
Pradita hanya tersenyum tipis menanggapi ancaman Malik. Baginya itu hanya omong kosong belaka, karena sebelumnya Malik justru tertidur setelah ia terkena anak panah miliknya. Yaitu pada saat pembajakan di pesawat Maskapai Emirates.
“Oh, orang yang tertidur di dalam pesawat saat pembajakan bisa juga berkata seperti bau air seni, ya?” cibir Pradita.
“Jangan banyak cingcong, Kecoa!” raung Malik.
Pada saat bersamaan cyborg armor suit yang menutupi sekujur tubuhnya mengeluarkan asap yang mendesis. Sesaat kemudian ia melesat, dan menghilang dari pandangan semua orang.
Cyborg armor suit yang bernama RG Strike Armor memiliki efek meningkatkan massa otot, dan reflek tubuh sampai 300% selama 30 menit pada penggunanya.
Tiba-tiba saja Malik muncul di samping kiri Pradita dan langsung melayangkan tendangan ke arah mukanya. Namun, ditangkis dengan bilah pedang Shirasaya, hingga membuat tubuh Pradita terpundur beberapa meter.
“Uugh!” Pradita meringis kesakitan, walau sudah menguatkan pertahanan tubuhnya dengan teknik Naga Anubra.
Tubuh Malik juga tiba-tiba berkedip, karena saking cepatnya efek yang diberikan RG Strike Armor. Tiba-tiba Malik sudah berada di atas Pradita, dan menghantamkan tendangan secara vertikal dari atas ke bawah.
Lagi-lagi Pradita menangkis dengan bilah pedang Shirasaya, tetapi tangkisan tersebut bisa dipatahkan oleh hantaman tendangan Malik yang sudah dimaksimalkan.
“Aaakh!” pekik Pradita, karena tubuhnya ambles, dan hanya menyisakan kepalanya saja di permukaan arena.
Semua penonton menertawakannya, karena tubuh Pradita seperti itu, hanya Nabila yang meringis ngilu saat melihat kondisi Pradita.
“M-mas, Pra-pradita? lirih Nabila meneteskan air mata di kedua pipinya.
Malik mendekati Pradita dengan tersenyum sinis, lalu menertawakannya dengan raut muka menyeringai, “Hahaha … saat ini juga nyawamu akan aku cabut sebagai balas dendam atas kematian Dante!”
Pria berwajah Arab, dan memiliki jambang seperti sang Raja dangdut itu terlihat mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi. Lalu mengumpulkan tenaga untuk bersiap menghantam kepala Pradita hingga pecah.
Akan tetapi, Pradita meraung keras, dan dari dalam tubuhnya mengeluarkan gelombang kejut, hingga membuat permukaan arena berserakan, “Aaaargh! Teknik Naga Suryadaksa!”
Tubuh Malik pun terpental lusinan meter. Pada saat itu pula Pradita mengeluarkan tujuh pedang dan mengapit ke-enam pedangnya di sela-sela jari, serta satu Pedang Nodachi di mulutnya.
__ADS_1
Pradita berputar 360 derajat, dan dari putaranya membentuk pusaran badai yang bercampur dengan uap panas yang keluar dari tubuhnya.
Dari pusaran angin itu juga mengeluarkan siluet-siluet sabit transparan yang melesat ke arah Malik yang masih terpental. Dengan menyilangkan kedua tangannya di depan antara muka, dan dada, Malik menangkis setiap siluet-siluet tersebut.
“Hahaha … percuma saja kau menyerangku, zirah cyborg ini sangat kuat, hahahah …,” cibir Malik dengan senyuman sinis.
“Oh, iyakah?”
Akan tetapi, siluet-siluet sabit tersebut berhasil merobek-robek zirah yang berada di kedua lengan Malik, dan membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saat Malik terfokus pada rasa sakitnya, Pradita melemparkan Pedang Nodachi nodachi dimulutnya cukup dengan dorongan hembusan angin kencang di mulutnya.
Alhasil pedang itu terbang melesat lurus ke arah perut Malik dan menembusnya, “Guhak! I-ini tidak mungkin?” gumamnya dengan melebarkan mata.
Pedang berbilah tumpul tersebut bisa menembus zirah yang memiliki kekerasan hampir setara dengan berlian, karena tingkat kekerasannya dinaikan setelah dialiri energi dari teknik Naga Suryadaksa. Aramain yang semula tenang duduk di kursi singgasananya wajahnya berubah menjadi merah padam dipenuhi urat otot yang menonjol besar.
