
Rei menekan-nekan pedal gasnya menunggu aba-aba dari gadis yang berada di samping kiri mobilnya. Sedangkan Pradita malah santai dan asyik bergerilya dengan kedua lubang di hidungnya.
Sapu tangan itu dilemparkan ke udara, dan gadis itu membungkuk pertanda balapan dimulai. Rei menekan pedal gasnya dalam-dalam, dan mobilnya melaju kencang di depan mobil Pradita.
Suara deru knalpot mobil Rei sangat kencang, sampai-sampai memekakan telinga para penonton yang menyaksikannya. Mobil Pradita berada di belakang terpaut satu detik, tetapi jaraknya cukup jauh, yakni 100 meter. Apalagi Rei melajukan mobilnya sekencang mungkin.
Pradita menatap tajam mobil Rei dan menekan pedal gasnya dalam-dalam dan mengganti gigi ke gigi yang lebih tinggi. Ia tidak menghentikan kekencangan mobilnya, padahal di depan itu adalah pertigaan jalan, dan Rei sudah berbelok ke kanan menuju perumahan komplek Allegio.
Perpindahan gigi yang dilakukan oleh Pradita sangat halus, dan dia mampu berbelok dengan sempurna. Meskipun 3 cm lagi, bagian belakang sebelah kiri mobilnya menyentuh pembatas jalan. Di trek lurus tersebut, mobil Pradita melaju kencang, karena dia melakukan perpindahan gigi sangat sempurna.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan 10 poin skill mengemudi karena melakukan perpindahan gigi dengan sempurna]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menaikan level skill mengemudi ke level 2. Skill mengemudi host setara pembalap jalanan sprint profesional]...
Pradita tersenyum simpul mendengar suara mekanis sistem. Kini dikepalanya ada berbagai banyak pengetahuan tentang semua teknik cara balapan sprint. Dalam trek lurus tersebut Pradita berhasil menyusul Rei, dan hanya terpaut 0,2 detik, yakni hanya berjarak 20 meter saja.
“****, mobil kecil seperti itu punya power dan akselerasi yang sangat cepat,” gumam Rei melebarkan mata melihat spion yang tertuju ke belakang.
Lagi-lagi Pradita tidak mengendurkan tekanan pada pedal gasnya guna memperpendek jarak dengan mobil Rei yang sudah berbelok ke arah kiri. Drone terus mengikuti mereka berdua di ketinggian 100 meter.
__ADS_1
Para penonton yang sedang bertaruh sangat tegang menyaksikan pertarungan Pradita dan Rei di jalanan. Pemuda yang bertaruh pada Pradita tersenyum licik, dan dia sudah bisa membaca siapa yang akan menang.
“Aku yakin setelah belokan pengemudi mobil Lotus itu berhasil mendahului Rei,” kata pemuda berambut biru dengan gaya rambut belah dua acak.
Benar saja setelah belokan ke kiri Pradita menekan pedasnya dalam-dalam dan melakukan perpindahan gigi yang sangat sempurna. Walaupun jalanannya agak berkelok-kelok, Pradita berhasil menyalip mobil yang dikendarai Rei, dan langsung menutup jalur pergerakan Rei.
Jalan yang berkelok-kelok tersebut berhasil dilewati Pradita dengan sangat mulus. Bahkan di dalam pikirannya seperti melihat sebuah jalan hologram yang menunjukan dia harus kemana setelah ini.
“Aneh sekali kepalaku ini bisa melihat prediksi jalan. Padahal aku belum pernah melewati jalan ini,” gumam Pradita sambil menyetir dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya terus mengupil.
“Bodoh di depan adalah tikungan 90 derajat, kenapa dia tidak mengerem. Semoga tenang di alam baka,” umpat Rei dan melakukan pengereman secara konstan untuk membuat mobilnya pelan, agar bisa mulus di belokan 90 derajat ke arah kiri tersebut.
Pradita malah santai, karena dia sangat paham dengan mobil yang dikendarainya. Mobil Lotus yang diberikan oleh sistem memiliki sistem super ABS. Walaupun mengerem, dia tidak akan selip. Maka dari itu dia hanya menurunkan kecepatannya sedikit, lalu melakukan perpindahan gigi secara menurun dengan sempurna.
