
Pradita kembali ke kedai milik Mardono, tetapi dengan raut wajah ditekuk. Karena untuk menyelesaikan misi jualan bakso, Pradita tidak boleh menggunakan uang pribadinya sebagai modal.
“Apa yang harus aku lakukan supaya memperbaiki kedai ini?” pikir Pradita sambil mengelus dagunya berkali-kali. Kemudian ia melanjutkan dengan raut wajah sumringah, “Aha, apakah aku harus mengamen di lampu merah? Siapa tahu saja wajahku yang tampan ini bawa hoki, hehehe ….”
Pradita mencari beberapa tutup botol di tempat sampah untuk membuat alat kecrek. Alat tersebut digunakan Pradita untuk pengamen di jalanan.
Setelah selesai, ia menyimpan motornya di dalam kedai. Lalu keluar dari kedai Mardono memakai topi, dan membawa alat kecrek.
Sepanjang jalan Pradita terus menyanyi dengan suara serak-serak amburadul. Namun karena wajahnya tampan, banyak yang memberi uang pada Pradita, walaupun hanya lembaran seribu, dan lembaran dua ribu.
"Dia tidak cantik, Mak! Asik-asik Jos!"
Pradita menyanyi dengan sangat powerfull, bahkan sampai melakukan gerakan goyang ngebor. Hal itu mengundang gelak tawa para pejalan kaki, pemotor, dan pemobil yang berada disekitar situ.
"Tarik Bang! Goyang!"
Seorang emak-emak berdaster duet joget dengan Pradita, dan mempertontonkan gerakan tubuh penuh semangat. Saking senangnya bisa berjoget dengan pria tampan, ia melakukan gerakan-gerakan kayang dalam gerakan jogetnya.
Hal itu menambah pundi-pundi uang yang didapatkan oleh Pradita. Semakin lama semakin ramai, karena ada beberapa orang yang mengenali Pradita, dan merekamnya.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan skill menyanyi level 1]
[Untuk menaikan level menyanyilah selama 10 menit]
Pradita semakin bersemangat setelah mendapatkan pemberitahuan dari sistem. Ia bernyanyi penuh semangat, bahkan ada salah satu orang memberikan gitar pada Pradita untuk dimainkan untuk menambah kesan keren pada Pradita yang memang cukup mahir memainkan alat musik gitar tersebut sedari dulu.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host telah menaikan skill menyanyi ke level 2]
__ADS_1
[Untuk menaikan level menyanyilah selama 15 menit]
Semakin lama menyanyi, suara Pradita bertambah merdu, dan semakin banyak pula yang menonton musik jalanan yang dipersembahkan oleh Pradita.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host telah menaikan skill menyanyi ke level 3]
[Untuk menaikan level menyanyilah selama 20 menit]
“Sistem memang bisa sangat diandalkan. suaraku yang serak-serak amburadul, dan bengek ini bisa bagus. Selama aku terus bernyanyi, hehehe …,” batin Pradita.
Level skill bernyanyi Pradita terus naik, dan suaranya semakin merdu, hingga mampu menggugah hati setiap orang yang mendengarkannya.
Saat Pradita bernyanyi dengan lagu yang sedih, maka semua orang meneteskan air mata, saking tersampaikannya penghayatan Pradita dalam lagu yang ia bawakan.
Pradita mengakhiri lagu terakhirnya, karena sudah tak kuat lagi bernyanyi, dan memberikan gitar yang telah dimainkannya kepada seorang pemuda yang telah meminjamkan gitar pada Pradita.
"Tidak usah, Bro. Aku senang melihat performamu. Apakah kamu bisa bernyanyi di kafe milikku?" tawar Reza, tetapi langsung ditolak oleh Pradita.
"Maaf, Bro. Aku bernyanyi hanya untuk mengumpulkan modal jualan bakso,” tolak Pradita, dan melanjutkan dengan senyuman ramah, “Tapi kalau kau ingin melihatku bernyanyi, datang saja ke kedai bakso milikku. Berikan saja aku nomormu, aku akan menghubungimu, apabila kedai baksonya sudah siap grand launching.”
“Siap!” sahut reza sambil memberikan secarik kertas berisikan nomor ponselnya.
