
”Mas, bisa sulap, ya? Atau Mas dukun sakti dari Gua Selarong?” Arman melebarkan matanya.
“Ngomong opo sih kamu, Mas. Sudah tidak usah dipedulikan. Aku akan buat perusahaan animasi, tetapi secara struktural pasti membutuhkan ide alur ceritanya bukan. Kita buat studio animasinya, bagaimana? —”
“Biayanya sangat mahal lo, Mas. Apalagi untuk membeli perangkatnya,” potong Arman sambil menundukan wajah pesimis.
“Kenapa Mas bisa mencetuskan ide yang menurutku mustahil?”
Pradita tersenyum ke arah Arman.
“Sorry, di dalam kamusku mustahil itu nonsense. Neraka dan surga saja yang kita percayai itu sesuatu yang mustahil. Akan tetapi bisa dirasakan sekarang, contohnya saja neraka."
"Ingat, kan jika neraka katanya ada api, dan api di dunia itu datang darimana, kalau tidak dari sumbernya,” celetuk Pradita.
“Memangnya berapa budget yang dibutuhkan?” tanya Pradita memastikan.
“Setahuku kisaran antara sepuluh sampai tiga puluh miliar full, Mas,” jawab Arman sangsi.
Sebenarnya ia tidak mengetahui dengan pasti karena memang hanya mengira-ngira angka tidak pastinya.
“Baiklah, untuk sementara kamu kerja di perusahaan temanku. Kalau aku sudah mempersiapkan segalanya, maka aku akan merekrutmu menggawagi studio animasi yang akan aku buat —”
“Terima kasih, Mas. Kamu baik sekali, tidak ada orang yang baik kaya Mas Pradita. Padahal aku sudah kesana-kemari sudah kaya lagu Ayu Ting-Tong untuk mencari bantuan, dan juga pekerjaan."
"Akan tetapi, semuanya tidak dapat membantu,” potong Arman dengan raut wajah sumringah, dan matanya berkaca-kaca.
"Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan. Biar nanti berjalan sesuai dengan alurnya saja. Dah yuk makan lagi!"
"Baik, Mas."
Akhirnya mereka berdua makan dengan lahap. Sambil sesekali terus berbincang tentang pribadi masing-masing.
Setelahnya Pradita melihat ponsel UR Predacon miliknya. Di sana terlihat Red Queen sedang melaporkan statistik omset tentang PT. MMK yang terus naik grafiknya. Apalagi setelah melakukan promosi 90% untuk biaya ongkir.
Arman yang heran dengan tingkah Pradita yang senyam-senyum sendiri penasaran dan segera bertanya padanya.
“Ada apa, Mas? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Arman heran melihat wajah Pradita sangat sumringah.
__ADS_1
“Sistem operasional yang baru saja ditanam di perusahaan temanku ternyata 100% berhasil, dan baru satu jam omsetnya langsung naik. Padahal grafik di bulan sebelumnya terlihat datar, bahkan tidak seimbang antara pengeluaran dan pemasukan harian,” jawab Pradita tersenyum tipis.
......................
...Kantor Pusat Yose Logistik....
Panji duduk di kursi kebanggannya sambil memantau grafik omset yang masuk per hari ini dan jam ini. Ternyata perkembangannya sangat lambat.
“Riko, kenapa jam segini kita masih stuck di angka ini?” tanya Panji Berang.
“Entahlah, Ayah. Padahal kita sudah mengadakan diskon biaya ongkir 25% selama 7 hari kedepan,” jawab Riko menggeleng pelan.
Panji bangkit dari kursi kebanggannya dengan raut muka merah padam. Ia bahkan melemparkan map berisikan kertas tepat di muka Riko.
“Gila! Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan, hah! Kalau esok hari masih seperti ini terus, bisa-bisa perusahaan kita bisa bangkrut!”
“Ayah, ini baru satu hari dan ini baru jam sebelas siang. Kita masih punya kesempatan omset naik seperti biasanya!” Arman pun ikut bangkit dengan nada yang lebih keras.
Keduanya memang sama-sama keras ketika berdebat, dan tentu saja tidak ada yang mau mengalah. Akan tetapi, ada kalanya mereka bisa berjalan beriringan.
Sekretaris pribadi Riko sekaligus selingkuhannya masuk ke dalam ruangan Panji.
Panji menoleh ke arah sekretaris tersebut, "Ada kabar apa! Cepat katakan!"
