
Pradita sudah selesai melakukan tahapan-tahapan membuat kuah bakso, dan juga baksonya. Ia membuka rolling door kedai untuk memulai jualannya. Bersiap untuk melakukan soft launching.
Semua foto menu bakso yang sudah di editing oleh Rivan pun sudah diposting di akun sosial media miliknya. Tepat jam 17.00 kedai bakso Mardono dibuka.
Pradita memakai topeng cyborg enerzone, dan melakukan live streaming melalui akun media sosialnya. Bukan hanya satu akun media sosial, tapi lima akun media sosial menggunakan fitur khusus yang berada di ponsel UR Predacon miliknya.
“Ayo kita mulai bekerja!” kata Pradita penuh semangat.
Lalu mulai bernyanyi beberapa lagu yang sedang hits saat ini. Pradita menutup mukanya supaya tidak diketahui istri-istrinya.
Syarat dalam melakukan misi adalah bisa membus omset 60 juta dalam sebulan. Tentu saja syarat lainnya adalah tidak boleh dibantu oleh istri-istri Pradita.
Sound system sudah diatur sedemikian rupa. Ditaruh di depan kedai menghadap ke jalan yang terkoneksi dengan topeng enerzone. Semua dilakukan agar bisa menarik orang yang lalu lalang sambil mendengarkan Pradita bernyanyi yang sedang jualan bakso.
Setelah satu jam bernyanyi, kira-kira sampai waktu pukul 18.00 WIB. Belum ada satupun pelanggan yang datang. Walaupun bau-bau bakso tersebut menyeruak di sekitar kedai bakso.
Semua terjadi karena para warga yang ada di sekeliling mereka tahu. Kalau makan di kedai bakso Mardono, besoknya langsung didatangi komplotan Gian.
“Sudah jam enam, tapi belum ada yang masuk. Apakah aku harus menurunkan harga jadi 5000 supaya mereka mau makan?” gerutu Pradita sambil mengacak-acak rambutnya, karena sedikit frustasi.
Tiba-tiba ada anak laki-laki gelandangan berumur sekitar 11 tahun yang kelelahan, dan duduk di samping sound system. Raut wajahnya begitu kusut, kumal, dan juga seputih kertas. Ada beban berat terpampang di wajahnya yang sedikit meringis.
“Kenapa, Fek? Kalau mau makan, ayo makan Bakso Abang!” ajak Pradita dengan senyuman ramah.
“Tidak, Bang!” Anak laki-laki gelandangan dengan baju kumal tersebut menggeleng, dan melanjutkan, “Uangku tidak cukup untuk membeli bakso yang Abang jual!”
“Tidak usah bayar. Abang ikhlas ngasih buat Adek. Ayo masuk-masuk!” ajak Pradita sambil menggandeng tangan anak laki-laki gelandangan bernama Akmar tersebut.
Akmar pun duduk dengan rasa canggung, dan Pradita mulai menyiapkan satu mangkuk bakso. Apa yang dilakukan Pradita pada Akmar ternyata tetap terekam di acara live streaming yang sedang dilakukan oleh Pradita.
__ADS_1
Hanya dalam 10 menit, pembeli datang berbondong-bondong setelah melihat Akmar di live streaming makan begitu lahap dengan mata berbinar-binar.
“Bang, bakso merconnya satu!”
“Aku juga bang, bakso isi kejunya satu!”
Pelanggan mulai memesan dan membuat Pradita kelimpungan. Akmar yang tahu diri membantu Pradita, tetapi tidak diperbolehkan oleh pria berambut merah tersebut.
Pradita menekuk punggung tangannya bergantian, hingga terdengar bunyi gemeretak, “Waktunya beraksi! Are you ready too rock!” teriak Pradita dengan pose tangan seorang rocker.
Pradita mulai menyiapkan banyak mangkuk di atas papan penyiapan yang berada di gerobak. Ia melakukan atraksi teknik Naga Taksaka dipadukan dengan teknik dengan teknik jari emas.
Mangkuk-mangkuk itu melayang ke atas, dan hampir saja menyentuh langit-langit kedai. Mangkok-mangkok tersebut mendarat dengan sangat sempurna, lalu di masukan bumbu-bumbu ke dalam mangkok tersebut dengan cara yang anti mainstream, yakni Pradita melompat, dan tubuhnya dalam keadaan terbalik sembari menaruh bumbu.
