SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 57


__ADS_3

Pradita menjentikan jari, dan ia duduk di salah satu kursi depan bartender, “Bro, satu minuman coklat hangat, ada?” pintanya dengan logat bahasa Rusia.


“Siap, Pak Bos!”


Sang Bartender segera mengeksekusi permintaan Pradita yang sekarang menyamar menjadi Alenskie Arov atau dipanggil Arov.


Mata Arov melirik ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang bisa menghubungkannya secara langsung pada Brock.


Tujuannya hanya satu, membeli semua narkoba dari bandar narkoba terbesar di Indonesia. Lalu segera menangkap Brock hidup atau mati.


“Bro, ada barang enak-enak tidak?” 


“Tunggu saja. Nanti si kucing meong akan lewat, dan langsung tawarin pada Tuan Bos. Sepertinya Tuan Bos baru kesini, ya?”


“Ya. Aku pemula, ingin mencoba sesuatu yang baru, dan bisa menghasilkan cuan lebih.”


Mereka berdua mengobrol asyik. Tiba-tiba saja datanglah seorang wanita memakai pakaian seksi. Di kepalanya terpasang bando telinga kelinci putih sedang mendekati Arov.


“Bos Muda? Sepertinya Anda jauh datang-datang dari luar negeri mencari barang yang enak-enak,” tutur Sumi sambil mencolek dagu Arov.


Pria berhidung mancung itu mendekat ke telinga kanan Sumi dengan tatapan manja, “Ya, tunjukan! Bila perlu aku ingin membeli semua stoknya!”


Sumi agak geli, tetapi ia merasa nyaman dengan Arov. Bahkan hasrat perempuannya yang sudah lama padam langsung membara mendengar suara-suara manja yang keluar dari mulut Arov.


Gadis desa nan seksi tersebut menggandeng lengan Arov, dan membawanya pergi ke bagian dapur. Di depan pintu penyimpanan daging, sudah ada dua orang berbadan kekar memakai jas hitam. Mereka berdua langsung menggeledah tubuh Arov yang sudah mengangkat kedua tangannya.


“Clear! Masuk!”

__ADS_1


Sambil tersenyum ramah kepada kedua penjaga berbadan kekar tersebut, Arov kembali dituntun masuk ke dalam gudang penyimpanan daging. Ternyata di dalamnya ada ruangan yang memiliki sebuah mesin pemindai kartu.


Sumi menggesekan kartunya ke mesin pemindai tersebut, dan pintu ruangan tersebut terbuka. Ternyata itu adalah sebuah lift yang menuju ruangan bawah tanah.


Di setiap sudut ruangan terdapat CCTV yang tertuju terus menerus ke arah Pradita yang sedang menyamar menjadi Arov. Brock memang melakukan pengamanan yang sangat ketat.


Hal itu dilakukan agar dirinya aman dalam bertransaksi narkoba ataupun perdagangan manusia, dan senjata ilegal. Kedua mata Arov membelalak saat melihat meja bundar yang sudah dikelilingi oleh banyak bandar besar, termasuk orang yang pernah berseteru dengannya, yakni Rei.


“Aku harus menghubungi Fetucini, supaya mengeluarkan Rei dari lingkaran atas Geng Helucin,” batin Arov dan ia tetap berdiri melihat semua gembong narkoba di seluruh Indonesia sedang tawar-menawar harga dengan Brock.


Mata Brock yang hanya tersisa satu mata tertuju pada Arov yang berdiri saja. Ia mengirim pesan pada Sumi untuk mempersilahkan Arov duduk di salah satu kursi yang baru saja disediakan oleh anak buahnya.


“Bos Muda, kita duduk disana! Aku katakan tidak ada yang berani duduk di kursi yang menghadap ornamen daun marijuana itu." 


"Konon jika yang duduk menghadap ornamen daun marijuana itu, dan melihat seberkas sinar hijau. Maka mitosnya, hidupnya akan bergelimangan harta, tetapi sebaliknya, kalau yang duduk tidak mendapatkan kedipan sinar hijau dari ornamen daun marijuana tersebut, seumur hidupnya akan sial,” bisik Sumi sambil menuntun Arov ke kursi emas yang telah disebutkannya tersebut.