Pradita melirik tajam ke arah Nabila, begitu juga Zevalia yang berada di samping kanan Nabila. Gadis berwajah Rusia berambut coklat kemerahan tersebut agak kasihan setelah melihat Nabila yang begitu khawatir pada Pradita.
Sebagai seorang perempuan, Zevalia merasa simpati atas sikap khawatir Nabila pada Pradita. Ia belum pernah menemukan seorang wanita yang begitu khawatir pada seorang laki-laki yang selalu saja berada diujung tanduk.
Nabila berhasil dirampas oleh Pradita, dan dibawanya melesat kabur menuju tak tentu arah dengan diikuti oleh Zevalia. Aramain tersenyum licik, dan bergumam, “Larilah kalian kemanapun. Aku sudah menanam nano bom di tubuh wanita itu, dan akan meledak 30 menit lagi, xixixi ….”
Pradita melesat sambil menggendong tubuh Nabila ala bridal style, dan kecepatan larinya bisa diimbangi oleh Zevalia.
“Jangan kesana! Lebih baik kesini!” teriak Zevalia menunjukan jalan untuk Pradita.
Pradita pun memutar arah, dan mengikuti arah lari Zevalia yang sedang dikejar anak buah Aramain. Setelah berhasil keluar dari dalam markas Aramain, anehnya tidak ada satupun anak buah Aramain yang mengejar mereka bertiga yang sudah mengendarai mobil Jeep Willys.
“Lalat, apakah kamu tidak merasa aneh?” celetuk Zevalia yang menyetir mobil Jeep Willys.
“Maksudmu?” Pradita bingung.
“Iya, Mas. Seharusnya mereka mengejar kita, tapi tidak ada satupun yang mengejar kita?” timpal Nabila.
__ADS_1
Pradita mulai berpikir dan merangkai semua kejadian untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Bule, coba kamu ceritakan informasi mengenai si tampan Inggris itu!” pinta Pradita dan tak dimengerti oleh Zevalia.
“Maksudmu, Lalat?” Zevalia tambah bingung lagi.
“Komandan Aramain, maksudnya,” timpal Nabila.
Zevalia ingat sesuatu dan langsung mengerem mendadak. Hingga Pradita yang sedang berdiri di belakang terlempar ke depan melewati mobil tersebut, dan kepalanya masuk ke dalam permukaan pasir.
Pradita menarik kepalanya dari permukaan pasir dengan raut muka dipenuhi urat otot, dan menghardik Zevalia, “Kampret! Jangan seenaknya mengerem Bule gila!”
Zevalia pun turun dari mobil dengan emosi yang sudah naik pitam, karena dihina dengan nama bule gila.
"Apa kau bilang!"
"Bule gila!"
"Sekali lagi!"
"Bule-bule eh bule gila, bule gila! Bleee!"
Mereka berdua malah berantem sampai jual-beli pukulan, dan tendangan. Dengan sigap Pradita turun dari mobil, lalu melerai mereka berdua, "Hentikan! Lebih baik kita bergegas ke bandara dan pulang ke Indonesia supaya lebih aman!"
Pradita, dan Zevalia berhenti berkelahi, lalu menatap tajam satu sama lain. Dada mereka berdua kembang-kempis, dan Zevalia melepaskan cyborg armor suit milik pasukan Aramain, supaya keberadaan mereka bertiga dilacak oleh Aramain.
“Ayo!” ajak Zevalia.
Mereka bertiga pun kembali masuk ke dalam mobil, dan Zevalia yang kembali menyetir dengan sangat brutal melewati padang pasir.
Sembari menyetir, Zevalia menceritakan tentang Komandan Aramain yang ahli dalam perakit bom, dan juga ahli dalam aksi-aksi peledakan bom di berbagai tempat. Bukan hanya bom yang memiliki daya ledak rendah, tapi juga bom dengan daya ledak tinggi seperti nuklir.
__ADS_1
Saat mobil Jeep sudah melewati padang pasir, dan nano bom yang terpasang di pusar Nabila waktunya tersisa 1 menit. Zevalia, dan Pradita merasakan firasat buruk. Intuisi Zevalia mengatakan untuk memberhentikan mobilnya.