Setelah terisi bakso di mangkok sesuai pesanan para pelanggan. Mangkok-mangkok tersebut dilempar oleh Pradita ke meja pelanggan-pelanggan sesuai pesanan mereka, dan tak ada satupun yang tumpah atau terjatuh.
Semua pelanggan termasuk Akmar bertepuk tangan dengan raut wajah sumringah. Mereka semua takjub akan atraksi yang dilakukan oleh Pradita dalam menyajikan bakso.
Mereka mulai memakan sesuai kebiasaan cara makan bakso masing-masing. Ada yang mulai menikmati dengan menyeruput kuahnya dahulu, ada yang menikmati dengan memakan bakso kecilnya dahulu.
Ada pula yang makan sayur atau mienya dahulu, serta ada yang memulai makan dengan makan bakso yang besarnya dahulu. Semua terlihat sangat menikmati makanan yang sudah disajikan Pradita.
“Et dah! Baksonya sangat enak, kenyal diluar, tapi lembut di dalam.”
“Makan bakso ini membuat rahimku hangat.”
“Bakso ini benar-benar seperti gelombang tsunami di mulutku. Bisa meluluhlantakan cacing-cacing pita yang sudah lama berdemo keras di dalam perutku.”
Semua pelanggan memberikan penilaian baik, bahkan sangat baik. Sampai-sampai ada yang nambah dua sampai tiga mangkuk karena saking enaknya bakso buatan tangan Pradita.
__ADS_1
“Syukurlah, mereka menyukainya,” gumam Pradita sambil menyeka keringat di dahinya.
Hanya dalam waktu kurun satu jam, bakso Pradita habis. Totalnya terjual 500 mangkuk dengan omset pertamanya jualannya tembus 11,5 juta.
Setiap jenis bakso yang dijual Pradita bervariasi, mulai dari 10.000 sampai dengan 25.000. Untuk varian minumannya juga hanya ada es teh manis, belum ada varian lain karena kekurangan orang untuk membantu.
Saat ini Pradita sedang beres-beres di kedai baksonya. Apalagi suasana kedai sudah sepi pelanggan, karena memang sudah habis bakso yang Pradita jual.
“Bang, terima kasih banyak atas baksonya. Aku mau pulang —”
“Kamu mau pulang kemana? Abang antar ya!” potong Pradita karena kasihan melihat Akmar dengan kondisi memprihatinkan.
Akmar terdiam dengan menunduk pasrah. Sebenarnya ia tidak punya tempat untuk tidur, apalagi tempat untuk pulang.
“Kamu tidak punya tempat pulang, maaf. Abang tidak merendahkanmu, tapi kalau Adek mau, Adek bisa tinggal disini,” sambung Pradita sambil menyodorkan tangannya ke Akmar untuk berjabat tangan.
Sesaat kemudian ia membuka topeng enerzone yang menutupi wajahnya, “Namaku Pradita Mahendra.”
Akmar menyambut tangan Pradita, dan membalas dengan senyuman kecut, “Akmar, Bang …. Ya, aku memang tidak punya tempat tinggal. Aku hanya anak gelandangan, Bang.”
Pradita memeluk erat Akmar, hingga air bulir-bulir meluncur dari kedua pipinya, dan berkata dengan nada sendu, “Sudah, kamu tidak perlu sedih. Nasib kamu, dan nasib Abang sama. Kita sama-sama tidak punya orang tua. Kalau Kamar mau, Akmar bisa tidur disini, walaupun sederhana. Kamu mandi, ya!”
Akmar mengangguk setelah Pradita melepaskan pelukannya. Anak laki-laki berpakaian kumal tersebut diarahkan Pradita ke kamar mandi.
Pradita menutup rolling door kedai, setelah mengeluarkan motornya untuk pergi ke mall guna membelikan baju, dan makanan yang enak-enak untuk Akmar.
Akan tetapi setelah Pradita pergi, Gian yang membawa 50 puluh anak buahnya, menggedor-gedor pintu rolling door. Tentu saja mengagetkan Akmar, dan membuatnya ketakutan, hingga bersembunyi di bawah kolong salah satu meja di kamar Pradita.
"Bang, cepat pulang, Bang. Akmar takut, Bang!" panggil Akmar dengan raut muka seputih kertas, dan memeluk lututnya sendiri dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
"Mardono! Keluar kau, sompret!" berang Gian sambil mengedor-gedor rolling door lebih keras, dan lebih kuat lagi.