SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 33


__ADS_3

Ketua Geng Jaeger bernama Anton, tiba-tiba masuk dengan membawa kedua bodyguardnya yang mengawal di sisi kiri dan kanannya. Dia langsung menelpon manajer restoran Verdant untuk melakukan pemesanan di ruang SVIP 01.


Akan tetapi manajer restoran menolaknya dengan halus, bahwa ruangan tersebut sudah ada yang memesan dan menempati. Tentu saja hal itu membuatnya geram.


“Lihat! Siapa yang berani memakai ruanganku!”


Raut wajahnya sangat dingin, tetapi kedua mata Anton melotot. Dengan cepat kedua anak buah Anton langsung menggedor pintu ruangan SVIP 01 yang berada di lantai dua dengan keras. Tidak mendapat jawaban pasti, mereka langsung membukanya secara paksa.


“Keluar! Ruangan ini milik bos kami!” teriaknya lantang sambil menunjuk ke arah Pradita.


Pria berambut harajuku tersebut langsung melirik tajam ke arah kedua anak buah Anton.


“Silahkan saja jika kalian bisa merobohkanku,” tantangnya dengan tersenyum simpul.


Pradita mengeluarkan senapan Phazzer Enforce dan langsung menembakannya ke arah mereka berdua satu persatu. Kedua anak buah Anton tubuhnya menggelepar di permukaan lantai, layaknya ayam yang baru disembelih.


Anton yang menunggu anak buahnya tak kunjung datang segera menyusulnya. Raut wajahnya merah padam ketika mendapati kedua anak buahnya telah terkapar di tengah-tengah pintu ruangan SVIP 01.


Nathalia, Nathania, dan Pradita justru terlihat santai dan makan dengan lahap. Bahkan saling suap-suapan dengan sangat romantis layaknya seorang pangeran beristrikan putri kembar yang baru saja menikah, dan menjalani bulan madu.


Anton sangat geram. Raut mukanya semakin merah padam, dan penuhi urat otot di wajahnya.


“Biangap, eh biadap! Siapa yang berani melakuan ini? Surikiti, aduh belibet amat sih! Penjaga keamanan, tolong kemari!”


“Aku yang melakukannya,” jawab Pradita datar, dan melanjutkan, “Lalu mau apa? Mau adu jotos? Atau adu tembakan seperti ini!”


Pradita tidak segan-segan menembakan peluru karet ke arah lengan atas kiri Anton. Dengan menggunakan senjata Magnum SIG Sauer P226 yang telah ditaruh di meja makannya.


“Aaakh!” pekik Anton sambil berlutut satu kaki memegangi lengan kiri atasnya, “Biadap! Sialan! Penjaga keamanan! Dia telah menembakku!”


Kedua orang penjaga keamanan tiba bersama wakil manajer restoran dengan wajah garang. Namun, setelah mereka tiba hanya mendapati dua orang terkapar saja, dan Pradita beserta kedua gadis kembar itu malah makan dengan sangat santai seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


“Apa yang terjadi, Tuan Anton?” tanya salah seorang penjaga keamanan dan mengalungkan lengan pria berkumis melintang tersebut ke pundaknya.


“Dia telah menembakku!” tunjuk tegas Anton ke arah Pradita dengan tatapan nyalang.


Kemudian dia menunjukan lengan atas kirinya yang bekas ditembak oleh Pradita, “Lihatlah! Ini buktinya!”


Penjaga keamanan yang lain memeriksa lengan atas kiri Anton, tetapi tidak menemukan luka bekas tembak di bagian tersebut.


“Anda baik-baik saja, Tuan. Tidak ada luka tembak, dan baju Anda masih sangat bersih,” balas penjaga keamanan yang memeriksa lengan kiri atas Anton.


“Tidak mungkin?! Lihatlah dengan jelas! Ini ….” Anton terdiam saat dirinya melihat lengan kiri atasnya baik-baik saja, dan tidak meneteskan darah, walaupun rasa sakitnya masih terasa. “Sumpah dia tadi menembakku!”


“Pffft ….!”


Pradita, Nathalia, dan Nathania hanya bisa terkekeh sambil menutup mulut masing-masing melihat kekonyolan yang dilakukan Anton. Apalagi dia tidak bisa membuktikan jika Pradita telah menembak lengan kiri ata Anton.


Kedua senapannya juga sudah disimpan kembali ke inventaris sistem. Tentu saja agar tidak diketemukan bukti, kalau Pradita yang menembak mereka bertiga.


“Namun, apabila kenyamanan pelanggan diabaikan, apakah mulut ini bisa menjaga untuk tidak mengatakan bahwa Restoran Verdant, restoran yang tidak mementingkan kenyamanan, dan keamanan pelanggan yang telah membayar sepenuhnya ruangan yang dipesannya?” sindir Pradita tersenyum licik.


