SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 102


__ADS_3

...[Apakah Host ingin melanjutkan pembelian partikel Quantum Brainwave?]...


...[Ya/Tidak/]...


...“Ya!”...


...[Memproses pembelian sekaligus pemasangan partikel Quantum Brainwave pada Nabila Salsabila. Dimulai dalam 3 … 2 … 1 …]...


...[0% … 100%]...


Pradita mengelus lembut kepala Nabila, dan gadis berambut perak tersebut melenguh nikmat. Karena tiba-tiba ia merasakan rasa sejuk, dan nyaman di kepalanya, lalu menjalar ke seluruh tubuh.


Dari rasa sejuk ini, aliran darah di dalam otak Nabila tiba-tiba berubah terasa hangat, dan ia merasakan atau sesuatu yang berbeda. Persepsi pandangannya semakin menajam, dan benda-benda disekitarnya di dalam pandangan mata Nabila seperti bergerak lambat.


Nabila langsung mengambil senapan magnum yang berada di atas mejanya, dan tanpa basa-basi lagi dibidik ke arah titik sasaran dengan sorot mata yang tajam.


Pelatuk senapan magnum ditarik, dan dari ujung moncong senapan yang dipegang oleh Nabila itu memuntahkan proyektil karet yang melesat cepat ke arah titik sasaran.


Di persepsi pandangan mata Nabila, proyektil karet tersebut seperti bergerak lambat, dan tepat mengenai titik merah sasaran yang berada di ujung lapangan.


“Apa?”


Pradita, Nathalia, Nathania, dan Nira matanya membulat. Mereka sangat terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Nabila yang mampu menembak pertama kali, tetapi tepat sasaran. Padahal Nabila belum pernah sama sekali kursus atau latihan menembak.


Untuk membuktikan dirinya bahwa mempunyai kemampuan menembak yang baik. Nabila kembali menembak beberapa titik sasaran secara acak, tapi hasilnya malah mengejutkan dirinya sendiri, Nira, Nathalia, Nathania dan Pradita.


“Aah? Apa? Tidak mungkin”


Pradita, Nathalia, Nathania, dan Nira menjatuhkan rahangnya, karena hasil dari empat tembakan acak yang terarah, dan ditembakan oleh Nabila, keempat-empatnya mengenai sasaran.


“Mas, mantra apa yang kamu bacakan tadi?” tanya Nabila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Eh, mantra? Ah, tidak!” jawab Pradita dengan menggeleng pelan. Kemudian dia melanjutkan dengan mencium dahi Nabila dengan cepat, “Mungkin itu bakat terpendam milik sayang yang telah bangkit.”


Mereka berlima satu sama lain menatap sambil menaikan kedua punggungnya, karena mencoba menelaah yang terjadi, tetapi tidak menemukan jawaban.


Setelah melihat Nabila sudah mahir dalam menembak. Hal ini memacu semangat Nathalia, Nira dan Nathania untuk lebih mahir dari Nabila. Maka dari itu mereka terus-terusan latihan menembak.


Disaat N4 sedang latihan menembak, Pradita berjalan perlahan dengan kharisma yang tidak ada habis-habisnya. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Pradita, semuanya menunduk hormat dengan melepaskan senyuman ramah.


Pradita duduk di kursi yang berada di lobi utama gedung Astral Guardian, dan langsung membuka laptop. Saking berwibawanya Pradita, tidak ada satu pun karyawan yang berani mendekatinya. Hanya ada satu office boy yang sedang mengepel lantai berani mendekati Pradita.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Mohon angkat kakinya!” pinta sang OB dengan nada yang sopan.


“Oh, ya Pak. Silahkan!” sahut Pradita dengan tersenyum ramah, dan tatapan matanya beralih ke sosok pria berambut putih tersebut dengan tubuh agak bungkuk, "Bapak, dari Astral Guardian buka sudah kerja disini?"


"I-iya, Tuan. Maaf, dengan Tuan siapa?” tanya OB yang bernama Pak Mardi sambil terus memandangi layar laptop milik Pradita yang memunculkan beberapa data informasi bank kecil yang sedang mengalami pailit, “Sepertinya Tuan suka sekali berinvestasi ya?”


