
Keesokan paginya.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan uang Rp,100.000.000 dari mengupil sebanyak 5000 kali, dan sudah ditransfer ke inventaris sistem]...
Pradita pagi-pagi buta sudah pergi ke Afrika Selatan menggunakan pesawat jet pribadi menggunakan maskapai Ochobot City. Ia pergi seorang diri membawa banyak tanaman herbal yang dibutuhkan oleh sang pemesan misterius tersebut, karena uang 50 juta dolar atau 750 milyar telah ditransfer ke rekening Union Group sebagai uang muka.
Pesawat jet pribadi milik maskapai Ochobot City bergerak sangat cepat seperti bukan pada umumnya pesawat jet pribadi. Detak jantung Pradita berdetak tidak karuan, malah seperti mau copot.
Seorang pramugari khusus mendekati Pradita, dan menepuk pundaknya, “Tenang saja, Tuan Muda. Maklum pesawat ini menggunakan teknologi warp, nanti juga akan terbiasa, dan sebentar lagi akan sampai.”
Raut wajah Pradita begitu pucat pasi, dan nafas tersengal-sengal, dan membalas, “I-iya.”
Sang kapten pilot memberitahukan melalui pengeras suara, bahwa tujuan Pradita telah sampai, dan Pradita bersiap terjun dari pesawat dengan melompat.
“Sial, kalau bukan demi uang 1,5 triliun aku juga tidak akan mau,” gumam Pradita dengan bangkit berdiri, punggungnya dipakaikan ransel parasut oleh pramugari seksi yang belahan pahanya terlihat jelas.
Pesawat jet pribadi Ochobot City berjalan pelan di atas titik koordinat yang diberikan oleh Pradita. Kemudian pria berambut merah tersebut mengaktifkan topeng enerzone, dan pintu pesawat dibuka dengan Pradita berdiri di depannya.
Pradita melambaikan tangan, lalu melompat. Tubuhnya meluncur cepat menuju hutan Afrika Selatan yang cukup lebat.
Berkat prediksi Enerzone, dan Pradita mengikutinya, peluncurannya berjalan dengan baik.
Namun saat tubuhnya berada di di ketinggian 300 meter dari permukaan tanah. Ada beberapa orang suku pedalaman mengarahkan panahnya ke arah Pradita, dan itu terlihat jelas dari topeng Enerzone dalam mode Zoom.
“Woy-woy! Kenapa mereka mengarahkan anak panah itu kepadaku?” Pradita melebarkan mata, lalu berteriak supaya orang-orang dari suku pedalaman tersebut tidak memanahnya, “Berhenti! Berhenti!”
__ADS_1
Akan tetapi orang-orang dari suku pedalaman hutan Mongshuo yang sedang bertengger diatas ranting pohon yang paling tinggi tidak mendengarnya. Malah menarik anak panah tersebut dan melesat ke arah Pradita bertubi-tubi.
Pradita yang sudah menngembangkan parasut dalam ketinggian 150 meter di atas permukaan tanah mencoba mengendalikan parasut untuk mengindari setiap anak panah yang mengarah ke arah tubuhnya.
Anak-anak panah itu memang berhasil dihindari Pradita, tetapi menembus kain parasut yang sedang menngembang, dan membuatnya berlubang, hingga lajurnya tak seimbang-
“Tolong! Bagaimana ini?” teriak Pradita panik karena parasut mulai terombang-ambing di udara, dan tidak stabil.
Disaat kritis seperti ini Pradita memejamkan mata, sambil mencari solusi atas masalah kegentingannya saat ini. Di dalam pikirannya mengingat sesuatu, yakni teknologi Cyborg armor suit yang dipakai oleh Admiral Kaizo atau topeng cyborg yang dipakai oleh Admiral Kaizo sama persis dengan topeng cyborg yuang dipakai oleh dirinya.
Pradita mulai mengotak-atik tombol di telinga kanan topeng cyborg Enerzone, dan menemukan sebuah papan ketik digital yang muncul di hadapan matanya. Papan ketik digital itu mulai di otak-otak oleh tangan Pradita dengan memasukan beberapa kode yang pernah dilihatnya secara sekilas saat Admiral Kaizo mengaktifkan mode airwalk.
[Mode airwalk diaktifkan. Pengguna bisa mengubah udara disekitarnya menjadi lempengan pijakan]
"Berhasil!"
