SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 32


__ADS_3

Wilayah proyek apartemen Liudou.


Setelah tanda tangan perjanjian kontrak kerja sama sudah ditanda tangani oleh masing-masing ketua geng, dan aliansi geng Zero Crime, serta geng Helucin terbentuk. Pradita segera pergi menuju wilayah proyek apartemen, dan sekarang sudah berada di depan proyek tersebut.


Rupanya Nathalia, dan Nathania sudah satu jam menunggu Pradita di depan pagar baja ringan. Pradita yang baru saja sampai segera keluar dari mobilnya, karena tidak enak hati dengan kedua gadis kembar tersebut.


“Sudah lama ya menunggu?” Pradita menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar.


“Sebagai permintaan maaf, karena terlambat aku akan mengajak kalian makan malam di restoran yang kalian sukai.”


“Benarkah?” Nathalia dan Nathania yang semula wajahnya cemberut langsung sumringah.


“Janji ya Tuan!”


Pradita berpura-pura mengeluarkan helm Empres dari dalam bagasi mobilnya. Padahal dia mengeluarkannya dari inventaris sistem.


“Ya, tentu. Asal kalian bisa membantuku menggunakan ini dan membangun apartemen ini sesuai keinginan pasar.”


“Apa itu Tu —”


“Sudah pakai saja! Kalau kalian bisa menyelesaikan proyek apartemen Liudou. Aku akan berikan untuk kalian berdua 10 milyar,” potong Pradita memakaikan Helm Empres ke kepala Nathania.


Pradita menjentikan jari dan sepuluh unit Comanche Drone tiba-tiba keluar dari dalam bagasi mobilnya. Sepuluh unit Comanche roen tersebut tanpa disadari oleh Nathania tebang dikendalikan olehnya.


“Kamu ternyata mahir mengendalikan Comanche Drone menggunakan Helm Empress. Ternyata biodata yang aku baca berisikan informasi kalian berdua dari Tuan Aslan sangat akurat.”


“Aku percayakan proyek ini pada kalian berdua. Material akan tiba esok hari, dan kalian langsung kerjakan, aku akan transfer uang 5 milyar pada kalian berdua.”


Tanpa basa-basi lagi, dan tanpa meminta persetujuan Nathania, serta Nathalia, Pradita langsung mentransfer uang ke rekening mereka yang hanya punya satu nomor rekening sebesar lima milyar.

__ADS_1


“Tuan, I-Ini ….”


Nathalia dan Nathania melebarkan mata serta menjatuhkan rahang. Setelah melihat uang sebanyak 5 milyar masuk ke dalam akun rekening bersama milik mereka berdua.


“Sudah, ini uang muka sisanya aku akan berikan setelah proyek ini selesai.”


Pradita mendekati mereka berdua dan mengelus lembut rambut keduanya, “Tolong jangan kecewakan aku! Buat desain dan bentuk yang membuat pembeli sangat tertarik untuk meminang unit di apartemen ini.”


“Siap, Bos!” sahut serentak Nathania dan Nathalia.


Kemudian mereka berdua mencium pipi Pradita, Nathania mencium pipi kanan, dan Nathalia mencium pipi kiri, “Kalau Tuan butuh nganoe-nganoe kami siap malam ini.”


Pradita yang tidak mengerti kata-kata konotasi negatif yang dilontarkan oleh Nathania dan Nathalia hanya manggut-manggut saja. Karena dia berpikiran kalau ‘nganoe-nganoe’ itu makan malam nanti bersama mereka berdua saja.


Setelah selesai dengan semua aktivitas yang melelahkan dari pagi sampai sore hari, Pradita pun pergi ke warung Kong Sabeni. Karena mendapat kabar kalau kakek penjual nasi uduk itu telah menemukan ruko yang strategis untuk dirinya berjualan sesuai saran Pradita.


Lima menit kemudian Pradita sampai di depan jajakan jualan Engkong Sabeni yang alakadarnya saja. Pradita keluar dari mobilnya dengan setelan jas hitam dan membuat si Engkong pangling.


“Keren nggak, Kong ... aku sekarang?”


Pradita justru berpose menaruh gaya tangan pistol di dagunya.


“Aku pesan makan dulu Kong kaya biasa, minuman coklat tiga sachet.”


“Et bujuk si bocah, kagak ilang-ilang kebiasaannya, padahal dah lama kagak kemari. Enak bener ya jadi bos sekarang, mobil keren tuh,’ sindir Engkong Sabeni.


