengharapkan bapak nanti takutnya nyesek."
"Kok gitu?"
"Karena bapak belum bisa move on dari perempuan itu, mungkin saja bapak mau dekat dengan saya atau bahkan bercanda dengan melamar saya untuk pelarian. Kasihan saya nanti, Pak. Dapat raga tak dapat jiwa dan perasaan bapak."
Alan terdiam, apa yang Nadya ucapkan sedikit banyak sudah menyentil perasaannya. Manda, cinta pertamanya, masih ada desiran perasaan ketika mengingat perempuan itu. Terlebih statusnya sekarang sudah single dan terlihat sangat cantik, hanya saja cap tidak setia sudah terpatri dalam otak Alan tentang Manda. Ia tidak mau mengulang kisah cinta seperti itu, trauma menyukai perempuan pun ia rasakan hingga sekarang di usia yang cukup matang untuk membina rumah tangga.
Semoga kamu jadi jodohku, Nad. Batin Alan berdoa, segera mengemudikan mobilnya menuju apartemennya.
Lain Alan lain juga Nadya, setelah membersihkan diri dan bersiap tidur, ia sempat mengecek ponselnya. Matanya mau copot ketika melihat foto dirinya dan Alan di reuni tersebut, dan siapa pengirimnya. Erick.
Ah...Nadya lupa kalau Erick teman satu SMA dengan Alan, bahkan Rilo juga sama. Kenapa dirinya sampai lupa dan tidak bertemu sama sekali dengan mereka berdua. Ah ... menyebalkan bin gawat nih. Bisa jadi foto itu digunakan sebagai ajang ledekan Erick yang jahil.
/Bos kita otw laku nih/
Begitu pesan pribadi Erick yang menyertai foto di reuni Alan-Nadya tadi. Sialnya Nadya dan Alan sedang tertawa, bisa-bisa jadi bahan gosip yang sedap nih. Haruskah dia menjadi bulan-bulanan para penggemar Alan.
/Pak Erick gak usah macem-macem deh, saya cuma menemani Pak Alan/
/😜😜😜😜😜😜/
__ADS_1
Hanya membalas dengan emot, Nadya spontan melempar ponselnya di kasur, kesel. Nadya bisa dicap perempuan munafik, yang awalnya tak suka dengan Alan sekarang kepincut juga. Eh... sebenarnya gak masalah juga sih, toh hati kan bisa terbolak balik.
/😫😫😫😫/
Erick dan Nadya berbalas emoticon tak penting, hanya menunjukkan bahwa Nadya tak mau ada gosip aneh tentang dirinya dan Alan. Toh..side jobnya tinggal beberapa hari lagi, habis itu ia akan kembali ke tim keuangan. Tak berjumpa tiap hari dengan Alan.
Ting
Nadya yang baru saja memejamkan mata, terpaksa bangun setelah mendengar notif wa yang masuk. Meski kesal dan mengumpat kalau saja itu Erick, siap-siap saja besok pagi bakal ngomel pada atasannya itu, ganggu orang tidur saja.
/Nite/
Singkat, padat dan jelas, pesan dari Alan, membuat Nadya terpaku beberapa detik. "Sebegitu inginnya jadi pacar gue." Gumam Nadya yang berniat mengabaikan pesan itu.
******
Seperti pagi biasanya, Nadya melangkah ke kantor Alan dengan penuh semangat. Mengabaikan drama perasaan yang gencar dikeluarkan oleh bos gantengnya. Uang adalah tujuan utama Nadya, sehingga apapun yang terjadi ia akan menomorduakannya , termasuk menolak perasaan Alan.
"Semangat benar calon ibu direktur." Celetuk Erick yang kebetulan beriringan dengan Nadya saat di lobi.
"Masih pagi, Pak. Jangan ngajak ribut deh."
"Cieeeee."
Nadya hanya mendengus kesal, semakin meladeni dan kesal, maka Erick semakin menggodanya.
"Emang kemarin kalian gak lihat gue, Ya?"
Nadya menggeleng, kemudian memencet tombol lantai yang ia tuju. Sedangkan Erick hanya menahan tawa karena anak buahnya itu sedang mogok bicara.
"Ya gak bakal lihat, orang tatap-tatapan penuh lope-lope." Masih menggoda Nadya rupanya.
"Iyalah, bertebaran ampe lope-lopenya miber." Mulut Nadya gatal tak membalas ucapan Erick.
__ADS_1
Lah si Erick malah terkekeh, gemas juga melihat wajah Nadya yang cemberut. "Pepet terus, Nad. Gue yakin Lo bisa jadi nyonya direktur."
"Pak Eriiiiickkkk!" hentak Nadya kesal.