
Mata Kinan membola seperti ingin keluar dari kelopak matanya. Setelah melihat layar ponsel di akun M-banking miliknya tertera uang 3 miliar sekian.
“Dit! Ka-kamu betulan?” ucapnya dengan menjatuhkan rahang.
“Loh, ya memang betulan. Ini adalah bagian balas dendamku pada orang-orang yang telah menghancurkan rumahku tanpa izin dariku,” balas Pradita melirik sinis ke arah Kades Darmo.
Semua staf Desa, dan Kades Darmo raut wajahnya seputih kertas dengan tubuh menggigil ketakutan. Mereka tidak menyangka kalau apa yang dikatakan oleh Pradita itu bukan isapan jempol belaka.
“Ayo, siapa lagi?” teriak Pradita.
Mereka kembali berbaris, wajah Choki dan Rivan yang semula tertunduk lesu, kini berubah sumringah. Setelah Pradita benar-benar membuktikan ucapannya untuk membeli tanah sawah warga desa Jagapura Lor.
“Ayo, Pak! Ayo Bu! Mumpung Bos kami mau membelinya dengan harga sangat mahal, kapan lagi!” bujuk Choki.
“Tapi kalau sawah kami dijual dengan harga tinggi, lalu bagaimana kami makan? Uang pasti cepat habis jika tidak diputar kembali,” celetuk Ibu-Ibu bernama Retno.
“Oh, ibu mengkhawatirkan itu. Tenang Bu, aku melakukan ini juga dengan solusi. Aku akan membangun pabrik penggilingan padi disini termodern, dan Bapak-Ibu disini masih bisa tetap menanam padi di lahan yang telah dijual padaku. Pembagiannya 60% untuk pihak pengelola, dan 40% untuk pihak pemilik tanah, bagaimana?” bujuk Pradita tersenyum lebar.
“Lalu untuk pupuk, biaya tanam, dan biaya panen apakah kita juga yang harus menanggung?”
“Kalau kami yang menanggung kami tidak mau!”
“Aku juga tidak mau menjual!”
“Lebih baik kami garap sendiri sawahnya dan tidak mau dijual!”
Semua warga mulai menolak lagi, dan mulai ricuh. Namun, Pradita sudah memprediksi pasti akan terjadi seperti ini. Maka dari itu senjata utamanya telah disiapkan.
“Pihak pemilik tanah yang menanggung semuanya. Ibu hanya perlu mengelolanya saja, dan terima beres uangnya,” tegas Pradita.
Semua warga terdiam setelah mendengar hal tersebut. Mereka semua langsung sumringah dan berbaris rapi untuk menunggu pembayaran tanah sawah mereka yang akan dibeli oleh Pradita.
“Choki! Rivan! Mulai sekarang kalian yang akan menjadi pengurus sekaligus pemimpin kelompok Tani dan juga PT. Nasiku Empuk. Aku akan menghubungi temanku untuk membangun pabrik, dan laboratorium untuk penelitian bibit padi di tanahku,” kata Pradita.
Choki dan Rivan yang memang pengangguran berat. Mereka tampak sangat senang ketika mendengar pengangkatan mereka sebagai pimpinan dan wakil pimpinan perusahaan yang akan dibentuk oleh Pradita.
__ADS_1
Dengan senang hati, mereka berdua membantu Pradita melakukan transaksi pembelian tanah warga. Semua itu juga disaksikan oleh para staf Desa secara gratis tanpa amplop bawah tangan.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Misi sampingan muncul]...
...<>.................<>...............<>...
...[Misi sampingan: Hasilkan panen padi musim hujan ini minimal 1000 ton]...
...[Batas waktu:-]...
...[Hukuman: lahan tanah tidak bisa digarap saat tanam di musim panas]...
...[Hadiah: 50 set perlengkapan drone khusus pengelolaan sawah, terdiri dari Combhand Drone bajak sawah, Combhand Drone tanam bibir, Aero Drone khusus pupuk, dan Combhand Drone khusus panen, serta satu helm Empress versi Combhand Drone]...
...<>.................<>................<>...
Pradita satu persatu melayani transaksi jual beli tanah sawah dan berhasil mendapatkan 50 hektar sawah dengan total nilai 150 milyar. Semua harga disamaratakan seperti harga yang ditawarkan oleh Kinan.
...[Tongteng … Tongteng]...