“Ba-baik, Tuan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami meminta maaf, mohon terimalah!”


Wakil manajer bernama Hong Ming tersebut langsung membungkuk hormat ke arah Pradita sambil menyodorkan kartu Black SVIP milik Restoran Verdant.


“Terima kasih.” Pradita menerimanya dengan tersenyum ramah. “Ayo kita pergi!”


Pradita berjalan melewati Hong Ming, dan setelah berpapasan dengan Anton yang masih dipapah oleh penjaga keamanan, wajahnya didekatkan pada Anton.


Kemudian Pradita berbisik dengan menyeringai, “Permainan ini belum usai. Masih ada babak-babak selanjutnya.”


Rupanya Pradita telah mendapatkan semua identitas petinggi geng peringkat 10 atas di Tangerang Selatan dari Kakek Astra. Bahkan dia telah menghafal setiap wajah mereka satu persatu betul-betul.

__ADS_1


Saat keluar dari ruangan tersebut dan berpapasan dengan Alderts yang sudah diketahui oleh Pradita, bahwa pria berambut biru tersebut terus mengawasinya, dia berkata, “Lakukan sesuka hatimu, Tuan Alderts. Hari ini kamu masih bisa enak menikmati semua jerih payah yang kau terima dari taruhan balap liar. Setelah ini …."


Pradita memperlihatkan wajahnya dengan tersenyum licik, dan tidak melanjutkan perkataannya. Alderts justru terkekeh pelan diancam oleh Pradita. Baginya ancaman Pradita seperti ancaman seekor semut terhadap Gajah, dan semut selamanya akan diinjak oleh Gajah.


Akan tetapi, Pradita sudah menyebar anak buahnya, dari Geng Helucin, dan Geng Zero Crime untuk menimbulkan huru-hara di setiap tempat delapan geng lain. Namun, Pradita tidak memberikan senjatanya ke Geng Helucin, karena tingkat respek mereka masih 50%. Itu artinya ada kemungkinan mereka bisa berkhianat di belakang Pradita.


Setelah keluar dari restoran Verdant, mood Pradita langsung jelek, dan dia ingin segera pulang ke kontrakannya. Namun, dicegah oleh kedua gadis kembar yang sudah bergelayut manja di kedua lengan Pradita.


“Tuan, jangan pulang dulu! Bagaimana kalau Tuan menginap di apartemen kami?” ajaknya serentak.


“Apakah kalian bisa memijat? Punggungku sangat sakit ini, dan bahuku pegal-pegal.”


Pradita menampakan wajahnya yang stres dan depresi, karena beberapa hari ini dia kurang tidur.


“Bisa, aku yang bawa mobil Tuan saja. Nathalia nanti yang membawa mobil kami,” kata Nathania sambil memapah tubuh Pradita yang tiba-tiba lemas, dan wajahnya seputih kertas.


Setelah berkendara mobil selama 10 menit, mereka bertiga akhirnya sampai di apartemen milik kedua gadis kembar tersebut. Pradita terpukau dengan kamar mereka berdua yang begitu bersih, rapi, dan sangat wangi dengan aroma terapi yang bisa membangkitkan hasrat pria.


“Beruntung sekali jika kalian punya suami. Pasti suami kalian akan betah dirumah, karena kamar kalian sangat bersih, rapi dan wangi,” puji Pradita dengan tersenyum lebar.


Nathalia membukakan pintu, dan mereka bertiga. Setelah masuk ke kamar apartemen gadis kembar, Nathania membuka jas, dasi dan kemeja Pradita.


Lalu Nathalia menyemprot tubuh Pradita yang cukup kekar, dengan perut berbentuk seperti roti sobek itu dengan parfum aroma terapi yang sangat wangi. Wangi khas parfum dari Perancis tersebut membuat otot-otot Pradita yang menegang langsung mengendur, dan matanya terasa mengantuk, karena terlalu nyaman.


Tubuh Pradita dipapah ke arah tempat tidur King Size dan ditengkurapkan. Nathalia, dan Nathania melucuti pakaiannya tanpa sepengetahuan Pradita, dan hanya memakai pelindung di atas, serta pelindung di bawah.


“Uuugh! Mantap!” Pradita terpejam matanya sambil menikmati pijatan Nathania yang memijat punggung, dan Nathalia yang memijat betisnya.


“Kalian memang gadis-gadis yang menurutku keren. Uughh! Mantap”


Pradita terus meracau dengan memuji kepiawaian pijatan Nathalia, dan Nathania. Padahal kalau saja dia tahu jika kedua gadis kembar memijatnya dengan hanya memakai pakaian seadanya, bisa-bisa singkong premium kelas beratnya akan bergejolak.

__ADS_1


__ADS_2