SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 76


__ADS_3

****


9 jam kemudian, Bandara internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.


Pradita melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri berbekal informasi dari Zevalia, dan intel-intelnya yang berada di Makassar.


Matanya berkeliling mencari sebuah bus yang memiliki tanda motif huruf triple x di belakangnya. Bus tersebut memang akan terparkir di tempat penjemputan bandara, dan sengaja untuk menjemput para calon pembunuh bayaran yang akan ikut tes masuk ke dalam sekolah pembunuh bayaran tersembunyi di gunung Latimojong.


Ternyata bus tersebut sudah terparkir, dan berjumlah ada beberapa bus, sekitar kurang lebih 15 unit bus berwarna putih dengan garis palet biru.


Pradita masuk ke dalam bus yang paling belakang. Lalu duduk di kursi paling belakang, disusul kemudian seorang pemuda memakai kacamata pun masuk, dan duduk di kursi depan kursi Pradita.


Untuk menyamarkan dirinya, supaya tidak dikenali oleh anak buah Aramain. Pradita mengganti warna rambutnya dengan warna merah terang, dan menggunakan softlens berwarna merah terang juga di manik matanya.


Lama-kelamaan bus yang ditumpangi Pradita bertambah banyak penumpang yang masuk. Lalu setelah bus terisi semua kursinya, bus tersebut mulai melaju dengan cukup cepat.


“Rupanya yang ingin mengikuti tes masuk ini cukup banyak, dan terbilang sangat banyak. Aku amati 15 bus semuanya sudah terisi penuh,” batin Pradita sambil melirik ke kiri dan ke kanan penuh kewaspadaan.


Sikap waspada ini Pradita harus tunjukan, karena menurut Zevalia tes ujian masuknya sudah dimulai ketika mereka mulai duduk di kursi bus tersebut.


Ujian tes pertama adalah bertahan sampai tempat sekolah pembunuh bayaran bernama Hosfu di hutan gunung Latimojo.


Para peserta satu sama lain harus saling membunuh di dalam bus yang sedang melaju cukup cepat. Maka dari itu Pradita sudah bersiap dengan memakai dua sarung tangan kejut yang sudah diisi amunisi jarum tidur.


Pradita akan bereaksi, kalau ada peserta lain di dekat dirinya yang akan menyerangnya. Selama mereka tidak menyerangnya, maka Pradita tidak akan menyerang duluan.


Tanpa disadari oleh semua peserta, bus sudah memasuki hutan gunung Latimojo, dan suasana di dalam bus sangat gelap. Karena memang mereka menuju ke sekolah Hosfu harus malam hari.


“Aku harus bersiap,” gumam Pradita mengeluarkan kodachi dan menyelipkannya di dalam pinggang belakangnya.


Terdengar suara teriakan, dan menunjukan ujian telah dimulai. Satu persatu dalam kegelapan para peserta dibantai oleh pemuda yang memakai kacamata tersebut yang duduk di depan kursi Pradita.

__ADS_1


Pemuda tersebut mempunyai keahlian melempar belati yang sangat ahli. Bahkan dalam kegelapan pun dalam sekali lempar, ia bisa mengenai tengkuk atau dahi targetnya.


“Hahahaha ….”


Pemuda tersebut tertawa jahat sambil menyeringai, karena begitu menikmati pembantaian yang dilakukannya saat ini.


Sekilas wajahnya yang tersorot lampu jalan terlihat menoleh ke arah Pradita dengan tersenyum menyeringai.


Pradita sama sekali tidak takut, dan tidak merasa tertekan terhadap pemuda berumur 20 tahun tersebut. Walaupun Azriel mengeluarkan hawa membunuh yang sangat pekat.


Di dalam bus tersebut hanya tersisa dua orang, yakni Azriel, dan Pradita. Semuanya dibunuh oleh Azriel dengan gerakan tangan yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa.


Azriel melemparkan pisau belati yang memiliki bilah lengkung, dan berbilah ganda ke arah Pradita, serta berputar seperti gasing yang sangat cepat.


Dengan gerakan secepat kilat, Pradita menebas secara vertikal menggunakan kodachi yang ditarik dari belakang pinggangnya.


Terdengar suara dentingan yang cukup keras akibat bilah pedang yang diayunkan Pradita berhasil membelah belati berbilah ganda tersebut.


