
Proses pertama pembajakan sekaligus penyemprotan pupuk cairan penyubur tanah telah selesai sampai jam 23.00.
Pradita mengerahkan ratusan anggota pasukan Black Shadow untuk menjaga lahan sawah 50 hektar. Supaya aman dari gangguan anak buah Zevalia yang kemungkinan mereka akan berbuat onar lagi.
Pria berambut merah tersebut ikut berjaga. Ia menyuruh para warga untuk beristirahat, karena dari pagi sampai malam mereka bahu membahu bekerja membajak sawah.
“Pupuk ini akan bekerja 3 jam lagi. Untung saja aku punya beberapa alat, dan tim penguji standarisasi kesuburan tanah,” kata Pradita sambil menatap indahnya kerlap-kerlip cahaya bintang di langit.
Terdengar suara walkie talkie dari anggota pasukan Black Shadow yang sedang terus berkoordinasi satu sama lain. Namun hal itu masih membuat Pradita belum tenang.
“Kalau saja Red Queen masih ada, peristiwa seperti ini mungkin tidak akan terjadi,” gumam Pradita dengan menghela nafas panjang, dan melanjutkan, “Aku mungkin bisa mengerahkan drone untuk mengawasi semua lahan ini, tetapi itu pun harus manual. Tanpa adanya Red Queen, sia-sia saja, dan tidak akan maksimal.”
Detik demi detik silih berganti, angin malam semakin menusuk tulang. Mata Pradita mulai mengantuk, dan untuk mencoba menghilangkan kantuknya, ia menyesap kopi hangat yang dikirimkan istrinya.
Malam ini adalah malam terberat untuk Pradita, karena esok hari sudah melakukan penanaman bibit, dan lusa mulai penanaman bibit yang sudah bisa disemai.
Master Chow telah memformulasikan bibit padi yang bisa dipanen antara 15-20 hari. Makanya itu ini adalah langkah awal. Kalau ini berhasil, maka akan menambah pundi-pundi rupiah untuk dompet Pradita.
Terdengar suara teriakan dari salah satu walkie-talkie yang sedang di pegang salah satu anggota pasukan Black Shadow.
"Tuan Muda, mereka mulai menyerang! Mereka berada di selatan" teriak salah satu anggota Black Shadow yang memegang walkie-talkie tersebut yang tak jauh dari Pradita.
"Kalian tetap berjaga disini! Aku akan kesana!" titah Pradita, dan mengeluarkan katana tumpul miliknya beserta sarung tangan kejut dari inventaris sistem. Lalu melesat secepat kilat, "Teknik naga Dhanindra!"
Pradita sudah hilang dari tempatnya berdiri, dan melesat dengan tatapan tajam seperti Serigala yang siap menerkam mangsanya.
Hanya dalam beberapa hembusan nafas, Pradita telah sampai di wilayah selatan lahan sawah miliknya. Benar saja sedang terjadi perkelahian yang cukup sengit antara tiga orang anggota Black Shadow dengan Zevalia.
Jual beli tebasan, dan tembak-menembak pun terjadi. Ketiga anggota Black Shadow tersebut mudah sekali dibabak belurkan oleh Zevalia, karena memang bukan lawan mereka.
Anak buah Zevalia pun menyerang disisi lain. Suara-suara tembakan terdengar di seluruh lahan sawah. Hal ini membuat Pradita kebingungan harus membereskan yang mana dahulu.
"Teknik naga Taksaka! Mati kalian semua!" seru Pradita.
Dari kedua ujung jarinya, Pradita menembakan siluet pedang yang bisa dikontrol melalui pikirannya.
Siluet-siluet pedang tersebut, dan tak terlihat oleh mata di kegelapan malam itu bertambah banyak. Lalu menyebar ke seluruh arah.
Siluet-siluet pedang tersebut seperti memiliki mata, dan kesadaran sendiri. siluet pedang tersebut melesat ke arah anak buah Zevalia di berbagai arah.
"Aaakh!"
Suara pekikan saling bersahutan, setelah leher-leher anak buah Zevalia dipenggal oleh siluet-siluet pedang yang dilepaskan oleh Pradita.
Melihat anak buahnya satu persatu tumbang dari topeng cyborg yang ia kenakan dalam mode infra merah, Zevalia mulai ketar-ketir. Ia kabur dengan berlari cepat ke arah selatan.