“Teman-teman yang aku hormati! Terima kasih telah menyumbang di acara ngamen jalanan ini. Semoga terhibur, dan kalau ingin melihat performa aku lagi.”
“Teman-teman bisa datang ke kedai bakso Mardono yang tidak jauh dari sini. Untuk peresmian grand launching ulangnya akan diumumkan di akun media sosialku bernama Pradita Mahendra umulai dari IG, tikotok, Facebook, dan twitter. Jangan lupa di follow ya!” tutur Pradita dengan senyuman ramah, dan melambaikan tangan ke arah penontonnya.
Ada rasa kecewa dihati mereka, karena mereka masih belum puas melihat performa Pradita bernyanyi. Apalagi wajah tampan, dan bau tubuhnya mampu membius kaum hawa, hingga membuat hati mereka meleleh.
__ADS_1
Pradita mengambil uang yang berada di ember kecil. Saking banyaknya uang tersebut sampai berserakan di permukaan aspal. Lalu uang tersebut dihitung di depan semua orang yang sedang melakukan pencarian di platform media sosial yang diumumkan oleh Pradita. Untuk mencari akun milik Pradita.
Rupanya selama ini Pradita sudah membuat akun media sosial mulai dari Instagram, Facebook, Tiktok, dan Twitter. Namun jarang dibuka, dan jarang upload. Hanya ada beberapa foto pernikahannya bersama semua istrinya.
“Sepertinya ini cukup, dan sangat banyak. Aku harus menelepon Rivan untuk membereskan kedai bakso kakek. Aku ini bukan tukang bangunan yang bisa membangun, tapi tukang bikin anak, hehehe …,” gumam Pradita sambil terkekeh pelan, lalu menelpon Rivan.
****
Keesokan sorenya, kedai bakso Mardono.
Rivan sudah mengirimkan tukang bangunan ke kedai bakso Mardono, dan sudah merenovasinya sesuai biaya yang diberiikan oleh Pradita.
Kedai bakso tersebut hanya kaca di gerobaknya saja yang diperbaiki, dan bagian dalamnya di cat ulang dengan motif gambar grafiiti, supaya terkesan lebih ramai.
"Baiklah, waktunya kita membuat bakso dengan teknik kirin emas yang sudah diturunkan oleh kakek," gumam Pradita sambil menaruh daging sapi mentah seberat 1 kg di atas meja, "Teknik jari emas!"
Pradita membayangkan aliran listrik berdaya tinggi, dan memiliki suhu panas yang tinggi dialirkan ke dalam bongkahan daging tersebut.
Ada gelombang kejut sesaat yang dirasakan oleh Vic Zhou meluluhlantakan bagian dalam bongkahan daging. Lalu melempar bongkahan daging tersebut ke dalam baskom yang cukup besar, dan memasukan bumbu-bumbu rahasia ke dalam baskom tersebut serta tepung terigu, juga tepung tapioka.
Dengan kelihaian tangan Pradita adonan bakso tersebut diuleni dengan sangat cepat, dan menciptakan campuran yang begitu sempurna. Walaupun masih berupa adonan, tetapi harum khas baksonya sudah menyeruak, dan mampu menggugah selera siapapun yang mencium baunya.
“Aku harap bakso ini tetap enak dengan tekstur yang kenyal diluar, tapi lembut di di dalam seperti buatan kakek,” gumam Pradita sambil membentuk adonan bakso tersebut dengan berbagai bentuk.
Mulai dari bentuk hati, bakso beranak, bakso mercon baso besar urat, bakso isi daging bakso isi keju, bakso isi telur, dan bakso berukuran kecil. Semua baso tersebut sudah masuk ke dalam ember bersih berisikan air panas, supaya dimatangkan cepat dengan sempurna.
Sambil menunggu bakso-bakso tersebut matang dengan sempurna. Pradita membuat dahulu kuah baksonya sesuai resep rahasia yang ditransfer melalui pikiran Pradita sebelum Mardono meninggal.
__ADS_1
Bau kuahnya pun sangat wangi, dan menyeruak ke berbagai arah. Untungnya kedai bakso Mardono masih tutup, kalau saja buka bau kuahnya saja bisa membuat orang disekitarnya tergugah seleranya, bahkan bisa merangkak seperti zombie, karena saking enaknya bau khas kuah bakso yang dibuat oleh Pradita dengan resep rahasia tersebut.