SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 40


__ADS_3

Mereka kembali lagi masuk ke dalam ruangan kongres, untuk mendiskusikan produk Boboba yang telah merebut hati semua ketua geng. 


"Sekarang aku tanya, apakah lebih bermanfaat jadi gembong narkoboy atau gembong Boboboy?" tanya Pradita tersenyum licik. 


"Tunggu! Kalau jualan Boboboy tetap akan rugi, karena tidak ada efek kecanduan," sergah Anton.


Pradita tetap santai dan berjalan mendekati Anton, lalu berkata, "1 … 2 … 3 …. Mulai!"


Semua ketua geng merasakan rasa haus yang amat sangat. Mereka sangat brutal mencari air, dan apapun tempat air yang mereka temui di dalam ruangan kongres langsung ditenggak.


Mereka seperti orang yang sakau karena haus. 


Di dalam Hotel Ibis, beberapa anggota polisi bersenjata lengkap dari BNN telah mengepung seluruh lantai Hotel Ibis.


Mereka sedang menuju lantai kongres yang memiliki klub malam dimana semua ketua geng sedang mengadakan kongres memakzulkan Pradita dari kursi ketua Geng Zero Crime. 


"Jangan bergerak!" teriak salah satu anggota polisi berpakaian seperti tim SWAT dan menodongkan ujung senapan shotgun ke punggung Pradita.


Seluruh anggota polisi segera memenuhi ruangan. Akan tetapi mereka bingung melihat kesembilan anggota geng mafia yang merangkak di permukaan lantai seperti orang sakau.


Pradita tertawa terpingkal-pingkal sambil mengangkat kedua tangannya, "Pak, tangkap saja mereka bersembilan! Tapi bapak akan terkejut saat mereka di tes urine pasti negatif, hahaha …."


"Diam!" bentak seorang polisi seksi berambut pendek bernama Wilma sambil menodongkan senapan Magnum yang masih terkekeh-kekeh. 


Semua anggota polisi membekuk, dan memborgol sembilan ketua geng terbesar di Tangerang Selatan dalam kondisi kehausan parah.


"Bos tolong aku!" teriak Fetucini dengan nada suara parau dan muka seperti zombie. 


Tangan kanan Pradita secepat kilat bergerak mengambil satu botol Baboba ke arah Fetucini yang mau diborgol. Lalu melemparkan botol berukuran 250 ml berisikan cairan coklat ke arah Fetucini, dan langsung ditenggak sampai habis. 

__ADS_1


Seketika rasa haus ditenggorokan Fetucini hilang, dan sontak membuatnya terkejut. Namun, keterkejutan itu berubah masam setelah Fetucini juga diborgol dan digelandang menuju lantai bawah hotel beserta Pradita dan ketujuh ketua geng lain. 


Pradita yang ditodong kepalanya oleh Wilma tetap santai dan tersenyum tipis, "Bu, bukankah kalau dalam menangkap gembong narkoboy harus di temukan bukti dan juga tes urin?" sindirnya. 


"Kamu itu seperti nyerocos terus aku tembak juga!" bentak lagi Wilma sangat kesal mendengar ocehan Pradita. 


"Tembak saja, itu juga kalau bisa peluru itu mengenai kepalaku."


Pradita langsung membalikan badan, dan mengambil senapan magnum yang dipegang oleh Wilma tanpa disadari oleh wanita berambut pendek tersebut. Pistol itu langsung dibongkar secepat kilat oleh Pradita menjadi berkeping-keping lalu menjatuhkannya ke permukaan lantai. 


Semua polisi yang masih berada di ruangan tercengang dengan mata melebar oleh tindakan Pradita. Mereka tidak menyangka pria berambut harajuku tersebut mampu membongkar senapan magnum tanpa disadari oleh Wilma. 


"Kenapa? Terkejut?"


Pradita memicingkan mata dan melanjutkan, "Aku bisa saja membuat kalian semua takan keluar hidup-hidup. Akan tetapi aku menghormati kalian sebagai penegak hukum di negara ini. Kalau kalian ingin menangkap kami semua lakukan tes urin dan temukan bukti jika kami sedang transaksi Narkoboy. Jangan main borgol saja!"


Mereka semua tertunduk lesu, karena asal borgol dan tangkap saja pada semua ketua geng terbesar di Tangerang Selatan. Padahal bukti belum ditemukan, dan semua ketua geng mafia belum di tes urin. 