__ADS_1
Pradita yang sudah hafal betul energi milik Zevalia, karena pernah bercocok tanam, cukup dengan endusan hidungnya, Pradita bisa melacak bau milik Zevalia, dan mengejarnya.
Zevalia, dan Pradita pun saling mengejar. Kadang Pradita di depan, dan menebaskan pedangnya. Begitu pula sebaliknya, kadang Zevalia di depan sambil menebaskan pedang sabernya ke Pradita.
Mereka berdua saling mengejar, karena Zevalia ingin sampai ke sebuah mobil yang dilengkapi persenjataan lengkap. Mobil tersebut berisikan satu rudal yang akan ditembakan ke lahan sawah Pradita.
Ledakannya memang tidak besar, tetapi radiasi racunnya bisa membuat tanah yang akan ditanami padi oleh Pradita itu rusak, dan terkontaminasi radiasi racun yang sangat mematikan untuk tanaman.
“Sistem, kirimkan Aveum Drone untuk membawa mobil itu!” tunjuk Pradita dengan pedangnya ke arah mobil balistik tersebut.
Aevum Drone tiba-tiba muncul dari langit, dan terbang dengan kecepatan penuh ke arah mobil balistik yang sudah di gapai oleh Zevalia.
Pradita tidak membiarkannya, dan melompat ke arah jendela mobil untuk menendang Zevalia.
Suara kaca pecah terdengar sangat keras, bersamaan itu pula Zevalia terkena tendangan Pradita. Untuk kedua kalinya suara kaca pecah terdengar lagi, setelah tubuh Zevalia menghantam jendela sisi kanan mobil, hingga terlempar keluar.
Zevallia segera bangkit dengan menumpu pada kedua tangannya, dan langsung melakukan salto ke depan sambil melayangkan tendangan.
Pradita menangkis tendangan Zevalia dengan bilah pedangnya, dan membuatnya terdorong, tetapi belum sampai keluar dari dalam mobil.
"Selamat tinggal, baby!" ejek Zevalia dengan tersenyum menyeringai dari balik topeng cyborg, dan mau menekan tombol peluncuran rudal beracun.
Akan tetapi, tiba-tiba mobil tersebut diangkat oleh Aevum Drone. Tubuh Zevalia goyah, dan kepalanya terantuk ke setir mobil. Alhasil ia gagal menekan tombol peluncuran rudal beracun.
Pradita memanfaatkan tubuh Zevalia yang limbung dengan menyerang balik menggunakan tebasan diagonal ke tangan kirinya, "Teknik naga Suryadaksa! Teknik Naga Wanabaya!"
Siluet garis putih diagonal tercetak jelas di tangan kiri Zevalia yang menyemburkan cairan kental merah.
“Aaaargh!” pekik Zevalia dengan raut wajah meringis kesakitan.
Kemudian tubuhnya lunglai, dan meluncurkan ke permukaan tanah. Karena mobil tersebut sudah diangkat setinggi 10 meter oleh Aevum Drone.
Pradita belum puas untuk menyiksa Zevalia. Ia melompat dari dalam mobil dengan tatapan nyalang, dan bersiap melakukan serangan lanjutan.
“Teknik naga Besukih!” seru Pradita, dan melakukan tebasan bertubi-tubi untuk memotong tubuh Zevalia.
Siluet-siluet garis putih acak tercetak jelas di tubuh Zevalia. Ternyata sasaran Pradita adalah memotong kedua tangan, dan kedua kaki Zevalia.
Sebelum tubuh Zevalia menghantam permukaan tanah, Pradita memeluknya, dan menarik topeng cyborg yang menutupi wajah gadis Rusia tersebut.
Pradita yang memeluk tubuh Zevalia yang bersimbah cairan merah kental mendarat dengan sempurna di permukaan tanah.
"Aakh! Aaakh! Bunuh saja aku!" erang Zevalia dengan raut muka meringis kesakitan.
"Teknik naga Kurusetra!" Pradita mengalirkan energi miliknya untuk menghentikan pendarahan di tubuh Zevalia. Dengan tersenyum menyeringai, ia lalu melanjutkan, "Tidak semudah itu Alfonso Ferguso Marimo Honto Sujarwo Tedjo! Kematian itu terlalu indah untukmu. Bagaimana kalau kau menyusul Selena ke penjara Hosfu? Xixixixixi …."
__ADS_1
Tubuh Zevalia gemetar, dan raut wajahnya pucat pasi melihat Pradita tersenyum menyeringai dengan aura membunuh yang sangat kuat.