Padahal mobil Mazda MX-5 memiliki performa handling melebihi performa handling mobil Lotus Eclipse. Apalagi mobil Mazda MX-5 milik Rei telah dimodifikasi agar performa handling dan juga performa power, serta performa akselerasinya lebih cepat.
Namun, tetap saja skill mengemudi Rei bukan tandingan Pradita. Maka dari itu, mobil milik Rei tidak bisa menyalip mobil Pradita yang seperti hantu terus membayang-bayangi mobilnya.
Tanpa disadari balapan sudah mau mencapai akhir, setelah memutari bunderan komplek ruko Mendrisio. Rei punya kesempatan untuk mendahului Pradita dengan melajukan mobilnya ke kecepatan 150 km/jam.
Mobil Pradita dan mobil Rei berjalan beriringan. Kedua mobil tidak mau kalah dan penentuannya saat mereka berdua sampai di perempatan lampu merah Q-Big Mall yang sudah non-aktif di malam hari.
Jarak 100 meter lagi menuju perempatan Q-Big Mall, Rei berhasil mendahului Pradita dan terpaut 0,0011 detik saja. Akan tetapi, Pradita yang sudah tahu tidak dapat berbelok ke arah kiri di perempatan lampu merah Q-Big Mall menurunkan kecepatannya, dan mengendalikan mobilnya untuk berada di belakang mobil Rei.
__ADS_1
Pradita menyalip mobil Rei dari sisi luar sambil melakukan perpindahan gigi ke atas. Hampir saja bagian belakang mobil Pradita menabrak pembatas jalan, dan pada akhirnya mobil Pradita berhasil mendahului mobil Rei.
Saat itu pula Pradita menekan pedal gasnya dalam-dalam untuk beradu kecepatan di trek lurus yang menuju garis finish. Rei tidak mau kalah dan menekan tombol Nitrous Oxide System atau NOS. Knalpot mobil Rei mengeluarkan booster api, dan menambah kecepatannya secara signifikan.
Mobil Rei dan Pradita sejajar, tetapi tiba-tiba mobil Rei mengalami overheat. Saat menyentuh garis finis berupa garis laser merah, ujung mobil Pradita menyentuh terlebih dahulu dan hanya terpaut waktu 0,001 detik.
Semua penonton bersorak sorai, dan ada pula yang tegang menunggu keputusan yang sedang diproses oleh juri balapan liar. Kedua mobil mengerem hingga bannya mengeluarkan suara berdecit.
Sambil mengupil Pradita keluar dari mobil miliknya. Sedangkan Rei keluar dari mobilnya dengan tatapan mata nyalang ke arah Pradita, karena merasa dia yang menang.
“Kau bersiap kakimu aku patahkan!” tunjuk Rei ke arah kedua kaki Pradita.
“Bukannya kamu yang harus ikut denganku? Mobilku lebih dahulu menyentuh garis finish, dan mobilmu itu bukannya overheat saat-saat terakhir. Aku bisa mendengarnya dengan kedua telingaku ini, benar bukan?”
Pradita mengejek Rei sambil mendekatkan telinga kanannya ke kap mobil Mazda MX-5 milik Rei yang sedang berasap. Rei marah dan membenturkan dadanya ke dada Pradita, hingga tubuh mungil itu terdorong, “Omong kosong! Aku yang menang!”
“Rei apa yang dikatakannya itu benar, dan mataku tidak buta. Dia yang menang,” kata Alderts, pemuda yang bertaruh satu milyar untuk Pradita.
"Pemenangnya mobil Lotus Eclipse!" teriak hakim garis yang sudah melihat beberapa rekaman yang memang sudah dipasang di garis finish.
Akan tetapi Rei tidak terima dan mendorong lagi tubuh Pradita, hingga terjerembab ke permukaan aspal. Pradita bangkit dengan menyunggingkan senyum, dan berkata, "Oh, beginikah anggota geng Helucin kalau kalah? Mau cari gara-gara?"
Rei melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Pradita, tetapi ditangkapnya pukulan tersebut. Lalu diremas oleh Pradita hingga tulangnya retak.
__ADS_1