“Goblok memang!”


“Dasar tolol!”


“Aduh bule, tapi otaknya pendek kaya sumbu kompor jadul!”


“Apa dia benar benar tidak tahu atau bodoh. Kenapa malah mau mencoba duduk di kursi petaka yang disediakan oleh Master Brock.”


Brock memang sengaja melakukannya untuk menguji, dan sekalian juga menyingkirkan orang baru yang selalu dianggapnya tidak kompeten, dan menyusahkan. Namun, kesinisan Brock berubah, saat ornamen daun marijuana yang berada di dinding ruangan tersebut berkedip beberapa kali, akhirnya menyinari Arov.


Saat itu juga dengan menundukan wajah, Arov berdiri dan mengatakan, “Aku akan mengambil semua barangnya dengan harga yang lebih tinggi dari semua penawaran semua orang yang ada disini!”

__ADS_1


Arov mengacungkan tangan sambil memegang kartu ATM berwarna hitam, dan hanya ada 10 orang di bumi yang memilikinya. Kartu tersebut diberikan pada Sumi untuk diteruskan kepada Brock. Arov sengaja melakukannya untuk menindas mereka semua gembong narkoba tingkat provinsi, karena berani telah merendahkannya.


Brock menerima kartu tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Ia tak menyangka jika orang yang dianggapnya bukan siapa-siapa, ternyata pemilik salah satu dari 10 orang yang memegang kartu Black SVIP Konsorsium Bank Sentral Swiss.


Semua gembong Narkoba yang berjumlah 36 orang dari jenis kelamin pria dan wanita tersebut terusik oleh kata-kata Arov. Mereka semua geram dan berdiri dengan menodongkan pistol ke arahnya secara serentak.


“Kita sudah deal dengan Master Brock, dan jangan kau usik seenak jidatmu!”


Rei menarik pelatuknya, dan senapan magnum yang dipegangnya memuntahkan proyektil yang bergerak sangat cepat. Dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata biasa, Arov mengeluarkan salah satu senapan magnum Sauer P226, dan membidik ke arah peluru yang sedang melesat ke arahnya.


Suara letupannya terdengar sangat keras, ditambah lagi saat dua proyektil peluru berbenturan. Walaupun senapan magnum milik Arov atau Pradita hanya menggunakan peluru karet, tapi mampu menghentikan proyektil peluru yang dimuntahkan oleh senapan milik Rei.


“Diam! Berhenti!”


Brock marah dan menembakan senapan magnumnya ke langit-langit ruangan konferensi transaksi narkoba. Semua ketua gembong narkoba tingkat provinsi nyalinya langsung menciut ditekan oleh Brock yang dijuluki sang Singa Hitam.


"Master Brock. Kalau Anda tidak bisa memenuhi keinginanku. Maka aku akan cari tuan Eugene yang merupakan bandar narkoba terbesar di benua Asia. Aku dengar dia ada disini sekarang, dan aku memang membutuhkan barang dalam jumlah partai yang sangat banyak,” ancam Arov datar dan menjentikkan jari.


Kartu hitam yang telah berada di tangan kiri Brock terbang melesat cepat ke arah Arov dengan berputar seperti gasing. Lalu ditangkapnya dengan tangan kirinya.


Setidaknya Arov atau Pradita sudah menandai muka 38 muka ketua gembong Narkoba tingkat provinsi, dan akan mengirimkan rincian informasinya pada Wilma sesegera mungkin untuk ditindaklanjuti. Brock bingung, disatu sisi ia tidak ingin membuat para agennya di seluruh provinsi kecewa, karena semua barangnya di borong semua oleh Arov.


Namun, disisi lain ia juga sangat serakah pada uang. Bahkan keuntungan sampai 700 miliar sudah berada di depan matanya, kalau dia berhasil bertransaksi dengan Arov.


"Tunggu! Aku akan memenuhi keinginanmu! Mari kita bertransaksi!"


Semua ketua gembong narkoba raut wajahnya merah padam dan dipenuhi urat otot. Mereka semua menggenggam kepalan tangannya sangat erat mendengar penuturan Brock yang menyetujui transaksi Arov. Padahal barang tersebut sebelumnya sudah deal, dan akan dibagi-bagikan pada mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2