Tiba-tiba muncul Abu Hossef, dan melapor, "Tuan Besar, mereka semua sudah dibereskan!"
"Kumpulkan dalam satu titik!"
"Siap, Tuan Besar."
Setelah memberi perintah, Pradita berlari sambil menggendong tubuh Zevalia yang sudah tak memiliki tangan, dan kaki. Namun sebelum itu, Pradita menghancurkan kedua tangan, dan kaki Zevalia dengan teknik naga Suryadaksa.
Sesampainya di depan tumpukan mayat anak buah Zevalia, Pradita mencekik leher Zevalia, dan mengarahkan wajahnya ke tumpukan mayat tersebut.
"Kau ini wanita tolol! Apa kau pikir bisa melawanku dengan kecoa-kecoa seperti ini, hah?" bentak Pradita dengan raut muka dipenuhi urat otot yang menonjol. Kemudian ia melanjutkan sambil berjalan mendekati salah satu mayat, "Lihatlah ini hukuman untuk mereka, dan untukmu juga, hahaha …."
Salah satu mayat dipegang oleh tangan Pradita yang sudah berwarna jingga, dan memiliki suhu 200-300 derajat celcius.
Dalam sekejap mata, satu-persatu mayat tersebut terbakar hebat, dan tak begitu lama tumpukan mayat tersebut meluruh menjadi debu.
Pasukan Black Shadow yang sedang berbaris di belakang Pradita pun merasa tertekan oleh aura membunuh yang dikeluarkan oleh Pradita. Tubuh mereka bergetar dengan raut muka seputih kertas.
Hal itu juga berdampak besar pada Zevalia, lidahnya kelu, dan tubuhnya menggigil. Ia sudah sangat putus asa, dan sangat menyesal atas semua perbuatannya di masa lalu. Namun semua itu sia-sia, nasi goreng sudah dimakan, dan menjadi kotoran, mana mungkin bisa menjadi nasi goreng lagi.
Pradita mengangkat tangannya, sebagai isyarat perintah untuk membereskan semua kejadian ini, Supaya penduduk desa tidak tahu, Jika malam ini telah terjadi pembantaian massal oleh Pradita beserta pasukan Black Shadow.
“Ayo!” seru Pradita ke arah Abu Hossef untuk mengajaknya pergi ke sekolah Hosfu di gunung Latimojo, Sulawesi.
***
Keesokan harinya, pukul 10.00 WIT, Gunung Latimojo.
Pradita baru saja tiba dengan menggendong ala bridal style tubuh Zevalia. Sampai saat ini Zevalia tetap masih istri sahnya, dan belum ada satu kata cerai pun terucap dari mulut Pradita.
Ia membawa ke fasilitas penjara yang sangat terisolir di wilayah sekolah pembunuh bayaran Hosfu.
Zevalia ditampakan Zevalia yang sedang berada di dalam sebuah ruangan penjara yang bisa dilihat dari luar. Karena ruangan tersebut dibatasi partisi kaca anti peluru, dan lebih keras dari berlian.
“Profesor, bagaimana keadaan orang yang sangat aku cintai ini?” tanya Pradita dengan tersenyum menyeringai pada salah satu pria tua yang memakai jubah putih.
“Kami sudah memberikan subjek 01 dengan gas anti tidur, dan kurang lebih sudah 3 hari tidak tidur,” jawab Profesor Hendro dingin.
"Ja-jangan! Ja-jangan!" Zevalia yang mendengar jawaban Profesor Hendro langsung menggeleng-geleng ketakutan, dan merasa putus asa, "Tolong, ja-jangan lakukan ini padaku!"
Pradita membelai lembut kepala Zevalia dengan tersenyum menyeringai, dan membalas, "Tenang saja, kami akan memperlakukan lembut padamu, sayang. Xixixixi …."
Bukannya malah tenang, Zevalia semakin gelisah, dan putus asa. Ia berontak, tetapi apapun yang dilakukannya sia-sia. Karena tidak bisa kabur dari fasilitas penjara isolasi ini dengan mudah. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh manusia yang tanpa tangan, dan tanpa kedua kaki.
__ADS_1
Profesor Hendro membawa brankar, dan Pradita menaruh tubuh Zevalia tersebut ke atas brankar. Kemudian diikat kuat-kuat supaya tidak jatuh, karena Zevalia terus-terusan berontak.