SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 82


__ADS_3

Setelah membereskan semua tentara Libya, Pradita mencari tempat yang paling tinggi di wilayah pelabuhan Tripolis untuk memindai keadaan sekeliling. Tujuannya satu, mencari sebanyak apapun informasi yang biasa ia temukan untuk menjaga keamanan pelabuhan tripolis, supaya tidak direbut lagi oleh tentara Libya.


“Menjadi tentara, dan pembunuh bayaran memang melelahkan. Padahal kalau ada cara mudah mensejahterakan rakyat, kenapa harus ada cara menyusahkan rakyat dengan konflik perak,” decak Pradita kesal sambil terus melompati satu kontainer ke kontainer lain.


Kali ini ia tidak bisa kabur kemanapun. Karena wilayah negara Libya tidak dalam jangkauan satelit Red Queen. Bodohnya Pradita saat penerbangan ke wilayah Libya, tidak meminta bantuan Red Queen untuk melepas kalung kejut di lehernya yang membuatnya terbelenggu.


“Aku harus menuju wilayah benua asia terdekat, supaya aku bisa terkoneksi dengan satelit Red Queen. Tapi bagaimana caranya, agar aku tidak terdeteksi oleh Aramain?” pikir Pradita sambil mengelus dagunya.


Saat sedang bertengger di salah satu bangunan yang paling tinggi di wilayah pelabuhan, dan matanya berkeliling mengganti keadaan. Pradita melihat betapa indahnya kota Tripolis, tetapi hatinya merasakan miris atas kondisi negara tersebut yang sering dilanda konflik peperangan.


Ia mulai berpikir mencari solusi, konflik apa yang membuat mereka berperang? Dan ingin menciptakan kedamaian disana dengan jalan negosiasi, walaupun itu sangat mustahil untuk dilaksanakan.


Pradita mendapatkan informasi dari salah satu pasukan tentara oposisi, kalau presiden Mahmed Al Jindu sedang berada di Tripoli. Maka dari itu Pradita segera kesana untuk menyelinap masuk ke dalam gedung pusat komando Libya.


Tanpa basa-basi lagi Pradita sebagai Visky Alpha melesat secepat mungkin melompati satu gedung ke gedung lain.


Berkat penguatan fisik yang diberikan oleh Enerzone, tubuh Pradita sudah seperti manusia super yang mampu bergerak sangat cepat, dan memiliki otot-otot yang sangat kuat.


Pradita berdiri di salah satu menara yang berseberangan dengan gedung komando Libya. Ia memfokuskan pandangan Enerzone untuk melihat semua penjaga yang menjaga gedung tersebut.


“Aku akan bertanya dahulu pada Presiden Mahmed, apa sebenarnya yang terjadi? Aku sudah ada beberapa rencana,” gumam Pradita dengan senyuman licik.


Pradita adalah orang tidak suka dengan konflik perang. Apalagi perang tersebut telah berkepanjangan bertahun-tahun, makanya Pradita ingin bertanya pada Presiden Mahmed Al Jindu sebelum mengeksekusinya.

__ADS_1


Pradita berlari cepat menuruni menara tersebut dengan bantuan Enerzone yang mampu membuat telapak kakinya yang sudah memakai cyborg armor suit bisa menempel di dinding.


Dengan langkah kaki yang tidak bisa ditangkap suaranya oleh kedua telinga para penjaga, dan tubuh transparan yang masuk dalam mode stealth. Pradita berhasil melewati satu persatu setiap penjaga keamanan tanpa ketahuan.


Akhirnya Pradita bertemu dengan sosok pria paruh baya yang memiliki jenggot, dan berjambang berwarna coklat, hidung yang sangat mancung bak menara eiffel, dan memiliki manik mata yang sangat indah seperti batu safir biru.


“Jangan bergerak!” ancam Pradita menodongkan bilah pedang saber, dan menonaktifkan mode stealth, sehingga tubuhnya terlihat oleh Presiden Mahmed, “Tetap duduk di kursimu!”


Presiden Mahmed tetap santai dan penuh wibawa menanggapi ancaman Pradita, dan membalas, “Apa yang kamu ingin bicarakan?”