“Oh, ya Pak. Ini lagi cari beberapa referensi sih. Rencananya aku mau ambil semua bank-bank kecil yang sedang pailit, lalu merubah sistem operasionalnya sesuai bank yang aku punya saat ini,” jawab Pradita.


Pak Mardi mengacungkan jempol ke arah Pradita dengan tersenyum lebar, “Top, aku yakin anda sukses dengan cara 'Other people money' sepert itu, xixixixi …. Seperti itulah, nanti juga Tuan tahu.”


Pradita tertarik dengan konsep yang tiba-tiba diungkapkan oleh Pak Mardi. Walaupun konsep tersebut umum di mata dunia bawah tanah yang terlalu gelap, tetapi baru kali ini Pradita melihat seorang tukang bersih-bersih kantor mengetahui akan hal tersebut.


Setelah N4 selesai latihan menembak, Pradita membawa mereka berempat, dan tetap dikawal. Namun sebelum itu Pradita mengganti pakaiannya dengan setelan jas Armani berwarna biru, supaya kelihatan elegan, berkharisma, dan menawan.


Pradita sudah memetakan beberapa bank-bank swasta yang berada di lingkungan Kabupaten Ciayumajakuning untuk di akuisisi 100% sahamnya. Ia hanya ingin membuat bank yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari kalangan bawah, hingga kalangan atas.


"Mas, bukankah bank Noir memang akan pailit? Kenapa Mas mau mengakuisisi bank ini?" tanya Nathania yang sudah tahu data perbankan mana yang akan pailit.


"Lihat di laptop secara teliti!" titah Pradita.


Nathania pun membuka laptopnya, dan menemukan sebuah fakta, "Mas memang cemerlang. Bank ini pailit karena banyak yang meminjam, tapi tidak mampu bayar setoran."


"Namun aset yang diagunkan oleh nasabahnya melebihi nilai dari total kerugian yang mereka dapatkan. Karena yang diagunkan adalah sawah, tanah pingggir jalan raya, dan beberapa ruko."


Langkah kakinya yang jenjang begitu tegap, sambil menggandeng Nathalia di lengan kiri, dan Nathania di lengan kanan. Semua mata yang memandangnya berbinar-binar sambil meneguk saliva dalam-dalam melihat ketampanan Pradita yang begitu hakiki, dan kecantikan keempat istrinya yang seperti boneka barbie.


Bahkan saking takjubnya, beberapa diantara mereka ada yang mengalirkan air liur dari kedua sudut bibirnya tanpa mereka sadari.


N4 bersama Pradita hanya tersenyum sambil menahan tawa karena melihat semua orang seperti orang yang bego.


“Mbak, aku ingin bertemu dengan CEO bank Noir!” pinta Pradita dengan tersenyum ramah, dan senyuman ramah tersebut membuat hati karyawati bank meleleh. Kemudian Pradita memanggil karyawati tersebut sambil mengetuk meja, “Mbak! Mbak!”


Karyawati bank yang bertugas sebagai resepsionis itu pun tersentak kaget dari lamunannya, “Ma-maaf, Tuan Muda. Apa yang bisa dibanting, eh dibantu? Maaf!”


Pradita agak kesal, tetapi untuk menutupi kekesalannya ia menghela nafas panjang, dan mengulangi lagi permintaannya, “Mbak, aku ingin bertemu dengan CEO bank Noir, apakah bisa?”


“Apakah sebelumnya Tuan Muda sudah ada janji?” Karyawati itu malah bertanya balik.


“Belum.”


“Kalau belum ada janji tidak bisa bertemu. Kalau Tuan Muda mau, kami akan buatkan jadwal pertemuan esok hari. Kalau boleh tahu janji temu untuk apa? Investasi? Atau peminjaman dana dalam jumlah yang sangat besar? —”

__ADS_1


“Hadeuh, bank yang mau pailit saja banyak basa-basi. Apakah tidak tahu kalau Mas Pradita ini orang terkaya nomor satu di Cirebon?” sindir Nira dengan mencebikan bibir.


"Sayang, jangan begitu!" sergah Pradita, karena Nira terlalu agresif. Kemudian Pradita langsung berterus terang tentang maksud, dan tujuannya dengan menatap tajam sang karyawati, "Aku datang kesini ingin mengakuisisi bank Noir, untuk merger dengan bank milikku, bank BJB.”


