
Sontak sang sopir langsung membanting setir kemudi. Akibatnya mobil tersebut menabrak pembatas jalan, dan membuatnya berguling hingga beberapa kali.
Pradita reflek memeluk Nira dengan sangat erat. Tidak lupa ia sambil mengaktifkan Teknik Naga Anubra pada tubuhnya untuk memperkeras kulitnya. Sepuluh tentara bayaran yang terbang segera menjatuhkan bom secara serentak.
Lalu setelahnya segera disusul oleh Malik yang menembakan bom dari senapan Blaster Rifle.
Bom yang memiliki roket pendorong tersebut melesat cepat ke arah mobil yang masih berguling lalu menghantam serentak dengan 10 bom yang dijatuhkan oleh 10 unit tentara wing jetpack suit.
Suara rentetan ledakan terdengar sangat keras disertai kepulan cahaya, debu, dan asap tebal. Para warga yang lalu lalang pun berhenti, karena mereka sangat ketakutan. Hampir semuanya putar balik untuk tidak melanjutkan perjalanan mereka.
Mobil tersebut terbakar hebat bersama sang sopir, juga Pradita yang sedang memeluk Nira dengan kepala yang sudah bersimbah darah.
Dengan menggertakkan gigi, Pradita memukul atap mobil, supaya mereka berdua bisa keluar dari dalam mobil yang sedang terbakar hebat tersebut.
Kemudian berlari secepat mungkin dengan teknik Naga Dhanindra untuk mencapai rumah sakit terdekat. Kondisi Nira dalam keadaan sekarat, dan hampir kehabisan darah, serta tekanan jantungnya juga melemah.
Kapten Malik dan anak buahnya menganggap Pradita, Nira, serta sang sopir taksi online telah tewas. Nyatanya yang tewas hanya sang sopir, sedangkan Pradita dan Nira selamat. Walaupun kondisi Nira dalam keadaan kritis, dan sekarat.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Pradita akhirnya sampai di rumah sakit Mitra Plumbon yang berada di Desa Ujung Aris, kecamatan Widasari.
“Sus, tolong Sus!” teriak Pradita panik melihat cairan terus bercucuran di kepala Nira.
Beberapa orang Suster segera membawa brankar ke arah Pradita, dan pria berambut hitam tersebut menaruh tubuh Nira ke atas brankar.
Nira langsung ditangani, dan masuk ke dalam ruang ICU. Para dokter segera menangani Nira, dan akan dilakukan operasi.
Pradita melangkahkan kakinya ke meja resepsionis untuk membereskan administrasi sambil menelepon Astra untuk mengabarkan kalau Nira dalam keadaan sekarat.
Astra mengangkat telepon Pradita, dan ia gak kecewa pada pemuda bergaya rambut harajuku tersebut, karena Pradita tidak bisa menjaga Nira dengan baik.
“Sial, ini semua salahku. Aku sama sekali tidak waspada, karena terlalu memikirkan tentang Nesa,” gumam Pradita memukul jidatnya berkali-kali menyesali dirinya yang tak bisa menjaga Nira dengan baik.
__ADS_1
Pradita terus mondar-mandir menunggu di depan ruang ICU yang bersebelahan dengan ruang operasi. Ia menunggu dengan hati, dan pikiran gelisah, hingga tak sadar Pradita sudah menunggu selama 5 jam.
Astra sampai dengan dikawal oleh 10 orang pengawal pribadinya. Sang kakek yang sangat kharismatik ini melangkahkan kakinya dengan langkah yang tegap sambil menatap Pradita dengan tatapan yang nyalang.
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Pradita, dan suaranya terdengar menggema di dalam lobi rumah sakit.
“Aku kecewa padamu Pradita! Bagaimana bisa Nira menjadi seperti ini? Kamu benar-benar tolol!” hardik Astra sambil menuding dengan jari telunjuk kanannya tepat mengenai mata kanan Pradita.
Pemuda bergaya rambut harajuku tersebut hanya bisa menunduk dipenuhi perasaan menyesal.
“Ma-maafkan, aku Kek! Aku memang ber-bersalah tidak menjaga Nira dengan baik,” balas Pradita dengan nada lirih, tapi masih bisa ditangkap oleh kedua telinga Astra.
“Aku tak peduli!” Astra kembali melayangkan tamparan keras, hingga sudut bibir Pradita mengeluarkan cairan kental merah.
Hal itu terjadi karena Pradita sudah tidak menggunakan teknik Naga Anubra, setelah ia kehabisan stamina.
“Cepat bawa Nira pergi! Mulai sekarang aku tidak sudi bekerja sama lagi denganmu!” lanjutnya dengan raut muka merah padam.