Seolah-olah Presiden Mahmed tahu apa yang ingin dikehendaki pikiran Pradita, makanya ia tiba-tiba menanyakan hal tersebut. Secara logika kalau memang Pradita ingin membunuhnya, ya bunuh saja. Namun Pradita malah menunjukan jati dirinya di depan Presiden Mahmed.


Pradita menatap tajam dari balik topengnya ke arah Presiden Mahmed, dan menjawab, “Aku diutus oleh pihak oposisi untuk membunuhmu. Tapi aku bukan orang yang membunuh tanpa alasan. Aku sudah membaca semua informasi mengenai alasan pihak oposisi ingin menduduki Libya, dan merebut semua sumber daya di —”


Pradita bimbang untuk memutuskan. Karena masalah lehernya yang yang masih terbelenggu oleh kalung kejut, dan membuatnya tidak bisa leluasa untuk mengambil tindakan. Karena semua gerak-geriknya selama 24 jam diawasi oleh Komandan Aramain.


"Begini saja, bisakah Tuan Presiden membantuku melepas kalung di leherku ini? Kalau bisa aku berjanji akan membuat tentara oposisi tidak akan ada lagi di tanah Libya," tawar Pradita, dan membuat Presiden Mahmed tersenyum tipis.


Sebagai orang yang memiliki kemampuan membaca gerakan tubuh manusia, ketenangan pikiran yang tinggi, dan intuisi yang sangat tajam, Presiden Mahmed sudah tahu dan bisa memprediksi apa yang sebenarnya Pradita inginkan darinya.


Maka dari itu ia menyetujuinya, "Baiklah. Aku percaya padamu, dan akan menolongmu sebisa mungkin."


Presiden Mahmed mengirim pesan rahasia melalui ponsel khusus ke salah satu staf kepresidenan di bidang IT untuk masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Lima menit kemudian seorang wanita memakai pakaian tentara Libya masuk, dan membawa sebuah tas kecil.


Wanita berambut coklat tersebut merasa tidak terancam akan Pradita yang masih menodongkan bilah pedang saber-nya ke leher Presiden Mahmed.


Kemudian ia meletakan tas tersebut di atas meja Presiden, dan membukanya. Tas tersebut berisikan laptop, dan papan ketik komputer jinjing itu langsung di otak-otak untuk menerobos keamanan kalung kejut yang berada di leher Pradita.


Wanita bernama Malika itu sangat piawai mengotak-atik papan ketik, dan sangat cepat. Alhasil ia berhasil meretas sinyal yang terhubung dari satelit Sevenfall ke kalung kejut tersebut.


Akan tetapi Pradita tangannya langsung digenggam oleh Malika, dan membawanya keluar dari gedung komando pusat Libya secepat mungkin.


“Ada apa ini?” tanya Pradita bingung, dan Malika tidak menjawab, hanya diam seribu bahasa dengan raut muka menyeringai tajam.


Pradita dibawa halaman belakang gedung, lalu menyerobot paksa kalung kejut yang berada di lehernya. Kemudian kalung tersebut dilempar ke udara sekuat mungkin, dan terjadi ledakan yang cukup dahsyat, hingga membuat penjaga keamanan gedung pusat Libya segera melesat ke arah sumber suara.


Malika bersama Pradita tertelungkup di permukaan tanah. Mereka berdua mendapat luka bakar ringan di punggungnya. Ledakan tersebut mampu merusak material pembentuk cyborg armor suit yang dipakai oleh Pradita.


Setelah kepulan api itu hilang, baru Pradita berkata sambil menyimpan enerzone dengan menekan tombol headset humangear di telinga kirinya, “Terima kasih kamu sudah menyelamatkanku.”


“Semua ini tidak gratis. Kamu harus membantu kami melawan oposisi, dan mengusirnya dari tanah kami,” tegas Malika sambil mencengkram kerah baju Pradita, lalu menegakan badannya.


"Tentu. Aku berjanji akan membuat Libya menjadi Singa di benua Afrika." Pradita menyodorkan tangan dan disambut tangan tersebut oleh Malik, walaupun sambutan muka Malika begitu kaku.


Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam gedung untuk membicarakan rencana selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2