“Hahaha …. Bank BJB? Bukankah bank BJB sedang mengalami kerugian, karena sahamnya telah banyak dilepas oleh para pemegang sahamnya?” cibir karyawati tersebut dengan tertawa sinis.


Apa yang diutarakan oleh sang karyawati itu memang informasi yang benar. Namun informasi tersebut saat Pradita mengakuisisi pertama kali dengan nilai akuisisi saham lebih besar atau saham mayoritas, dan menekan pemegang saham yang lain. Maka mau tidak mau pemegang saham minoritas harus melepas sahamnya ke Pradita.


Pria bergaya rambut harajuku tersebut hanya menyunggingkan senyum menanggapi karyawati bank Noir.


Nathalia mengancam dengan menunjukan monitor laptop miliknya yang berisikan data bank Noir yang setiap detik nilainya terus merosot.


“Lalu apa bedanya dengan ini?” tunjuknya dengan senyuman licik.


Mata sang karyawati langsung membulat, karena apa yang diutarakan sebelumnya berbanding terbalik dengan informasi bank BJB saat ini yang memiliki nilai dividen surplus 200% selama 7 hari terakhir.


“Ba-baik, aku akan menghubungi CEO Ronald.”


Sang karyawati gelagapan setelah melihat data informasi mengenai perbandingan bank BJB, dan bank Noir yang seperti langit, serta bumi. Maka dari itu ia segera menelepon CEO Ronald, untuk memintanya menemu Pradita saat ini juga.


Sang karyawati menjelaskan panjang-lebar, dan membuat CEO Ronald menyetujui dengan terpaksa. Karena takutnya, kalau data rahasia kemerosotan bank Noir tersebar ke nasabah bank Noir, itu bisa menjadi bumerang untuk mereka.


Pradita bersama N4 keluar dari dalam lift, dan berjalan dengan langkah yang mantap. Semerbak wangi memenuhi lorong lantai yang menuju ruangan CEo Ronald.


Seorang pria berkacamata dengan kulit kuning langsat yang berada di depan pintu ruangan CEO Ronald tersenyum lebar ke arah Pradita, dan bertanya, “Ada yang bisa dibantu, Tuan Muda?”


“Sopan sekali mereka ini. Sudah seperti barikade demonstrasi saja, dimana-mana ada,” celetuk Nira dengan raut muka ketus.


“Tajam sekali mulutnya. Siapa keempat wanita cantik ini, dan pemuda tampan ini? Aku rasa mereka hanya datang ingin meminjam uang setinggi-tingginya dengan agunan hanya sawah sepetak, Cih, gaya elit ekonomi sulit, sial” ejek sang sekretaris dalam hatinya dengan tatapan sinis.


Nabila yang tidak ada reaksi, kali ini bereaksi karena merasa semua staff di bank Noir terlalu basa-basi, “Aku akan membeli bank ini. Apakah CEO Ronald mau menjualnya?” katanya terus terang.


“Sudah, biarkan kami masuk! Jangan halangi kami dengan basa-basi kalian lagi!” kekeh Nathania sambil melambai-lambaikan tangannya seperti orang yang sedang mengusir, dan melanjutkan, “Masih mending nasi basi bisa dijemur, kalau kata-kata bapak yang basi itu seperti bau semur jengkol.”


Sang sekretaris raut mukanya langsung merah padam, karena disindir pedas oleh Nathalia. Ia pun menghalangi mereka untuk masuk, dan menghardik, "Dasar kalian tidak tau sopan, dan tak beradab! Kalian hanya para pemuda dengan gaya elit tapi ekonomi sulit!"


Pradita kesal, dan menendang perut sang sekretaris hingga pintunya roboh. Tampak raut wajah seorang pria yang memiliki jenggot tebal menjatuhkan rahangnya.


"Apa-apaan ini?" geram CEO Ronald.


"Aku Pradita Mahendra, orang yang akan membeli bank Noir," tegas Pradita dengan menatap tajam ke arah CEO Ronald.

__ADS_1


Tubuh pria brewok berkulit kuning langsat tersebut gemetar, sendi-sendinya terasa ngilu di sekujur anggota badan. Karena ditatap tajam oleh Pradita yang mengeluarkan hawa membunuhnya.


__ADS_2