Astra benar-benar kecewa, dan emosinya meledak-ledak terhadap Pradita yang dianggapnya tidak becus menjaga Nira, cucu kesayangannya itu.
Astra langsung memukul perut Pradita hingga membuat pemuda berambut hitam tersebut tersungkur di permukaan tanah.
“Dokter! Bereskan Nira cepat! Aku yakin di masih hidup. Aku akan segera membawanya ke Singapura!” bentak Astra.
Lalu pria tua tersebut mendobrak masuk ke dalam ruangan operasi dan menyingkirkan semua orang yang menghalanginya dari jalan menuju cucu kesayangannya tersebut.
Anak buahnya juga masuk, dan langsung membawa brankar yang ditiduri oleh tubuh Nira, dan mencabut paksa alat-alat bantu yang terpasang di tubuh gadis berambut coklat tersebut.
Pradita mengejar brankar dan berhasil menyentuh tangan kanan Nira yang lunglai, dan tangan itu sedikit bereaksi dengan sentuhan Pradita.
Pengawal Astra tidak membiarkan Pradita menyentuhnya dan menendang tubuh Pradita hingga terpental beberapa meter, dan terjerembab di permukaan lantai lob rumah sakit.
__ADS_1
Setelah itu Pradita tak melihat lagi Astra beserta anak buahnya yang membawa tubuh Nira.
“Nira! Maafkan aku!” Pradita berlutut lemas ambil berteriak dengan bulir-bulir bening telah membasahi kedua pipinya.
Semua orang yang melihatnya pun ikut bersedih melihat Pradita yang diperlakukan seperti itu oleh Astra beserta pengawalnya.
Pradita pun melangkahkan kakinya dengan bertelanjang dada, dan celana compang-camping. Dia benar-benar sudah seperti gembel saat ini, karena tubuhnya sempat terbakar oleh kobaran api sangat melindungi Nira.
****
Keesokan paginya.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host telah mendapatkan uang Rp,1.000.000 karena telah mengupil sebanyak 1000 kali, dan sudah ditransfer ke saldo sistem]
Pradita tidak peduli dengan panel hologram yang telah muncul di depan matanya. Dari kemarin setelah dijemput oleh Sarkowi dan mengantarkannya ke rumah Pradita di Desa Jagapura Lor, Pradita sama sekali belum tidur.
Bahkan Red Queen yang sudah mengirimkan pesan berisikan pelaku penyerangan ke ponsel miliknya itu juga tak digubris oleh Pradita.
Pradita kali ini benar-benar merasakan galau berat, karena kehilangan Nira, dan dibenci oleh Astra.
Ponsel Pradita berbunyi, dan ada panggilan masuk dari Prisilia yang ingin meminta bantuan Pradita untuk mengambil kembali beberapa aset kekayaan yang telah direbut oleh Sasongko, kakak dari ayahnya.
Pradita melihat ponselnya dengan tatapan kosong, dan mengangkat panggilan tersebut, “Ya, Sil. Ada apa? Aku ada dirumah baruku. Kamu kesini saja, nanti aku share lokasinya.”
Sebelum Prisilia menjawab, Pradita sudah mematikan panggilan tersebut. Choki yang sudah menjadi direktur PT. Nasiku Empuk masuk ke dalam Pradita tanpa mengetuk pintu lagi. Karena Choki dan Pradita sahabat bagai kepompong yang sudah tidak ada adab sopan santunnya lagi.
“Bos, minta tanda tangan Bos! Senggol dong! Minimal-maksimal harus sekarang ditandatangani Bos. Biar mereka segera mengirimkan pupuk konvensional, Bos. Bukankah pupuk yang Bos janjikan itu nanti akan datang di musim tanam selanjutnya?”
Choki menyodorkan map berisikan surat kontrak dengan PT.Badak Utama yang menjadi suplai utama pupuk di musim tanam kali ini.
Pradita hanya mengangguk dengan tatapan kosong, dan langsung membuka map tersebut. Tanpa membacanya lagi langsung menandatangani surat tersebut, lalu berkata lirih, “Segera cairkan uangnya hari ini!”
__ADS_1
“Siap Bos! Senggol dong!”
Choki pun pergi dengan raut wajah sumringah. Baru sampai di depan pintu yang tengah terbuka, Choki yang mengerti perasaan Pradita menoleh, “Bos, segala sesuatu itu tidak bisa kita kendalikan semuanya, karena kita bukan Tuhan. Tapi setiap kejadian Tuhan pasti memberikan hikmahnya pada kita.”