Pradita tidak menanggapi, dan kembali duduk di kursinya. Tiba-tiba mobil bus berhenti, dan pintunya terbuka otomatis. Terdengar suara tembakan beruntun, menunjukan ujian kedua dimulai.


Ujiannya sama, siapa yang bertahan, dan sampai di depan pintu gerbang sekolah Hosfu, maka dinyatakan lulus.


Peserta harus menempuh perjalanan 1 km dengan jalur yang sangat terjal, licin, dan dipenuhi jebakan. Makanya hutan bagian dalam gunung Latimojo tidak ada yang berani masuk ke dalamnya.


Para peserta yang tersisa dari bus yang lainnya sudah mulai berlari. Anehnya dari 14, hanya bus yang dinaiki oleh Pradita yang pesertanya sedikit. lolos ke ujian kedua. Lainnya malah tidak saling membunuh, dan beralasan membunuh atau tidak membunuh mereka tetap lolos. Asalkan bisa sampai kedepan pintu gerbang sekolah Hosfu.


Azriel menunjuk tegas ke arah Pradita yang telah keluar dari dalam bus, dan menantangnya, “Bagaimana kalau kita berlomba? Siapa yang membunuh lebih banyak, maka yang kalah harus pulang dan tidak boleh mengikuti ujian babak ketiga?”


Mata Pradita berkeliling mengamati setiap sudut pepohonan disana. Ada beberapa sekelebat bayangan, dan juga CCTV yang terpasang di beberapa pohon, juga terbang dibawa oleh drone.


[Tongteng … Tongteng! Misi utama otomatis diterima]

__ADS_1


<>............¤………..<>


[Misi utama: Bunuh 10 pengawas yang sedang mengawasi ujian kedua dengan cara apapun, dan tunjukan kebrutalan host dalam membunuh]


[Batas waktu: 30 menit]


[Hukuman: Host akan terbunuh oleh pengawas ujian]


[Hadiah: Uang Rp,1.000.000.000, dan 2.000.000 poin sistem]


<>............¤………..<>


Tanpa basa-basi dengan tatapan mata setajam manik mata Elang, Pradita melompat ke salah satu dahan pohon. Lalu menembakan jarum dari kedua sarung tangannya ke arah salah satu pengawas yang sedang bertengger di salah satu dahan pohon di sebelah utara.


Suara dentingan pedang terdengar cukup jelas. Suara tersebut diakibatkan oleh jarum-jarum yang berhasil di tangkis satu persatu oleh salah satu pengawas ujian yang menjadi target Pradita.


Akan tetapi pengawas ujian tersebut merupakan seorang pembunuh bayaran yang sangat terlatih dengan insting bertahan, dan membunuh yang sangat kuat. Makanya serangan Pradita di tangkisnya dengan mudah.


Pradita dilempari shuriken oleh pengawas tersebut, disusul oleh Azriel yang juga melemparkan belatinya secara bertubi-tubi.


Mau tidak mau Pradita mengeluarkan satu pedangnya yang lain, yakni pedang wakizashi untuk membuat pertahanan yang cukup absolut. Supaya belati-belati, dan shuriken-shuriken tersebut tidak mengenainya.


Alhasil belati-belati, dan shuriken-shuriken tersebut berhasil dipentalkan ke berbagai arah. Bahkan ada beberapa belati yang dibalikan lagi oleh Pradita ke arah Azriel.


Akan tetapi sang pengawas sudah berada di belakang Pradita. Ia bergerak cepat tanpa disadari oleh Pradita, dan menusukan pedang ninjatonya tepat mengenai punggung kanannya, hingga menembus sampai ke tulang rusak kiri Pradita.


"Guhak!" Pradita memuntahkan darah, dan saat itu pula kepala Pradita ditendang dengan tendangan salto yang cukup keras, hingga terlempar ke kiri, dan berputar di udara.


Azriel menggunakan kesempatan tersebut untuk melempar belatinya lagi ke arah Pradita, dan sang pengawas.


Sang pengawas berhasil menepis belati tersebut, dan dipentalkan ke samping kanan, hingga tertancap ke pohon di sebelah kanannya.

__ADS_1


Sedangkan belati yang mengarah ke Pradita berhasil menusuk paha kanan Pradita, hingga paha kanannya itu banjir cairan merah kental.


__ADS_2