“Baru juga berapa hari Kong, aku tidak kesini. Kangen apa Kong sama aku, hahaha ….”


Engkong Sabeni pun menghidangkan piring nasi uduk pesanan Pradita, dan satu gelas berisikan minuman coklat kesukaannya. Sambil melahap pelan nasi uduk tersebut, otak Pradita terus berpikir untuk membuat usaha kopi keliling dengan kantor pusatnya di ruko yang akan disewa oleh Engkong Sabeni. 

__ADS_1


Dia juga sudah memutuskan beberapa produk unggulan yang akan dijual. Karyawan yang dibutuhkan untuk mengelola keluar masuk logistik termasuk operasional, suplai bahan-bahannya, media marketingnya, dan terakhir yang paling penting izin usahanya.


“Aku harus berkonsultasi dengan Nathalia malam nanti. Sambil makan malam, sambil berbicara mengenai bisnis, aku rasa dia gadis yang sangat kompeten mengenai hal ini,” batin Pradita sambil melahap suapan terakhir nasi uduk di sendoknya.


Kemudian dia melanjutkan berbicara pada Engkong Sabeni, "Kong jangan khawatir, nanti semuanya aku yang urus. Pokoknya Engkong tahu  beres saja mengenai sewa ruko, dan semua operasionalnya. Intinya Engkong tahu dapat uang banyak saja, hehehe …."


"Ya, sudah. Namanya orang sudah tua renta kaya Engkong ini mah gampang lupa. Pokoknya Engkong ikut saja, dah," balas Engkong Sabeni dengan tersenyum lebar dan menampakan gigi-giginya yang tinggal dua.


Dari mobilnya yang terparkir agak jauh dari warung lesehan alakadarnya milik Engkong Sabeni, Alderts terus mengawasi Pradita. Ia sangat tertarik dengan sikapnya yang sangat merakyat.


Alderts ternyata wakil ketua Geng Lambretta. Yakni geng ranking kedua teratas di Kabupaten Tangerang Selatan dan memiliki bisnis industri hiburan, baik versi gelap dan versi terang.


......................


Malam harinya Restoran Verdant, Summarecon.


Nathalia, dan Nathania tiba di depan restoran Verdant, restoran yang sangat terkenal mahal, juga enak di Tangerang Selatan. Mereka berdua turun dengan kaki jenjangnya yang memakai sepatu hak tinggi, dan dress mini berwarna putih yang sangat ketat, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat seksi. 


Dress mini itu berlengan panjang, tapi di tengah dadanya berlubang dan memperlihatkan belahan gunung kembar yang menonjol besar milik mereka berdua yang memiliki ukuran D cup.


“Walahiyung! Kalau seperti ini aku tidak mabuk karena minuman keras, tetapi mabuk oleh kecantikan mereka berdua. Awas saja kau nafsuku kalau meronta-ronta, aku santet kau,” batin Pradita kesal dengan dirinya sendiri setelah melihat keanggunan dan kecantikan kedua gadis kembar tersebut.


Nathalia di sebelah kiri Pradita, dan Nathani di sebelah kanannya menggandeng kedua lengan Pradita. Ketiganya berjalan sangat serasi seperti seorang pangeran beristrikan dua putri yang sangat cantik.


Bahkan beberapa pengunjung mengabadikan momen dimana Pradita dan kedua gadis kembar tersebut berjalan masuk ke arah ruangan SVIP 01 yang sudah dipesan oleh Nathania siang tadi.  


“Gila, benar-benar gila! Ini namanya senjata penghancur para Zomblo.”


“Soak! Edan! Sudah laki-lakinya tampan, perempuannya cantik lagi. Mak aku minta kawin, Mak!”

__ADS_1


“Cih, masih kalah cantik sama ekyu. Lihat kulitku lebih mulus, dan badanku lebih padat berisi,” celetuk perempuan bertubuh gemuk dengan betis banyak buriknya.


Semua pengunjung mempergunjingkan ketampanan Pradita dan kecantikan Nathalia-Nathania dengan penuh rasa iri, serta dengki. Alderts yang terus mengawasi gerak-gerik Pradita juga ikut masuk ke dalam restoran Verdant. Akan tetapi memesan meja dekat ruangan SVIP 01 yang dipesan oleh mereka bertiga.


__ADS_2