
Keesokan paginya, Apartemen Unisula, pusat kota Cirebon.
Pradita sangat kelelahan, karena ia pulang pada saat larut malam. Apalagi setelah membereskan kelima ketua gembong terbesar di pulau Jawa beserta lima puluh anggotanya.
Baru saja matanya terbuka, ia mendapatkan kabar dari Sumi. Ia mengatakan kalau jam dua belas siang nanti Pradita harus datang ke pantai Ketapang, dan akan dijemput oleh Helikopter yang akan dikirimkan oleh Brock.
Tanpa basa-basi lagi Pradita segera membersihkan diri. Setelah itu segera mengabari Wilma, dan Rena untuk menyiapkan pasukan pendukung untuk menangkap Brock saat mereka berdua bertransaksi.
Akan tetapi, saat Pradita sudah selesai memakai baju, ponsel UR Predacon miliknya berdering dan memunculkan sebuah nomor tidak dikenal. Ia penasaran dan mengangkatnya, tetapi saat diangkat ternyata itu adalah suara Eugene.
“Temui aku satu jam lagi di titik koordinat yang akan aku kirimkan! Kalau tidak ingin melihat kedua asisten pribadimu membusuk di dalam tanah!”
Panggilan itu terputus dan satu detik kemudian Pradita menerima lokasi yang harus ia tuju sekarang. Rupanya Nathalia, dan Nathania yang dikawal oleh 10 preman culun. Ternyata keduanya telah diculik oleh anak buah Eugene.
Pradita menggenggam erat kepalan tangannya dengan raut muka merah padam, “Sompret! Dia sudah berani menargetkan orang-orang di pihakku! Lihat saja nanti!”
Langkah kakinya sangat cepat ditujukan untuk keluar dari gedung apartemen Peninsula. Bahkan saking marahnya, Pradita menabrak pintu kamarnya sampai ambruk.
Ia berlari sangat cepat menggunakan teknik Naga Dhanindra menuju salah satu pabrik kosong di kawasan pabrik Sindang Laut. Hanya dalam 30 hembusan nafas, Pradita sampai di depan pabrik kosong di samping jalan provinsi yang menghubungkan wilayah Kecamatan Sindang Laut dengan kecamatan Losari.
Matanya berkeliling sambil berjalan masuk ke dalam pabrik kosong. Pradita terus waspada, takutnya ada serangan tiba-tiba yang dilancarkan oleh anak buah Eugene, atau bahkan Eugene itu sendiri.
“Woy, anak muda sampah! Kemarilah!” teriak Eugene dari dalam memanggil Pradita yang begitu serius. Itu terlihat dari tampangnya yang menyeringai tajam.
...[Tongteng Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan uang Rp,30.000.000 dari mengupil sebanyak 3000 kali dan sudah ditransfer ke saldo sistem]...
__ADS_1
“Lepaskan mereka berdua! Nathalia, dan Nathania tidak ada urusan dengan kau!” bentak Pradita dengan raut muka dipenuhi urat otot.
“Sungguh kau pandai bercanda Pradita! Lalu kamu merenovasi rumah dari tanah yang sudah kami beli itu untuk apa? —”
“Tunggu, aku tidak pernah menjual rumah, dan tanahku pada siapapun! Semua surat-suratnya juga masih ada padaku!” potong Pradita dengan suara menggelegar, dan aura membunuhnya memenuhi seluruh ruangan pabrik kosong.
Eugene mengernyit, sebab tak menyangka kalau Pradita punya aura membunuh yang sangat pekat. Padahal dari informasi yang didapatkannya dari intel yang dipercayainya, kalau Pradita belum pernah membunuh satu orang pun, dan bagaimana mungkin seseorang yang belum pernah membunuh, bisa mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat?
“Oh, kamu masih mengelak, ya? Lalu yang aku pegang ini apa?” Eugene mengeluarkan sertifikat tanah milik Pradita (tapi itu palsu). Dibuat seolah-olah terlihat asli karena ditandatangani oleh pejabat desa setempat.
“Sebaiknya kamu hengkang dari tanahku, dan aku tidak akan meminta ganti rugi atas kerusakan yang au buat tempo hari pada shelter yang telah aku dirikan.”
“Ck, dasar manusia tolol! Apakah kamu tidak tahu jika surat tanah yang kau pegang itu palsu? Walaupun sudah bertanda tangan pejabat setempat,” cibir Nathania dengan senyuman sinis.
