SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 64


__ADS_3

Setelah selesai dengan perkara kesejahteraan masyarakat, Pradita dan Nira pergi ke kantor cabang Bank BJB. Pria bergaya rambut harajuku tersebut ingin mengakuisisi sahamnya sebanyak mungkin.


Saat masuk lobi Bank BJB keduanya disambut ramah, tapi tidak ramah oleh para nasabahnya yang notabene kelas menengah ke atas. Apalagi mereka rata-rata seorang pengusaha dan orang kaya baru dengan segudang hal-hal yang terpakai di badannya menggunakan merk brand terkenal.


Penampilan Pradita yang memakai baju santai cukup membuat mereka tidak mengenali pria bermanik mata hitam tersebut yang pernah viral beberapa waktu yang lalu.


“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tawar sekuriti yang berjaga dekat mesin tiket antrian nasabah.


“Aku bisa bertemu dengan manajer Bank ini. Aku ingin berbicara penting mengenai tujuanku mengakuisisi saham Bank BJB —”


“Tuan, mohon maaf. Untuk hal ini setahuku tidak ada, kami hanya menerima kredit, debit, dan juga simpan, serta pembelian valas,” potong sekuriti itu dengan raut wajah agak ketus.


“Pak, anda ini bawahan. Harusnya apa yang diinginkan calon nasabah disetujui dahulu. Apa susahnya sih untuk bertemu manajer Bank ini? Bapak akan menyesal kalau tahu Mas Pradita itu siapa —”


“Alah, paling gembel yang sukanya mager dan bermimpi dapat uang banyak dari main game slot,” potong nasabah laki-laki yang memakai banyak perhiasan emas.


Pradita yang semula santai dan diam, tiba-tiba mulai panas. Lalu berjalan cepat ke arah teler, dan memberikan kartu Black SVIP miliknya itu pada teller wanita tersebut, dan berkata, “Ambil semua uang yang ada di dalamnya! Aku tak peduli berapa biaya penarikannya, pokoknya ambil semua!”


Teller wanita itu tersentak kaget, dan raut wajahnya pucat pasi. Mana mungkin kantor cabang bisa mengeluarkan uang lebih dari 100 milyar dalam sekali tarikan. Ia meraba-raba dan mengkalkulasi dengan kartu hitam yang dimiliki Pradita, kemungkinan besar minimal adalah 1 triliun.


“Mohon maaf, Tuan. Sepertinya kami tidak bisa menyetujui penarikan kartu anda di bank kami. Nominalnya terlalu besar, kami sudah mengecek saldo anda dan berjumlah 20 triliun sekian,” terang teller wanita sambil menunduk hormat pada Pradita.


Semua nasabah yang tadinya memandang sinis Pradita langsung kena mental mendengar penuturan Teller tersebut yang menyebutkan saldo rekening milik Pradita berjumlah sangat fantastis.

__ADS_1


“Baik, kalau tidak bisa aku ingin bertemu dengan manajer bank Anda, Nona,” balas Pradita sambil mengerling manja pada teller wanita yang cukup cantik dengan riasan wajah yang minimalis.


Lagi-lagi Nira terbakar api cemburu, karena Pradita selalu mengumbar harapan pada wanita yang ditemuinya. Padahal Pradita seperti ini karena efek pemblokiran sistem pada teknik Naga Taksaka yang berakibat sifat Pradita lebih genit pada wanita yang baru ditemuinya.


Pradita dan Nira pun secara khusus diantarkan oleh Teler wanita tersebut menuju ruangan manajer bank. Padahal manajer bank pusat setiap kabupaten tidak berhak menerima pengajuan akuisisi saham, tetapi bisa mengajukan ke kantor pusat untuk pengajuan akuisisi saham ke direksi Bank BJB.


Teler mengetuk pintu manajer bank BJB cabang kabupaten Cirebon, dan mereka bertiga dipersilahkan masuk.


Pradita dan Nira mengulas senyum ramah pada Manajer Bank bernama Saptoari tersebut.


“Maaf, mengganggu waktu anda, Tuan Saptoari,” kata Pradita dengan mengulas senyum ramah dan menyodorkan tangannya.


Pradita mengenal Saptoari dari Red Queen yang banyak memberikan informasi mengenai manajer bank cabang Kabupaten Cirebon tersebut.