Meski ketakutan, tetapi ia tetap mengatakan hal tersebut.
"Ja-jadi begini, Pak ... 50% saham PT. MMK telah diakuisisi oleh Union Group dengan menggelontorkan dana investasi dua puluh miliar. Union Group adalah sebuah group perusahaan startup yang tengah bertumbuh di Tangerang Selatan.”
“Omong kosong! Mana mungkin perusahaan yang tidak sebanding nilai pertumbuhannya dengan perusahaan logistik milik kita dilirik!” geram Panji sambil menggebrak meja.
“Bukan hanya itu saja, Pak. Ada kabar buruk lain juga, orang kita telah tertangkap. Bahkan buktinya sudah tersebar di media sosial. Sekarang Yudis sedang diperiksa oleh polisi, dan kemungkinan pasti dipenjara dengan tuduhan manipulasi data laporan keuangan,” jelas Mia dengan menundukan wajah.
Riko, dan Panji seperti mendapat sambaran petir disiang bolong. Mereka tidak menyangka permainan licik mereka untuk menumbangkan PT. MMK diketahui. Awalnya mereka berencana dengan menempatkan Yudis, tetapi sepertinya Nikita, dan Yurike sudah mengetahui hal itu saat ini.
“Bakar uang lagi untuk memenangkan persaingan ini!” teriak Panji dan kedua kalinya menggebrak meja.
“Ba-baik, Ayah,” balas Riko dengan menundukan wajah, karena dia tidak pernah melihat Panji semarah ini.
__ADS_1
......................
...Sepuluh hari kemudian....
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil mendapatkan uang dari mengupil sebanyak 2000 kali sebanyak Rp,10.000.000]x10...
Pradita terbangun di salah satu kamar apartemen yang berada di tengah-tengah pusat kota. Dia telah membeli satu unit kamar apartemen, dan tinggal bersama Arman.
Matanya melebar saat melihat grafik omset PT. MMK yang terus meningkat di layar ponsel UR Predacon. Dia langsung bangkit, dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kenaikan omset ini juga bukan semata-mata karena Red Queen. Akan tetapi juga karena Arman yang jago membuat desain-desain promosi yang menarik pelanggan. Hal itu dilakukan agar banyak pihak yang mau menggunakan jasa pengiriman MMK.
"Semoga saja perkembangan grafiknya semakin melesat, agar kita bisa membantu banyak orang di luar sana."
Setelah selesai membersihkan diri dan memakai baju seadanya. Pradita segera keluar dari gedung apartemen Uniloka, dan sudah ada Sarkowi yang menunggunya di depan gedung untuk mengantarkannya ke rumah lamanya di Desa Jagapura Lor.
“Pak, ke Jagapura Lor, ya!” seru Pradita.
Sarkowi melajukan mobilnya secepat mungkin, karena Pradita terkesan terburu-buru.
Pria berambut harajuku tersebut hanya mendapat firasat, kalau rumahnya telah dibongkar oleh Panji.
Dengan kemampuan pengendara yang diluar nalar, Sarkowi akhirnya berhasil mengantarkan Pradita ke gang yang menuju rumahnya.
“Pak, Bapak pulang saja,ya! Aku takut kalau bapak ikut ada hal yang berbahaya!” pinta Pradita dan keluar dari mobil Sarkowi dengan tatapan tajam.
Langkah kakinya dipercepat menuju rumahnya yang berada di ujung Desa Jagapura Lor. Dijalan dia bertemu Choki dan Rivan, tapi bungkam seribu bahasa. Emosinya meluap-luap saat dirinya ingat dengan pembunuhan yang dilakukan Panji.
“Sistem, belikan aku sebuah pedang di shop sistem! Kalau bisa pedang katana tumpul, aku ingin merasakan menghajar mereka semua sampai babak belur,” pinta Pradita dalam batinnya.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Baik, host. Memproses pembelian pedang yang direkomendasikan sistem dan semua bilahnya tumpul, serta berjumlah 7 jenis pedang dari Jepang, yaitu Katana, Shirasaya, Wakizashi, Kodachi, Nodachi, Ninjato, dan Nagamaki]...
...[Memotong saldo Rp,100.000.000 juta untuk membeli satu set pedang Naga Terbang versi tumpul]...
__ADS_1
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Pembelian berhasil. Satu set pedang Naga Terbang telah ditransfer ke inventaris sistem dan selamat menggunakannya]...