Ia tidak takut sama sekali, meski kepalanya ditodong pistol milik Eugene. Pradita mengeluarkan surat tanah, dan rumah yang dimilikinya, lalu menunjukkannya secara jarak jauh pada Eugene.
Eugene geram dan menarik pelatuk senapan magnum yang mengarah ke kepala Nathalia, dan moncong senapan memuntahkan proyektil peluru. Namun, sebelum peluru menembus kepala Nathalia, Pradita yang memiliki kemampuan menembak yang cukup hebat menembak proyektil peluru yang dalam pandangan matanya tersebut sangat lambat.
Alhasil peluru asli tersebut melenceng setelah terkena peluru karet yang ditembakan oleh Pradita. Rupanya ia sudah menyiapkan senapan magnum sauer P226 di pinggangnya.
Merasa tembakannya gagal, Eugene kembali akan menembakan senapannya, tapi diarahkan ke kepala Nathania yang duduk terikat berdampingan bersama Nathalia.
Sebelum itu terjadi, Pradita melesat dengan teknik Naga Dhanindra sambil mengeluarkan satu buah pedang kodachi. Pedang itu diayunkan secara vertikal ke lengan kanan Eugene yang memegang senapan magnum.
Senapan tersebut terjatuh dan langsung ditendang sejauh mungkin oleh Nathalia. Eugene melompat mundur dengan raut muka kesakitan.
“Kampret! Aku takan membiarkan kalian bertiga keluar hidup-hidup!” hardik Eugene lalu bersiul lantang untuk memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengeroyok Nathalia, Nathania, dan Pradita.
__ADS_1
Pria bergaya rambut harajuku tersebut segera memotong tali yang mengikat kedua tangan, dan kedua kaki kedua gadis kembar tersebut menggunakan teknik Naga Taksaka.
“Mustahil?” Nathalia. dan Nathania menjatuhkan rahangnya melihat fenomena aneh di depan matanya, yakni Pradita memotong tali yang mengikat tangan dan kaki mereka berdua hanya dengan kedua jari kanannya.
Pradita tidak menghiraukan hal tersebut, malah memberi Nathania dua pedang kodachi, dan Nathalia satu pedang Ninjato yang diambilnya dari punggungnya yang terhubung dengan inventaris sistem.
“Aku sudah tahu identitas kalian berdua yang dijuluki ‘Lightdark Twins’. Walau kalian bukan tandingan pria botak itu, tapi kalian pasti bisa melumpuhkan mereka semua, meski hanya menggunakan pedang berbilah tumpul yang kalian pegang,” terang Pradita dan mengeluarkan pedang katana dari punggungnya yang sudah terhubung dengan inventaris sistem.
Gorena bekas hantaman di lengan kanan Eugene seketika sembuh. hal itu terjadi karena Eugene menggunakan nano mecha organoid yang dikembangkan oleh Organisasi Sevenfall sebagai senjata utama mereka.
Kurang lebih 150 anak buah Eugene keluar, dan rata-rata hanya preman kelas teri yang membawa senjata parang, tongkat besi, tongkat kayu, celurit, rantai, juga badik.
Nathalia, Nathania, dan Pradita saling memunggungi dengan tatapan waspada untuk mengukur kekuatan 150 anak buah Eugene yang telah mengepung mereka bertiga dengan raut muka garang.
Satu persatu anak buah Eugene menyerang, dan Eugene sendiri hanya berpangku tangan sambil menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang di dalam ruangan tersebut, sambil melihat mereka bertiga dihabisi oleh anak buahnya.
Pradita terus menghindar dengan teknik weaving, begitu pula dua gadis kembar melakukan hal yang sama. Bahkan berguling ke kanan dan ke kiri, juga melompat agar terhindar dari hantaman senjata tajam yang mereka lesatkan.
“Menjauh!” teriak Pradita sambil melompat tinggi dan ditujukan untuk kedua gadis kembar.
Kemudian kedua gadis kembar juga ikut melompat, lalu berlari cepat dengan memijak kepala anak buah Eugene.
Pradita meluncur cepat ke arah kerumunan anak buah Eugene yang sudan mengacungkan senjata mereka ke arahnya.
“Teknik Naga Wanabaya!” serunya sambil menghantamkan pedang katana tersebut ke salah satu kepala anak buah Eugene.
Hantaman keras pedang tersebut menimbulkan suara ledakan seperti dentuman meriam disertai gelomban kejut yang sangat kuat.
__ADS_1
Alhasil 50 anak buah Eugene terpental beberapa meter, dan menimpa rekan-rekan yang berada di belakangnya.