Orang-orang dari suku pedalaman tersebut semakin brutal, setelah serangan anak panah mereka tidak mengenai Pradita. Mereka turun dari ranting-ranting pohon seperti seekor Monyet yang sangat lihai dalam bergelantungan di ranting-ranting pohon.
Namun tiba-tiba terdengar suara letupan tembakan dari arah utara, dan membuat orang-orang dari suku pedalaman yang terkenal kanibal itu berlarian tunggang langgang, dan tidak jadi mengejar Pradita.
Pradita berhasil mendarat dengan baik di samping pohon besar setinggi 10 meter, dan tiba-tiba ponsel UR Predaconnya berbunyi. Padahal di dalam hutan ini seharusnya tidak ada sinyal sedikitpun, karena daerah pedalaman hutan rimba.
Pria berambut merah tersebut membuka ponselnya, dan membaca pesannya, “Aku sudah mengusir mereka. Ikuti suara tadi, kalau tidak jelas, ikuti asap berwarna merah yang terlihat di atas langit.”
Kepala Pradita di dongakan, dan matanya berkeliling mencari petunjuk asap merah membumbung di atas langit. Ia menemukannya di sebelah selatan, dan berlawanan arah dari tempatnya mendarat.
Ia berlari cepat ke arah selatan sambil terus memandang ke atas, takutnya ia salah arah. Semakin lama sumber asap merah itu semakin dekat, karena asap merah itu mulai tercium oleh Pradita.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba ada ular Anaconda yang snagat besar menghadang Pradita. Ular tersebut sepanjang 20 meter dengan lingkar badan 5 meter, lidahnya menjulur-julur dengan suara mendesis, dan matanya tajam siap memangsa Pradita.
Pradita melagkah mundur beberapa lagkah samil mengeluarkan gagang pedang saber. Raut wajahnya seputih kertas, karena ia belum pernah melihat ular Anaconda raksasa sebesar itu di tempatnya.
Ular Anaconda raksasa itu menyadari Pradita akan kabur, dan segera menerkamnya. Pradita berguling ke kanan beberapa kali untuk menghindari terkaman mulut ular Anaconda raksasa tersebut, dan mulutnya berhasil memakan pohon besar di belakang Pradita.
“Butuh seribu tahun untuk bisa membunuhku! Teknik naga Besukih! Hyaa!” seru Pradita.
Kemudian mengayunkan pedang saber berbilah laser merah tersebut ke leher ular Anaconda raksasa secepat kilat. Kepalanya terlepas, dan lehernya menyemburkan cairan kental merah yang sangat deras hingga membanjiri permukaan tanah yang begitu lembab.
"Auoooo!" Seorang pria yang hanya memakai kulit domba untuk menutupi bagian vitalnya bergelayutan menggunakan akar yang cukup kuat ke arah Pradita sambil melolong seperti tarzan.
Pradita sudah bersiaga, dan siap menyerangnya. Namun ekspektasinya berubah saat pria tersebut bergelayutan malah menabrak batang pohon yang sebelumnya diterkam oleh ular Anaconda raksasa.
"Ya salam! Sungguh membagongkan," cicit Pradita sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Hahaha …!" Pria bertubuh kumal tersebut malah tertawa terbahak-bahak, setelah terjatuh ke permukaan. Kemudian ia sambil tertawa menunjuk Pradita, "Hahaha …. Halo bro! Aku yang menghubungimu, ayo ikut aku!"
Pria bernama James tersebut berjalan mendahului Pradita sambil memanggul kepala ular Anaconda yang memiliki berat 10 ton tersebut di pundaknya seperti mengangkat kapas yang sangat ringan.
"Apa? Aaaah?" Pradita melebarkan mata melihat hal tersebut, dan menganggap James Brock itu manusia sakti.
Walaupun mengangkat beban yang sangat berat, tetapi James mampu melesat dengan kecepatan penuh menuju wilayah pemukiman penduduk yang tak tersentuh oleh dunia luar.
Pradita terkejut setengah mati saat tiba di depan sebuah gua yang dijaga oleh orang-orang yang memiliki tinggi seperti raksasa dengan bulu-bulu yang sangat tebal seperti King Kong.
Dua penjaga itu menatap tajam Pradita, seakan-akan siap memangsanya, "Tenang saja! Ayo masuk! Mereka adalah rekan-rekan kita!"
__ADS_1