Pria berambut harajuku tersebut mengernyit, karena tiba-tiba di mendapatkan 10 poin kecerdasan dan itu menaikan skill detektif.
“Kok bisa? Kenapa?” batin Pradita memicingkan mata.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Itu karena host menyelesaikan masalah pelik yang terjadi pada warga Desa Jagapura Lor yang selama ini sedang dihimpit masalah ekonomi. Ide host sangat brilian dan membuat mereka sangat puas]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan 100% respek warga Desa Jagapura Lor]...
Setelah selesai, semua warga pulang ke rumah masing-masing dengan wajah sumringah. Pradita juga memberikan Choki dan Rivan masing-masing uang 1 miliar, sebagai gaji pertama mereka yang akan mengurus PT. Nasiku Empuk.
__ADS_1
Mereka berdua juga pulang dengan wajah sumringah. Apalagi ketika rekening mereka yang hanya hampir saja terblokir akhirnya terisi uang 1 milyar dari Pradita.
“Dit, Bapak tidak dikasih gitu?” Kades Darmo yang tidak tahu malu malah menyodorkan tangan ke arah Pradita beserta staf Desa yang lain. Namun, ditanggapi dingin dan cuek oleh Pradita.
“Cih, kalau sudah melihat uang kalian baru mendekat. Baik, aku akan berikan uang, asal bereskan masalah kalian dengan Panji. Katakan padanya, tidak usah masuk ke Desa ini lagi,” decih Pradita menyeringai kesal.
CEO Aslan tiba-tiba menghubunginya untuk segera menemuinya esok hari di kantor BSD group. Rencananya besok siang akan diadakan grand launching apartemen Liudou yang berhasil di bangun oleh Nathalai dan Nathania menggunakan 10.000 unit Comanche Drone.
Pradita segera menelepon Sarkowi untuk menjemputnya di depan gapura Desa Jagapura Lor.
......................
Pukul 21.00 Pintu keluar tol Rawa Buntu, Tangerang Selatan.
"Pak, kalau capek istirahat saja! Kita istirahat saja di warunk upnormal dekat sini!” pinta Pradita dan langsung dianggukan oleh Sarkowi.
Sarkowi dituntun Pradita menuju warung upnormal yang agak dekat dari pintu keluar tol Rawa Buntu. Setelah 5 menit, mobil Toyota Hilux berwarna perak tersebut sampai di depan halaman parkir warunk upnormal yang sangat ramai di malam hari.
Pradita turun dengan memakai sweater hitam yang ada capucho, dan memakai masker, supaya wajahnya tidak dikenali. Saat Pradita memesan di kasir satu, Hiro juga sedang memesan di kasir dua yang berdampingan. Jadinya mereka berdua saling berdampingan.
Pradita hanya tersenyum simpul dari balik maskernya, “Pemuda tolol ya contohnya seperti ini,” gumamnya.
Untungnya Hiro tidak mendengar gumaman Praditta. Kalau saja dia mendengarnya pasti langsung naik pitam. Pradita membawakan dua nampan, satu buat dirinya, satu lagi untuk Sarkowi.
Walaupun dia bosnya, tapi Sarkowi lebih tua umurnya. Jadi Pradita harus menghormati yang lebih tua. Bagi dia status itu lebih penting, adab harus lebih tinggi dari apapun.
Mereka berdua makan dengan lahap. Namun, saat makan Pradita lupa, ia membuka maskernya, dan wajahnya langsung terlihat oleh Hiro.
"Oh, bos baru Tangerang Selatan rupanya disini, tapi aku takan pernah mengakuimu!" hardik Hiro dengan menyeringai tajam.
Pradita cuek dan dingin. Ia tetap makan dengan asyiknya, dan tidak mendengar suara teriakan dari Hiro. Padahal semua pelanggan terdiam ketika Hiro berteriak. Mereka sangat tahu siapa Hiro, dan tak mau berurusan dengan pria yang sangat kejam tersebut.
Sarkowi yang membelakangi Hiro pun ikut ketakutan, dan menghentikan makannya, "Lanjutkan saja, Pak! Tenang saja, Tangerang Selatan ini sudah menjadi wilayah kekuasaanku. Kalau Bapak ada yang begal, sebut saja namaku," kata Pradita tersenyum simpul.
Hiro bangkit dengan tatapan tajam ke arah Pradita. Lalu mendekatinya dengan mengeluarkan senapan magnum ke kepala Pradita.
__ADS_1