SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 63


__ADS_3

Setelah selesai di Alfamart, Nira, dan Pradita beralih ke Indomaret untuk melakukan hal yang sama memborong semua isinya.


Namun, kasir Indomaret, dan Alfamart kebingungan memproses barang sebanyak itu.


“Mas, ini banyak sekali. Aku usul, kalau memang buat dibagikan buat warga desa Sunyaragi, lebih baik warganya ke sini saja pak, dan tetapkan nominalnya berapa untuk satu orang. Biar kami mudah,” usul Rika dan dianggukan rekan serta staff Indomaret.


“Ada toa?” pinta Pradita, tapi langsung menggeleng pelan, dan berkata pada Red Queen di ponselnya, “Beritahu semua warga Sunyaragi menggunakan toa tempat ibadah sekitar untuk mereka semua kemari!”


Semua orang terkejut saat melihat hologram anak kecil perempuan muncul di samping Pradita, “Siap, bos!” balasnya dengan senyuman tipis.


Tiba-tiba terdengar suara Red Queen dari tempat ibadah setempat yang mengumumkan untuk warga desa Sunyaragi, supaya menuju Indomaret, dan Alfamart sekitar, karena akan diberikan gratis berbelanja satu orang 300 ribu.


Setelah pengumuman Red Queen selesai, para warga berbondong-bondong datang. Nira yang datang ke Cirebon membawa banyak bodyguard segera menyuruh anak buahnya untuk mengamankan para warga, supaya tidak ricuh.


Melihat bodyguard yang dibawa oleh Nira badannya kekar, berwajah seram, dan garang, semua warga ketakutan. Pada akhirnya mau berbaris rapi, setelah diatur oleh para bodyguard Nira.


“Pak, Bu! Dengarkan aku ya! Satu orang bebas memilih apapun, dan senilai aku tambahkan Rp,500.000. Nanti diatur 10 orang dahulu setiap sesi, dan harap cepat ya!” terang Pradita dengan senyum yang ramah, dan membuat para emak-emak, janda pirang, juga gadis yang sudah tak suci meleleh hatinya.


Sesuai arahan Pradita, para warga masuk ke dalam Indomaret, dan Alfamart. Namun saat antrian sudah berjalan 50%, tiba-tiba ada yang menggebrak mobil Nira. Ternyata ada 50 orang preman setempat yang tak terima, kalau ada acara tidak izin pada kepala preman setempat.


“Mana ketuanya?” teriak kepala preman.


Pradita keluar dari kerumunan warga. Ia tidak mau melibatkan siapapun, karena memang dia sendiri yang bertanggung jawab membuat kericuhan seperti ini.


“Aku, ada apa bung?” jawab Pradita ramah.


Kelima preman yang tempo hari dibabak belurkan Pradita yang berdiri di baris paling belakang langsung menyingkir, dan kabur. Karena tidak mau lagi berurusan dengan pemuda tampan tapi jagoan itu.

__ADS_1


Pradita melirik ke arah Nira, dan 10 anak buahnya untuk jangan ikut campur, serta tetap fokus saja mengamankan warga.


“Bayar upeti! Tolol!” hardik kepala preman sambil menunjuk dahi Pradita dengan raut muka merah padam. Tentu saja itu tidak sopan, tapi Pradita santai saja menanggapinya.


“Baiklah, aku akan membayar upeti, tapi kalau pukulan kalian bisa mengenai pantatku ini!”


Pradita menungging ke arah kepala preman tersebut sambil menepuk-nepuk pantatnya.


“Jahara! Serang!” teriak kepala preman yang tak terima dihina seperti itu.


Para preman yang hanya tersisa 45 orang termasuk kepala preman tersebut berlarian ke arah Pradita. Para warga ketakutan, tapi 10 anak buah Nira, dan Nira menenangkan mereka, untuk tetap berbelanja.


Pradita menghindari setiap pukulan, dan tendangan dengan memiringkan badan, serta kepala, atau dengan teknik weaving yang dipakai oleh para petinju.


Pukulan-pukulan, dan tendangan-tendangan yang dilayangkan oleh para preman hanya mengenai ruang kosong di sekitar tubuh Pradita. Sebab gerakan reflek tubuh Pradita sangat licin bagai belut putih.