Saptoari yang sedang duduk membaca kertas-kertas berisikan laporan sejenak berhenti dari aktivitasnya, dan menurunkan kacamatanya sedikit. Setelah beberapa saat memindai Pradita, ia pun berdiri dengan mengulas senyum, dan menyambut tangan Pradita untuk berjabat tangan.


“Tidak, Tuan. Silahkan duduk! Sepertinya ada kepentingan yang mendesak dengan kami ya?” seru Saptoari sambil melambaikan tangan kirinya.


Pradita dan Nira pun duduk, lalu Pradita terus terang menyatakan maksudnya, “Aku ingin mengakuisisi saham bank BJB, kalau bisa ya 100% —”


Saptoari terkejut setengah mati, hingga ia tersedak, “Uhuk … uhuk ….”


“Tuan Saptoari, anda tidak apa-apa?” tanya Nira khawatir.

__ADS_1


“Uhuk …. Ti-tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja. Kami tahu bank sedang mengalami sedikit masalah. Namun masalah ini hanya internal yang tahu. Mohon maaf, Tuan. Darimana anda tahu kalau kami membutuhkan dana yang cukup tinggi untuk mengupgrade sistem operasional kami?” tanya Saptoari menyelidik.


“Sungguh, kami tidak tahu. Aku datang memang dari awal dengan niatan ingin mengakuisisi saham Bank BJB kalau bisa 100% sahamnya menjadi milikku,” jawab Pradita datar.


“Begini, untuk pengajuan akuisisi. Tuan harus bertemu dahulu dengan beberapa direksi kami di kantor pusat untuk diverifikasi —”


“Verifikasi? Apa maksud anda? Apakah anda tidak tahu jika Mas Pradita Mahendra ini pemilik Union Group yang mengakuisisi 50% saham PT.MMK yang sekarang sedang melejit. Anda sebagai seorang bankir ketinggalan jauh update informasinya, payah,” potong Nira kesal sambil mengacungkan jempol ke bawah.


"Nira, jangan menekan seperti itu. Kalau memang tidak mau atau tidak bisa, biar aku akan mengakuisisi bank-bank lain disini. Lalu mengakuisisi seluruh perusahaan di jalur segitiga emas pusat kota Cirebon, dan semua perusahan yang diakuisisi olehku tidak boleh menggunakan, serta bertransaksi dengan bank BJB —”


“Ba-baik, Tuan Pradita Mahendra. Saat ini juga aku akan menelepon direksi pusat untuk melakukan pertemuan sekarang juga dengan anda,” potong Saptoari dengan raut wajah seputih, dan bulir-bulir keringat dingin membasahi kepalanya.


Bagaimana tidak terkena serangan mental. apa yang dituturkan oleh Pradita bisa membuat cabang Bank BJB di kabupaten Cirebon bangkrut, dan itu artinya Saptoari akan dipecat, karena tidak ada pemasukan ke bank.


Saptoari langsung menelepon General Manajer bank BJB dan menceritakannya dari awal sampai akhir. General Manajer penasaran dan ingin segera mengundang Pradita ke kantor pusat bank BJB untuk membicarakan akuisisi bank BJB oleh Union Group, sekaligus berbicara langsung dengan para komisaris dan direksi bank BJB.


“Tuan Pradita, aku meminta maaf jika kata-kata aku terutama tidak berkenan. Mohon jangan diambil hati. Sebentar lagi Pak Gumijang akan datang sendiri langsung menggunakan helikopter untuk menjemput anda, dan membawa anda langsung bertemu dengan dewan komisaris dan dewan direksi,” terang Saptoari sambil menunduk hormat pada Pradita.


"Terima kasih Tuan Saptoari. Budi baik anda akan selalu aku ingat,” balas Pradita dengan mengulas senyum ramah, walaupun diperlakukan kurang sopan oleh bawahannya.


Untuk menunggu helikopter yang akan menjemput mereka berdua, Pradita dan Nira dipindahkan ke ruangan khusus, supaya tidak bosan menunggu, dan dijamu secara spesial.


Hal ini dimanfaatkan oleh Nira untuk berduaan dengan Pradita. Kapan lagi ia bisa berduaan dengan Pradita tanpa ada yang mengganggu? Bukan begitu anak muda?

__ADS_1


__ADS_2