“Bawa saja mereka ke Polres Tangerang Selatan dahulu untuk diinterogasi dan tes urin disana!”


Akhirnya mau tidak mau 3 anggota polisi yang bekerja dibawah naungan BNN tersebut mematuhi perintah Wilma, karena dia komandannya. Pradita pun diborgol dan di gelandang ke kantor Polres Tangerang Selatan untuk di tes urin, dan diinterogasi.


Setelah 15 menit perjalanan menaiki mobil polisi menuju Polres Tangerang Selatan. Pradita dan kedelapan ketua geng yang sudah sampai di kantor polisi Polres Tangerang Selatan melakukan tes urin, serta semuanya dinyatakan negatif termasuk Pradita. 


Namun, mereka bersepuluh tetap ditahan bersama ratusan anak buahnya yang juga negatif narkoboy. Karena sebelum-sebelumnya semua anggota kesembilan geng pernah mencicipi meminum Boboba.


Pradita dimasukan satu sel bersama Anton, Seva, Fetucini, dan keenam ketua geng terbesar di Tangerang Selatan. Pria berambut harajuku itu sangat santai duduk di sudut ruangan penjara seluas 10 meter x 10 meter sambil mengorek-ngorek kedua lubang hidungnya.


"Kalian masih haus?" Pradita berpura-pura merogoh saku bagian dalam jasnya untuk mengeluarkan 7 botol cairan coklat dari inventaris sistem dan menaruhnya di depannya, “Ini silahkan minum! nanti juga haus kalian akan hilang!”

__ADS_1


Mereka bertujuh yang masih haus dengan wajah seperti zombie tersebut langsung menyergap cepat botol cairan tersebut, dan langsung menenggaknya sampai habis tak tersisa.


“Haaah … segar sekali tenggorokan ini,” kata Anton tersenyum puas.


Mereka bertujuh duduk berjauhan dari Pradita, dengan tatapan nanar ke arahnya. Karena dianggap telah membuat mereka kesakitan dengan cairan coklat yang diberikan sebelumnya pada mereka.


“Kenapa kalian malah menatapku dengan tatapan kebencian? Seharusnya kalian itu berterima kasih padaku —-”


“Omong kosong! Kau justru membuat kami terpenjara seperti ini,” potong Aldrin kesal, dan merupakan ketua Geng Werewolf yang memiliki peringkat tinggi teratas.


"Justru bagus. Aku hanya ingin membuktikan pada kalian bahwa minuman coklat berenergi Boboba itu juga punya efek candu alami, rasanya nikmat melebihi rasa narkoboy, dan bisa membuat tubuh kalian 10 tahun lebih muda," jelas Pradita.


"Satu lagi bisa menghilangkan secara permanen zat psikotropika di dalam tubuh kalian dengan bukti, bahwa kalian ketika dites urin telah negatif dari narkoba."


Sontak saja mereka semua kaget. Karena apa yang dikatakan oleh Pradita itu benar, dan tes urin mereka berdelapan negatif penggunaan narkoba. Padahal mereka adalah pemakai hiperaktif pada benda-benda terlarang tersebut.


“Iya ya, kok bisa?”


“Aku juga bingung.”


“Apakah itu ada kaitannya dengan Boboba?”


Semua ketua geng satu sama lain saling memandang dengan raut muka kebingungan mendiskusikan kenapa mereka tes urin dengan hasil negatif. Padahal mereka sangat-sangat hiperaktif menggunakan sabu-sabu.


"Aku bisa membuat kalian semua keluar dari sini esok hari. Asal kalian mau bertobat dan menghentikan bisnis ilegal, lalu bekerja sama denganku menjual Boboba," Kata Pradita tersenyum licik.


Hati mereka bertujuh yang awalnya sangat keras menjadi lunak. Setelah melihat bukti bahwa Pradita memiliki produk yang lebih bagus daripada narkoba, memiliki nilai jual yang tinggi, dan pemesanan berulang-ulang oleh pelanggan dengan persentase lebih tinggi.


"Baiklah, kami akan berhenti melakukan bisnis ilegal, asal kami mendapatkan keuntungan 90% dari setiap penjualan Boboba yang telah dijual," tawar Seva.

__ADS_1


"100% pun tak apa-apa," jawab Pradita sambil mengupil.


__ADS_2