Pradita memukul salah satu preman tepat mengenai ulu hati dan langsung memuntahkan seteguk air, dan disambung serangan kentut beracun dari pantat Pradita yang ditunggingkan tepat di depan hidung sang preman.


Suara kentutnya memang tidak terdengar, tetapi sangat bau seperti bau jengkol premium yang semerbak wanginya meluluhlantakan para pembenci jengkol premium.


Satu persatu para preman berjatuhan, bukan karena pukulan Pradita, tetapi karena serangan gas beracun jengkol premium yang begitu semerbak wanginya.


Cukup dengan serangan tersebut 44 preman terkapar di permukaan tanah. Bahkan para pejalan kaki saja ada yang pingsan, karena saking semerbak wanginya dari gas beracun jengkol premium.


Pradita mendekati kepala preman yang sudah terduduk lemas sambil mundur, karena sangat takut disembur oleh pantat Pradita menggunakan gas beracun jengkol premium.


Kepala preman berlutut di depan Pradita dan memohon, "Ampun, Bos! Ampun! Jangan hukum aku dengan semburan gas beracun itu. Lebih baik aku mandi kembang tujuh rupa, dan guyuran terakhir dengan bunga bangkai daripada aku harus mencium gas beracun itu.”

__ADS_1


“Lihat wilayah ini! Aku banyak mendengar jika kalian terus berulah di wilayah sini. Aku juga menemukan banyak bukti kejahatan kalian! Kalau kalian kelihatan olehku satu saja kalian berbuat jahat. MAka aku tak segan menghukum kalian dengan mengirimkan bukti kejahatan kalian pada polisi,” ancam Pradita.


Ia pun memperlihatkan ponselnya ke kepala preman berisikan rekaman beberapa anak buahnya yang tertangkap kamera CCTV sedang berbuat kejahatan.


“Si-siap, Bos! Kami tidak akan melakukannya lagi. Tapi kami juga butuh makan —”


“Gampang! Bangunkan teman-teman kalian, dan esok hari datang kesini! Aku akan memberikan kalian pekerjaan. Sekarang pergi!” hardik Pradita.


Kepala preman itu menepuk pipi satu-persatu anak buahnya, supaya bangun. Ia melakukan hal tersebut dengan tubuh menggigil, dan raut wajah seputih kertas. Ia belum pernah merasakan ketakutan yang sangat dalam, kecuali saat berhadapan Pradita yang seperti malaikat maut di hadapannya.


Para preman pun bangun, karena memang Pradita menyembuhkan mereka menggunakan penyembuhan dari sistem.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Memotong uang Rp,100.000.000 untuk menyembuhkan 45 orang preman dari amukan gas beracun jengkol premium]...


“Kampret kau sistem! Gas kentutku disebut gas beracun jengkol premium! Memangnya aku apakah?” batin Pradita kesal.


Setelah para preman itu pergi, para warga yang sudah mendapatkan haknya dari Pradita malah berbaris rapi di halaman Indomaret, dan Alfamart. Mata mereka semua berkaca-kaca, dan ada pula yang menangis, karena mereka semua merasakan ternyata ada yang peduli juga pada kesejahteraan mereka.


Pradita yang melihatnya juga ikut berkaca-kaca matanya, bahkan sampai matanya menggenang. Padahal menurutnya itu hanya hal kecil, tapi menurut mereka itu adalah hal besar yang bisa memicu tangis kebahagiaan.


“Pak, Bu!” Pradita tak kuasa menahan air matanya, dan beberapa kali menyeka air matanya. “Pak, Bu! Mohon dikoordinasikan dan di data, pertama yang belum bekerja, kedua yang kurang sejahtera. Nanti berikan langsung ke aku di unit apartemen lantai 10 nomor 21.”


“Ba-baik, Tuan muda,” balas salah satu seorang warga laki-laki.


Satu persatu warga sebagai rasa terima kasih mencium tangan Pradita yang dianggap mereka adalah seorang malaikat, karenanya hidup mereka yang terhimpit masalah ekonom sedikit longgar, dan dada mereka yang sesak, karena memikirkan esok hari mau makan apa, jadi begitu lapang.

__ADS_1


__ADS_2